Komparasi Al-Qur’an dan Sains dalam Konsep Perkembangan Embrio

Al-Qur’an bukan hanya sebuah kitab yang berisi hukum–hukum syari’at saja, namun juga kitab suci yang mengandung berbagai tanda–tanda ilmiah yang harus di bedah lebih lanjut, terutama bagi umat Islam. Salah satu dari tanda–tanda ilmiah tersebut yaitu tentang proses penciptaan manusia yang berawal sel sperma yang bertemu dengan sel telur dan berkembang menjadi embrio di dalam rahim. Menarik untuk menyimak pembicaraan antara Al-Qur’an dan sains tentang proses perkembangan embrio serta melihat kesesuaian dalam argumentasi keduanya.

Konsep Perkembangan Embrio Menurut Al-Qur’an

Bacaan Lainnya

            Salah satu surah dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang konsep perkembangan embrio yaitu Surah Al-Mu’minun ayat 12 – 14.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” Q.S. Al-Mu’minun [23] : 12-14

            Ibnu Katsir menulis dalam tafsirnya bahwa maksud ayat وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ adalah Nabi Adam ‘alaihissalam yang diciptakan Allah dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Sedangkan Ibnu Abbas berkata bahwa kalimat  مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍmemiliki makna sari pati air. (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Mu’minun ayat 12, Juz. 5, hlm. 465)

             Kemudian pada ayat berikutnya berbicara tentang penciptaan anak cucu Nabi Adam ‘alaihissalam yang berawal dari nuthfah atau air mani yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Lafadz nuthfah memiliki arti setetes yang membasahi. Namun, lafadz nuthfah juga ada yang memberi arti pertemuan antara sel sperma dan sel telur. Hal inilah yang memiliki hubungan dengan ilmu pengetahuan modern, bahwa proses penciptaan manusia yang berawal dari air mani yang berjumlah lebih dari dua ratus juta memancar dari pria bertemu dengan satu sel telur wanita. (M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Surat Al-Mu’minun ayat 13, juz 8, hlm. 337)

            Pada ayat 13 juga menyebut lafadz Qaraarim Makin (tempat yang kokoh), yang berarti rahim. Seandainya rahim bukanlah tempat yang kokoh, maka nuthfah tidak akan bisa menempel padanya sehingga disebut sebagai ‘alaqah. Karena kekokohan rahimlah nuthfah bisa menempel padanya dan berkembang menjadi embrio hingga menjadi janin, dengan sebab kekokohan itulah nuthfah mendapat perlindungan.

            Kemudian pada ayat 14 berbicara tentang urutan perkembangan embrio, yang berawal dari sperma yang bertemu dengan sel telur dan berkembang menjadi ‘alaqah atau sesuatu yang menempel, kemudian ‘alaqah itu berkembang menjadi daging yaitu potongan dari beberapa daging yang tidak memiliki bentuk dan pola. Kemudian dari daging berkembang menjadi tulang belulang yang kuat, mulai dari kepala, dua tangan, dua kaki, termasuk sendi – sendinya, jari – jarinya, dan urat – uratnya. Kemudian tulang belulang itu dibungkus dengan daging yang menutupi dan menguatkan. (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Mu’minun ayat 14, Juz. 5, hlm. 466)

            Setelah tulang – belulang terbungkus dengan daging, maka terciptalah khalqan akhar (makhluk lain) yang mengakhiri dari proses perkembangan embrio yang sudah menjadi janin dan terus tumbuh hingga semua jaringannya matang. Kalimat tersebutlah yang menunjukkan perbedaan manusia dengan makhluk lain.

Konsep Perkembangan Embrio Menurut Sains

            Manusia diciptakan Allah Swt. sebagai makhluk yang mulia, walaupun dalam penciptaannya menggunakan bahan dasar tanah. Kandungan yang terdapat di dalam tanah sendiri memiliki beberapa unsur kimia yaitu oksigen (O₂), Air (H₂O), aluminium, asam amino, karbon, asam karbon, dan silikat (SiO₂). Selanjutnya seluruh zat tersebut diserap oleh tanaman. Sedangkan tanaman sendiri mengandung magnesium, kalium, zink, cobalt, natrium, kalsium, phosphor, dan zat besi yang mana semua unsur tersebut dibutuhkan oleh tubuh manusia dalam proses spermatogenesis atau memproduksi sel gamet jantan (spermatozoa). (Rosyidah 2021)

            Embriologi yang merupakan sebutan ilmu yang mempelajari tentang pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam rahim. Salah satu cabang dari ilmu biologi yang membahas berbagai hal yang berhubungan dengan proses awal terbentuknya janin manusia. Berawal dari sel tunggal hingga berkembang menjadi bayi yang sempurna dalam perut ibunya.

            Pengetahuan dasar dalam ilmu embriologi menjabarkan tentang tiga fase kejadian manusia, yaitu dua setengah minggu yang pertama adalah fase pra-embrionik, kemudian dua setengah minggu yang pertama sampai akhir minggu kedelapan adalah fase embrionik, dan akhir minggu kedelapan hingga lahir adalah fase janin atau fetus. (Sam 2021)

            Pada fase pra-embrionik bermula dari proses fertilisasi yang Al-Qur’an menyebutnya dengan nama nuthfah hingga menjadi zigot. Kemudian zigot tersebut membelah diri yang dalam ilmu biologinya disebut mitosis dan berkembang menjadi morula (kumpulan sel yang berbentuk bola) yang menempel pada dinding rahim (uterus). Selanjutnya pada fase embrionik, zigot sudah bisa disebut morula. Morula mengalami perkembangan selama lima setengah minggu dari fase blastulasi, gastrulasi hingga membentuk tiga lapisan sel. Lanjut pada fase janin atau fetus embrio sudah berbentuk bayi dan menuju kesempurnaan wujud bayi manusia. (Sam 2021)

Komparasi Al-Qur’an dan Sains dalam Konsep Perkembangan Embrio

            Penyebutan fase dalam Al-Qur’an tidaklah sama dengan penyebutan fase menurut sains, namun dalam perbedaan penyebutan fase yang berbeda tersebut memiliki maksud atau arti yang sama, dari sini terlihat dari segi bahasa sajalah yang membuatnya berbeda. Karena Al-Qur’an mengandung gaya bahasa yang tinggi yang dapat mempengaruhi jiwa pembaca maupun pendengarnya.

            Dalam penyebutan itu, Al-Qur’an menggunakan nuthfah yang menurut bahasa sains berarti fertilisasi. Nuthfah tersebut kemudian berkembang menjadi ‘alaqah yang menurut bahasa sains berarti zigot. Selanjutnya ‘alaqah berkembang menjadi mudghah, yang dalam bahasa sainsnya berarti morula. Selanjutnya mudghah berkembang menjadi idzam yang dalam bahasa sainsnya berarti brastula. Selanjutnya idzam berkembang menjadi lahm yang dalam bahasa sainsnya berarti grastula. Kemudian dalam fase yang terakhir lahm berkembang menjadi khalq akhar yaitu dalam bahasa sainsnya organogenesis atau sudah berbentuk janin dan terus tumbuh menuju kematangan jaringan. (Sam 2021)

            Dapat kita lihat dari penjabaran di atas, bahwa konsep embrio dalam Al-Qur’an dan sains tidak saling bertentangan, justru keduanya saling bergandengan dan saling melengkapi. Ayat-ayat Al-Qur’an mengandung keistimewaan bahasa yang tidak dapat langsung difahami begitu saja. Namun, harus di cari tahu terlebih dahulu melalui ilmu pengetahuan. Al-Qur’an sendiri memerintahkan untuk memahami, merenungi, dan memikirkan lebih dalam tentang makna ayat-ayatnya agar menemukan kebenaran di dalamnya.

Referensi

Q.S. Al-Mu’minun [23]: 12-14

Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Mu’minun ayat 12-14

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Surat Al-Mu’minun ayat 12-14

Rosyidah, Siti Halimatur. “Konsep Embrio dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains Berdasarkan QS. Al-Mu’minun Ayat 12-14 (Kajian Tafsir Al-Misbah dan Relevansinya Dengan Ilmu Sains)”. Skripsi pada Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora UIN Kiai Haji Achmad Siddiq

Sam, Riski Amalia. “Fase Perkembangan Embrio Dalam Sistem Reproduksi Manusia Menurut Pandangan Sains Terintegrasi Al-Qur’an dan Hadits”. Skripsi pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Medan


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *