Urgensi Kuliah di Program Studi Ilmu al-Quran dan Tafsir

Sudah diketahui bersama bahwa memahami al-Quran dibutuhkan banyak sekali perangkat ilmu agar pemahaman yang dihasilkan lebih mendekati kebenaran dan minim dari distorsi. Memahami al-Quran bukan hanya dibutuhkan pemahaman bahasa Arab yang mumpuni dari segala aspek bahasa Arab itu sendiri, seperti ilmu nahwu, sharaf, balaghah, dan lain-lain, tetapi juga dibutuhkan penguasaan terhadap seperangkat ilmu-ilmu seputar al-Quran dan tafsir. Oleh karena itu, di kampus-kampus Islam dibuka program studi ilmu al-Quran dan tafsir (Prodi IAT).

Idealnya, setiap orang yang akan memahami al-Quran harus belajar dulu di program studi ilmu al-Quran dan tafsir tersebut agar mendapatkan bekal yang cukup, minimal tentang kerangka umum dan metodologi memahami dan menafsirkan al-Quran. Kedua ilmu ini sangat mendasar dalam memahami al-Quran agar kesalahan-kesalahan memahami al-Quran dapat diminimalisir.

Bacaan Lainnya

Pemahaman-pemahaman yang keliru saat membaca al-Quran banyak terjadi dikarenakan belum memahami metodologi memahami dan menafsirkan al-Quran. Sementara setiap orang yang membaca al-Quran, secara naluriah akan berusaha menafsirkan al-Quran untuk mengekspresikan apa yang dipahaminya setelah membacanya. Apalagi ketika yang membaca al-Quran adalah seorang penulis yang biasanya ia akan menuangkan pemahamannya terhadap ayat-ayat al-Quran yang dibacanya dalam tulisan.

Bagi para penceramah, khatib, ustadz, muballigh, apalagi dai, ketika akan menyampaikan penafsiran terhadap suatu ayat al-Quran harus ekstra hati-hati. Karena apa yang disampaikannya akan sangat mudah viral di era sosial media seperti sekarang ini. Ketika penafsiran al-Qurannya salah akan sangat berbahaya bagi masyarakat luas. Karena ini akan bisa mencoreng citra Islam dan al-Quran itu sendiri.

Hal di atas penting untuk kita pahami karena sebagian besar masyarakat kita masih sangat awam dengan metodologi memahami dan menafsirkan al-Quran yang benar yang sudah dirumuskan oleh para pakar tafsir al-Quran. Banyak masyarakat kita belum tahu dan mengenal apa itu program studi ilmu al-Quran dan tafsir dan apa saja yang dipelajari di sana.

Ketika sekarang banyak menjamur rumah tahfizh-rumah tahfizh al-Quran dan pesantren-pesantren al-Quran idealnya lulusan-lulusannya melanjutkan kuliah ke kampus-kampus Islam yang ada program studi ilmu al-Quran dan tafsir sehingga studi mereka terus berkelanjutan. Tidak terputus di level hafalan al-Quran saja. Apalagi kalau di rumah tahfizh atau pesantren tahfizh al-Qurannya tidak ada program belajar bahasa Arab, ini amat lebih disayangkan lagi. Karena mereka hanya akan menghabiskan waktu belajar mereka untuk menghafalkan al-Quran saja.

Padahal menghafal al-Quran bagian dari rangkaian proses interaksi dengan al-Quran yang seharusnya dilanjutkan dengan tahapan selanjutnya agar proses interaksi dengan al-Quran lebih berefek terhadap kehidupan, minimal pribadinya, ke level memahami al-Quran. Tanpa ada proses belajar memahami al-Quran dengan mencukupkan diri pada level menghafal semata, al-Quran tidak akan hadir ke dalam kehidupan sehari-hari sebagai petunjuk dan panduan hidup.

Al-Quran akan betul-betul hadir sebagai petunjuk dan panduan hidup ketika para pembacanya barusaha memahami isi dan kandungannya. Dan itu harus ada langkah-langkah nyata di luar menghafal al-Quran. Di sini penulis tidak bermaksud mengkerdilkan usaha menghafal al-Quran para santri di pondok pesantren dan rumah tahfizh al-Quran yang memang butuh perjuangan keras dan ketekunan luar biasa. Tetapi tulisan ini bertujuan untuk menyadarkan mereka bahwa proses interaksi dengan al-Quran itu proses berkelanjutan yang tidak cukup hanya dengan menghafal al-Quran dengan hafalan di luar kepala. Proses interaksi dengan al-Quran harus berorientasi menjadikan al-Quran sebagai petunjuk dan panduan hidup sehingga kehidupan kita betul-betul sesuai dengan bimbingan al-Quran.

Dan salah satu langkah paling efektif untuk menjadikan al-Quran sebagai petunjuk hidup adalah dengan kuliah dan melanjutkan studi ke kampus-kampus Islam program studi ilmu al-Quran dan tafsir. Di sanalah kita akan benar-benar mempelajari perangkat-perangkat ilmu yang akan mengantarkan kita mengetahui dan menguasai metodologi memahami dan menafsirkan al-Quran yang benar.

Tentunya belajar di program studi ilmu al-Quran dan tafsir akan lebih efektif dan optimal ketika para mahasiswanya sudah menguasai empat aspek bahasa Arab dengan bagus dari mulai kemampuan mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Karena empat kemampuan bahasa Arab tersebut sangat diperlukan ketika mahasiswa ingin melakukan penelitian dengan menggunakan sumber literatur dan referensi primer. Sehingga diharapkan hasil tulisan ilmiahnya pun benar-benar berkualitas karena rujukannya menggunakan buku-buku asli berbahasa Arab yang menjadi bahasa asli kebanyakan buku-buku primer tafsir al-Quran. [DM]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *