Tantangan Sains untuk Agama

Pada dasarnya, sains bekerja lewat pertukaran antara teori dengan bukti. Teori bisa berasal dari sekadar olah pikir dan bisa pula berasal dari kenyataan lapangan. Teori tersebut lalu dibenturkan dengan kenyataan yang akan membuat teori itu tetap teguh apabila sesuai dengan kenyataan atau berganti dengan teori lain apabila bertentangan dengan kenyataan. Begitulah seterusnya. 

Dalam pertukaran di atas, begitu banyak ilmuwan yang terlibat dari berbagai macam disiplin ilmu. Bahkan dari satu disiplin ilmu saja, banyak konsentrasi bekerja dengan spesialisasinya sendiri-sendiri. Jadi, kerja sains bukanlah kerja individu dan juga bukan kerja satu masa. Kerja sains adalah semacam akumulasi dari generasi-generasi sebelumnya hingga membentuk pemahaman paling mutakhir.

Bacaan Lainnya

Kerja sains yang melibatkan begitu banyak individu dan begitu panjang masa sesungguhnya adalah upaya pencarian kebenaran. Itupun masih terus dinamis penemuan-penemuan sains hingga saat ini sehingga entah ada di mana kebenaran yang dicari itu. Kebenaran yang belum ditemukan justru itulah yang menjadi energi sains. Karena itu, sains bekerja bukan langsung kepada kebenaran, tetapi berada di antara penemuan sementara dengan kebenaran yang entah ada di mana.

Asumsi sains memang adalah setiap kesimpulan selalu memungkinkan untuk direvisi akibat ditemukannya kesimpulan yang lebih benar. Meski demikian, sains tetap sangat memengaruhi kehidupan manusia hingga pada beberapa titik berhadapan langsung dengan prinsip-prinsip agama.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa cara kerja sains adalah pertukaran teori dengan bukti. Setiap teori harus berhadapan dengan kenyataan yang mungkin saja meruntuhkannya. Dampak dari cara kerja itu adalah perkembangan teknologi yang memudahkan hidup manusia, mengatasi kelemahan alamiahnya, dan memberikan jawaban-jawaban (meski sementara) untuk pertanyaan-pertanyaannya.

Kenyataan seperti di atas membuat membuat cara kerja sains adalah semacam hal yang alamiah juga, selain peristiwa alami yang sudah ada sejak dulu. Sudah menjadi hal yang biasa dan sudah menjadi bawaah berfikir manusia modern untuk melihat segala sesuatu dengan sudut pandang sebuah teori atau kerangka fikir lalu membenturkannya dengan kenyataan.

Pada titik di atas itulah, agama berhadapan dengan sains. Klaim dogmatis dalam agama seperti wahyu, pengalaman spiritual, kenabian, dan lain-lain—mau tidak mau—harus bersedia dipertanyakan dan dipandang lewat teori atau kerangka fikir tertentu. Keyakinan terhadap sesuatu bukan lagi bukti bahwa sesuatu tersebut benar.

Dampak lain dari cara kerja sains seperti di atas adalah banyak pertanyaan yang sebelumnya disandarkan langsung kepada Tuhan, kini tidak lagi. Misalnya, bagaimana hujan turun? Bagaimana alam raya tercipta? Bagaimana manusia tercipta? Bagaimana sebuah bencana alam bisa terjadi? Dan banyak lagi pertanyaan lainnya. Peran Tuhan yang sebelumnya sangat dominan, lalu terjawab oleh sains dan mulai menggusur dominasi-Nya, di alam pikiran manusia. Pertanyaannya kini: Apa peran Tuhan yang sesungguhnya?

Masih teringat di masa lalu ketika banyak kejadian yang diyakini penyebabnya kepada kekuatan gaib, seperti ruh, jin, dan makhluk halus. Belakangan ini, keyakinan seperti itu mulai memudar, meski tidak hilang sama sekali. Kini, segala kejadian dianggap semata-mata peristiwa fisik, bukan disebabkan oleh hal non fisik, seperti segala yang gaib. Cara pandang kepada manusia pun demikian adanya, yaitu memudarnya peran jiwa karena setiap kejadian pada manusia dipahami semata-mata kejadian fisik, seperti cinta, bahagia, derita, ingatan, ambisi, bahkan kehendak. Akibat terjauhnya, seluruh yang non fisik pun dianggap tidak berpengaruh apa-apa, termasuk alam setelah kematian.

Teknologi yang memudahkan manusia bisa berpidah dengan cepat dari satu tempat ke tempat lain dan juga informasi yang berlimpah tentang apapun dari seluruh dunia juga melahirkan problem tersendiri bagi agama. Penganut agama menjadi sering bertemu dengan keyakinan berbeda yang tanpa sengaja melahirkan perbandingan-perbandingan yang bisa saja menetralisir keyakinan sebelumnya atau bahkan sebaliknya, mengentalkan keyakinan sebelumnya.

Yang pasti, kritik diri terhadap agama sendiri bisa dipicu oleh perjumpaan dengan perbedaan-perbedaan. Akibatnya pemahaman terhadap agama sendiri semakin berwarna dan mulai memberi warna lain bagi keyakinan sebelumnya. Bagi kaum puritan, kenyataan seperti itu pasti sangat mengganggu, meski bagi kaum liberal, itu adalah anugerah bagi agama untuk merevitalisasi pandangannya tentang banyak hal, termusuk posisi perempuan, perhatian kepada lingkungan, dan ketimpangan sosial dan ekonomi.

Tantangan terakhir bagi agama dari sains adalah sesuatu yang tidak langsung berhubungan dengan agama, tetapi membutuhkan perhatian serius dari agama. Sains kini tidak hanya melahirkan kemudahan bagi manusia tetapi juga kesusahan seperti ancaman bahaya radiasi, racun kimia, polusi udara dan suara, pemanasan global, bencana alam, dan sebagainya. Termasuk teknologi yang komunikasi yang dianggap memudahkan manusia untuk berkomunikasi, tetapi malah menjauhkan hubungan emosional antarmanusia dan menjauhkan manusia dari sesamanya.[]

Bahan Bacaan

Papineau, David, Philosophy: Theories and Great Thinkers, New York: Shelter Harbor Press, 2017.

Sugiharto, Bambang, “Agama dan Sains,” Bartolomeus Samho, Agama dan Kesadaran Kontemporer, Yogyakarta: Kanisius, 2019

Editor: AMN

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *