Metode-metode Tafsir Al-Qur`an Feminis (Resume Pidato Guru Besar Kusmana: Maksud Tuhan dalam Penafsiran Manusia: Dinamika Penafsiran Al-Qur`an Feminis)

Bagi kebanyakan orang, isu relasi gender merupakan isu yang cukup membingungkan. Orang yang dengan latar tradisional misalnya menanyakan apakah kajian relasi gender yang digawangi Amina Wadud dan kawan-kawan perlu dibawa ke masyarakat awam? Lebih jauh, apabila mengikuti pendekatan tafsir Al-Qur`an feminis, apakah akan merombak semua produk hukum yang lama? Kekhawatiran ini tentu beralasan karena dampaknya yang epistemik.

Misalnya juga pertanyaan seorang kawan, apakah metode-metode tafsir Al-Qur`an feminis ini akan mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa perempuan akan menjadi kepala keluarga? Dengan segala pertanyaan itu, saya tertarik untuk mencatat ulang gagasan-gagasan yang dinarasikan oleh Kusmana pada artikelnya yang berjudul Maksud Tuhan dalam Penafsiran Manusia: Dinamika Penafsiran Al-Qur`an Feminis.

Apa yang ingin disampaikan Kusmana dalam artikel ini adalah bahwa metode kritis yang baru-baru ini lahir bisa menjadi alternatif pembacaan di tengah ekstrimisme kaum egalitarian dan kaum skirptual. Di sinilah posisi Kusmana sebagai penganut metode kritis dalam membaca ayat-ayat yang berbicara relasi gender. Namun sayangnya, ia hanya menyampaikan metode ini sebagai metode alternatif di akhir tulisan dan perlu digalakkan bersama.

Terlepas itu, saya mewajarkan akhir tulisan itu karena artikelnya memang mengulas dinamika tafsir Al-Qur`an feminis. Di kesempatan lain, ia mengafirmasi pandangannya terhadap metode kritis itu dengan teori batas Arkoun. Ia hendak mengembangkan metode kritis itu dengan meminjam teori tersebut. Namun sampai saat ini, ia sepertinya belum sempat menulisnya.

 

Tafsir Al-Qur`an Feminis

 

Berikut ini adalah ulasan Kusmana tentang tafsir Al-Qur`an feminis. Tafsir Al-Qur`an feminis merupakan tafsir tematik. Ia merupakan tafsir atas ayat-ayat yang menyebut relasi gender. Tafsir ini lahir oleh dua sebab. Pertama, gerakan feminis di dunia. Kedua, kenyataan Al-Qur`an yang menyebut relasi gender yang sejajar & androsentrik.

Secara umum, memang gambaran Al-Qur`an tentang relasi gender dibagi menjadi dua. Pertama, relasi gender yang sejajar dan kedua, relasi androsendrik. Contoh yang pertama misalnya bagaimana Al-Qur`an menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan hanya dibedakan oleh ketakwaannya kepada Allah. Sementara itu, contoh yang kedua misalnya bagaimana Al-Qur`an menjelaskan bagian perempuan dalam warisan keluarga. Dalam hal ini, laki-laki diberikan lebih dibanding perempuan.

Kenyataan kontradiktif inilah yang membuat para pemerhati Al-Qur’an terpanggil untuk mencoba menjelaskan apa sebenarnya maksud Tuhan dengan kontradiksi itu. Oleh karenanya, tafsir Al-Qur’an feminis tumbuh dan secara umum menjadi dua golongan besar. Pertama, penafsir feminis yang mengkonseptualisasi egalitarianisme Al-Qur’an dan kedua, penafsir feminis yang mengkonseptualisasi androsentrisme Al-Qur’an.

 

Golongan Egaliterianisme

 

Golongan pertama merupakan golongan yang berpandangan bahwa Al-Quran itu anti epistemologi patriarki. Implikasi pandangan ini nantinya melahirkan resistensi atas segala jenis tafsir yang dianggap tidak adil gender. Golongan ini dalam perkembangannya menggunakan tiga pendekatan dalam menafsirkan: historis kontekstual, intratekstual, dan tawhidi.

Berikut ini adalah penjelasan singkatnya. Metode historis kontekstual merupakan pendekatan yang memberikan titik tekan pada situasi spesifik yang melatarbelakangi proses pewahyuan. Singkatnya, metode ini memperhatikan sabab an-nuzul, klasifikasi ayat deskriptif dan preskriptif, membedakan yang universal dan partikular, serta melokalisir bias gender.

Produk metode ini misalnya penafsiran Amina Wadud terhadap ayat kepemimpinan laki-laki terhadap perempuan. Umumnya penafsiran tradisional atas ayat ini menunjukkan superioritas laki-laki atas perempuan. Namun di tangan Wadud, ayat ini dijadikan ayat partikular atau keberlakuannya spesifik pada kasus tertentu saja.

Lebih lanjut, ayat ini menggambarkan kondisi seorang laki-laki yang memiliki harta warisan dan ia sebenarnya mampu memberi nafkah tanpa warisan itu. Oleh karena ia spesifik ke kondisi di atas, maka penafsiran yang pas atas kata qawam bukanlah pemimpin, namun bermakna tanggungjawab komunal supaya penafsiran tidak jatuh pada penafsiran bias gender.

Adapun metode intratekstual bisa dibilang tafsir tematik langsung. Metodenya persis dengan tafsir tematik, yakni mengumpulkan ayat terlebih dahulu dan lalu menafsirkan ayat-ayat tertentu. Ia sekaligus merupakan kritik atas tafsir-tafsir sebelumnya yang bersifat atomistis-partikular. Menurut penganut metode ini, penafsiran jauh akan lebih baik dengan mengumpulkan ayat-ayat lainnya. Penafsiran akan menjadi komprehensif.

Contoh produk metode ini misalnya, penafsiran atas asal muasal penciptaan perempuan. Penafsir Al-Qur’an feminis menemukan bahwa baik Adam & Hawa diciptakan dari nafs yang sama. Hawa tidaklah diciptakan dari tulang rusuk Adam. Turunnya Adam & Hawa bukanlah salah Hawa, namun keduanya berdosa waktu itu. Singkatnya metode ini membantu penafsir Al-Qur`an feminis dalam menjelaskan kesalahan-kesalahan dalam tafsir ayat perayat.

Berikutnya adalah metode pembacaan tawhidi. Metode ini memandang bahwa penafsiran laki-laki bisa salah karena mereka sama-sama manusia yang bisa jatuh kepada kesalahan. Lebih jauh, laki-laki memiliki posisi yang sama dengan perempuan sebagai mahluk yang sedang melakukan mandat Tuhan di dunia. Memosisikan penafsiran laki-laki sebagai penafsiran final sama halnya memosisikan itu sebagai penafsiran Tuhan. Hal ini bertentangan dengan maksud tauhid.

Contoh produk metode ini adalah penafsiran atas ayat yang penafsir tradisional menyebutnya sebagai ketaatan kepada suami, namun oleh penganut metode ini menafsirkan sebagai penghormatan atas perjanjian pernikahan. Ketaatan yang berlebihan akan menjatuhkan perempuan pada kesyirikan dan ini bertentangan dengan prinsip tauhid.

 

Golongan Androsentrik

 

Adapun golongan kedua adalah mereka yang membiarkan ayat-ayat relasi gender itu berbicara kepada penafsir. Tugas mereka adalah mencari makna bahasanya & fungsi eksistensi ayat tersebut di tengah masyarakat penerima wahyu. Metode golongan kedua ini terbagi menjadi dua, yakni metode skriptualis dan metode kritis.

Adapun metode skriptualis adalah pembacaan yang fokus pada pencarian makna bahasa skriptural atau teks dan hikmahnya. Bagi penganut metode ini, ayat androsendrik adalah satu hal & penafsiran adalah hal lainnya. Ayat androsendrik merupakan gambaran masyarakat waktu itu dan diamini Al-Qur`an dan dalam waktu bersamaan Al-Qur`an memberikan penghormatan atas perempuan. Produk metode ini banyak di penafsiran para ulama tradisional.

Sementara itu, metode kritis adalah metode yang meletakkan ayat androsendrik sebagai cara Al-Qur`an dalam merespon masyarakat patriarki. Hal ini bisa lebih dipahami dengan memahami bagamana gender perempuan di masyarakat pra-Islam. Perempuan kala itu tidak diperlakukan layaknya manusia, namun benda. Oleh karena itu, ayat androsentrik itu adalah respon Al-Qur`an terhadap masyarakat waktu itu, yakni step by step memanusiakan perempuan.

Lebih jauh, metode ini lahir sebab eksrimisme kaum egalitarian dan skiripturalis. Menurut penganut metode ini, kaum egalitarian terjebak pada sikap menghakimi ayat-ayat androsentrik. Mereka tidak membiarkan ayat-ayat itu berbincara kepada pembacanya. Mereka memutuskan harus sesuai dengan prinsip yang mereka anut. Sementara itu, kelompok skripturalis dianggap tidak menyelesaikan apa yang menjadi keberatan kaum feminis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *