Pengantar Epistemologi

2.bp.blogspot.com

Seyyed Hossein Nasr menyebut istilah tokoh universal yang disematkan kepada orang-orang yang penguasaan dan kontribusinya menjangkau sangat banyak bidang ilmu pengetahuan. Menurutnya, kini sudah sangat sulit lahir orang-orang seperti itu karena ilmu telah terkotak-kotak, bahkan ada kotak ilmu agama dan ilmu bukan agama. Istilah lain untuk tokoh universal itu adalah doktor universal. Penyebab lain sulit atau mustahilnya hadir kembali tokoh universal adalah karena setiap bidang ilmu telah mempertajam spesialisasinya sehingga seseorang hanya mungkin dapat menguasai dengan baik satu bidang ilmu saja. Usia seseorang, sepanjang apapun, tidak lagi menyediakan waktu yang cukup untuk pendalaman spesialisasi yang lain.

Kenyataan bahwa kehidupan semakin kompleks sehingga memaksa pembagian kerja yang berakibat pembagian keahlian tertentu untuk dikuasi juga memberikan andil bagi kenyataan tidak mungkinnya lagi hadir tokoh universal. Kehidupan kini sudah laksana mesin raksasa yang tersusun dari baut, sekrup, gigi, roda, dan organ lainnya, di mana orang harus memilih menjadi apa dengan fungsi tertentu dan tidak bisa menjadi yang lain dengan fungsi berbeda.

Bacaan Lainnya

Meski kecenderungan spesialisasi ilmu pengetahuan semakin dominan, ada kecenderungan baru yang hendak memberi ruang kerjasama antarilmu pengetahuan. Kenyataan bahwa problem kehidupan juga semakin kompleks dan tidak hanya bisa diselesaikan lewat hanya satu bidang ilmu pengetahuan saja memaksa kerja sama itu. Misalnya, saat ada wabah, maka itu bukan semata-mata urusan dokter karena itu juga menjadi pemikiran para ekonom, sosiolog, agamawan, dan seterusnya. Tetapi, yang menjadi catatan adalah bahwa kerja sama itu tidak menghilangkan spesialisasi, bahkan meneguhkannya karena kerja sama yang baik hanya bisa dihasilkan oleh mereka yang memang benar-benar spesialis di bidangnya masing-masing. Boleh dikata bahwa spesialisasi ilmu pengetahuan adalah pembicaraan yang telah lewat. Kini, yang lebih penting adalah pembicaraan tentang kerja sama antarilmu pengetahuan dan bagaimana cara kerjanya.

Cara kerja ilmu pengetahuan dibahas di dalam disiplin filsafat ilmu dan hanya filsafat ilmu lah yang bisa mengurai perdebatan dan memberikan perspektif terhadap spesialisasi ilmu pengetahuan dan juga kerja sama antarilmu pengetahuan dan juga terhadap dinamika ilmu pengetahuan secara umum. Perdebatan dan perspektif yang dimaksud di sini adalah persoalan bagaimana seharusnya ilmu pengetahuan dipraktikkan, bagaimana jika ilmu pengetahuan mulai bersinggungan dengan etika, bagaimana ilmu pengetahuan dibangun, dan persoalan-persoalan lain yang sejenis, yang oleh spesialisasi ilmu pengetahuan itu sendiri tidak diberikan perhatian.

Satu yang khas dari filsafat ilmu adalah kemampuannya menjelaskan kerangka logika ilmu pengetahuan, misalnya tentang apakah pengetahuan berasal dari prinsip-prinsip logis yang a priori atau berasal dari pengalaman manusia atau gabungan antara keduanya? Dengan begitu saja, filsafat ilmu tidak lagi deskriptif tetapi sudah bersifat normatif kritis. Maksudnya, norma-norma dasar ilmu pengetahuan harus mendapatkan penjelasan terlebih dahulu lalu tinjauan kritis terhadapnya bisa dilakukan. Semua itu berjalan di atas landasan prinsip kebenaran dan kebebasan ilmu pengetahuan.

Yang disebut dengan ilmu pengetahuan adalah hasil dari refleksi dan penelitian secara rasional dan empiris yang dilakukan terus-menerus terhadap pengetahuan yang sudah ada sehingga tingkat kebenarannya sangat tinggi. Uniknya, meskipun tingkat kebenarannya sangat tinggi karena telah direfleksi dan diteliti sepanjang sejarah kemanusiaan, ilmu pengetahuan tetap masih bisa berubah karena memang naturalnya, ilmu pengetahuan harus bisa terus-menerus direfleksi dan diteliti tanpa akhir.

Mengapa harus ada refleksi dan penelitian tanpa akhir? Itu karena ilmu pengetahuan terdiri dari proposisi-proposisi atau pernyataan-pernyataan yang harus tunduk di bawah aturan kebenaran. Jika sebuah proposisi sudah tidak benar karena bertentangan dengan hasil refleksi dan penelitian terbaru, maka proposisi tersebut harus berganti dengan proposisi yang baru. Begitulah seterusnya. Sekali lagi, tanpa akhir.

Tingkat kebenaran yang sangat tinggi itu melahirkan optimisme kemanusiaan bahwa ilmu pengetahuan pasti bisa membawa manusia kepada masa depan yang sangat cerah. Kenyataannya, memang ilmu pengetahuan memudahkan pekerjaan, mempercepat penyelesaikan masalah, dan membuat kehidupan manusia lebih berwarna-warni. Salah satu kejaiban ilmu pengetahuan adalah kenyataan yang dialami oleh manusia masa kini yaitu kenyataan yang bahkan jauh melampaui mimpi-mimpi terliar manusia lampau 20 tahun atau lebih dari sekarang.

Dampak lain dari tingkat kebenaran ilmu pengetahuan yang tinggi adalah terpinggirkannya peran agama dan mitologi yang sebelumnya sangat memengaruhi kehidupan manusia. Agama dan mitologi sebelumnya berfungsi sebagai penjelas bagi sebagian besar kenyataan kehidupan dan juga pemberi makna bagi peristiwa-peristiwa kehidupan, serta menjawab pertanyaan-pertanyaan tentangnya. Karena itu, agama dan mitologi memberikan aturan-aturan tertentu untuk kehidupan yang lebih baik.

Dengan hadirnya ilmu pengetahuan, maka ilmu pengetahuan lah kini yang menjadi pemberi aturan bagi kehidupan yang lebih baik untuk segala aspek, dari yang paling sederhana hingga yang paling pelik sekalipun. Memang belum sepenuhnya ilmu pengetahuan menggantikan agama dan mitologi, tetapi wilayah-wilayah yang masih belum tertantikan itu kini menjadi wilayah rebutan pengaruh antara ketiganya. Salah satu solusi dari perebutan pengaruh itu adalah pembagian wilayah kekuasaan, misalnya ilmu pengetahuan menguasai bidang-bidang tertentu dan agama serta mitologi menguasai bidang-bidang yang telah ditentukan lainnya. Lalu terjadi gencatan senjata.

Pada dasarnya, ilmu pengetahuan adalah ketegangan antara konsep dan pengalaman. Konsep bisa saja lahir secara a priori dan bisa juga lahir dari pengalaman. Namun, konsep akan tetap bertahan jika pengalaman lain bisa mengonfirmasi kebenarannya. Jika tidak, konsep lain telah tersedia untuk menggantikannya. Dari sini tampak bahwa pengalaman lah yang menjadi hakim untuk menentukan bertahan tidaknya sebuah konsep, namun pengalaman yang dimaksud di sini adalah yang melampaui apa yang dapat dilihat secara langsung dan menembus hingga apa yang tidak bisa dilihat secara langsung. Jadi, bukan pengalaman sederhana.

Pertanyaannya kini, apakah pengalaman sederhana itu tidak memengaruhi pengalaman yang lebih dalam yang disebut sebagai melampaui pengalaman sederhana itu? Jika berpengaruh, maka sesungguhnya pengalaman sederhana itulah yang menentukan kebenaran. Jika tidak berpengaruh, maka pengalaman yang melampaui apa yang dilihat itulah yang menentukan kebenaran. Karakter dua hal ini memang berbeda. Pengalaman sederhana sangat dipengaruhi oleh ruang dan waktu tertentu dan mengabaikan dimensi universalitas. Adapun pengalaman yang lebih mendalam hendak menjangkau yang universal itu. Itulah inti perdebatannya.

Pengalaman sederhana bersifat langsung sehingga memiliki ilmu pengetahuan dengan tingkat kebenaran yang faktual, namun parsial. Adapun pengalaman yang tidak sederhana memiliki kebenaran yang tidak faktual, namun universal. Ilmu pengetahuan dari pengalaman sederhana tidak bisa ditularkan kepada orang lain karena masing-masing orang memiliki pengalaman sederhana yang berbeda. Berbeda dengan ilmu pengetahuan yang bersifat universal, dia bisa ditularkan kepada orang lain.

Ilmu pengetahuan yang bersifat universal mendapatkan gugatan sepanjang sejarah yang belakangan melahirkan modernitas. Inti gugatannya adalah bahwa ilmu pengetahuan harus berdasarkan kepada fakta. Namun ada kritikan balik, apakah ada jaminan bahwa ada kepastian ilmu pengetahuan jika ilmu pengetahuan hanya berdasarkan fakta? Jawabannya, tidak ada. Karena itu, ilmu pengetahuan yang universal juga tidak dapat diabaikan, meski penyakitnya juga sama, yaitu tidak bisa sampai kepada kepastian ilmu pengetahuan.

Dengan demikian, tingginya tingkat kebenaran ilmu pengetahuan bukan berarti telah sampai kepada tahap kepastian. Tahap tertingginya adalah kemungkinan kebenaran yang lebih besar yang kemudian bisa dijadikan landasan bangunan argumentasi lebih lanjut. Agar tidak mudah runtuh, sebuah ilmu pengetahuan harus berdasar kepada obeservasi hati-hati dan berulang-ulang dalam terang teori-teori. Problem mutakhir bagi ilmu pengetahuan adalah hadirnya ilmu pengetahuan yang tidak sungguh-sungguh ilmu pengetahuan namun dianggap ilmu pengetahuan. Persoalnnya, ilmu pengetahuan begitu melimpah hingga hampir-hampir tidak ada waktu bagi observasi hati-hati dan berulang dalam terang teori-teori hingga yang bukan sungguh-sungguh pengetahuan tetap merajalela tanpa verifikasi. Persoalan yang lebih parah adalah penentu kebenaran adalah massa mayoritas, termasuk massa maya, yang tidak peduli kepada otoritas ilmu pengetahuan, baik kepada otoritas tokohnya maupun kepada otoritas sistemnya. Jadi, bukan hanya matinya kepakaran, tetapi juga matinya sistem ilmu pengetahuan.[]

Editor: AMN

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *