Konkretisasi Teladan ‘Ulama Dalam Memperlakukan Perempuan

Seringkali kita menjumpai tulisan-tulisan tentang kesetaraan gender yang di antara tujuannya mencegah terjadinya diskriminasi terhadap perempuan. Persoalan ini seandainya dikaji dengan sudut pandang yang tepat, maka akan dijumpai bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya diskriminasi pada perempuan kecuali bagi laki-laki yang tidak bertanggung jawab atas perempuan dan memiliki pemahaman agama yang lemah, tanpa melalui metode keilmuan yang otoritatif atau sanad.

Tulisan ini akan menjelaskan beberapa tokoh Islam, laki-laki hebat dan penyabar yang berada di bawah perintah istrinya (tahta amr imra’atih), dalam arti lain laki-laki yang patuh pada seorang istri tanpa melakukan perlawanan atas perilaku buruknya pada suaminya. Mungkin kalau istilah sekarang adalah suami takut istri. Yang menjadi pertanyaan apakah perbuatan tersebut termasuk diskriminasi pada laki-laki?

Bacaan Lainnya

Jika jawabannya iya, berarti perintah agama pada suami untuk sabar atas perempuannya merupakan tidak adil, apakah benar agama tidak adil pada laki-laki? Ini akan terjawab pada tulisan ini. Dalam literatur Islam banyak yang menjelaskan tentang sosok laki-laki hebat dalam ber-mu‘āsyarah dengan istrinya. Beliau semua tidak menuntut seperti yang pegiat kesetaraan gender serukan saat ini, karena beliau semua sadar dan paham bagaimana sifat perempuan.

Landasan utama yang perlu dipahami bersama sebelum masuk pada siapa saja sosok laki-laki hebat tersebut adalah QS. al-Ra’d 38:

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ اَزْوَاجًا وَّذُرِّيَّةًۗ وَمَا كَانَ لِرَسُوْلٍ اَنْ يَّأْتِيَ بِاٰيَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِۗ لِكُلِّ اَجَلٍ كِتَابٌ

“Sungguh Kami benar-benar telah mengutus para rasul sebelum engkau (Nabi Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Tidak mungkin bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu bukti (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Untuk setiap masa ada ketentuannya”.

Ayat tersebut sangat jelas siapa para utusan yang dimaksud, yakni para nabi yang Allah berikan pendamping dan keturunan pada mereka semua. Para nabi yang ma’shūm tentu telah memberikan contoh teladan bagaimana memperlakukan istri-istrinya serta mendidik anak-anaknya. Walaupun ada salah satu istri para nabi yang tetap tidak taat pada suaminya, pertanyaannya apakah para nabi gagal? Tentu tidak, kembali pada hidayah siapa yang punya.

Landasan kedua yang perlu diketahui dan dijadikan pegangan adalah QS. al-Nisa’ 19:

وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا

“Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya”.

Ayat tersebut merupakan pegangan hidup dalam berumah tangga, yakni kesabaran dalam menghadapi seorang istri karena balasannya adalah setimpal (khaīran katsīran). Meminjam interpretasi Imam Alusi, bahwa ayat tersebut menegaskan “jika kalian laki-laki tidak senang pada istri-istrimu maka bersabarlah jangan ceraikan dia karena nafsu semata, bisa jadi apa yang kalian tidak suka merupakan kebaikan yang setimpal” (Alusi, 4:243).

Jika dilihat lebih dalam lagi, Allah memilihkan redaksi berupa isim nakirah pada kata syaian dan shairan. Kedua term itu menunjukkan makna “sangat”, artiya sangat-sangat sabar dalam mengemban seorang perempuan dan dilarang keras mentalak wanita meskipun secara hukum dzahir (fikih) boleh saja jika memang sesuai standarnya. Karena pada dasarnya fikih melihat transaksi antara laki-laki dan perempuan, di luar itu masuk pada akhlak lebih tinggi atau yang biasa dikenal dengan istilah tasawwuf.

Landasan yang terakhir sebagai penguat terhadap argumen adalah sabda Nabi Saw:

لا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً؛ إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ منْهَا غَيرَهُ

“Janganlah laki-laki (suami) mu’min membenci perempuan (istri) mu’min, jika ada satu sifat yang dibenci, pasti ada sifat-sifat lain yang disukai.” HR. Shahih Muslim 10/1785.

Para ahli hadis (Imam Nawawi, al-Ghumari, dan lainnya) sepakat mengenai hadis tersebut, bahwa seorang laki-laki (suami) jangan pernah mengucapkan kata yang menyebabkan perpisahan dan terus mencari celah yang dapat membuat dia bahagia atas istrinya. Dalam arti lain, satu sifat atau sikap yang bisa dinilai baik dari istrinya maka ambilah untuk menjaga keberlangsungan rumah tangga.

Kisah Teladan Para ‘Ulama dalam Memperlakukan Pasangannya

Pertama, Imam Abu Bakar Ibn al-Labad al-Maliki dikisahkan dari Imam Syafi’i bahwa ia memiliki istri yang omongannya sangat lancang (salīthah). Suatu hari istrinya memanggil dengan “Wahai Pezina” pada imam tersebut, kemudian ia bertanya “dengan siapa saya berzina?” Istrinya menjawab, dengan pembantu. Lalu temannya memintanya untuk mentalak istrinya, tapi beliau berkata “saya takut kalau ditalak akan menimpa pada yang lain” (Al-Susi, 32).

Jika dikembalikan pada hukum fikih maka perempuan tersebut terkena ẖad qadzaf karena telah menuduh zina pada suaminya. Dalam Islam, menuduh seseorang melakukan suatu tindak kemaksiatan, khususnya berzina, sangatlah dilarang bahkan jika tidak terbukti si penuduh terkena ancaman hukuman dirajam 80 kali. Namun dengan kesabaran suaminya tidak sampai menuntut haknya atas tuduhan tersebut bahkan tidak mau mentalakknya karena takut hal itu terjadi pada orang lain.

Kedua, Imam al-Qadhi ‘Iyadh, seorang tokoh yang masyhur dalam kalangan Islam. Suatu ketika istrinya menggodanya tapi beliau tidak menoleh karena sibuk dengan ilmu, lalu ketika azan fajar tiba, beliau pergi ke masjid untuk sholat dan mengajarkan ilmu. Namun, ketika kembali ke rumahnya, didapati bau yang menyengat, lalu bertanya “apa yang kamu lakukan? mengapa bau rumah kok tidak enak?” istrinya menjawab “kamu akan tahu sendiri” (Al-Susi, 52).

Ketika istrinya meletakkan lembaran kitab yang dipinjam dari temannya di atas meja, ia dapati lembaran tersebut sudah terbakar. Sebab kekesalan istrinya, kitabnya dibakar hanya karena tidak disapa saat istrinya menggoda. Namun al-Qadhi ‘Iyadh tidak menanggapinya dengan marah, apalagi sampai memukul atau mentalaknya. Ia sabar dan menerima keadaannya serta mengganti rugi kitab yang telah dibakar istrinya.

Kedua cerita ini memperlihatkan tindak kezaliman istri terhadap suami. Seandainya dilaporkan pada pihak yang berwajib maka sang istri tentu akan didakwa sebagaimana hukum yang berlaku. Tapi mengapa kedua ‘ulama masih ingin bertahan? Jika menggunakan kacamata manusia pada umumnya yang memikirkan harga dirinya, pasti akan ditalak karena tidak mendukung, membela pada cita-citanya serta bahkan menyebabkan kerusakan pada masa depannya. Namun bagi mereka hal itu tidak menjadi suatu masalah yang besar dan sampai mengorbankan rumah tangganya.

Ketiga, Imam Ibnu ‘Ajibah pengarang kitab tafsir sufi, al-Baẖr al-Madīd. Suatu ketika beliau berkhalwat di tempat yang tinggi, dan akhirnya istrinya cemburu karena kenyamanan dengan ibadahnya dan lupa pada istrinya. Sang istri lalu menjumpainya ke tempatnya berkhalwat dengan menarik bajunya, menyeret keluar dan mengomelinya di luar rumah sampai tidur di luar sendirian. Namun Ibn ‘Ajibah tidak melakukan apapun kecuali sabar.

Sikap istri Ibn ‘Ajibah ini memang cukup problematis. Di satu sisi, ia menginginkan haknya sebagai istri dan di sisi lain, ia telah melakukan tindakan tidak etis kepada sang Imam untuk menuntut haknya. Namun meskipun demikian, Ibn ‘Ajibah yang sangat sabar atas perlakuan istrinya dan tidak meresponnya dengan sikap yang keras apalagi sampai melakukan hal yang kemudian bisa saja merusak rumah tangganya.

Melalui tiga kisah teladan di atas, kita bisa menilai apa arti sebuah pernikahan itu. Bukan hanya melihat secara transaksi sosial saja, akan tapi perlu adanya saling menerima satu sama lain. Suami yang baik tidak terlalu menuntut istri di luar kemampuannya, begitu juga sebaliknya. Maka benar apa yang dikatakan Mbah Maimoen Zubair, bahwa orang menikah kalau saling menuntut hak tidak ada bedanya dengan jualan, seperti aturan fikih ada mahar baru bisa berbulan madu.

Daftar Pustaka

Al-Alusi, Syihab al-Din Mahmud. Rūh al-Ma’āni fī Tafsīr al-Qurān al-Adzīm wa al-Sab’i al-Matsāni, Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1415.

Al-Susy, Yusuf Abjik. Shafhāt min Akhbār al-Anbiyā’ wa al-Ulamā’ wa al-Auliyā’ wa al-Hukamā’ fi al-Shabr ala al-Zaujāt, Pakistan: Dar al-Fath, 2019.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *