Pandangan Islam Dalam Mengungkap Teori Heliosentris Dan Geosentris

Perdebatan perihal teori Heliosentris dan Geosentris adalah konflik historis antara sains dan agama, khususnya dalam konteks peradaban Barat. Konflik ini mencapai puncaknya pada abad ke-13 Masehi, ketika teori heliosentris yang diusulkan oleh Nicolaus Copernicus (Pascasarjana Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang dan Halimah 2018, 137) menantang paradigma geosentris yang telah diterima secara luas selama berabad-abad. Teori heliosentris menempatkan matahari, bukan bumi, sebagai pusat tata surya, yang bertentangan dengan pemahaman geosentris yang dipertahankan oleh gereja saat itu. (Rovelli 2018, 21–22).

Ketika Galileo Galilei membela teori Copernicus, dia dijatuhi hukuman mati oleh gereja, yang menandai keterbelakangan sains dalam peradaban Barat. Hal ini memicu revolusi sains yang diperlukan dan menunjukkan intoleransi otoritas gereja terhadap ide-ide sains yang mendiskreditkan ajarannya. (Huzain 2018, 57–58) Meskipun revolusi Copernicus mendapatkan dukungan dari kebanyakan ahli astronomi, teori heliosentris masih mengalami konfrontasi dengan aspek teologi, yang diperparah oleh rasionalisme Barat yang berusaha mengintegrasikan teori ini ke dalam konsepsi alam tanpa mempertimbangkan aspek teologi.

Bacaan Lainnya

Dalam konteks ini, pentingnya pemahaman yang benar tentang teori heliosentris dan geosentris dalam kerangka teologi Islam untuk mengatasi konflik tersebut. Dia juga menunjukkan kontribusi ilmuwan Muslim dalam perkembangan pemikiran astronomi dan kosmologi yang mempengaruhi dunia Barat, yang menunjukkan bahwa peradaban Islam telah mengintegrasikan sains dan agama dengan harmonis.

Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana Islam, melalui sumber primer ajarannya, memberikan pandangan yang dapat mengakomodasi dan mengintegrasikan temuan sains modern tanpa menentang ajaran agama, sehingga menawarkan solusi bagi konflik antara sains dan agama yang mungkin masih berlanjut hingga saat ini.

Teori Heliosentris

Jauh sebelum berkembangnya teori kosmos alam semesta pada masa sains klasik Eropa, teori heliosentris telah tercipta di peradaban India kuno pada abad ke 7 SM. Yajnavalka (800-900 SM) merupakan seorang ilmuwan astronomi paling awal dari peradaban tersebut yang telah mengkaji teori ini lebih dahulu. Ia mengemukakan konsep teori ini berdasarkan isi muatan religius kitab Weda.(Nasution 2018, 150)

Teori heliosentris mencapai babak baru ketika Nicolaus Copernicus mempublikasikannya pada tahun 1543 dengan sedikit modifikasi yang memunculkan gambaran baru mengenai orbit bumi dan planet-planet lain yang mengelilingi matahari. Melalui bukunya yang berjudul Commentariolus ia memprediksi pengorbitan tiap planet dengan meringkasnya menjadi satuan putaran ketika memakai perhitungan deferent atau lingkaran primer, dan episiklus atau putaran sekunder. Banyaknya perputaran ini menempatkan tiap planet secara berurutan dalam bundaran angkasa.(Freely 2011, 48–49)

Asumsi Copernicus selanjutnya berkembang dan mengarah pada bantahan geosentrisme. Menurutnya bumi tidak mungkin menjadi pusat tata surya hanya karena ada gravitasi di sekelilingnya dan gravitasi bundaran bulan. Bagaimana gaya itu mampu bekerja jika ukuran jari-jari bumi saja tidak sebanding dengan jaraknya dari matahari sehingga tampak tidak kelihatan dibandingkan dengan tingginya cakrawala. Copernicus kemudian memandang bahwa terjadinya pergerakan matahari dan benda-benda langit bukan karena gerakannya sendiri melainkan “gerak bumi”.

Hipotesis Copernicus mengenai teori heliosentris tersebut tidak lepas dari kontribusi pemikiran cendekiawan muslim yang mengembangkan model-model dan metode matematika sebelumnya. Hal ini terbukti melalui tulisannya dalam buku berjudul De Revolutionibus menyebut beberapa astronom Arab seperti Al-Battani, Al-Bitruji, Al-Zarqali, Ibnu Rusyd dan Thabit ibnu Qurra. George Saliba juga mengemukakan bahwa pergeseran dasar geosentris menjadi heliosentris untuk teori Copernicus merupakan jalan yang diperoleh dari metode matematika Ibn Al-Shatir dan pendahulunya. Meskipun demikian, penempatan matahari di pusat orbit planet-planet bukannya bumi yang diletakkan di tengah merupakan langkah revolusionernya.(Freely 2011, 58–60)

Langkah revolusioner yang ditempuh oleh Copernicus tersebut mampu membuka jalan atas terjadinya peristiwa Revolusi Sains. Meskipun hal ini menyebabkan tidak senangnya di kalangan rohaniawan gereja, karena pemikirannya yang bertentangan dengan dogma keagamaan. Namun teori itu tetap mendapat dukungan oleh kebanyakan ahli astronomi sebagai dasar untuk tabel-tabel astronomi yang baru dan lebih akurat. Hipotesis dalam buku De Revolutionibus juga dianggap mampu meruntuhkan teori geosentris dan dijadikan sebagai rujukan berabad-abad setelahnya.(Firdaus dan Sinensis 2017, 32)

Johannes Kepler (w. 1630), Galileo Galilei (w. 1642), dan Isaac Newton (w. 1727) menjadi tokoh utama yang mengembangkan teori heliosentris selanjutnya. Johannes Kelper mengukuhkan pandangan Copernicus dengan mengajukan sejumlah Hukum Gerak dan Orbit benda-benda langit.(Muhyiddin 2016, 170) Kemudian Galileo memberikan persetujuannya dari bukti empiris yang diperoleh melalui teleskop refraksinya. Newton juga memberikan gagasan mengenai sebab pergerakan benda-benda langit yang selanjutnya dikenal dengan Gaya Gravitasi. Hipotesisnya menunjukkan bahwa benda-benda dalam ruang kosong mampu bergerak dan berdekatan secara terpisah karena ada gaya gravitasi yang mempengaruhi ruang di sekelilingnya. Teori Newton mendapat kritikan dari para ahli teologi karena secara terbuka menunjukkan fenomena ilmiah yang terjadi secara kebetulan di alam semesta tanpa melibatkan kehadiran Sang Pencipta.(Tyson 2018, 13)

Teori Geosentris

Teori geosentris berevolusi untuk pertama kali ketika Anaximandros mengkritisi paradigma lama setelah melihat fenomena alam benda langit yang berputar mengelilingi bumi. Matahari terbit dari timur dan terbenam di barat. Menurutnya pergerakan tersebut terjadi karena rotasi mengisi kosmos yang membuat matahari mengikutinya. Selain itu, Anaximandros membuat pandangan baru tentang arsitektur kosmos bahwa bumi berada di ruang antariksa dalam keadaan melayang yang dikelilingi oleh langit. Struktur ini kemudian disempurnakan oleh seseorang (Parmenides atau Phytagoras) dengan hipotesis bumi berbentuk bulat karena dianggap mampu bergerak dengan kedudukan sama untuk semua arah.(Rovelli 2018, 21–22)

Pada abad ke-6 SM perkembangan teori geosentris berlanjut dengan adanya hipotesis populer tentang fenomena gerakan planet-planet yang berputar secara seragam di kalangan astronom Yunani. Eudoxus of Cnidus merupakan akademisi plato yang mencari penyelesaian hipotesis tersebut. Ia berasumsi bahwa benda-benda angkasa berotasi dengan kecepatan tertentu sesuai kemiringan aksisnya mengikuti empat bundaran yang saling terhubung dan terpusat pada bumi. Pandangannya inilah yang kemudian diadopsi oleh Aristoteles sebagai model fisik untuk teori kosmosnya.(Freely 2011, 34)

Pada abad ke-3 SM Teori geosentris dikembangkan oleh Aristoteles dengan bantuan model kosmos Eudoxus. Ia beranggapan bahwa bumi sebagai pusat kosmos berada dalam keadaan statis. Setiap benda angkasa memiliki lintasannya tersendiri dalam bentuk lingkaran untuk mengorbit bumi. Argumen inilah yang menunjukkan bukti bumi bulat dan peredaran benda langit. Atas pemikirannya ini, Aristoteles mampu mengalihkan pandangan manusia sehingga Teorinya dijadikan dasar dari pengajaran gereja Eropa selama beraba-abad setelahnya.

Teori geosentris mencapai puncak ketika Ptolomeus memodifikasi teori ini untuk terakhir kalinya. Berbekal hasil observasi Hipparcus of Nicaea (Astronom terkemuka di era klasik) sekaligus teori lingkaran episiklusnya dan eksentrisnya Eudoxus, Ptolomeus mampu mendeskripsikan pergerakan benda-benda angkasa. Pusat dari masing-masing episiklus bergerak secara seragam ke sebuah titik khayal (titik equant) yang kemudian berpindah dari pusat deferent ke dalam lingkaran menjadi modifikasi utamanya. Teori ini mampu bertahan hingga abad ke-6 SM sebelum diputar-balikkan oleh Copernicus.(Freely 2011, 35)

Heliosentris dan Geosentris dan Harmonisasi Agama dan Sains dalam Pandangan Islam

Terjadinya perdebatan antara saintis dan Gerejawan pada abad pertengahan menjadi bukti kemunduran tradisi intelektual Barat. Otoritas gereja sebagai ortodoksi absolut tampak intoleran terhadap segala hal yang mendiskreditkan ajarannya termasuk sains. Sedangkan saintis Barat menunjukkan bagaimana konsepsi-konsepsi alam semesta terjadi tanpa didasari oleh aspek Teologi Kristen. Berdasarkan sistem dominasi dan sekularisme inilah kemunduran itu terjadi. Sebuah pengalaman bersejarah bagi semua peradaban di dunia.(Supriyadi 2018, 86)

Perkembangan tradisi intelektual Barat memiliki latar belakang historis tersendiri yang berseberangan dengan peradaban Islam. Jika dogma gereja lebih mendominasi tradisi Barat maka di sisi lain peradaban Islam mampu mengakselerasikan sains dan agama dengan berbekal Al-Qur’an dan Hadis.(Supriyadi 2018, 89) Hal ini dibuktikan dengan lahirnya cendekiawan muslim yang menjunjung tinggi moral dan etika berasaskan dogma Islam dalam pengejarannya mencari ilmu pengetahuan, karena Islam maupun Al-Qur’an sendiri juga tidak membedakan bentuk-bentuk pengetahuan.(Guessoum 2014, 187)

Musa Maimonides ialah contoh cendekiawan muslim yang terbentuk oleh karakter Islam pada era Ayyubiyah yang mampu merumuskan teori kosmologi sesuai dengan Al-Qur’an. Bermula dari teori “Penggerak Awal” Aristoteles, Maimonides mengemukakan adanya keterlibatan Tuhan dalam pergerakan lingkaran angkasa.

Hipotesisnya menunjukkan bumi secara struktural terdiri dari air, api, tanah, dan udara. Sedangkan benda-benda angkasa merupakan elemen kelima yang terbuat dari ether yang berotasi mengelilingi bumi secara statis dalam jaring bundar transparan. Mustahil baginya jika bundaran angkasa tersebut dapat terus berotasi tanpa penggerak (Tuhan). Demikianlah yang ditulisnya dalam buku berjudul The Book Of Knowledge.

Pemikiran Maimonides tersebut sesuai dengan Firman Allah dalam Q.S Al-Anbiya/21: 33(Rahmawati dan Bakhtiar 2019, 190)

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Artinya: “Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya”.(Tim Penyempurnaan Terjemahan Al-Qur’an 2019a, 460)

Ibn Al-Syatir seorang ilmuwan astronomi lain yang pertama kali memetakan pergerakan angkasa pada abad ke-14 juga memiliki kesamaan dengan Maimonides dalam mengungkapkan kebenaran Al-Qur’an. Hipotesisnya mengarah pada pembalikan teori geosentris Maimonides. Ia menuangkan pemikirannya dalam rihlah kajian berjudul Nihāyat al-Sūl Fi Tashih Al-Uṣūl yang menjelaskan tentang keseragaman gerak kombinasi secara melingkar antar planet di sekitar pusat.

Nihāyat al-Sūl Fi Tashih Al-Uṣūl (A Final Inquiry Concerning the Rectification of Planetary Theory) menjadi rihlah lanjutan yang menyajikan model fisik kosmologi terbarunya. Dalam rihlah itu ia mengkritik teori geosentris Ptolomeus mengenai istilah deferent dan equant. Berdasarkan pengamatannya, ia berasumsi bahwa titik equent merupakan pusat pergerakan benda angkasa. Titik tersebut tidak ditempati oleh bumi, melainkan matahari.(Pascasarjana Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang dan Halimah 2018, 40–41) Gagasan Ibn Al-Syatir juga sesuai dengan Firman Allah Q.S Yasin/36: 40

 

لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Artinya: “Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya”.(Tim Penyempurnaan Terjemahan Al-Qur’an 2019b, 639)

Berdasarkan pandangan di atas telah menunjukkan bagaimana kedudukan Islam (agama) atas ilmu pengetahuan. Golshani seorang cendekiawan asal Iran menyatakan jika kegiatan ilmiah yang melahirkan cabang-cabang ilmu saat itu hanya ditujukan untuk melanjutkan pencarian religius. Farouq Ahmad Al-Dassouqi, mengemukakan jika sains mengarah pada kebenaran dan kepastian hukum alam, maka Ilmu-ilmu agama Islam merupakan dasar pembuktian tersebut.(Guessoum 2014, 89–91)

Hal itu juga berarti pembuktian ilmiah saat ini hanyalah suatu upaya yang dilakukan untuk memperoleh potongan-potongan rahasia dari tangan Sang Pencipta. Sedangkan perdebatan yang terjadi bukan berasal dari agama maupun sains melainkan karena paradigma manusia yang berbeda, yaitu mendikotomikan kedua domain ilmu pengetahuan tersebut.(Muhyiddin 2016, 172)

 

Daftar Pustaka

Firdaus, Thoha, dan Arini Rosa Sinensis. 2017. “Perdebatan Paradigma Teori Revolusi: Matahari atau Bumi Sebagai Pusat Tata Surya ?” Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences 9 (1): 23–32. https://doi.org/10.30599/jti.v9i1.78.

Freely, John. 2011. CAHAYA DARI TIMUR. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Guessoum, Nidhal. 2014. Islam dan Sains Modern. Mizan Pustaka.

Huzain, Muh. 2018. “Pengaruh Peradaban Islam Terhadap Dunia Barat.” Tasamuh: Jurnal Studi Islam 10 (2).

Muhyiddin, Asep. 2016. “WAWASAN DAKWAH ISLAM: INTEGRASI SAINS DAN AGAMA” 15.

Nasution, Mhd. Fikri Maulana. 2018. “Perkembangan Ilmu Falak Pada Peradaban Pra Islam.” Jurnal Penelitian Medan Agama 9 (1).

Pascasarjana Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang, dan Siti Nur Halimah. 2018. “Benang Merah Penemu Teori Heliosentris: Kajian Pemikiran Ibn Al-Syāṭir.” Al-Marshad: Jurnal Astronomi Islam dan Ilmu-Ilmu Berkaitan 4 (1): 135–45. https://doi.org/10.30596/jam.v4i1.1939.

Rahmawati, Richa Dwi, dan Nurhasanah Bakhtiar. 2019. “Pembelajaran IPA Berbasis Integrasi Islam-Sains pada Pokok Bahasan Penciptaan Alam Semesta dan Tata Surya.” Journal of Natural Science and Integration 1 (2): 195. https://doi.org/10.24014/jnsi.v1i2.6599.

Rovelli, Carlo. 2018. TUJUH PELAJARAN SINGKAT FISIKA. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Supriyadi, Anggi. 2018. “Kosmologi Islam: Agama dalam Kemelut Sains.”

Tim Penyempurnaan Terjemahan Al-Qur’an. 2019a. Al-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan 2019, Juz 11-20. Jakarta Timur: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

———. 2019b. Al-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan 2019, Juz 21-30. Jakarta Timur: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Tyson, Neil deGrasse. 2018. Astrofisika untuk Orang Sibuk. Gramedia Pustaka Utama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *