Memotret Narasi Gender dalam Tafsir Fī Zilāl al-Qur`ān: Telaah Kata Qawwām dalam Surah An-Nisa/4:34

Qiwāmah atau qawwām sering kali diartikan sebagai kepemimpinan dalam rumah tangga. Dalam fikih ditegaskan bahwa yang memegang posisi qawwām ini adalah laki-laki (suami). Ketentuan ini menimbulkan sebuah asumsi negatif di kalangan masyarakat, di mana laki-laki semakin merasa superior dan perempuan semakin merasa inferior. Perempuan dapat diperlakukan seperti bawahan yang harus siap untuk diperintah dan melayani suami. Superioritas ini pun kian meluas bukan hanya di ranah rumah tangga, namun di ranah publik. Sosok yang boleh menjadi pemimpin di segala hal hanyalah laki-laki. Problematika inilah yang memicu para feminis untuk merekonstruksi penafsiran kata qawwām dalam Surah An-Nisa’/4:34 yang dipahami sebagai sumber subordinasi atas perempuan.

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ … ٣٤

Bacaan Lainnya

Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya.… (An-Nisa’/4:34)

Dalam terjemahan Kemenag versi terbaru (2019), kata qawwām diartikan sebagai penanggung jawab. Suami adalah penanggung jawab atas istrinya. Secara redaksional, ayat ini menjelaskan mengapa laki-laki yang menjadi qawwām atas perempuan, yaitu karena laki-laki diberikan kelebihan oleh Tuhan dan karena laki-laki diberikan beban untuk menafkahi istrinya. Dua alasan ini direkonstruksi oleh Hassan dan lainnya sebagai sebuah normatif. Artinya, secara normatif, dua hal tersebut harus dimiliki oleh laki-laki untuk bisa menjadi qawwām. Apabila salah satu tidak terpenuhi, maka laki-laki tidak bisa lagi menjadi qawwām.

Kelebihan yang dimaskud pun masih diperdebatkan. Kebanyakan mufasir mengaitkannya dengan kelebihan fisik (laki-laki lebih kuat), ilmu (laki-laki lebih cerdas) dan kemulian (Zamakhsyari, 1907 H:505). Namun hal ini tidak disinggung oleh Wadud dan lainnya. penulis menyimpulkan bahwa semua hal tersebut memang berpotensi besar menjadikan perempuan tersubordinasi sehingga secara langsung ditinggalkan untuk dibahas.

Ada juga mufasir yang mengaitkannya dengan kelebihan bagian waris laki-laki yang mendapatkan dua kali lipat dari perempuan (Maraghi, 1946: 26). Wadud melihat hal ini sebagai kelebihan yang bersifat materi bukan absolut. Artinya, jumlah warisan yang didapat oleh laki-laki, meskipun dua kali lipat dari perempuan, belum tentu lebih banyak dari jumlah warisan yang didapat perempuan. Hal tersebut tergantung warisan yang ditinggalkan oleh pewaris. Wadud pun mengaitkan syarat yang pertama dengan yang kedua. Kelebihan yang diterima oleh laki-laki sebanding dengan kewajiban yang diemban laki-laki yaitu menafkahi keluarga (Wadud, 1999: 70—71). Berbeda dengan Hibri, ia tidak mengaitkan kelebihan di sini dengan bagian waris. Dikarenakan kata qawwām menurut Hibri adalah pemberi nasihat, maka kelebihan disini ialah kemampuan untuk memberikan nasihat (Hibri, t.th: 17).

Qiwāmah dalam Tafsir Fȋ Zhilâl Al-Qur`ân

Tafsir Fi Zhilâl al-Qur`ân merupakan sebuah karya Sayyid Quthb (1906 M—1966 M) yang paling monumental dalam bidang tafsir. Sebagai seorang yang berlatar belakang sastrawan, tafsir ini pun terlahir dengan corak adabi (sastra). Selain itu, tafsir ini juga termasuk ke dalam corak haraki (pergerakan).  Quthb merasa bahwa umat Islam jaman sekarang pada umumnya dan kondisi pemerintahan Mesir pada khususnya terlalu tunduk dengan paham materialisme dan melupakan nilai-nilai spiritual ketuhanan. Lalu Quthb berusaha melakukan pendekatan kepada umat Islam dengan pemahaman Al-Qur`an yang bernafaskan pergerakan.

Meski terkenal dengan corak pergerakannya, Tafsir Fi Zhilâl al-Qur`ân pun mengandung narasi-narasi gender dalam menjelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan perempuan, di antaranya ketika memaknai kata qawwām dalam Surah An-Nisa’/4:34. Quthb mengatakan bahwa Allah telah menentukan laki-laki sebagai qawwâm atas perempuan didasarkan karena laki-laki telah dipersiapkan oleh Allah melalui sifat-sifat yang diperlukan untuk menjadi qawwâm dan menanggung beban untuk menafkahi keluarga (Quthb, 1412 H:649).

Quthb tidak menjelaskan makna qawwâm yang dimaksud dalam ayat ini, apakah bermakna pemimpin, pelindung, penanggung jawab atau lainnya. Quthb hanya memaparkan bahwa ketika laki-laki adalah qawwâm bagi keluarganya, ia juga harus menjalankan perannya untuk menjaga dan melindungi keluarganya dari segala kehancuran dan bahaya. Dari pemaparan ini, penulis melihat bahwa makna qawwâm yang Quthb jelaskan mengandung makna pelindung keluarga dan pemberi nafkah.

Menurut Quthb, keluarga merupakan institusi awal dalam kehidupan manusia. Titik awal segala tahapan kehidupan dimulai dari keluarga, dari mulai pembentukan hingga perkembangan manusia. Itulah mengapa institusi keluarga diatur dengan sedemikian detail dalam Al-Qur`an. Peran suami dan istri dibagi secara adil berdasarkan fitrah dan bakat dari masing-masing. Pemberian beban pun didasarkan pada kesiapan menanggungnya oleh masing-masing pasangan. Sejatinya, laki-laki dan perempuan adalah sama-sama makhluk Tuhan. Tuhan tidak mungkin menindas makhluk-Nya. Oleh karenanya, Tuhan telah menentukan tugas bagi masing-masing dan mempersiapkan yang dibutuhkannya (Quthb, 1412 H: 650).

Perempuan mengemban peran untuk mengandung, melahirkan, lalu menyusui. Selain berat, beban ini pun sangat beresiko terhadap nyawanya. Peran ini tidaklah mudah karena sering kali dilakukan tanpa persiapan matang secara biologis, psikologis, dan mental oleh perempuan itu sendiri. Maka, hal yang wajar dan sangat adil jika peran untuk memenuhi segala keperluan keluarga dibebankan kepada laki-laki. Selain itu, laki-laki juga berperan untuk melindungi perempuan terutama ketika ia menjalankan perannya yang berat tersebut. Semua fungsi biologis, mental, dan psikologis sudah dipersiapkan oleh Allah kepada masing-masing untuk menjalankan perannya dengan baik. Selain bekal di atas, Allah pun telah menyiapkan watak berbeda sebagai pendukung untuk menjalankan peran masing-masing. Perempuan dibekali oleh Allah dengan kelembutan, penuh kasih sayang, kepekaan emosional, kecepatan respon terhadap anak-anak tanpa berpikir sebelumnya. Semua ini telah Allah atur sejak pertama kali menciptakan sel-sel dalam tubuh perempuan (Quthb, 1412 H: 651).

Adapun laki-laki, ciri-ciri umum yang dimiliki olehnya ialah watak keras dan kasar. Laki-laki kurang begitu peka dan kurang responsif. Namun, laki-laki selalu menggunakan logika dan pertimbangan-pertimbangan sebelum bertindak atau merespon sesuatu hal. Itulah mengapa laki-laki mendapatkan peran sebagai pelindung istri dan anak-anaknya dan penyedia kebutuhan hidup. Peran yang dimainkan oleh laki-laki ini memang membutuhkan pertimbangan yang cermat sebelum mengambil keputusan. Laki-laki dianggap lebih mampu untuk melakukan peran ini, meskipun tidak menafikan peran sebagian perempuan yang menjadi kepala keluarga (Quthb, 1412 H:651).

Inilah peran yang telah Allah tentukan dengan segala persiapannya yang sangat sempurna. Quthb menegaskan bahwa inilah suatu keadilan dari Tuhan. Peran-peran tersebut tidak semudah itu dipertukarkan, karena tidak sesuai dengan persiapan-persiapan yang Allah tentukan untuk mengemban peran tersebut. Penulis melihat bahwa penjelasan Quthb di atas merupakan jawaban dari tren ideologi feminisme yang kala itu sudah masuk ke Mesir. Mereka menggaungkan bahwa perempuan bisa menduduki posisi yang ditempati oleh laki-laki termasuk sebagai qawwâm dalam keluarga. Quthb melihat bahwa ini hal yang bahaya. Allah telah menyiapkan sedemikian rupa dari awal pembentukan manusia, baik dari susunan biologis maupun karakter, disesuaikan dengan peran masing-masing kelak. Jika dipertukarkan, betapa sulitnya untuk menyesuaikan persiapan tersebut, karena menyalahi sifat bawaan.

Selain menjelaskan apa yang seharusnya, Quthb pun menyinggung permasalahan masyarakat saat ini. Dalam realitanya, ada beberapa faktor yang membuat perempuan menjalankan peran laki-laki. Ada kondisi di mana seorang perempuan merasa perlu untuk bertukar peran ketika suaminya tidak menjalankan perannya sebagai qawwâm dalam keluraga, seperti kondisi suami lebih lemah dari istri atau kondisi istri yang ditinggalkan oleh suami. Bisa saja perempuan tersebut menjalankan peran laki-laki, namun ada beberapa titik di mana ia akan hadir dengan sifat bawaannya sebagai perempuan. Meskipun para perempuan mencoba untuk mengingkari fitrahnya, tetap saja perempuan tidak bisa lepas darinya (Quthb, 1412 H:652).

Merespon tuduhan Barat bahwa ditetapkan laki-laki sebagai qawwâm atas perempuan merupakan bentuk diskriminasi dan subordinasi atas perempuan, Maka Quthb menekankan bahwa posisi qawwâm bagi laki-laki tidak sama sekali bertujuan untuk mendiskriminasi atau mensubordinasi atas perempuan, baik di ranah privat (rumah) maupun di ranah publik. Ini hanya pembagian tugas untuk mengelola, menjaga, dan melindungi sebuah institusi yang amat penting ini. Adanya seorang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab tidak berarti menghilangkan eksistensi dan hak mitranya dalam menjalankan fungsi dan perannya. Islam menegaskan bahwa laki-laki sebagai qawwâm hendaknya memperhatikan kebaikan, perhatian, pemeliharaan, penjagaan, dan etika yang ditunjukan kepada istrinya.

Pendapat Quthb tentang qawwâm sejalan dengan pandangan Buthi dalam menjawab tuduhan bahwa ditetapkan laki-laki sebagai qawwâm mengindikasikan subordinasi atas perempuan. Berdasarkan hadis nabi yang artinya “ketika ada tiga orang dalam bepergian maka hendaklah mereka menjadikan salah satu mereka sebagai pemimpin”, maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan dalam Islam sangat diperlukan. Hadis tersebut berbicara dalam durasi yang sempit yaitu ketika bepergian, lantas bagaimana dengan rumah tangga yang durasinya lebih lama, pastinya kepemimpinan sangat dibutuhkan. Pemimpin yang terpilih belum tentu orang yang paling baik atau derajatnya paling tinggi di sisi Allah, tapi orang yang mampu memikul tanggung jawab dan memiliki kompetensi untuk mengelola. Oleh karena itu, kepemimpinan dalam Islam berdiri atas asas pemeliharaan dan pengelolaan, bukan dominasi dan penguasaan. Pemimpin bukanlah sebuah gelar yang memiliki keutamaan di mata Tuhan, tetapi sebuah kompetensi untuk menanggung beban pertanggung jawaban (Buthi, 2023: 96—97).

Dari penafsiran Quthb di atas dapat disimpulkan bahwa Allah telah mengatur segala hal dengan begitu detail termasuk permbagian peran dalam keluarga. Pembagian peran tersebut sudah Allah atur sedemikian rupa mulai dari awal penciptaanya untuk disesuaikan dengan fungsinya masing-masing. Perempuan dibekali oleh Allah dengan kelembutan, penuh kasih sayang, kepekaan emosional, kecepatan respon terhadap anak-anak tanpa berpikir sebelumnya sejak pertama kali menciptakan sel-sel dalam tubuh perempuan. Sedangkan laki-laki dibekali oleh Allah dengan watak yang keras dan kasar, kurang begitu peka, kurang responsif dan selalu menggunakan logika dan pertimbangan-pertimbangan lainnya sebelum bertindak atau merespon sesuatu hal. Bukan hanya sifat bawaan, Allah pun telah menyiapkan kondisi fisik laki-laki dan perempuan untuk menjalankan perannya, sebagaimana Allah ciptakan sistem yang begitu sempuran dalam tubuh perempuan untuk bisa menjalankan perannya ketika mengandung, melahirkan dan menyusui.

Penafsiran Quthb sejalan dengan penafsiran Shihab bahwa Allah telah menciptakan laki-laki dan perempuan berdasarkan fungsi dan perannya, baik dari sisi fisiknya maupun psikisnya (Shihab, 2005: 426—427). Penulis melihat bahwa perbedaan sifat bawaan yang dipaparkan Shihab tidak selamanya menunjukkan laki-laki lebih baik dan perempuan lebih buruk. Ada kalanya fisik laki-laki lebih unggul dan ada kalanya fisik perempuan lebih unggul. Ada kalanya sifat laki-laki lebih positif dan ada kalanya sifat perempuan lebih positif. Artinya, perbedaan yang ada pada diri laki-laki dan perempuan tidak untuk dianggap superioritas maupun inferioritas. Keduanya telah diciptakan sebagai pasangan untuk saling melengkapi dalam menjalankan peran masing-masing.

Referensi:

Buthi, Said Ramadhan. al-Mar`ah baina Thugyân an-Nizhâm al-Gharbȋ wa lathâif at-Tasyrȋ’ ar-Rabbânȋ. Mesir: Darul fikr, 2023.

Hibri, Azizah. Qur`anic Fundations of The Rights of Muslim Women in The Twenty First Century. t.tp:t.p, t.th.

Maraghi, Mustafa. Tafsȋr al-Marâghȋ. Mesir: al-Halabi, 1946, jilid.4.

Muhsin, Amina Waadud. Qur`an and Women Rereading the Secret Text from a Women’s Perspective. New York: Oxford University Press, 1999.

Quthb, Sayyid. Fȋ Zhilâl al-Qur`ân. Kairo: Darus Syuruq, 1412 H.

Shihab, M. Quraish Tafsir al-Misbāh: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur`an. Tangerang: Lentera Hati, 2005.

Zamakhsyari, Abul Qasim. al-Kaysâf ‘an Haqâiq Ghawâmidh at-Tanzȋl. Beirut: Darul Kutub Arabi, 1407 H.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *