Perdebatan Otoritas dan Metodologi Tafsir Sufi

Tafsir sufi atau yang lebih dikenal dengan istilah tafsir isyārī, secara etimologi berasal dari akar kata إشارة – يشير – أشار yang berarti memberi isyarat atau petunjuk. Jadi kata isyārī berfungsi sebagai keterangan sifat bagi lafal tafsir, maka tafsir isyārī berarti sebuah penafsiran al-Quran yang berangkat dari isyarat atau petunjuk melalui ilham. (Nashruddin, 2001, 54)

Al-Ghazali memiliki pandangan bahwa al-Qur’an mempunyai dua aspek penting, yaitu zahir (eksoteris) dan batin (esoteris). Dua aspek ini dalam perspektif al-Ghazali merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Mustahil seorang dapat memahami sisi esoterik al-Qur’an tanpa melalui pemahaman sisi eksoteriknya. Al-Ghazali menolak sikap sebagian kelompok yang hanya berpegang pada kebenaran tunggal dalam tafsir al-Qur’an, seperti golongan ẓahiriyah dan kelompok baṭiniyah, (al-Ghazali, 160–61.)

Bacaan Lainnya

Penolakan al-Ghazali terhadap kelompok yang berdiri di atas absolutisme tafsir karena menurutnya akan mengarah pada sikap yang berdampak pada pemahaman subjektif saat menafsirkan al-Qur’an. Produk penafsiran yang dihasilkan dari satu dimensi saja menurut al-Ghazali hanya bisa memberikan arti dan manfaat bagi dirinya sendiri dan nilai kebenarannya hanya untuk pribadinya, tidak bagi pihak lainnya. (Arif, 2017, 410.)

Penafsiran al-Quran dengan isyarat-isyarat batiniyah kaum sufi, memunculkan kontroversi di kalangan ahli tafsir sebagaimana kontroversi seputar tasawuf itu sendiri. Sebagian kalangan menerimanya dengan syarat-syarat ketat, dan sebagian lagi menolaknya mentah-mentah dan tidak menganggapnya sebagai tafsir, bahkan ada yang berfatwa bahwa tafsir kaum sufi seperti “Haqa’iq at-Tafsir” karya Abu Abdurrahman al-Sulami (w. 412) bukanlah tafsir, dan jika ada yang meyakininya sebagai tafsir, maka ia telah kafir. (al-Zarqani, 1988, 66.)

Ibn Salah bersikap tegas menolak tafsir sufistik dengan alasan bahwa tafsir sufistik hanyalah asumtif (dzān) yang berupaya membanding-bandingkan makna al-Quran. Namun, al-Suyuthi menukil dari Ibn Ata’illah dengan mengatakan bahwa tafsir yang dilakukan oleh sufi terhadap al-Quran tidaklah mengubah makna zahir al-Quran. (Mahmud Basyuni, 253)

Kaum sufi  yang selamat dari tuduhan kekafiran, ialah para sufi yang tetap menyertakan makna zahir, makna baku yang diperoleh melalui proses ijtihadi yang valid merujuk kepada pernyataan al-Qur’an, sunnah, maupun konsesi pemakaian bahasa secara umum. (Anwar, 2004, 1)

Untuk menjaga agar tafsir isyārī ini dapat diterima di kalangan umum, maka perlu memperketat persyaratan-persyatannya. Dalam pandangan Ghazali memahami makna ayat dan tafsirannya secara zahir merupakan salah satu syarat yang mesti dipenuhi, bahkan al-Zahabi masih menambah syarat-syarat lainnya seperti memperkuat dengan saksi syara’, tidak bertentangan dengan syara’ dan akal fikiran.

Ada beberapa prinsip dan metode yang digunakan mufasir sufi untuk menyingkap makna batin ayat:

Pertama, menjadikan makna lahir sebagai dasar analogi dalam membangun makna isyārī ayat, makna lahir harus dijadikan landasan analogi yang dilakukan dalam upaya menggali signifikansi moral al-Qur’an. Bila langkah ini diabaikan, maka penafsiran batin yang dihasilkan bisa jadi menyimpang atau bertentangan dengan makna lahiriah ayat seperti banyak dilakukan oleh penafsiran golongan bāṭiniyyah.

Tanpa melalui makna lahiriah al-Qur’an, ataupun wujud formal al-Qur’an dalam bentuknya sebagai bahasa manusia, maka seorang mufasir esoterik tidak akan sampai kepada makna batin yang melalui kemampuan khusus bisa mereka raih. Makna literal merupakan dasar analogi bagi makna kiasan yang dibangun di atasnya. (Raflita, 2020, 191)

Dengan demikian, dalam menggali makna batin al-Qur’an, seorang mufasir harus berangkat dari makna literal ayat, untuk menemukan makna yang tersembunyi di balik ungkapan ayat-ayat al-Qur’an. Dari makna literal inilah dicarikan padanan maknanya dengan makna batin. Ungkapan yang mewakili penjelasan literal teks dibandingkan dengan konstruk pemikiran mistik yang menandai signifikansi moral sebagai uraian simboliknya.

Dengan metode ini, makna batin yang dipahami dari ayat memiliki korelasi dengan makna lahirnya. Dengan kata lain, ada hubungan antara makna lahir teks dengan makna isyarat yang terkandung di dalamnya. Misalnya, kata kabah yang dimaknai dengan pusat sentral peribadatan kaum muslim dianalogikan dengan hati manusia yang merupakan lokus atau pusat sentral amalan dan tingkah laku manusia.

Kedua, mengiaskan makna tekstual dengan makna batin (analogi sepadan). Metode analogi hanya bisa diterapkan apabila terdapat unsur persamaan antara yang dianalogikan dan yang menjadi tempat perbandingannya. Dalam kaitannya dengan penafsiran sufistik, makna batin ayat biasanya memiliki karakter atau sifat yang sama dengan makna lahirnya. Di sinilah diperlukan kepiawaian seorang mufasir dalam menangkap isyarat yang tersembunyi dibalik penjelasan literal teks.

Seorang mufasir harus menguasai semantik bahasa Arab dan memahami makna yang tersirat dibalik ungkapan sebuah teks agar bisa menemukan sisi persamaan atau keserupaan antara makna batin yang didapat melalui ilham atau intuisi dengan makna redaksional teks. Metode analogi sepadan, yakni menganalogikan makna lahir dengan makna batin karena adanya kesamaan karakter umumnya digunakan oleh mayoritas mufasir sufi ketika menyingkap makna batin yang dituju oleh ayatal-Qur’an. (Raflita, 2020, 192).

Ketiga, menjelaskan makna batin ayat dengan memperhatikan siyāq (konteks) Dalam menjelaskan makna batin ayat, seorang mufasir juga harus memperhatikan siyāq al-ayah supaya makna batin tidak bertentangan dengan maksud Tuhan sebagai pemilik kalam.

Artinya, ketika menjelaskan makna esoterik, mufasir tidak bisa terlepas dari konteks ayat, tujuan syāri’ dan maksud yang diinginkan oleh Tuhan ketika menyampaikan perkataan-Nya. Hal ini bisa dengan cara memperhatikan ayat secara keseluruhan, serta melihat ayat sebelum dan sesudahnya.

Keempat, menguatkan penafsiran dengan dalil Al-Qur’an dan Sunah Menjelaskan makna batin ayat dalam penafsiran sufistik pada dasarnya tidak hanya bersumber pada ‘ilm mukāsyafah, namun juga bersandar pada informasi riwayat.

Metode penafsiran simbolik yang dilakukan mufasir sufi juga menyertakan aspek pengambilan argumentasi naqli untuk dasar penarikan analogi, berupa penjelasan al-Qur’an yang terdapat di surah lain atau pernyataan yang berasal dari hadis Nabi. Ini berarti dalam menafsirkan al-Qur’an, para sufi juga menggunakan metode tafsir al-ma’sur dengan cara menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an dan menafsirkan al-Qur’an dengan hadis Nabi.

Kelima, mengungkapkan mafhūm yang berlawanan dengan makna denotasi. Tidak semua makna batin ayat memiliki kesamaan karakter dengan makna lahirnya sehingga metode analogi atau perbandingan tidak bisa digunakan. Adakalanya makna batin tersebut, maknanya berlawanan dengan lahir teks. Karenanya, selain menerapkan metode analogi, para sufi juga menjelaskan makna esoterik teks dengan mengungkapkan mafhūm yang berlawanan dengan makna denotasinya. (Raflita, 2020, 194)

Walhasil, apa yang dilakukan sufi dalam menafsirkan al-Qur’an labih tepat dipandang sebagai metode isyārī, yaitu dengan jalan menarik keluar indikasi yang tersembunyi yang tampak dari sebuah ayat al-Qur’an yang diangkat ke dalam cakrawala terbuka dan tanpa batas, yang tidak terbatasi oleh capaian makna zhahir– nya melalui pemahaman literal.

Bagi sufi, bahasa Tuhan tampak dalam bentuk totalitas eksistensinya, bukan hanya dalam formula yang tereduksi menjadi lambang- lambang huruf yang tertulis dalam naskah kitab suci. Mereka memahami teks al-Qur’an tidak terbatas pada naskah al-Qur’an seperti yang tertuang dalam mushaf, tetapi mereka juga memahami al-Qur’an dalam karakternya sebagai kalamullah yang qadim yang tertulis di Lauẖ al-Mahfūzh.

Daftar Pustaka

Al-Zarqāni, Abdul Aẕim. Manāhil al-‘Irfān fi ‘ulūm Al-Qur’an. Bairut: Dar al-Fikri, 1988.

Anwar Syarifuddin. Menimbang Otoritas Sufi dalam Menafsirkan Al-Qur’an. Jurnal (P3M) STAIN Palangka Raya Kalimantan Tengah.  vol. 1, no. 2 Desember 2004.

Arif Chasbullah dan Wahyudi Wahyudi. Deradikalisasi terhadap Penafsiran Ayat-ayat Qital, Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya 2, No. 2 Desember 2017.

Baidan, Nashruddin. Tasawuf dan Krisis, Semarang: Pustaka Pelajar, 2001.

Faudah, Mahmud Basyuni Faudah. al-Tafsir wa Manahijuhu fi daui al-Mazahib al-Islamiyah.

Reflita, Jonni Syatri. Konstruksi Hermeneutika Tafsir Sufi. Mahdar: Jurnal Studi al-Qur’an Hadis. 2020.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *