Hermeneutika Heidegger

pexels.com

Martin Heidegger lahir pada tanggal 26 September 1889, di sebuah kota kecil, Messkirch. Keluarganya merupakan keluarga sederhana, dan ayahnya bekerja sebagai koster pada Gereja Katolik Santo Martinus di kota kecil tersebut. Ia menjalani sekolah menengah di Konstanz dan Freiburg im Breisgrau. Pada tahun 1909 ia masuk Fakultas Teologi di Universitas Freiburg, walau tidak bertahan lama. Setelah empat semester ia beralih perhatian dan mengarahkan diri kepada studi filsafat dan mengikuti kuliah tentang ilmu alam dan ilmu kemanusiaan. Heidegger memperoleh gelar “doktor filsafat” pada tahun 1913 dengan desertasi tentang “Die Lehre vom Urteil im Psycologismus” (ajaran tentang putusan dalam Psikologisme). Dua tahun kemudian, ia mempertahankan “Habilitationsschrift”-nya yang berjudul “Die Kategorein und Bedeutungslehere des Duns Scotus” (Ajaran Duns Scotus tentang Kategori dan Makna), yang kemudian diubah di bawah bimbingan Rickert dan diterbitkan pada tahun 1916.[1]

Kaum romantik sebelum Heidegger-Schleiermacher dan Dilthey- masih memakai ilmu alam dalam memahami ilmu sosial, dan hal inilah yang dikritisi oleh Heidegger dalam hermeneutikanya.

Untuk memahami Hermeneutika Heidegger kita harus lebih dulu memahami Fenomenologi yang menjadi metodenya. Fenomenologi adalah sebuah pendekatan untuk mendeskripsikan hal-hal sebagaimana kita mengalami atau menghayati jauh sebelum hal-hal itu kita rumuskan dalam pikiran kita. Semboyan Husserl,  Zuruck den  Sachen Selbt (kembalilah kepada hal-hal itu sendiri), dapat menjelaskan maksudnya. Yang dimaksud dengan “hal-hal itu sendiri” bukanlah kenyataan sebagaimana dirumuskan oleh filsafat atau ilmu pengetahuan, melainkan kenyataan yang dihayati sebelum filsafat dan ilmu pengetahuan merumuskannya. Ambillah contoh kubus, sebelum dirumuskan oleh geometri sebagai kubus “ideal”, kubus ada dalam bentuk yang hanya dapat kita ketahui sisi demi sisi. Kita berjalan sisi demi sisi dan mengalaminya hanya dari perspektif tertentu. Kita tidak pernah melihat seluruh kubus itu, tetapi kesadaran kita menghubungkan sisi-sisi yang telah kita amati itu menjadi seluruh kubus yang dijelaskan dalam geometri. Dalam contoh ini, “hal-hal itu sendiri” bukanlah kubus geometris atau seluruh kubus, melainkan kubus itu sendiri, yaitu sisi demi sisi kubus sebagaimana kita inspeksi dengan menggerakan tubuh kita.[2]

Heidegger memiliki pandangan sendiri tentang verstehen atau memahami. Bagi Schleiermacher dan Dilthey memahami adalah sebuah aktifitas kognitif yang artinya mereka meletakan mamahami pada ranah epistomologi, sedangkan Heidegger meletakan memahami jauh lebih dalam yaitu pada ranah ontologis. Memahami adalah cara bereksistensi atau berada dalam dunia, memahami adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari manusia, memahami seperti bernafas.

Diantara Hermeneutika Heidegger yang berbeda dari Hermeneutika Schleiermacher dan Dilthey adalah kemewaktuan dalam memahami. Bagi Schleiermacher dan Dilthey memahami merupakan upaya untuk menangkap makna di masa lalu, sedangkan bagi Heidegger memahami selalu terarah ke masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

Hardiman, F. Budi. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: Kanisius, 2015.

Wahid, Lalu Abdurrahman. “Filsafat Eksistensialisme Martin Heidegger dan Pendidikan Perspektif Eksistensialisme” dalam PANDAWA: Jurnal Pendidikan dan Dakwah. Vol. 4 No. 1 Tahun 2021.


            [1]  Lalu Abdurrahman Wahid, “Filsafat Eksistensialisme Martin Heidegger dan Pendidikan Perspektif Eksistensialisme” dalam PANDAWA: Jurnal Pendidikan dan Dakwah, Vol. 4 No. 1 Tahun 2021, hal. 4.

                [2] F. Budi Hardiman, Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida, Yogyakarta: Kanisius, 2015, hal. 103-104.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *