Berbicara atau Mendengar: Mana Lebih Sulit?

Sebagian besar orang jika ditanya mana yang lebih sulit umumnya menjawab berbicara lebih sulit. Benar kah? Tidak salah, tapi juga tidak seluruhnya benar.

Historis Kapasitas Wicara

Kemampuan berbicara muncul tidak sendirinya, bahkan kemahiran berbicara di depan umum (public speaking) harus melalui latihan yang intensif. Seseorang wajib membekali dirinya dengan pengetahuan yang cukup, melatih retorika dan juga kemampuan mengamati psikologi massa. Orang yang memiliki pengetahuan saja belum tentu berani berbicara di hadapan publik tanpa memiliki keberanian, sementara orang yang memiliki pengetahuan dan mental berani belum tentu bisa berkomunikasi tanpa dibekali retorika yang baik. Intinya, berbicara itu memang sulit.

Seorang Musa as., sekelas rasul bahkan tidak “berani” sendirian manakalah diperintahkan Allah swt. untuk menemui Fir’aun guna menyampaikan risalah ketauhidan dan membebaskan Bani Israil dari penindasan rezim penguasa. Ulama tafsir menduga ‘ketidakmampuan” Nabi Musa as. boleh jadi karena segan terhadap Firaun yang telah memelihara dan menjadikannya sebagai anak angkat, sehingga beliau merasa akan kurang lancar dalam berbicara dengan seorang penguasa lalim yang tiada lain bapak angkatnya itu. Nabi Musa pun akhirnya ditemani oleh Harun as.,—seorang nabi dan juga saudara kandung yang memiliki kemampuan berbicara yang lebih baik di kalangan Bani Israel. Penunjukan Nabi Harun as sebagai pendamping tidak lepas atas permohonan Musa as karena ia merasa kurang mampu menghadapi tugas berat yang diembannya. Tidak hanya itu Musa as. tetap berdoa agar Tuhan melapangkan dadanya, memudahkan urusan, dan mengokohkan lisannya, yakni melepaskan kekakuan dari lidah hal-hal yang membelenggu dan menghalangi penyampaian pesan dengan baik (QS. Thaha:25-32).

Sudut Pandang Islam

Kisah di atas menunjukan sulitnya berbicara dan menyampaikan kebenaran. Namun ternyata kemauan dan kemampuan Fir’aun dalam mendengarkan pembicaraan yang benar (al-haq) juga sulit. Sampai-sampai Tuhan mengutus dua orang nabi untuk membisikkan kebenaran ke dalam relung hatinya –dan hingga akhir hayatnya Fir’aun tetap ingkar.

Jadi, mendengar sesungguhnya jauh lebih sulit dibanding sekedar berbicara. Orang berpendidikan tinggi akan cenderung abai jika dinasehati, orang tua mungkin tersinggung dinasehati anaknya, senior tidak mau mendengar junior, penguasa tidak mau mendengar jeritan rakyatnya. Orang berpengetahuan dan orang awan di zaman ini lebih nyaman jadi pembicara atau pengamat, orang tua lebih sering cerewet dan mendikte, penguasa dan wakil rakyat lebih senang beretorika dan mengumbar janji.

Mendengar jauh lebih sulit dibanding berbicara. Orang-orang lebih nyaman jadi komentator atau pengamat, orang tua lebih sering cerewet dan mendikte, penguasa dan wakil rakyat lebih senang beretorika dan mengumbar janji.

Pesan Tuhan

Allah swt. memberikan ancaman kepada yang banyak berbicara dengan menugaskan dua malaikat untuk mengawasi perkataannya (QS. Qaf: 18). Pernah seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah saw., “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya. (HR. Muslim/64). Pada kesempatan lain Rasullah saw berkata “siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari-Muslim).

Sebaliknya Allah swt memberi kabar gembira kepada hamba-hamba-Nya yang mendengarkan secara tekun dan bersungguh-sungguh  perkataan, lalu mengikuti secara bersungguh-sungguh apa yang paling baik di perkataan tersebut (QS. Al-A’raf: 145), maka mereka itu adalah orang-orang yang telah diberikan petunjuk (hidayah) dan mereka dijuluki ulul albab, yakni orang yang memiliki otak/pikiran yang cerah, tidak diliputi kekeruhan (QS. Az-Zumar:18).

Mengingat sulitnya memiliki kemampuan mendengar ini, para ulama mengajarkan doa pada saat membasuh kuping dalam wudhu yaitu “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengar ucapan yang baik dan mengikuti sesuatu yang terbaik.”

Sudah selayaknya kita, manusia meneladani sifat-sifat Tuhan. Dari Sembilan puluh sembila sifat tuhan (asmaul husna) tidak ada satupun sifat-Nya “Maha Berbicara”, meskipun Tuhan memang mampu untuk itu –dan pembicaraannya tercatat dalam kitab suci. Tetapi, Tuhan tidak mengenalkan diri-Nya sebagai ‘Maha Pembicara” melainkan Ia mengenalkan diri-Nya sebagai “Maha Mendengar” dan “Maha Melihat”. Artinya, seakan mengisyaratkan kepada manusia, “wahai manusia tiru lah Aku, jangan banyak berbicara banyak lah mendengar”.

Tuhan tidak mengenalkan diri-Nya sebagai ‘Maha Pembicara” melainkan Ia mengenalkan diri-Nya sebagai “Maha Mendengar” dan “Maha Melihat”. Artinya, seakan mengisyaratkan kepada manusia, “wahai manusia tiru lah Aku, jangan banyak berbicara banyak lah mendengar.

Zeno dari Citium (c. 336 – 265 SM) adalah seorang filsuf Yunani dan pendiri Sekolah Filsafat Stoic berkata, “Kami memiliki dua telinga dan satu mulut, jadi kami harus mendengarkan lebih dari yang kami katakan.” Demikian lah berbicara yang baik, benar dan dapat dipertangungjawabkan sangat sulit. Namun, kemauan mendengar dan mengikuti kebenaran jauh lebih sulit.

Zeno dari Citium (c. 336 – 265 SM) adalah seorang filsuf Yunani dan pendiri Sekolah Filsafat Stoic berkata, “Kami memiliki dua telinga dan satu mulut, jadi kami harus mendengarkan lebih dari yang kami katakan.” Demikian lah berbicara yang baik, benar dan dapat dipertangungjawabkan sangat sulit. Namun, kemauan mendengar dan mengikuti kebenaran jauh lebih sulit.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *