Tafsir Sebagai Kajian Kelas Dua di Pesantren? Membincang Tulisan Rosihon Anwar, Jaringan Pesantren Di Jawa Barat (2016)

Salah seorang guru besar ilmu tafsir UIN Sunan Gunung Djati, Rosihon Anwar dalam sebuah tulisannya yang berjudul Jaringan Pesantren di Jawa Barat (2016) mengatakan bahwa kajian tafsir di pesantren, khususnya di Jawa Barat, mengalami perkembangan yang cukup lamban.  Tidak seperti kajian Fiqh, Tasawuf dan Nahwu-Shorof, fan Tafsir terkadang menjadi fan keilmuan kelas dua yang diminati di kalangan pesantren. (Rosihon Anwar, dkk,2016:56-61)

Tulisan Rosihon Anwar tersebut, tentu tidak bisa kita telan secara mentah-mentah, dan juga hal ini tidak berarti bahwa kajian tafsir tidak dikaji sama sekali di sana. Hanya saja, dalam perkembangannya, mungkin sebagian dari kita bisa melihat bahwa literatur-literatur fiqh, dan juga literatur tasawuf atau literatur-literatur bahasa arab/ lughah cukup lebih banyak dan lebih beragam dibahas/dikaji di pesantren-pesantren, ketimbang literatur tafsir.

Bacaan Lainnya

Dalam kajian fiqh misalnya, kalangan santri biasanya mengkaji kitab-kitab fiqh dari sekian banyak kitab, mulai dari tingkatan pemula seperti Safīnah al-Najah, naik lagi ke tingkatan Fatẖ al-Qarīb lalu tingkat yang lebih tinggi lagi umumnya Fatẖ al-Mu ‘īn dan Fatẖ al-Wahhāb. Hal yang sama juga berlaku dalam bidang bahasa arab, mulai dari tingkat awal seperti Jurumiyyah, naik lagi ‘Imrithy lalu kemudian tingkatan paling tinggi Alfiyyah Ibnu Malik. Tingkatan-tingkatan seperti ini, tentu dengan catatan terdapat perbedaan dari masing-masing pondok pesantren.

Dalam dua bidang disiplin ilmu ini, fiqh dan bahasa arab, beragam kitab dikaji dari berbagai literatur dan referensi-referensi, bahkan cenderung melahirkan pola hirarki kelas/ tingkatan-tingkatan. Dari sini kta bisa melihat, bahwa hal yang sama tidak kita temukan dalam kajian tafsir, bahkan pembelajaran secara meningkat ini jarang ditemukan juga jika kajian nya dalam bidang ini. Secara mayoritas, baru tafsir Jalālayn yang menjadi tafsir paling utama dan paling populer dikaji di sana, selain mungkin beberapa kitab tafsir bercorak tasawuf berikut seperti: Tafsīr Yāsīn dan Tafsīr Munīr. Itupun, tidak semua pondok pesantren mengkaji kitab tafsir tersebut, kecuali beberapa.

Padahal jika ditelusuri, masih banyak ruang permasalahan-permasalahan dalam bidang tafsir yang harapannya bisa didiskusikan umat islam dewasa ini. Terutama seperti bagaimana kemudian para santri bisa menghadapi isu-isu global kontemperer dewasa ini, bagaimana refleksi al-Quran sebagai representasi pedoman hidup (QS al-Baqarah (2): 2 dan 185) itu bisa menjawab tantangan-tantangan manusia modern sekarang, seperti isu ekologi, keadilan, kemanusiaan (humanisme) ataupun Hak Asasi Manusia.

Selain itu, di dalam al-Quran sendiri, jika mendasarkan pada perbandingan kuantitas ayat-ayatnya, pada dasarnya fiqih mengambil bagian paling sedikit dalam hal ini. Dalam konteks hukum misalkan, ayat-ayat fiqh/hukum di dalam al-Quran sekurang-kurangnya terdapat 500 ayat sebagaimana dipaparkan al-Ghazali (1056-1111 M), begitupun juga Abdul Wahab Khalaf (1888-1956 M) dan ar-Razi (1149-1210 M) (Muhammad Amin Suma, 2002, hal 31). Hal ini menandakan jika seandainya dibandingkan ayat al-Quran secara keseluruhan yang berjumlah 6234 ayat itu, maka kurang lebih persentase ayat hukum tersebut tidak lebih dari sepuluh persen nya alias baru delapan persen ( 8%).

Dalam hal ini, kita bisa melihat bahwa masih ada sekian banyak bagian dari pada al-Quran yang belum digali. Sebagian dari itu bisa jadi ayat-ayat yang berkutat pada isu sosial kemasyarakatan, muamalah, ayat-ayat kisah, ayat-ayat sains dan masih banyak lagi. Dan ini tidak menafikan untuk bisa memahaminya, kita memerlukan disiplin ilmu tafsir.

Memang jika kita merujuk pada sejarah kurikulum keilmuan pesantren di masa-masa awal, dibandingkan dengan tafsir, agaknya arah keilmuan agama pada masa itu lebih kepada tasawuf, jika tidak, fiqh. Inilah yang setidaknya didiskusikan oleh Martin van Bruinessen dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat (2012) bahwa pondok pesantren—dimasa-masa awal—lebih tepat dikatakan sebagai lembaga tasawuf/ lembaga pendidikan tasawuf yang darinya (outputnya) melahirkan tokoh-tokoh sufi nusantara atau jika tidak para faqih yang menguasai berbagai bidang hukum islam. (M.V.Brussen, 2012: 225-230)

Tentu ini dengan catatan, ini tidak berarti pondok pesantren tidak melahirkan para mufasir-mufasir. Di Indonesia, tentu kita mengenal beberapa tokoh seperti Kiai Sholeh Darat dengan tafsir Faidh ar-Rahman-nya ataupun Kiai Bisri Musthofa dengan Tafsir al-Ibriz-nya. Hanya saja, tentu di samping dari pada beberapa tokoh yang disebutkan, kita bisa merasakan tokoh-tokoh sufi dan tokoh-tokoh faqih lebih mendominasi di lembaga tersebut.

Namun meskipun kitab tafsir cenderung jarang dikaji di pesantren, setidaknya terdapat perkembangan yang bisa ditemukan akhir-akhir ini. Inilah yang setidaknya juga diberikan catatan oleh Rosihon Anwar dkk tersebut, jika kita melihat pesantren-pesantren yang notabene manaungi ruang lingkup mahasiswa, baik pesantren yang memiliki sekolah tinggi (ST) ataupun Ma’had ‘Aly, maka kita akan menemukan beberapa kitab tafsir modern cukup banyak didiskusikan di sana. Tidak seperti sebagaimana diuraikan Mahmud Yunus, kajian tafsir tidak lagi berupa kajian yang eksklusif dan elitis yang hanya diisi oleh santri-santri senior, tapi kajian tafsir juga bisa dikonsumsi oleh seluruh elemen santri. (Mahmud Yunus, 1985: 45-58)

Selain itu, metode kajian tafsir pun mengalami tambahan variasi, jika sebelumnya kajian tafsir dilakukan secara bandongan (monolog—menyimak penyampaian guru). Maka kini, mulai banyak ditemukan bahwa kajian tafsir itu mulai terbuka dan didiskusikan secara bersama-sama. Narasi-narasi yang ditemukan di dalam kitab tafsir tertentu mulai dilempar secara komprehensif di depan publik, lalu secara serius diupayakan dialog, sesi tanya jawab dan diperdebatkan.

Fenomena tersebut bisa ditemukan di dalam kegiatan musyāwarah, sebuah kegiatan forum diskusi santri yang dilakukan di pesantren Buntet Cirebon. Kegiatan ini diadakan dua minggu sekali diikuti oleh santri dan diawasi oleh beberapa asātidzah yang menjadi pengawas diskusi. Dengan munculnya forum-forum diskusi tafsir seperti ini, begitupun dengan kajian-kajian tafsir modern di Mahad ‘Aly dan kampus-kampus pesantren, ini sudah menjadi titik awal perkembangan kajian tafsir di pesantren, kita tinggal menunggu bagaimana pertumbuhan kajian tafsir selanjutnya di masa-masa yang akan datang.

 

 

Referensi

Martin Van Brussen, kitab kuning, pesantren dan tarekat (Yogyakarta: Gading Publishing, 2012)

Muhmmad Amin Suma, Pengantar Tafsir Ahkam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002)

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia (Jakarta: Hidrakarya Agung, 1985)

Rosihon Anwar, dkk. Kajian Kitab Tafsir Dalam Jaringan Pesantren Di Jawa Barat. (Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya I, 2016.)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *