Apakah Iman masih Relevan di Era Sains? Menelusuri Gagasan Demitologisasi Rudolf Bultmann

Pertanyaan tentang relevansi iman di era sains bukanlah hal baru. Seakan-akan kemajuan teknologi modern telah menggantikan kebutuhan manusia terhadap kepercayaan dan spiritualitas. Namun, benarkah demikian? Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika kita menelusuri gagasan Rudolf Karl Bultmann, seorang teolog Protestan Lutheran Marburg, Jerman (1884-1976) yang berusaha menjawab tantangan modernitas terhadap iman melalui konsep demitologisasi.

Dalam pandangan Bultmann, manusia modern yang hidup di bawah terang sains sulit lagi mempercayai hal-hal semacam itu secara literal. Oleh karena itu, ia mengusulkan agar pesan iman tidak lagi dibaca secara mitologis, melainkan diinterpretasikan secara eksistensial, yakni menggali maknanya bagi kehidupan dan keberadaan manusia masa kini. Gagasannya ini tidak berusaha menghapus iman, melainkan menafsirkan ulang agar tetap berbicara kepada manusia modern yang hidup di bawah terang rasionalitas sains.

Bacaan Lainnya

Iman dan Sains sebagai Dua Jalan menuju Kebenaran

Dunia yang dahulu dipenuhi oleh simbol dan mitos religius perlahan tergantikan oleh hukum-hukum alam yang pasti. Misalnya, Isaac Newton (Hayat, 2017:37) menjelaskan gerak planet tanpa perlu mengandalkan intervensi supranatural. Charles Darwin memaparkan evolusi tanpa menyebut campur tangan langsung dari Tuhan (Gaarder, 2024:634). Pandangan dunia pun berubah, alam semesta bukan lagi misteri yang harus disembah, melainkan sistem rasional yang dapat dikaji dan dikendalikan.

Akibatnya, sebagian orang menganggap bahwa sains telah membatalkan iman. Kepercayaan kepada Tuhan dianggap sebagai sisa warisan mitologis yang belum tercerahkan. Namun, pemisahan tajam antara iman dan sains sesungguhnya bersumber dari kesalahpahaman mendasar tentang hakikat keduanya (Abdullah et al., 2023:149). Sains menjawab pertanyaan bagaimana, sedangkan iman menjawab pertanyaan mengapa. Sains meneliti mekanisme, iman menyingkap makna.

Dalam tradisi Islam, dikotomi semacam ini sebenarnya tidak dikenal. Para ilmuwan Muslim klasik seperti Al-Biruni, Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi melihat alam sebagai ayat-ayat Tuhan. Mereka tidak memisahkan laboratorium dari masjid, tidak menganggap eksperimen sebagai lawan doa. Sains justru menjadi sarana untuk mengenal Sang Pencipta (Humairah et al., 2024:16). Pandangan ini menunjukkan bahwa iman dan sains bukanlah dua dunia yang saling meniadakan, melainkan dua jalan yang sama-sama menuju kebenaran.

Di era modern masalahnya tidak sesederhana itu. Rasionalitas ilmiah telah berkembang menjadi paradigma hidup. Segala sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris dianggap tidak nyata. Di sinilah muncul kebutuhan untuk menafsirkan ulang bagaimana iman bisa berbicara kepada manusia modern yang hidup dalam alam pikir sains. Dan di sinilah Rudolf Bultmann mengambil perannya.

Upaya Bultmann Menyelamatkan Pesan Iman melalui Demitologisasi

Rudolf Bultmann (1884–1976) dikenal sebagai salah satu teolog Protestan Lutheran Marburg, Jerman paling berpengaruh (Hardiman, 2015:132) dengan konsepnya demitologisasi, adalah tafsiran yang berusaha membaca bagian-bagian Al-Kitab yang dianggap bersifat mitologis dengan menyoroti pesan dan kebenaran eksistensial yang ada di balik kisah-kisah tersebut (Iyubenu et al., 2025:107), bukan sekadar bentuk mitosnya. Proyek ini dirancang Bultmann bertujuan untuk menterjemahkan bahasa mitos secara komprehensif ke dalam bahasa manusia yang tidak menerima begitu banyak kosmologi fenomena alam.

Ia melihat bahwa banyak orang modern tidak lagi bisa mempercayai ajaran iman, sebut saja mukjizat secara literal karena bentuknya yang penuh dengan mitos. Baginya, mitos bukanlah kebohongan, tetapi cara orang kuno mengekspresikan pengalaman religius dalam bahasa simbolik. Ketika teks-teks keagamaan (mukjizat) berbicara tentang Nabi sebagai wakil tuhan Nabi bertindak sebagai penyelamat manusia dan membimbing manusia kepada jalan yang benar, malaikat turun dari langit, atau Tuhan berbicara secara langsung kepada manusia, itu adalah bentuk komunikasi yang dimengerti masyarakat masa lampau bukan deskripsi ilmiah tentang realitas (Ulfiyati, 2020:30).

Bagi manusia modern yang berpikir ilmiah, bahasa mitologis semacam itu justru menjadi penghalang untuk memahami makna iman. Bultmann tidak ingin iman kehilangan daya komunikasinya hanya karena terjebak pada bentuk lama. Maka, ia mengajukan proyek demitologisasi bukan untuk menolak mitos, tetapi untuk mengungkap makna eksistensial di balik mitos (Hardiman, 2015:144).

Menurut Bultmann, pesan utama iman bukanlah tentang keajaiban fisik, tetapi tentang panggilan eksistensial manusia bagaimana seseorang menanggapi keberadaannya di hadapan Tuhan. Iman, dalam pengertian ini, bukan sekadar mempercayai peristiwa supranatural, tetapi mengalami perjumpaan batin dengan yang Ilahi yang memberi makna bagi hidup.

Pendekatan Bultmann ini memiliki implikasi penting. Ia menyadarkan kita bahwa iman harus selalu komunikatif dengan konteks zaman. Bila keimanan dipahami hanya sebagai pembenaran terhadap kisah ajaib, maka ketika sains mampu menjelaskan fenomena alam dengan hukum rasional, iman akan kehilangan pijakan. Tetapi jika iman dipahami sebagai pengalaman eksistensial, maka ia justru menemukan relevansinya yang abadi.

Dengan demikian, demitologisasi bukanlah sekularisasi agama, melainkan upaya penyegaran untuk membebaskan pesan iman dari bentuk simbolik yang telah kehilangan daya hidupnya agar tetap berbicara kepada manusia modern. Dalam pandangan ini, iman dan sains tidak saling meniadakan, melainkan beroperasi pada ranah yang berbeda sains di wilayah empiris, iman di wilayah makna dan eksistensi.

Refleksi Keislaman atas Demitologisasi dalam Rasionalitas Ilmiah

Gagasan Bultmann, meskipun lahir dari konteks Kristen Eropa, memiliki gema yang luas ketika dibaca dari perspektif Islam. Dalam Al-Qur’an, keimanan tidak pernah diminta secara buta. Justru, Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia untuk berpikir, mengamati, dan meneliti alam semesta sebagai jalan mengenal Tuhan. Seperti firman allah dalam QS. Ali Imran: 190:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,

Ayat ini menunjukkan bahwa rasionalitas adalah bagian dari iman, bukan lawannya. Iman dalam Islam bukanlah sekadar kepercayaan tanpa bukti, melainkan kesadaran spiritual yang disertai perenungan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah. Dengan demikian, kemajuan sains seharusnya tidak melemahkan iman, melainkan memperluas cakrawala kekaguman manusia terhadap kebijaksanaan Sang Pencipta.

Namun, tantangan terbesar hari ini bukanlah benturan antara iman dan sains, melainkan hilangnya makna spiritual di tengah dominasi rasionalitas instrumental. Sains modern, meskipun luar biasa dalam memecahkan persoalan teknis, sering kali gagal memberikan arah moral dan etika (Humairah et al., 2024:22). Misal, manusia tahu cara menciptakan bom nuklir, tetapi tidak tahu untuk apa ia digunakan. Di sinilah iman memainkan peran penting sebagai kompas etika dan makna hidup.

Dalam kerangka ini, gagasan Bultmann tentang demitologisasi dapat dipahami sebagai ajakan untuk membaca agama secara kontekstual, agar tidak terjebak dalam simbol-simbol masa lalu, tetapi tetap menyampaikan ruh keimanan yang hidup. Iman harus diterjemahkan dalam bentuk kesadaran etis, tanggung jawab ekologis, dan kepedulian sosial. Seperti ditegaskan oleh banyak ulama dan cendekiawan Muslim, kemajuan sains tanpa iman akan melahirkan kehampaan spiritual, sedangkan iman tanpa ilmu dapat menjerumuskan pada fanatisme yang membutakan.

Dengan demikian, iman di era sains bukanlah sisa masa lalu, melainkan kekuatan batin yang membimbing manusia dalam menggunakan pengetahuan secara bijaksana. Sains menjelaskan cara dunia bekerja, sementara iman menjelaskan untuk apa dunia ini ada. Keduanya tidak harus dipertentangkan, melainkan disinergikan agar peradaban manusia tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

Dari paparan yang sudah di jelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa Rudolf Bultmann dengan gagasan demitologisasinya mengingatkan bahwa tugas iman di zaman modern bukanlah mempertahankan mitos, melainkan menghidupkan makna. Iman bukanlah residu dari ketidaktahuan, tetapi sumber kesadaran yang menuntun manusia memahami eksistensinya di tengah dunia yang serba rasional. Di era sains, iman justru menemukan relevansi barunya sebagai penjaga makna, sumber moralitas, dan penuntun spiritualitas. Ketika akal manusia mampu menaklukkan jagat raya, imanlah yang menjaga agar manusia tidak kehilangan arah di tengah kebebasan yang ia ciptakan sendiri. Karena itu, selama manusia masih bertanya tentang tujuan, makna, dan arah hidup, iman akan selalu relevan bahkan di tengah puncak kejayaan sains sekalipun.

Referensi

Abdullah, Ahmad Fajri, Ahmad Wildan Hadi, Asep Ridwanullah, F. F. R. Kitab Suci Sebagai Kitab Sejarah. PTIQ Press. 2023.

Erwin, Muhammad Syaipul Hayat, S. Epistemologi dan Keterbatasan Teori Gravitasi. Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences, IX(1), 33–40. 2017.

Gaarder, J. Dunia Shopie (3rd ed.). PT. Mizan Pustaka. 2024.

Hardiman, F. B. Seni Memahami Hermeneutik dari Schleiermarcher sampai Derrida. PT. Kanisius97. 2015.

Humairah, A. E., Marjuni, A., & Mahmud, Moh Natsir, S. Memahami Dikotomi Ilmu Pengetahuan Umum dan Agama Dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam. JUPENJI: Jurnal Pendidikan Jompa Indonesia, 3(3), 15–25. 2024.

Iyubenu, E. A. Belajar Hermeneutika dari Analisis Filosofis Menuju Praksis Islamic Studies. Ircisod. 2025.

Ulfiyati, N. S.Pemikiran Hermeneutika Rudolf Bultmann: Eksistensialisasi dan Demitologisasi. Atthiflah: Journal of Early Childhood Islamic Education, 7(1), 29–35. 2020.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *