Hermeneutika Demitologasi Bultmann: Perjumpaan Eksistensial dengan Al-Qur’an Melalui Sirah Nabawiah

nu.or.id

Perjumpaan eksistensial menurut Bultman adalah bahwa seorang penafsir harus merasa dan melibatkan diri dalam permasalahan teks agar memiliki hubungan eksistensial dengan teks yang ditafsirkan. Hubungan eksistensial ini merupakan presuposisi dasariah untuk memahami sejarah. Karena itu, makna dalam kitab-kitab suci tidak akan pernah definitif, melainkan menyingkapkan diri lagi di masa depan. Seperti halnya mitos-mitos yang memerlukan sebuah penafsiran melalui pemahaman dan istilah-istilah eksistensial sebagai representasi objektif yang harus ditafsirkan dalam pengertian tentang makna keberadaan.[1]

Bultmann merasa bahwa orang-orang menghadapi keputusan-keputusan tertentu dalam kehidupan eksistensial mereka secara nyata. Keputusan-keputusan ini bukan hanya satu aspek dari apa yang dilakukan seseorang, melainkan mereka merupakan jantung menjadi seorang individu. Bultmann berpendapat bahwa apa yang terlibat dalam keputusan ini adalah pemahaman diri tentang kemungkinan yang tersingkap dari kehidupan seseorang.[2]

Sebagai petunjuk, Al-Qur’an memiliki nilai yang sangat baik, unggul dan mulia. Sedemikian luhur, mulia dan unggul ajarannya. Akan tetapi, ketika ajaran-ajaran yang unggul dan mulia tersebut diterapkan pada tataran kehidupan sosial oleh para pemeluknya, terdapat jarak yang sangat jauh karena unsur yang begitu kental dengan mitologis. Pemikir modernis muslim sekaliber Muhammad Abduh pun tidak sanggup menunjukkan bukti keunggulannya melalui suatu komunitas yang representatif bagi ajaran Islam.[3] Sehingga manusia modern memerlukan suatu metode baru yang dikenal dengan demitologisasi yang terinspirasi dari Bultmann berupa perjumpaan eksistensial dengan Al-Qur’an melalui sirah nabawiah, dimana pada akhirnya penafsir dapat merasakan atmosfir serta melibatkan diri secara langsung dengan kondisi saat teks Al-Qur’an tersebut hadir.

Tujuan utama mempelajari sirah nabawiah bukanlah sekadar untuk mengungkap peristiwa-peristiwa bersejarah tentang Nabi Muhammad. Juga bukan hanya untuk menonjolkan sisi-sisi superioritasnya dibanding manusia-manusia lain. Mengkaji sirah nabawiah haruslah diarahkan pada  pengungkapan nilai-nilai historis di atas fakta-fakta historis yang muncul. Dalam setiap kajian perjalanan hidup Nabi harus dapat dipahami melalui pendekatan sirah (sejarah) sehingga hal tersebut menjadi sangat penting.

Sirah adalah sebuah pendekatan yang tepat untuk demitologisasi kehidupan Nabi Muhammad.[4] Melalui kajian sirah ini maka tentu dapat diketahui dengan jelas psikologi Nabi sebagai manusia biasa. Melalui sirah, hadist dapat dipahami dengan tepat dan akurat serta dapat diketahui mana tindak tutur Nabi yang bersumber dari budaya dan mana yang berasal dari wahyu. Melalui sirah, kehidupan Nabi dapat dicitrakan dengan apa adanya, keluar dari unsur mitologisasi.

Nabi Muhammad adalah manusia fenomenal dalam sepanjang sejarah  peradaban manusia di dunia. Ia sebenarnya adalah manusia biasa yang tidak ada  bedanya dengan manusia-manusia lain, selain telah menerima wahyu Allah. Allah Swt. menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Nabi Muhammad adalah manusia biasa:

… قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ  

Katakankah (wahai Muhammad) sesungguhnya aku adalah manusia sepertimu, yang diberikan wahyu…” (al-Kahfi/18: 110)

Keberhasilan dakwah Nabi jika dilihat dari sudut pandang sirah nabawiah justru bukan karena perilaku-perilaku supranatural yang kerap muncul pada diri Nabi seperti terbelahnya bulan, keluar air dari jemari, dan semacamnya. Keberhasilan itu murni karena kegigihan dan keuletan serta keberhasilan Nabi dalam membangun masyarakat baru yang lebih berperadaban dan maju. Ini terbukti misalnya masyarakat Mekah ketika ditunjukkan kehebatan-kehebatan Nabi, tetap saja tidak mau beriman. Hal-hal supranatural ini justru lebih sering muncul ketika Nabi sedang berada di tengah-tengah komunitas muslim. Sehingga dengan demikian, Nabi tidak memikat lawan-lawan politik dakwahnya dengan hal-hal yang tidak manusiawi seperti mukzizat. Mereka mendambakan pemimpin yang mampu menyatukan mereka dalam kedamaian. Setelah mengetahui keberhasilan Nabi Muhammad di Madinah, tanpa diminta dan ditawarkan pun mereka diam-diam tertarik pada dakwah Nabi Muhammad.[5]

Kunci dakwah Nabi pun tidak disampaikan melalui ajaran supranatural, namun dengan akhlak, kesiapan mental, keteladanan dan manajemen pemberdayaan. Nabi Muhammad setiap bertemu dengan saudaranya selalu tersenyum. Nabi Muhammad memiliki wajah yang indah dan berbicara lembut sehingga orang-orang Quraisy yang melihatnya terbujuk kata-kata yang indah. Nabi Muhammad juga mempunyai sifat penyabar, salah satu buktinya ialah tetap tersenyum ketika orang-orang Quraisy meludahinya.

Nabi Muhammad mempunyai mental yang siap. Ia siap menerima risalah dakwah. Sejak kecil ia sudah menjadi anak yatim piatu dan mampu bekerja sehingga mempunyai sifat mandiri dan jiwa yang matang. Dalam keteladanan, Nabi Muhammad adalah sosok yang sangat patut dicontoh, jika ada perintah Allah untuk umatnya, maka Nabi Muhammad yang pertama melakukannya. Ia akan bersedekah meskipun di rumahnya sering tidak ada uang. Selain itu, Nabi Muhammad mampu menyusun strategi pemberdayaan dengan tepat. Nabi Muhammad dapat melihat potensi sahabat dan orang-orang terdekatnya. Misalnya memilih Utsman bin Affan, sebagai ahli ekonomi, untuk mengungguli kaum Yahudi saat hijrah dari Mekah ke Madinah.[6]

Nabi Muhammad adalah orang biasa. Ia tidak memiliki hak untuk berkuasa terhadap alam semesta maupun hak untuk diibadahi atau disembah sedikitpun. Akan tetapi pada zaman ini banyak orang yang melewati batas dalam memperlakukan diri Nabi Muhammad. Mereka mengkultuskan segala tindakan Nabi. Anggapan ini merupakan perbuatan yang menyimpang. Nabi Muhammad sendiri telah mengumumkan bahwa beliau sama sekali tidak dapat mendatangkan manfa’at dan tidak pula dapat menolak kemudharatan bagi diri sendiri, kecuali yang dikehendaki Allah.

Dari sini kita dapat memahami bahwa presuposisi dogmatis tentang Nabi Muhammad adalah murni manusia ajaib dapat terbantahkan. Secara psikologi, adat budaya dan kehidupan, Muhammad adalah sosok manusia biasa. Sehingga meneladani beliau adalah keharusan yang mesti ditimbulkan karena perilakunya pun adalah tuntunan. Inilah yang secara keseluruhan telah dimiliki Nabi Muhammad. Dengan demikian, secara sederhana dapat disimpulkan, bahwa rahasia keberhasilan dakwah Nabi Muhammad banyak ditopang oleh kompetensi kepribadian beliau sebagai seorang da’i, yang telah mengamalkan Islam yang didakwahkannya untuk dirinya sebelum mengajak kepada orang lain untuk mengamalkannya.

Pada akhirnya, tulisan ini hanya ingin mengatakan bagaimana sebenarnya cara meneladani Nabi, seorang warga Arab yang berulang kali meyakinkan bahwa dirinya adalah manusia biasa yang terhimpun teladan baik pada dirinya. Namun, selain sebagai seorang manusia biasa, nyatanya beliau adalah Nabi utusan Allah. Sebagai seorang muslim tetap harus mengimaninya. Hal yang ingin ditekankan oleh beliau adalah agar umatnya tidak terjerumus dalam mitologisasi kehidupannya sehingga segala yang tampak dari dirinya dianggap sebagai suatu hal yang luar biasa dan bahkan supranatural.

Daftar Pustaka

Brown, Daniel. Rethinking Tradition In Islamic Modern Thought. Cambridge: Cambridge University Press. 1996.

Conn, Harvie M. Teologia Kontemporer. Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara. 1988.

Hardiman, F. Budi. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: PT Kanisius. 2015.

Hasbillah, Ahmad Ubaydi “Sirah Nabawiyah dan Demitologisasi Kehidupan Nabi”. dalam Journal of Qur’an and Hadith Studies. Vol. 1 No. 2 Tahun 2012.

Salahi, M. A. Muhammad sebagai Manusia dan Nabi. Yogyakarta: Mitra Pustaka. 1995. Thohir, Ajid. Sirah Nabawiyah: Nabi Muhammad SAW dalam kajian Ilmu Sosial Humaniora. Bandung: Nuansa Cendekia. 2014.


[1] F. Budi Hardiman, Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida, Yogyakarta: PT Kanisius. 2015, hal. 142.

[2] Harvie M Conn, Teologia Kontemporer, Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1988, hal. 49-52.

[3] Ajid Thohir, Sirah Nabawiyah: Nabi Muhammad SAW dalam kajian Ilmu Sosial Humaniora, Bandung: Nuansa Cendekia, 2014, hal. 5.

[4] Ahmad Ubaydi Hasbillah, “Sirah Nabawiyah dan Demitologisasi Kehidupan Nabi”, dalam Journal of Qur’an and Hadith Studies, Vol. 1 No. 2 Tahun 2012, hal.274. 

[5] Daniel Brown, Rethinking Tradition In Islamic Modern Thought, Cambridge: Cambridge University Press, 1996, hal.63-75.

[6] M. A. Salahi, Muhammad sebagai Manusia dan Nabi, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1995, hal 230.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *