Tata Kota Berbasis Al-Quran

Kota Al-Qur'an
Kota Al-Qur'an

Dalam literatur tafsir Indonesia, term “kota” dapat ditemukan sebagai terjemahan dari madīnah, balad, qaryah atau qura`, dār  dan mishr. Hamka  (w. 1981), Mahmud Yunus (w. 1982), Quraish Shihab (l. 1944) dan Departemen Agama menerjemahkan  kata  “madinah” dalam arti “kota” pada 13 ayat, sementara 4 ayat lainnya adalah “Kota Madinah al-Munawwarah”.

Demikian pula terjemahan dalam bahasa Inggris diartikan dengan “city/town”  dan “al-Madinah/Medina”. Dalam The Meaning of The Noble Qur’an karya Abdullah Yusuf Ali, term “town” setidaknya ditemukan sebanyak  20 kali yang merupakan terjemahan dari madinah, qaryah. Sedangkan term “city” ditemukan sebanyak 27 kali, terjemahan dari madinah, balad, qaryah. Adapun ard} selalu diterjemahkan dengan the earth (bumi) atau the land (tanah). Meskipun term ard} diartikan bumi, tapi Ibn Shiray dan Al-Shamisy memaparkan pemaknaan pada beberapa ayat dalam al-Qur’an merujuk kepada konteks sebagai kota atau negeri.

Dengan demikian al-Qur’an setidaknya menyebut enam term yang menggambarkan hunian manusia dalam konteks kota dengan berbagai karakteristiknya yakni madinah, balad, qaryah/qura`, dār, ardh dan mishr. Kata-kata tersebut disebutkan dalam al-Qur’an dalam berbagai bentuk.

Penyebutan Lafaz Kota Dalam Al-Quran

Term madinah disebutkan sebanyak 17 kali pada 17 ayat, qaryah disebutkan 56 kali pada 54 ayat, balad  diulang sebanyak 19 kali pada 19 ayat, dār disebutkan 48 kali pada 47 ayat, ardh terulang sebanyak 461 kali pada 440 ayat, sedangkan mishr  disebutkan 5 kali pada 5 ayat. Keseluruhan lafaz diulang sebanyak 606 kali dan terdapat pada 582 ayat. Tidak semua ayat-ayat tersebut relevan dengan term “kota”, dari total yang relevan dengan tema “kota” kurang lebih terdapat pada 161 ayat.

Meskipun terdapat enam term utama yang dijadikan kata-kata kunci, tapi tidak tertutup kemungkinan adanya term lain yang menunjukkan makna kota.  Ibn Junaydil, Abu Khalil, Ibn Shiray dan al-Shamisy menyebutkan nama-nama tempat—seperti Yathrib, ‘Iram, Tsamud, Madyan, Saba, al-Ahqaf, al-Aikah, Babil, Hunain, al-Hijr. Demikian pula term hasanah, jannatayn, al-jannah, dan lainnya, juga dinisbahkan kepada makna kota.

Apa maknanya?

Menurut Ahmad Badawi, penyebutan suatu kata tertentu dalam al-Qur’an secara berulang-ulang berfungsi untuk mengokohkan suatu permasalahan dalam hati masyarakat, dan menunjukkan adanya permasalahan penting yang tersembunyi di balik kata tersebut agar mendapatkan penekanan dan perhatian (tawkid wa tanbih).

Hubungan Tata Kota dengan al-Quran

Tata Kota adalah ilmu mulia guna membedah pemahaman ayat-ayat al-Quran tentang penyelenggaraan kota. Ini didasarkan pada pandangan mufasir Tunisia yang bernama Ibn Ashur (w. 1973) bahwa ilmu tata kota (ulūm al-nizām al-‘umrāny) sangat penting dalam penyingkapan makna al-Qur’an, bahkan ilmu tata kota termasuk ke dalam kelas ilmu-ilmu tinggi (‘ulum al-‘ulya’), (Ibn ‘Ashur, At-Tahrir wa at-Tanwir 3: 157)

Ilmu tata kota (ulum al-nidzam al-‘umraniy) sangat diperlukan dalam penyingkapan makna al-Qur’an, bahkan ilmu tata kota termasuk ke dalam kelas ilmu-ilmu tinggi (‘ulum al-‘ulya).

(Ibn Ashur, W. 1973)

Dalam seminar nasional “Tata Ruang Islami” yang diselenggarakan Prodi PWK UNISSULA 12 November 2021, Muhamad bin Abdullah Alhadi–salah satu narasumber menekankan pentingnya memahami tafsir dalam menjawab aneka problem kekinian, termasuk tata kota. Karena itu—menurut Penulis buku “Kota Al-Quran” ini—fungsi al-Qur’an sebagai pedoman hidup sebaiknya diperoleh melalui pemahaman mufasir. Ayat al-Quran, terlebih terjemah tidak boleh dijadikan referensi langsung, melainkan diambil melalui mufasir (kitab tafsir).

Selengkapnya Paparan MATERI SEMINAR bisa didownload di SINI.

Adapun buku Kota Al-Qur’an: Studi Kota dari Perspektif Penafsiran Interdisiplin bisa diperoleh di SINI.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *