Al-Qur’an kerap dipahami sebagai kitab yang mengatur persoalan-persoalan besar dalam kehidupan manusia, seperti akidah, ibadah, hukum, dan tatanan sosial. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, Al-Qur’an juga hadir sangat dekat dengan detail keseharian manusia termasuk sesuatu yang sering kali dianggap sepele yaitu cara berbicara. QS. Al-Isra ayat 53 menjadi salah satu ayat yang memperlihatkan dengan jelas bagaimana Al-Qur’an menaruh perhatian serius pada bahasa sebagai penentu kualitas relasi antar manusia. Allah berfirman:
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۗ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۗ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Isra: 53)
Sekilas, ayat ini tampak sederhana dan tidak berkaitan langsung dengan ibadah ritual atau pembahasan hukum yang kompleks. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Ayat ini salah satu gambaran kesempurnaan Al-Qur’an, ia mengarahkan perhatian manusia pada wilayah yang paling rawan dalam kehidupan sosial, yakni bahasa sebuah medium yang dapat menjadi jembatan kedekatan, sekaligus pemicu retaknya hubungan.
Asbabun Nuzul: Ucapan di Tengah Ketegangan Sosial
Konteks turunnya QS. Al-Isra ayat 53 menunjukkan bahwa perintah berkata baik tidak lahir dalam situasi ideal, melainkan di tengah ketegangan sosial. Dalam Al-Kasysyaf, al-Zamakhsyari menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan etika komunikasi kaum beriman terhadap kaum musyrik, khususnya ketika terjadi provokasi, celaan, dan tekanan verbal. Dalam situasi seperti ini, kaum Muslim diperintahkan untuk merespons dengan perkataan yang paling baik dan paling lembut, bukan dengan kekasaran yang justru memperlebar konflik (al-Zamakhsyari, 1407 H: 670).
Penjelasan ini sejalan dengan pandangan Fakhruddin ar-Razi yang menekankan bahwa konflik sosial sering kali tidak bermula dari perbedaan keyakinan semata, melainkan dari cara penyampaian yang emosional dan tidak terkontrol. Bahasa, dalam hal ini, menjadi pemantik yang mempercepat lahirnya permusuhan (ar-Razi, 1420 H: 420).
Sementara itu, al-Wahidi dalam Asbabun Nuzul meriwayatkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu yang mendapat cacian dari seorang lelaki Arab. Dalam konteks tersebut, Allah memerintahkan sikap memaafkan dan pengendalian ucapan. Riwayat lain menyebutkan bahwa gangguan verbal kaum musyrik terhadap kaum Muslimin telah melampaui batas, hingga para sahabat mengadukannya kepada Rasulullah saw. (al-Wahidi, 1992: 298). Dua riwayat tersebut memperlihatkan satu benang merah yang jelas bahwa perintah berkata baik justru turun ketika emosi, luka, dan potensi konflik berada pada titik yang tinggi.
Struktur Ayat: Perintah yang Disertai Kesadaran Sosial
- Al-Isra ayat 53 memiliki struktur yang sangat sistematis. Pertama, Allah memberikan perintah langsung agar manusia berkata dengan perkataan yang lebih baik. Kedua, Allah menjelaskan sebabnya, yakni karena setan menimbulkan perselisihan di antara manusia. Ketiga, Allah menegaskan identitas setan sebagai musuh nyata bagi manusia.
At-Tabari menjelaskan bahwa penyebutan sebab ini menunjukkan kepedulian Al-Qur’an terhadap realitas psikologis manusia. Manusia tidak selalu bertikai karena niat jahat, tetapi sering kali karena terpancing emosi dan salah ucap. Dengan memahami sebab ini, manusia diajak untuk lebih waspada terhadap bahasa yang mereka gunakan (at-Tabari, 2000: 428).
Struktur ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga edukatif. Ia tidak sekadar memberi perintah, melainkan mengajak manusia mengenali akar konflik sebelum konflik itu membesar.
“Yang Lebih Baik”, Bukan Hanya Sekadar “Benar”
Frasa allati hiya ahsan menjadi kunci utama dalam ayat ini. Al-Qur’an tidak menggunakan kata haqq (benar) atau shahih (tepat), melainkan ahsan yang artinya yang paling baik. Pilihan diksi ini mengandung pesan etis yang sangat dalam.
Al-Qurtubi menjelaskan bahwa ucapan yang ahsan mencakup kelembutan, kesopanan, serta kemampuan membaca kondisi lawan bicara. Kebenaran yang disampaikan tanpa mempertimbangkan situasi dan perasaan justru berpotensi menimbulkan kerusakan sosial (al-Qurtubi, 2006: 267). Quraish Shihab juga menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya menuntut kebenaran substansi, tetapi juga kebijaksanaan dan keindahan dalam penyampaian (Shihab, 2002: 469). Maka, etika komunikasi Qur’ani tidak berhenti pada benar atau salah, melainkan bergerak menuju kualitas moral dari sebuah ucapan.
Bahasa sebagai Celah Masuknya Setan
Ayat ini secara eksplisit menyebut peran setan dalam menimbulkan perselisihan. Ibn Kathir menjelaskan bahwa setan sangat menikmati pertengkaran antarmanusia, dan salah satu jalur paling efektif baginya adalah melalui bahasa. Kata-kata yang tidak terjaga dapat memperbesar kesalahpahaman dan menyalakan api permusuhan (Ibn Kathir, 1999: 57).
Al-Baghawi menambahkan bahwa setan sering bekerja secara halus, bukan dengan mendorong dosa besar, tetapi melalui ucapan yang tergesa-gesa dan emosional. Dalam konteks ini, menjaga bahasa bukan hanya etika sosial, melainkan juga bentuk kewaspadaan spiritual. Konflik besar, sering kali tidak diawali oleh niat jahat, melainkan oleh kalimat yang terucap tanpa pertimbangan dampak setelahnya (al-Baghawi, 1997: 88).
Selain dipahami sebagai etika komunikasi dan penjaga harmoni sosial, QS. Al-Isra ayat 53 juga dapat dibaca secara reflektif sebagai ayat yang menguji kesadaran diri manusia. Ayat ini tidak hanya mengatur apa yang diucapkan, tetapi juga bagaimana manusia hadir sepenuhnya saat berbicara.
Dalam relasi sehari-hari, bahasa sering kali menjadi respons paling spontan. Kata-kata keluar lebih cepat daripada kesadaran, lebih dulu daripada empati. Disinilah ayat ini terasa sangat manusiawi. Perintah berkata dengan perkataan yang lebih baik bukan sekadar tuntutan etika, melainkan ajakan untuk menunda reaksi dan memberi ruang bagi kesadaran diri sebelum berbicara.
Ayat ini memiliki salah satu sudut yang menarik untuk dibahas, didalamnya tidak menyebut bahwa setan menciptakan konflik besar, tetapi bahwa ia menyusup di antara manusia. Penyusupan ini kerap terjadi pada momen-momen kecil seperti, nada yang meninggi, kata yang terlepas tanpa dipikirkan, atau respons yang lahir dari ego yang terluka. Pesan sederhana dari ayat ini adalah bahasa menjadi titik paling halus sekaligus paling rawan bagi retaknya relasi.
Berkata baik, dalam perspektif ini, bukanlah kepura-puraan atau penyangkalan emosi. Ia justru menuntut kejujuran yang lebih dalam. Keberanian untuk mengakui emosi, tanpa menjadikannya penguasa atas ucapan. Ayat ini seakan mengajak manusia bertanya pada dirinya sendiri sebelum berbicara apakah kata yang akan keluar ini memperbaiki, atau justru memperlebar jarak?
Maka, QS. Al-Isra ayat 53 dapat dibaca sebagai latihan kesadaran yang sangat praktis. Bahasa menjadi cermin paling dekat dari kedewasaan batin seseorang. Semakin terjaga kata-kata yang diucapkan, semakin tampak upaya manusia tersebut merawat hubungan dan relasi, sekaligus merawat dirinya sendiri.
Bahasa sebagai Penjaga Kemanusiaan
QS. Al-Isra ayat 53 menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya mengatur apa yang harus diyakini manusia, tetapi juga bagaimana manusia hadir dalam relasi sosialnya. Bahasa ditempatkan sebagai instrumen penting dalam merawat kehidupan bersama.
Melalui perintah yang singkat namun mendalam ini, Al-Qur’an mengajarkan bahwa menjaga relasi tidak selalu membutuhkan argumen yang kuat atau kemenangan dalam perdebatan. Ia sering kali dimulai dari kesediaan memilih kata yang lebih baik, sebuah pilihan kecil yang berdampak besar bagi kemanusiaan.
Pada akhirnya, QS. Al-Isra ayat 53 tidak sedang berbicara tentang teori komunikasi yang rumit. Ia berbicara tentang satu hal yang sangat sederhana tetapi sering diabaikan yaitu kendali diri. Banyak hubungan tidak hancur karena perbedaan, tetapi karena cara mengucapkannya.
Ayat ini seperti menegur dengan tenang namun tegas bahwa jangan biarkan lisan berjalan lebih cepat daripada kesadaran. Karena di situlah celah itu terbuka. Bukan pada kebencian yang besar, tetapi pada kalimat yang dibiarkan lepas tanpa menimbang rasa.
Berkata dengan yang lebih baik bukan berarti mengalah atau pura-pura baik. Ia adalah pilihan sadar untuk tidak memperbesar luka. Untuk tidak menambah api pada bara yang sudah ada. Dan pilihan itu, sesederhana apa pun terlihat, menentukan arah sebuah relasi dan hubungan untuk tetap utuh atau perlahan retak.
Maka dari itu, menjaga bahasa bukan sekadar sopan santun. Ia adalah bentuk tanggung jawab. Sebab setiap kata yang keluar tidak pernah benar-benar ringan, ia selalu membawa akibat. Dan mungkin, di situlah pesan ayat ini menjadi sangat jelas, sebelum memperbaiki orang lain, perbaikilah cara kita berbicara.
Daftar Pustaka
Al-Baghawi, Abu Muhammad al-Husain ibn Mas’ud. (1997). Ma’alim al-Tanzil fi Tafsir al-Qur’an. Riyadh: Dar Taybah.
Al-Qurtubi, Abu Abdillah Muhammad ibn Ahmad. (2006). Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. Beirut: Muassasah al-Risalah.
Al-Wahidi, Abu al-Hasan Ali ibn Ahmad. (1992). Asbab al-Nuzul. Damman: Dar al-Islah.
Al-Zamakhsyari, Mahmud ibn Umar. (1407 H). Al-Kasysyaf ‘an Haqa’iq Ghawamidh al-Tanzil. Beirut: Dar al-Kitab al-’Arabi.
Ar-Razi, Fakhruddin Muhammad ibn Umar. (1420 H). Mafatih al-Ghayb (Al-Tafsir al-Kabir). Beirut: Dar Ihya al-Turats al-’Arabi.
At-Tabari, Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir. (2000). Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an. Kairo: Dar Hijr.
Ibn Kathir, Abu al-Fida’ Isma’il ibn Umar. (1999). Tafsir al-Qur’an al-’Azim. Riyadh: Dar Taybah.
Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.





