Membaca Ulang “Ayat-Ayat Kekerasan”: Tafsir QS. Al-Hajj/22: 39-40

okezone.com

Aksi radikalisme dan terorisme yang terjadi di dunia seringkali menjadikan agama sebagai kambing hitamnya. Ini sebab agama memiliki kekuatan yang amat dahsyat melebihi politik, budaya, maupun ekonomi. Atas nama agama, aksi kekerasan diabsahkan. Jalalauddin Rahmat tegas menyatakan, terorisme seperti yang terjadi di Timur Tengah bukan merupakan perintah agama, tujuanya murni politik kekuasaan, yang dibungkus dengan baju agama.

Mohamad Arkoun pun menyebut tindakan radikal yang dilakukan sebagian umat Islam pada dasarnya sebab kegagalan mereka di dalam memahami teks keagamaan. Padahal menurut Quraish Shihab, bahasa yang digunakan Al-Qur’an semuanya memiliki nilai semangat yang positif. Tak ada satupun ayat yang mengafirmasi tindak kekerasan, apalagi atas nama agama.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang kerap dimanipulasi untuk melakukan kekerasan adalah QS. Al-Hajj/22: 39-40. Allah SWT berfirman:

أُذِنَ لِلَّذِینَ یُقَـٰتَلُونَ بِأَنَّهُمۡ ظُلِمُوا۟ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ نَصۡرِهِمۡ لَقَدِیرٌ. ٱلَّذِینَ أُخۡرِجُوا۟ مِن دِیَـٰرِهِم بِغَیۡرِ حَقٍّ إِلَّاۤ أَن یَقُولُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُۗ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضࣲ لَّهُدِّمَتۡ صَوَ ٰ⁠مِعُ وَبِیَعࣱ وَصَلَوَ ٰ⁠تࣱ وَمَسَـٰجِدُ یُذۡكَرُ فِیهَا ٱسۡمُ ٱللَّهِ كَثِیرࣰاۗ وَلَیَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن یَنصُرُهُۥۤۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِیٌّ عَزِیزٌ

Telah diizikan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguh­nya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami hanyalah Allah. Dan sekiranya Allah tiada me­nolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa lagi Mahaperkasa.”

Dua ayat di atas sering dijadikan sebagai dalil Islam mengizinkan tindakan peperangan fisik secara mutlak terhadap orang-orang kafir. Pemaknaan atas teks yang rigid dan tekstualis, hanya menghasilkan sebuah penafsiran yang tidak saja salah, tetapi juga berdampak negatif dalam kehidupan kerukunan umat beragama.

Muhammad Ibn ‘Asyur berkomentar, ayat di atas merupakan ayat yang pertamakali mengafirmasi peperangan bagi orang Islam, setelah sebelumnya selama 10 tahun mereka teguh untuk tidak melawan kezaliman. Beda dengan ‘Asyur, Prof Quraish menegaskan ayat di atas turun pasca 22 tahun kenabian. Sebelum lewat tahun tersebut, umat Islam selalu mendahulukan kesabaran dalam menghadapi musuh yang memerangi mereka. Bila dipahami secara rasional, ada pesan penting yang dapat diambil dari pandangan dua tokoh ini, bahwa pada dasarnya agama Islam tidak menyukai peperangan, Islam mendahulukan damai dan kedamaian, sekalipun dalam peperangan.

Sementara menurut Attsa’labi, penggunaan kata “udzina; diizinkan” yang merupakan kata pasif (mabni majhul) pada ayat di atas memberi pesan bahwa Islam tidak menyukai peperangan, Islam lebih menyukai menahan diri saat disakiti, dan melakukan alternatif-alternatif lain selain perang. Bahkan, orang-orang Islam sempat tidak percaya ketika ayat di atas turun dengan membolehkan mereka berperang. Mereka bertanya-tanya kepada Nabi, apakah benar Allah menurunkan ayat perizinan perang di atas.

Sementara Buya Hamka menjelaskan, perintah peperangan yang dibolehkan Islam bukanlah perintah mutlak. Perintah itu dijalankan hanya ketika umat Islam sudah benar-benar disakiti secara fisik dan mereka dicegah untuk beribadah. Ia juga mengatakan, peperangan yang boleh dilakukan tetap dalam batsan-batasan tertentu. Sebagaimana ketika Nabi Muhammad dan para sahabatnya diizinkan perang maka mereka tidak memerangi orang-orang lemah, seperti wanita, anak-anak, dan orang tua yang sudah lemah fisiknya. Karena hakikatnya, peperangan di dalam Islam bukan untuk menyerang, tetapi untuk bertahan.

Ada hal menarik lain terkait pesan damai dalam ayat ‘kekerasan’ di atas, yakni makna penggalan ayat yang berbunyi, “Dan sekiranya Allah tiada me­nolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.” Menurut Sahiron Syamsudin, kalimat ini menguatkan bahwa ayat di atas pada dasarnya bukan memerintah kekerasan, tetapi perintah untuk damai; yaitu menjaga tempat-tempat ibadah semua agama, menjaga kerukunan pemeluk-pemeluknya, dan saling menghargai perbedaan.

Al-Qur’an harus dipahami secara komprehensif dan dengan keilmuan. Hanya akan menghasilkan ‘jumping conclusion tafsir‘ bila teks agama dipahami secara rigid dan hanya dengan hawa nafsu. Karena kita yakin, ajan dan sumber-sumber agama Islam seluruhnya bernilai kebaikan (maslahat) dan mendamaikan (assalam). Bila pun terdapat kegiatan-kegiatan yang justru menimbulkan kerusakan (dharar) dan keburukan (mafsadat), tidak lain karena oknum sebagian orang yang hendak memperkosa agama untuk menutupi kejahatannya.[]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *