Islam Mengajarkan Kemudahan

Fitrah manusia pada umumnya menyukai kemudahan dan keringanan dalam segala hal. Bukan hanya dalam urusan dunia saja, urusan agama pun tidak jauh berbeda. Karakter dasar manusia ini mendorongnya untuk selalu mencari segala cara untuk mendapatkan kemudahan dan keringanan seandainya memungkinkan.

Allah SWT sebagai Pencipta manusia sangat paham dengan karakter bawaan ini. Oleh karena itu, saat menjelaskan syariat puasa akan kita jumpai bahwa ternyata Allah SWT pun menghendaki kemudahan bagi manusia, bukan kesulitan dan kesukaran. Makanya kewajiban-kewajiban dalam Islam pun dibebankan kepada manusia sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya. Tidak ada paksaan dalam pelaksanannya.

Bacaan Lainnya

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ ( البقرة/2: 286)

Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. (Al-Baqarah/2:286)

Salah satu contohnya adalah jika di bulan Ramadhan ternyata kondisi fisik tidak memungkinkan untuk berpuasa karena tertimpa sakit maka ada keringanan bagi muslim untuk berbuka. Demikian pula bagi yang mengalami kondisi safar (melakukan perjalanan jauh), ada keringanan untuk berbuka. Muslim yang mengambil keringanan berbuka pada dua kondisi tersebut wajib untuk mengganti kewajiban puasa Ramadhan di bulan lain.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ ١٨٥ ( البقرة/2: 185)

Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. (Al-Baqarah/2:185)

Di akhir ayat thaharah (bersuci) dan wudhu Allah SWT menjelaskan ketika orang hendak bersuci atau berwudhu tapi tidak mendapatkan air sebagai media bersuci maka dibolehkan menggantinya dengan bertayamum dengan menggunakan media debu.

Allah SWT berfirman:

مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ٦ ( الماۤئدة/5: 6)

Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur. (Al-Ma’idah/5:6)

Bahkan secara umum Allah SWT menurunkan al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup juga bukan untuk menyusahkan manusia:

مَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لِتَشْقٰٓى ۙ ٢ ( طٰهٰ/20: 2)

Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Nabi Muhammad) supaya engkau menjadi susah. (Taha/20:2)

Ketika menjelaskan sifat dan tugas-tugas Rasul-Nya dalam kitab Taurat dan Injil, Allah SWT menyebutkan salah satu tugasnya adalah membebaskan beban-beban serta belenggu-belenggu yang ada pada Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani.

Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ ١٥٧ ( الاعراف/7: 157)

(Yaitu,) orang-orang yang mengikuti Rasul (Muhammad), Nabi yang ummi (tidak pandai baca tulis) yang (namanya) mereka temukan tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. Dia menyuruh mereka pada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, menghalalkan segala yang baik bagi mereka, mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban serta belenggu-belenggu yang ada pada mereka. (Al-A’raf/7:157)

Pada catatan kaki Terjemah Kemenag edisi 2019 ayat ini, Tim Tafsir Kemenang menjelaskan bahwa dalam syariat Nabi Muhammad saw tidak ada lagi beban berat yang dipikulkan kepada Bani Israil, seperti ketentuan membunuh diri untuk bertobat, kewajiban kisas pada pembunuhan yang disengaja dan tidak tanpa adanya alternatif membayar diat (ganti rugi), memotong anggota badan yang melakukan kesalahan, dan membuang atau menggunting kain yang terkena najis.

Oleh karena itu, salah satu doa yang diajarkan Allah SWT kepada orang-orang mukmin dalam al-Quran adalah:

رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ ٢٨٦ ( البقرة/2: 286)

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.” (Al-Baqarah/2:286)

Rasulullah saw juga menegaskan dalam sebuah hadis:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit).” (HR. Bukhari)

Kemudahan dan keringanan dalam Islam ternyata dijelaskan dalam al-Quran karena manusia dari asal penciptaannya memang lemah. Sehingga fitrah manusia yang menyukai keringanan dan kemudahan sinkron dengan asal penciptaan manusia tersebut.

يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا ٢٨ ( النساۤء/4: 28)

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia diciptakan (dalam keadaan) lemah. (An-Nisa’/4:28)

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika dihadapkan pada pilihan Rasulullah selalu memilih yang lebih mudah. Hal ini diceritakan oleh Aisyah ra.:

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ قَطُّ إِلاَّ أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا، مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ

Rasulullah tidaklah dihadapkan pada pilihan terhadap dua perkara, melainkan ia pilih yang paling mudah diantara keduanya. Selama itu bukan sebuah dosa. Namun jika itu adalah sebuah dosa, Rasulullah saw adalah orang yang paling jauh dari hal tersebut. (HR. Bukhari).

Itulah sekelumit penjelasan bahwa Islam itu agama yang mudah dan Rasulullah saw sebagai teladan kita semua juga selalu memilih yang paling mudah ketika dihadapakan pada suatu pilihan selama tidak dosa.

Editor: DM

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *