Dekonstruksi Jacques Derrida

tafsiralquran.id

Hermeneutika memahami bahwa realitas adalah teks. Untuk memahami kebenaran seseorang harus mampu menafsirkan teks terlebih dahulu. Kebenaran bukanlah sesuatu yang dapat hadir dengan sendirinya, melainkan harus dihadirkan. Tapi mampukah dengan segenap kemampuannya, manusia menggapai kebenaran? Entahlah, barangkali kebenaran adalah proses itu sendiri, proses untuk menggapainya.

Derrida menyuguhkan sebuah pembacaan secara radikal terhadap teks-teks filsafat dan kemudian mempermainkannya. Ia membuka sebuah undang-undang untuk menggugat klaim filsafat sebagai satu-satunya penjelas bagi segala-galanya. Kata “dekonstruksi” merupakan kata yang pertama kali keluar melalui mulutnya. Dan konon, pembacaannya tidaklah mengenal kata akhir. Ia selalu memulai pembacaannya dengan pertanyaan dan mengakhirinya dengan pertanyaan.[1]

Biografi

Jacques Derrida adalah seorang keturunan Yahudi. Ia lahir pada 15 Juli 1930 di El-Biar salah satu daerah terpencil di wilayah Aljazair. Pada tahun 1949 ia pindah ke Paris untuk melanjutkan studinya. Setelah dua tahun di sana, ia kembali ke Aljazair untuk memenuhi kewajiban militernya untuk mengajar bahasa Prancis dan Inggris kepada anak-anak tentara di tanah airnya. Sejak 1952 ia resmi belajar di École Normale Supérieure (ENS), sekolah elite yang dikelola oleh M. Foucault, L. Althusser dan sejumlah filsuf garda depan Prancis. Setelah lulus, ia belajar di Husserl Archive, salah satu pusat kajian Fenomenologi di Louvain, Prancis. Dan setelah mendapatkan gelar kesarjanaannya, ia diberi tanggung jawab untuk mengajar di sana. Pada tahun 1960 ia dipanggil untuk mengajar di Universitas Sorbonne. Lalu empat tahun berikutnya, ia dipanggil untuk mengajar di ENS.[2]

Dekonstruksi

Pendekatan dekonstruktif lebih menyoroti isi teks agar ia dapat menyingkapkan makna yang seharusnya literal namun telah termanifestasi ke dalam berbagai metafora maupun perwujudan kata-kata. Tujuan dekonstruksi bukan untuk menjembatani dua jurang yang ada itu antara kata dan makna, melainkan hanya untuk menunjukkan jika jurang itu memang sudah seharusnya ada dan tidak dapat dielakkan lagi.[3]

Derrida mengadaptasi kata dekonstruksi dari destruksi Heidegger. Kata dekonstruksi bukan secara langsung terkait dengan kata destruksi melainkan terkait kata analisis yang secara etimologis berarti “untuk menunda” sinonim dengan kata mendekonstruksi. Terdapat tiga poin penting dalam dekonstruksi Derrida, yaitu:

  1. Dekonstruksi, seperti halnya perubahan terjadi terus menerus, dan ini terjadi dengan cara yang berbeda untuk mempertahankan kehidupan.
  2. Dekonstruksi terjadi dari dalam sistem-sistem yang hidup, termasuk bahasa dan teks.
  3. Dekonstruksi bukan suatu operasi, alat, atau teknik yang digunakan dalam suatu kerja setelah fakta dan tanpa suatu interpretasi subjek.[4]

Differance

Différance adalah istilah yang diusulkan oleh Derrida pada tahun 1968 dalam hubungannya dengan penelitiannya tentang teori Saussurean dan teori bahasa strukturalis. Derrida menginginkan untuk memisahkan perbedaan menurut akal sehat yang bisa dikonsepkan dengan perbedaan yang tidak dikembalikan kepada tatanan yang sama dan menerima identitas melalui suatu konsep. Perbedaan itu bukan suatu identitas dan juga bukan merupakan perbedaan dari dua identitas yang berbeda. Perbedaan-perbedaan yang ditunda itu adalah defer, karena dalam bahasa Prancis, kata kerja yang sama diffèrer bisa berarti membedakan (to differ) atau menangguhkan. Konsep différance ini muncul ketika Derrida mencoba menemukan bagaimana bahasa mempunyai arti, dia tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh kaum modernis yang sering keliru karena meletakkan ”arti” dalam kekuatan rasio dan kalimat manusia dipakai untuk menggambarkan realitas yang sebenarnya.[5]

Oposisi Biner ke Metafisika Kehadiran

Kebenaran yang semula berada di luar penanda (eksternal), kemudian menjadi lekat dengan penanda itu sendiri dalam bahasa. Dia bisa hadir lewat penanda. Kesatuan antara bentuk (penanda) dan isi (petanda) inilah yang disebut Derrida sebagai metafisika kehadiran. Metafisika kehadiran, yang terkadang disebut logosentrisme, berasumsi bahwa sesuatu yang bersifat fisik (penanda) dan yang melampaui fisik (petanda) dapat hadir secara bersamaan, dan hal ini hanya mungkin dalam ujaran, bukan tulisan.

Tanpa mempersoalkan rincian tentang cara para pemikir itu menetapkan dan membenarkan oposisi hirarkis semacam ini, penting untuk diingat bahwa strategi pertama dekonstruksi adalah membalikkan oposisi-oposisi yang sudah ada. Derrida menyangkal oposisi-oposisi biner semacam itu, dan akhirnya juga menolak kebenaran tunggal itu sendiri.[6]

Metafisika Kehadiran ke Hermeneutika

Menurut Derrida, dekonstruksi lebih merupakan strategi pembacaan dari pada sebuah metode yang memiliki sebuah rancangan jelas dan sistematis. Proses ini akan terus berlanjut karena penundaan dalam dekonstruksi tidak mengarah menuju satu telos tertentu, melainkan menyebar ke banyak arah. Pemahaman penafsir selalu dibentuk oleh sejarah dan sebuah penafsiran merupakan efek dari dialektika dengan sejarah. Dalam dekonstruksi, makna atau sejarah dilampaui. Makna bukanlah suatu institusi yang stabil dari teks. Dekonstruksi senantiasa mengajak penafsir untuk melampaui institusi yang membentuk dirinya dan pengalaman eksistensialnya dengan teks.[7]

Dalam hermeneutika radikal, ketidakmungkinan untuk mencapai makna ditebus dengan meninggalkan pijakan dan terjun dalam ambiguitas, perubahan terus-menerus. Dekonstruksi meradikalkan permainan makna sehingga menuntut sang penafsir untuk selalu memperbaiki tafsirannya setiap saat dan memulai tafsirannya dengan semangat baru, sudut pandang baru, strategi baru dan semua hal dengan serba baru.

Kesimpulan

Dekonstruksi merupakan pembelaan terhadap makna yang lain atau yang terpinggirkan. Semangatnya untuk menjunjung tinggi martabat perbedaan makna yang perlu kita hargai.Sekali lagi, keberadaan makna akan menjadi lebih bermakna hanya dengan adanya makna-makna lain yang mengitarinya. Dengan kata lain, sebuah dekonstruksi adalah gerak perjalanan menuju hidup itu sendiri. Hidup yang selalu menuntut kita, dengan rendah hati untuk mengakui kebenaran sebagai ketidakmungkinan. Kita hanya bisa berharap mampu menemukan sesuatu yang berharga dalam perjalanan ini tanpa pernah tahu apakah kita benar-benar memperoleh apa yang kita inginkan. Hidup ini merupakan sebuah perjalanan panjang, dan Derrida mengajarkan pada kita bahwa hidup adalah petualangan tanpa akhir dan menuju kebenaran.

Daftar Pustaka

Bertens, K. Filsafat Barat Kontemporer Prancis. Jakarta: Gramedia, 2014.

al-Fayadl, Muhammad. Derrida. Yogyakarta: LKiS, 2006.

Grodin, Jean. Sejarah Hermeneutika: Dari Plato Sampai Gadamer. Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2007.

Hardiman, F. Budi. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleirmacher sampai Derrida. Yogyakarta: Kanisius, 2015.

Kaelan. Pembahasan Filsafat Bahasa. Yogyakarta: Paradigma, 2013.

Santoso, Listiyono, et al. Epistemologi Kiri. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2015. Sumaryono, E. Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1999.


[1] K. Bertens, Sejarah Filsafat Barat Prancis, Jakarta: Gramedia, 2006, hal. 363.

[2] Muhammad al-Fayadl, Derrida, Yogyakarta: LKiS, 2006, hal. 2.

[3] Kaelan, Pembahasan Filsafat Bahasa, Yogyakarta: Paradigma, 2013, hal. 242.

[4] E. Sumaryono, Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hal. 132.

[5] F. Budi Hardiman, Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleirmacher sampai Derrida, Yogyakarta: Kanisius, 2015, hal. 287.

[6] Listiyono Santoso, et al., Epistemologi Kiri, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2015, hal. 251.

[7] Jean Grodin, Sejarah Hermeneutika: Dari Plato Sampai Gadamer, Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2007, hal 253.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *