Mengenal J.M.S Baljon: Orientalis Belanda Kritisi Corak Penafsiran Tradisional

Nama Baljon, mungkin terdengar asing di sebagian telinga para pengkaji tafsir klasik. Sosok ini merupakan seorang yang memberikan konsen studinya kepada konstruksi tafsir al-Qur’an. Baljon tergolong tokoh baru yang jika dibandingkan kemasyhurannya dengan beberapa tokoh seperti Muhammad Arkoun, Fazlur Rahman, dan lainnya, nampaknya Baljon tidak lebih masyhur dari pada mereka.

Ia adalah seorang orientalis dari Belanda, yang mengintervensi metodologi tafsir al-Qur’an, serta menyumbangkan pikirannya kepada mufassir Islam. beberapa kali ia melontarkan komentar kepada mufassir Islam yang ia nilai kurang berkompeten dan tidak memiliki landasan metodologis yang akurat.

Johannes Marinus Simon Baljon, lahir pada 13 Januari 1836 di Rotterdam dan wafat pada 2 April 1889. Ia dilahirkan dari seorang ayah yang berprofesi akuntan di negaranya. Pendidikannya, ia mulai sejak keci di daerah asalnya, hingga ia menginjak remaja ia memilih untuk mengampu pendidikan teologis di Univeritas Utrecht.

Pada tanggal 14 Mei 1884 ia menerima gelar doktor di bawah Doedes dengan karya De Tekst Der Brieven Van Paulus Aan De Romeinen, Corinthiërs En Galaten Als Voorwerp Van De Conjecturaalcritiek Beschouwd (Teks Surat-Surat Paulus Kepada Jemaat Di Roma, Korintus Dan Galatia, Sebagai Subjek Yang Dianggap Sebagai Kritik Yang Dituduhkan). Karya tulisnya tersebut, sekaligus menjadi disertasinya untuk mengambil gelar dokor.

Ia dinobatkan menjadi seorang pendeta di Nederhemert pada tahun 1884, karena ia memiliki kecakapan dalam ilmu ketuhanan yang ia hasilkan selama ia belajar di Univeritas Utrecht. Ia juga diberikan mandat untuk menjabat sebagai guru besar Ensiklopedia Teologi, Sastra Kristen dan Eksegesis. Eksegesis sendiri merupakan satu upaya untuk mem-pragmatisasi esensi-esensi yang termuat dalam al-Kitab (Tabror, 2007: xxv).

Komentar Baljon Terhadap Tafsir Klasik

            Dinamika ilmu pengetahuan tidak bisa dibendung. Hal itu merupakan salah satu dari kekayaan umat manusia dari segi pemikiran. Pergeseran sistem berpikir manusia dari mitiologi hingga ke taraf kritis-rasional sekarang, memberikan dampak yang signifikan terhadap peradaban. Ilmu pengetahuan yang bersifat dinamis tersebut juga turut memengaruhi konstruksi tafsir yang ada.

Tidak semua masyarakat bisa menerima keadaan ini. dibuktikan dengan beberapa golongan mufassir yang masih mempertahankan corak klasik dalam metodologi penafsiran al-Qur’an. Hal inilah yang nantinya dikritik oleh Baljon sebagai stagnansi pemikiran di kalangan para mufassri Islam. 

Bagi Baljon, setiap zaman memuat distingsi epistemologis. Dialektika intelektual telah memberikan kemajuan demi kemajuan dalam berbagai aspek zaman. Begitu juga dengan tafsir. Tafsir memerlukan usaha dialektis sehingga bisa sesuai dengan corak epistemologis yang ada di zaman tersebut. Histrositisitas waktu menjadi landasan yang patut untuk diperhatikan dalam menganalisis esensi-esensii dari ayat-ayat Al-Qur’an.

Pendapat Baljon tersebut didukung oleh beberapa literatur lain. Dalam buku Kaidah Tafsir Kontemmporer dalam Studi Al-Qur’an Modern, karya Irwanto, kontekstualisasi ayat-ayat Al-Qur’an perlu diimplementasikan. Mengingat setelah wafatnya Rasulullah SAW, kekuasaan berpindah tangan kepada empat khailfah dan para pengganti Rasul tersebut memberikan konstruk yang berbeda terhadap pemerintahan. Hal itu dipengaruhi oleh karakter sosial-budaya yang telah berbeda dari zaman sebelumnya, yaitu di zaman kenabian Muhammad SAW (Irwanto, 2019: 35-36)

            Sepesifikasinya terjadi pada abad 18 dan 19. Kala itu, peradaban Islam sedang terpuruk terhembus oleh peradaban Eropa yang kian berkembang. Karakteristik yang tercermin dari Barat saat itu adalah ambisisus dan progresif, sedangkan Islam mengalami stagnansi intelektual dan politik.

Bagi Baljon, hal ini merupkaan konsekuensi logis dari suatu peradaban yang enggan meningkatkan kualitas diri mereka di kancah ilmu pengetahuan maupun yang lain. Islam justru mempertahankan corak tradisionalistik yang mana hal itu tidak relevan dengan zaman yang ada. Sedangkan, di sisi lain, peradaban Barat semakin berkembang dengan mengakumulasikan nilai-nilai pengetahuan dan zaman.

Tafsir Modernis ala Baljon

            Di samping kritiknya yang dilancarkan secara tegas kepada peradaban Islam, Baljon juga memberikan narasi solutif bagi Islam. Baginya, modernisasi perlu diimplementasikan ke dalam kancah metodoglogi penafsiran. Bukan untuk mereduksi nilai sakralitas yang ada di Al-Qur’an, akan tetapi untuk mempragmatisasi nilai-nilai Firman Tuhan.

            Bagi Baljon, tidak perlu ragu untuk memberikan inovasi yang lebih aktual dalam ranah penafsiran. Hal itu juga telah dipraktikkan oleh tokoh Islam, Shah Wali Allah (1703-1762). Shah Wali Allah, dalam penjelasan Baljon, memberikan respon positif terhadap perkembangan zaman dengan mengurai metodologi penafsiran yang sudah klasik dan dinilai tidak relevan. Baljon menganggap bahwa Shah Wali Allah merupakan salah satu dari pelopor laihirnya metodologi penafsiran modern di kalangan umat Islam.

            Selain Shah Wali Allah, Baljon juga menyebutkan Ahmad Khan, yang merupakan generasi dari Rasulullah SAW dari keturunan cucu Nabi, Husein dari pernikahan Fatimah dan Ali (Baljon, 1968: 3). Dalam buku yang ia tulis, Baljon mengambil pendapat Ahmad Khan yang substansi yang terkandung adalah seruan bagi umat muslim India untuk merevolusi pola kehidupannya yang lamban, jika tidak ingin semakin terhembus dari peradaban dunia.

            Keluhan Ahmad Khan saat mengamati pergulatan sosial-intelektual di India adalah stagnansi pemikiran, khususnya pada umat Muslim. Hal itu yang menggugah spirit Ahmad Khan untuk memberikan hal solutif dengan membenahi sistem sosial dan pendidikan. Ahmad Khan merujuk sistem peradaban yang berlaku di Barat. Karena ia meyakini, jika umat muslim India diperkenalkan dengan nilai-nilai dan metode berpikir Barat, maka akan berpengaruh positif pada perkembangan Islam di sana.

            Tafsir karya Tanthâwi Jawhari, Jawâhir fȋ tafsȋr al-Qur’ân, juga masuk dalam tinjauan Baljon. Menurutnya, tafsir tersebut bermuatan inovatif dalam ranah penafsiran al-Qur’an. Hal itu disebabkan dengan implementasi pendekatan saintifik dalam substansi tafsirnya. Dampak luasnya dari inovasi yang dilakukan oleh Tanthâwi Jawhari tersebut adalah al-Qur’an dipandang memiliki kekayaan ilmiah, yang tidak hanya memberikan narasi-narasi transendental (ilahi).

            Selain itu, kesan positif berikutnya adalah bahwa al-Qur’an mampu berjalan secara integral dengan metodologi sains ilmiah. Dalam artian, ilmu pengetahuan memiliki peran untuk mengeksplorasi aspek saintifik yang termuat dalam al-Qur’an (Baljon, 1986: 6).

             Baljon memberikan respon yang psoitif terhadap tokoh seperti Shah WAli Alah, Ahmad Khan, dan Tantawi Jawhari karena corak berpikir yang dinamis. Dengan refrensi dari ketiga tokoh tersebut, Baljon memberikan konstruksi metodologis dalam menafsirkan al-Qur’an.

            Pertama, unsur-unsur supranatural, mitologis, dan aspek-aspek transendental lain, bagi Baljon perlu diminimalisir. Tafsir Al-Qur’an akan dinilai pasif, atau tidak memuaskan, jika hanya dimuati dengan pemahaman-pemahaman supranatural. Narasi-narasi al-Qur’an perlu digiring kepada pemahaman yang lebih objektif dan ilmiah. Karena hal itu akan mendukung keotentikannya di mata masyarakat modern.

            Kedua, menegasikan dan mengosongkan pikiran-pikiran primitif dalam upaya menafsirkan al-Qur’an. Ketiga, interpretasi tidak bergantung pada karya-karya leksikal yang ada. keempat, dalam menafsirkan kata per kata dalam suatu ayat al-Qur’an, tidak dengan memahami langsung kata tersebut secara harfiyah. Akan tetapi, dengan proses semiotis serta dengan penelaahan yang dalam.

Terakhir, Baljon menyatakan bahwa dala menafsirkan al-Qur;an perlu ditinjau secara radikal fenomana-fenomana sosial yang terjadi di zaman tersebut. Dalam artian, upaya penafsiran al-Qur’an tidak terlepas dari kebutuhan-kebutuhan umat pada zaman-zaman yang berbeda (up to date).

Salah satu contoh tafsir yang dicita-citakan oleh Baljon adalah dalam Q.S. al-Kahf ayat 13. Dimana, setelah Allah menceritakan kisah Asḫâb al-Kahf dengan keajaibannya, Allah berfirman,

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّ

“Kami ceritakan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya”

Lafaz بِالْحَقِّ, adalah indikasi yang jelas bahwa rangkaian kisah sebelumnya bukan merupakan kisah yang benar-benar diceritakan Tuhan (kisah tentang keajaiban mukjizat), melainkan kisah yang hanya diketahui oleh publik, serta diindahkan degan aspek-aspek mistis keajaiban. Sedangkan, mengenai keotentikan kisah tersebut masih bisa dijadikan sebagai bahan kajian yang mendalam (Baljon, 1968: 17).

Baljon menilai, umat muslim harus utuh dalam mengembangkan kekuatan rasionalnya. Karena dengan hal inilah, Barat memiliki kekuatan yang mampu menarik ketertarikan dari bangsa-bangsa lainnya. Maka dari itu, yang harus diupayakan adalah menegasikan tafsir atau makna yang bersifat tradisionalistik dan primitif (Baljon, 1968: 21).

 Bahkan, mufassir fenomenal seperti Fakhruddin al-Razi, dikritik oleh Baljon. Bahwa dalam tafsirnya, Mafâtȋḫ al-Ghaȋb, pembahasan perihal al-Qadlâ’ wa al-Qadr, tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara sosialis. Dengan itu, sejatinya hal tersebut tidak terlalu urgensial untuk diskursus yang membutuhkan waktu panjang.

            Ilmuan Barat memberikan komentar kritikal kepada umat Muslim modern. Mereka menyatakan bahwa argumentasi “muslim modern” hanya dianggap sebagai “apologetika”, yaitu kata teknis hanya untuk meggambarkan alasan dari keimanan. Ronald H. Nash memaparkan bahwa apologetika dapat dimengerti dengan “pembelaan” filosofis. Sebagai seseorang yang memiliki kepercayaan, maka apologetika tersebut menjadi dasar bagi pokok-pokok esensial yang kita percayai (Stevanus, 2016: 9-10).

Dalam bab terakhir buku “Modern Muslim Koran Interpretation”, Baljon menyebutkan bahwa alasan fundamental sarjana Barat berargumen seperti itu adalah untuk meruntuhkan kepercayaan muslim (Baljon, 1968: 121). Baljon juga mengungkapkan bahwa sarjana Barat tidak menyadari bahwa salah satu kekuatan kepercayaan umat Islam adalah kekuatan iman, yang mana hal itu melingkup ranah apologetik.

Kepercayaan transenden yang dimiliki umat Islam, mengharuskan mereka mengimani dan meyakini terdapat hal-hal mistis yang terjadi di luar diri mereka. Termasuk hal supernatural seperti Tuhan, jin, malaikat, surga, dan neraka. Khususnya paham orang-orang Barat yang cenderung memahami sesuatu dengan bersandar kepada rasionalitas.

Daftar Pustaka

Baljon, J.M.S. Modern Muslim Koran Interpretation. Leiden: E.J. Brill: 1969.

Irwanto, “Kaidah Tafsir Kontemporer Dalam Studi Al-Qur’an Modern”. Jurnal Liwa’ul Dakwah Vol. IX No. 1. Januari-Juni, 2019.

Ismail Marzuki, dkk. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Makassar: Fakultas Teknik UNIFA. 2021.

Stevanus, Kalis. Apologetika: Benarkah Yesus Itu Tuhan?. PBMR ANDI, 2021.

Tabror, James D. The Jesus Dinasty, terj. James P. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2007.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *