Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd

Nasr Hamid Abu Zayd (10 Juli 1943-5 Juli 2010) adalah pemikir modernis asal Mesir. Namanya sangat dikenal oleh para pemerhati pemikiran Islam setelah menggulirkan gagasan bahwa Al-Qur’an hanyalah produk budaya, teks manusia, teks linguistik dan tidak lebih dari sekedar fenomena sejarah. Nasr Hamid Abu Zayd dilahirkan pada 10 Juli tahun 1943 di desa Quhafa Tanta, Mesir. Ia anak yang pendiam, dan suka sekali pada sastra. Sedari muda, ia sangat tertarik dengan kajian bahasa dan filsafat. Ia bahkan fokus pada perangkat metodologi analisa wacana dan dinamika teori teks dalam semiotika. Jelas, pemikirannya menginduk ke Prancis dengan tokoh besar Derrida, Arkoun dan pengagum Hasan Hanafi. Untuk memperkuat minatnya itu, ia masuk ke Fakultas Sastra Universitas Kairo, kemudian mengabdi di sana. Ia menyelesaikan S1 pada tahun 1972 pada Studi Bahasa Arab (Arabic Studies), dan kemudian S2 pada tahun 1977. Pada tahun 1978 sampai 1980, ia melanjutkan studi S3-nya di Universitas Pennsylvania, Philadelphia dan menyelesaikan disertasi pada tahun 1980/1981 dalam konsentrasi Studi Islam (Islamic Studies).  

Nasr Hamid Abu Zayd merupakan ilmuwan muslim yang sangat produktif. Ia menulis lebih dari dua puluh sembilan karya sejak tahun 1964 sampai 1999, baik berbentuk buku, maupun artikel. Meskipun karya-karyanya tidak dilarang secara resmi, buku-bukunya ini banyak ditarik dari rak perpustakaan almamaternya. Kemudian ia dikenal dengan pemikir islam progresif. Karya-karyanya mengundang perdebatan di dunia Islam sejak tahun 1970-an. Di satu sisi, banyak kalangan yang mengapresiasi karya-karyanya yang mempromosikan pencerahan dalam dunia Islam. Namun di sisi lain, ia dikafirkan kaum konservatif dan pengadilan Mesir pada tahun 1995 karena pemikirannya yang dinilai menyeleweng. Vonis itu yang memaksa Nasr hijrah ke Leiden, kemudian menjadi guru besar studi Islam di Universitas Leiden. Nasr Hamid wafat pada 5 Juli tahun 2010 di Mesir dan dimakamkan di daerah tempat kelahirannya.

Al-Qur’an Sebagai Teks dan Produk Budaya

Dalam bukunya Mafhum al-Nash (konsep teks), memang Nasr Hamid tidak memberikan definisi secara pasti tentang apa yang dimaksudkannya dengan “teks”. Namun ia menyebutkan distingsi antara (nash) teks dan (mushaf) buku. Teks lebih merujuk kepada makna (dalalah) yang memerlukan pemahaman, penjelasan dan interpretasi, sedangkan mushaf lebih merujuk kepada benda (syai’), baik suatu benda estetik ataupun mistik. Selain itu menurut Nasr Hamid bukti bahwa Al-Qur’an adalah teks yang menyejarah diindikasikan oleh:

  1. Al-Qur’an memuat pesan-pesan ajaran Allah untuk manusia yang diwujudkan dalam sebuah teks bahasa Arab yang diturunkan kepada utusan-Nya Muhammad.
  2. Al-Qur’an mempunyai struktur pembagian ayat per ayat dan bab per bab, sebuah pembagian yang biasa dipakai dalam teks. 
  3. Al-Qur’an terdiri dari ayat-ayat yang (muḥkamāt) ayat-ayat yang jelas, yang berfungsi sebagai penyangga ayat-ayat (mutasyabihāt) ayat-ayat ambigu. Bila menemukan ayat yang tidak jelas, maka diberikan kesempatan untuk melakukan takwil. Sikap ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari perlakuan terhadap teks.

Dalam kasus konteks Al-Qur’an, teks merupakan fase pembentukan dan pematangan, yaitu fase di mana teks setelah itu berubah menjadi produsen budaya. Sehingga fungsi teks tidak dapat terpisahkan dari wilayah budaya dan realitas. Ia juga berpendapat bahwa penting untuk memfokuskan kajian pada sejarah konteks wahyu saat ia diturunkan, untuk membedakan antara makna sejarah dari Al-Qur’an (ma’na) dan signifikansi yang lebih luas dan abadi (maghza). Karena pada dasarnya sistem bahasa dari Al-Qur’an sendiri berfokus pada penerima asli (mukhatabun), yaitu orang-orang yang awalnya dialamatkan oleh Al-Qur’an. Sebuah kesadaran akan histori teks sangat penting agar kita mampu mengerti pesan Al-Qur’an untuk masa kini.

Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd 

Mengenai hermeneutika sebagai metode dalam penafsiran Al-Qur’an dalam konteks Islam, hermeneutika dimaknai sebagai teori dan metode yang memfokuskan dirinya pada problem pemahaman teks. Dikatakan problem, mengingat sejak awal diwahyukannya, Al-Qur’an dirasa sulit untuk dipahami dan dijelaskan. Problem tersebut semakin rumit manakala Rasulullah wafat, sehingga tidak ada lagi otoritas tunggal yang menggantikannya. Oleh sebab itu penggunaan hermeneutika dalam studi Al-Qur’an tidak bisa diabaikan lagi. Bahkan saat ini, hermeneutika Al-Qur’an dinyatakan telah menjelma menjadi kajian interdisiplin yang memerlukan penerapan ilmu-ilmu sosial dan humanitas.

Hermeneutik dalam pandangan Nasr Hamid memiliki dua hal: pertama, bertujuan untuk menemukan makna asal (dalalatuha al-ashliyyah) dari sebuah teks dengan menempatkannya pada sebuah konteks sosio-historisnya. Kedua, bertujuan untuk mengklarifikasi kerangka sosio-kultural kontemporer dan tujuan-tujuan praktis yang mendorong dan mengarahkan penafsiran. Hermeneutik juga mempunyai arti yang penting. Apabila hermeneutik berkaitan dengan Al-Qur’an sebagai teks, maka terletak pada perannya yang proporsional dalam menetapkan pertanyan-pertanyaan mengenai refleksi teologis sebagi prosedur penafsiran. Dan apabila hermeneutik bersinggungan dengan aturan-aturan penafsiran, maka tugasnya adalah meneliti tentang fenomena, yakni setiap gejala yang ada di alam sekitar.

Rekonstruksi yang digagas Nasr Hamid bertujuan untuk mengaitkan kembali studi Al-Qur’an dengan studi sastra serta mendefinisikan pemahaman “objektif” tentang Islam (al-mafhūm al-maudhū’i li al-Islām) yang terhindar dari kepentingan-kepentingan ideologis-politis. Nasr Hamid mengakui dan sadar bahwa ada kelompok-kelompok yang menggunakan Islam secara ideologis untuk kepentingan politik dan ekonomi mereka. Secara umum hermeneutika Nasr Hamid mengandung dua hal; pertama adalah bertujuan untuk menemukan makna asal (dalālatuhā al-aṣliyyah) dari sebuah teks dengan menempatkannya pada sebuah konteks sosio-historisnya. Kedua adalah bertujuan untuk mengklarifikasi kerangka sosio kultural kontemporer dan tujuan-tujuan praktis yang mendorong dan mengarahkan penafsiran. 

Arti penting hermeneutika, pertama dalam kaitannya dengan Al-Qur’an sebagai teks, terletak pada perannya yang proporsional dalam menetapkan pertanyan-pertanyaan mengenai refleksi teologis sebagai prosedur penafsiran. Kedua adalah estetik, ketika hermeneutika bersinggungan dengan aturan-aturan penafsiran, maka tugas estetik adalah meneliti tentang fenomena. Fenomena yang dimaksud adalah setiap gejala yang ada di alam sekitar. Gejala tersebut kemudian menjadi bahan renungan ketika masing-masing dari gejala tersebut memiliki signifikasi dalam hal tertentu.

Daftar Pustaka

Abu Zayd, Nasr Hamid. Tekstualitas Al-Qur’an: Kritik terhadap Ulumul Qur’an. Terj. Khoiron Nahdliyyin. Yogyakarta: IRCiSoD, 2016.

Alfian, Muhammad. “Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd” Jurnal Islamika: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 18  No. 1 Tahun 2018.

Chodir, Fatkul. “Tafsir Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zayd.” dalam Jurnal Scholastica Vol 1 No. 1 Tahun 2019. 

Hasan, Farid, dan Siti Robikah. “Model Pembacaan Kontekstual Nasr Hamid Abu Zayd terhadap Teks Suci Keagamaan Al-Qur’an.” dalam Jurnal Citra Ilmu, Edisi 31 Vol. XVI April Tahun 2020. 

Nabil. “Hermeneutik Nasr Hamid Abu Zayd dalam Memahami Al-Qur’an.” dalam Al-Marhalah: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 2 Tahun 2020. 

Rohmah, Lailatul. “Hermeneutika Al-Qur’an: Studi atas Metode Penafsiran Nasr Hamid Abu Zayd, (Between Meaning and Significance Literary Hermeneutics).” dalam Jurnal Hikmah Vol. XII No. 2 Tahun 2016. 

Subchi, Iman. “Nasr Hamid Abu Zayd dan Gagasan Hermeneutika Dalam Tafsir Al-Qur’an.” dalam Jurnal Mimbar Agama Budaya Vol. 36 No. 2 Tahun 2019.Sucipto, Hery. Ensiklopedi Tokoh Islam: dari Abu Bakr Hingga Nashr dan Qardhawi. Jakarta: Mizan Publika. 2003.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *