Martin Heidegger: Hermeneutika dan Fenomenologi

nu.or.id

Heidegger lahir di Messkirch, sebuah kota kecil di Block Forest, Jerman pada tanggal 26 September 1889. Ayahnya Friedrich Heidegger, seorang pengurus gereja St. Martin. Dari nama gereja inilah sang ayah menamakan filsuf ini Martin Heidegger, gabungan nama gereja dan nama belakang ayahnya. Ibunya sendiri bernama Johanna.[1] Pastor paroki dan guru bahasa Latin memperantarainya untuk belajar di Gimnasium kota Konstanz. Tanpa bantuan finansial gereja Katolik Heidegger tidak mungkin menempuh pendidikan tinggi. Dia sempat studi teologi di Universitas Freiburg dan di sana dia mengenal hermeneutika. Menurut pengakuannya sendiri, di awal studi teologinya Heidegger banyak menyibukkan diri dengan Schleiermacher dan Dilthey serta hubungannya dengan teologi.[2]

Istilah hermeneutika sendiri sering diartikan sebagai metode-metode yang tepat untuk memahami dan menafsirkan hal-hal yang perlu ditafsirkan, seperti ungkapan atau simbol-simbol karena berbagai macam faktor yang sulit di pahami. Ini adalah definisi hermeneutika dalam arti sempit. Dalam arti luas, bisa dikatakan bahwa hermeneutika adalah cabang-cabang ilmu pengetahuan yang membahas hakikat, metode dan syarat serta prasyarat pemahaman atau penafsiran.[3]

Jika Hermeneutika Dilthey kita mengerti dengan titik tolak Labensphilosophie, untuk memahami hermeneutika Heidegger kita harus lebih dahulu memahami fenomenologi yang menjadi metodenya. Fenomenologi adalah pendekatan yang dirumuskan oleh Edmunf Husserl pada awal ke-20. kata fenomenologi berarti ilmu tentang hal-hal yang menampakkan diri. Lalu apa yang menampakkan diri? bisa perasaan, benda, peristiwa, pikiran, lembaga sosial dan seterusnya. Segala yang terlihat oleh kesadaran kita bisa disebut fenomen.[4]

Percangkokan hermeneutika dengan fenomenologi itu dimulai ketika Heidegger membawa dirinya langsung kepada sebuah tataran ontologi mengenai jumlah tertentu untuk memulihkan pemahaman yang tidak lagi menjadi model pengetahuan, melainkan lebih sebagai model ‘ada’.[5]

Maka ontologi dan fenomenologi bukanlah dua disiplin filosofis yang saling berjauhan atau filsafat adalah ontologis feminologis universal. karena pokok perenungan Heidegger adalah tentang makna ‘ada’, fenomenologi ontologis atau ontologi fenomenologis yang dipraktekkan di situ merupakan sebuah seni memahami makna juga, yaitu sebuah hermeneutika.[6] Heidegger berfokus pada ikhtiarnya untuk memberi makna baru pada ‘ada’, sehingga muncullah karyanya yaitu Sein und Zeit. Buku tersebut memuat konsep dasar yang mencerminkan pengalaman dasariah manusia, yaitu angst (kecemasan), sorge (kekhawatiran-kepedulian), unheimlichkeit (kengerian).[7]

Kemudian, Heidegger melakukan interpretasi tidak dengan memasukkan kerangka berpikir penafsir ke dalam hal yang dipahami, melainkan dengan membiarkan hal yang diinterpretasi itu tampak dan kita sebagai penafsir menjumpai sendiri kenyataan itu. Dalam interpretasi ini, diperlukan tindakan verstehen (memahami). Memahami menurut Heidegger bukan untuk memahami ini atau itu, melainkan membiarkan memahami sebagai tindakan primordial menampakkan diri. Dengan demikian, memahami merupakan cara Dasein (berada).[8]

Hermeneutika Heidegger banyak di pengaruhi oleh ide fenomenologi. Menurutnya, suatu teks atau fenomena tidak hanya dilihat dari apa yang nampak saja, tetapi ada bagian yang tidak terlihat yang boleh jadi itulah hakikat sesuatu tersebut.[9] Oleh karenanya untuk memahami suatu teks atau fenomena seseorang harus bisa melihat bagian yang masih tersembunyi dari teks atau fenomena tersebut.

Contoh fenomenologi Heidegger dalam kisah Nabi Yusuf, rangkaian peristiwa yang dialaminya saling berkaitan antara satu dengan yang lain, ada suka dan duka. Sepintas jika kita melihat hanya dari apa yang nampak kasat mata, maka kita akan mengatakan bahwa Nabi Yusuf disisihkan oleh saudara-saudaranya lalu dijual kepada Kerajaan Mesir sampai akhirnya dia masuk penjara. Maka yang tergambar adalah kepedihan, kesedihan dan kemalangan.

Tetapi jika kita berdiri lebih tinggi, berpikir lebih dalam maka kita akan melihat bahwa rangkaian peristiwa-peristiwa yang buruk yang menimpa Nabi Yusuf adalah sebuah ujian dan batu loncatan, Nabi Yusuf mampu menghadapi dan melewati pengalaman-pengalaman pahit itu dengan sikap yang benar. Sehingga semuanya ibarat anak tangga yang mengantarkan Nabi Yusuf pada ta’wȋl mimpinya. Ada rencana kebaikan di balik peristiwa menyedihkan.[10]

Pada akhirnya puing-puing kepedihan itulah yang membangun sejarah Nabi Yusuf hingga mencapai derajat tinggi baik sebagai abdi negara, maupun sebagai hamba sekaligus utusan Allah SWT. Ia mencapai puncak karir finansial, sosial, maupun spiritualnya setelah melewati beragam ujian, menelan pil pahit yang menempa jiwa dan kesadarannya.[11] Disebutkan dalam QS. Yusuf/12: 100:

وَرَفَعَ اَبَوَيۡهِ عَلَى الۡعَرۡشِ وَخَرُّوۡا لَهٗ سُجَّدًا‌ۚ وَقَالَ يٰۤاَبَتِ هٰذَا تَاۡوِيۡلُ رُءۡيَاىَ مِنۡ قَبۡلُ قَدۡ جَعَلَهَا رَبِّىۡ حَقًّا‌ؕ وَقَدۡ اَحۡسَنَ بِىۡۤ اِذۡ اَخۡرَجَنِىۡ مِنَ السِّجۡنِ وَجَآءَ بِكُمۡ مِّنَ الۡبَدۡوِ مِنۡۢ بَعۡدِ اَنۡ نَّزَغَ الشَّيۡطٰنُ بَيۡنِىۡ وَبَيۡنَ اِخۡوَتِىۡ‌ؕ اِنَّ رَبِّىۡ لَطِيۡفٌ لِّمَا يَشَآءُ‌ؕ اِنَّهٗ هُوَ الۡعَلِيۡمُ الۡحَكِيۡمُ

Dan berkata Yusuf: “Wahai ayahku inilah tabir mimpiku yang dahulu itu, sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Hal serupa seringkali terjadi pada kehidupan kita. Bukankah dalam kehidupan ini kita sering terlalu terburu-buru menerka maksud dari suatu kejadian berdasarkan apa yang nampak oleh mata. Jika ditimpa kesenangan kita menganggapnya sebuah berkah, tetapi ketika ditimpa kemalangan kita menganggap itu sebuah nasib buruk. Padahal jika berkaca pada kisah Nabi Yusuf, boleh jadi kelelahan, kepedihan dan kemalangan yang mungkin kita alami saat ini ada kebaikan yang belum kita lihat, ada rencana Allah SWT yang masih menjadi rahasia.

DAFTAR PUSTAKA

Arif, Muhammad. “Hermeneutika Heidegger dan Relevansinya Terhadap Kajian Al-Qur’an”. Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadis, Vol. 16 No. 1 Tahun 2015.

Darmawan, Dadang. “Analisa Kisah Yusuf dalam Al-Qur’an dengan Pendekatan Hermeneutika”. Jurnal Al-Bayan, Vol. 1 No. 1 Tahun 2016.

Hardiman, F. Budi. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: PT. Kanisius 2015.

————. Heidegger dan Mistik Keseharian: Suatu Pengantar Menuju Sein un Zeit. Jakarta: KPG, 2003.

Muaz, Abdul. “Hermeneutika dan Mewaktu Bersama Heidegger”. Jurnal Studi Hadis Nusantara, Vol. 2 No. 2 Tahun 2020.

Rosyadi, Salim. “Dialektika Dasein dan Semesta Bahasa (Melacak Pemikiran Heidegger dalam Wacana Hermeneutika Fenomenologi)”. Jurnal Aqlania, Vol. 10 No. 2 Tahun 2019. Syahminan, Mhd. “Hermeneutika dalam Perspektif Martin Heidegger”. Jurnal Ushuluddin: Pemikirin Islam, Kewahyuan, Politik dan Hubungan Antar Agama, No. 45 Tahun 2013.


[1] Abdul Muaz, “Hermeneutika dan Mewaktu Bersama Heidegger”, dalam Jurnal Studi Hadis Nusantara, Vol. 2 No.  2 Tahun 2020, hal. 145.

[2] F. Budi Hardiman, Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida, Yogyakarta: PT. Kanisius, 2015, hal. 100.

[3] Muhammad Arif, “Hermeneutika Heidegger dan Relevansinya Terhadap Kajian Al-Qur’an”, dalam Jurnal Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an dan Hadis, Vol. 16 No. 1 Tahun 2015, hal. 85.

[4] F. Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian: Suatu Pengantar Menuju Sein un Zeit, Jakarta: KPG, 2003, hal. 21.

[5] Salim Rosyadi, “Dialektika Dasein dan Semesta Bahasa (Melacak Pemikiran Heidegger dalam Wacana Hermeneutika Fenomenologi)”, dalam Jurnal Aqlania, Vol. 10 No. 2 Tahun 2019, hal. 101.

[6] F. Budi Hardiman, Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida, hal. 106.

[7] Tony Wiyaret Fanggidae dan Dina Datu Paonganan, “Filsafat Hermeneutika: Pergulatan antara Perspektif Penulis dan Pembaca”, dalam Jurnal Filsafat Indonesia, Vol. 3 No. 3 Tahun 2020, hal. 105.

[8] Mhd. Syahminan, “Hermeneutika dalam Perspektif Martin Heidegger”, dalam Jurnal Ushuluddin: Pemikirin Islam, Kewahyuan, Politik dan Hubungan Antar Agama No. 45 Tahun 2013, hal. 165.

[9] Dadang Darmawan, “Analisa Kisah Yusuf dalam Al-Qur’an dengan Pendekatan Hermeneutika”, dalam Jurnal Al-Bayan, Vol. 1 No. 1 Tahun 2016, hal. 15.

[10] Dadang Darmawan, “Analisa Kisah Yusuf dalam Al-Qur’an dengan Pendekatan Hermeneutika”, hal. 15

[11] Dadang Darmawan, “Analisa Kisah Yusuf dalam Al-Qur’an dengan Pendekatan Hermeneutika”, hal. 16

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *