Dialektika Tropologi Suci dan Hermeneutika Intertekstual Kitab-Kitab Abrahamik (Telaah Kritis terhadap Suntingan Roberta Sterman Sabbath)

Pengantar: Melampaui Hegemoni Partikularisme Teks

Dalam konteks studi agama modern, upaya untuk mengintegrasikan tiga tradisi Abrahamik utama—Yudaisme, Kristen, dan Islam—seringkali terjebak dalam dikotomi yang sulit: antara perbandingan historis positivis atau apologetika teologis yang sempit. Sebuah buku berjudul Sacred Tropes: Tanakh, New Testament, and Qur’an as Literature and Culture, yang diedit oleh Roberta Sterman Sabbath, muncul sebagai upaya intelektual yang provokatif untuk menentang kecenderungan ini. Karya ini mengusulkan paradigma “transversal” dari sudut pandang teori sastra dan budaya. Paradigma ini melihat teks suci sebagai artefak linguistik yang kaya akan trope, struktur naratif, dan dinamika kekuasaan, bukan sekadar dogma.

Bacaan Lainnya

Dalam pengantar umumnya, Sabbath berargumen bahwa dalam era ide-ide global, “partikularisme” dan “chauvinisme” teks-teks tersebut menjadi hambatan bagi pemahaman lintas budaya. Terlalu sering, ketiga kitab suci ini dipelajari secara terpisah, seolah-olah mereka tidak memiliki koneksi historis dan tematis yang mendalam. Buku ini—nomor 98 dalam Seri Penafsiran Alkitab Brill—mengusulkan pendekatan di mana Tanakh, Perjanjian Baru, dan Al-Qur’an dibaca bukan secara terpisah, melainkan sebagai “metafora suci” yang berinteraksi secara intertekstual dalam ruang budaya yang lebih luas. Dengan kontribusi dari 31 cendekiawan dari berbagai disiplin ilmu, antologi ini berfungsi sebagai manifesto metodologis yang menantang batas-batas disiplin yang selama ini memisahkan studi tentang tradisi-tradisi ini.

Arsitektur Teoretis: Tropologi sebagai Jembatan Epistemologis

Struktur buku ini dibagi menjadi enam bagian yang mencakup poetika, negosiasi batas antara manusia dan yang ilahi, topografi tubuh dan lanskap, subjektivitas, pengorbanan, serta isu-isu imperialisme dan revolusi. Organisasi ini mencerminkan ambisi akademis untuk menganalisis teks-teks suci menggunakan berbagai alat teori kritis modern, mulai dari psikoanalisis dan feminisme hingga postkolonialisme. Setiap bagian saling terhubung, membentuk perjalanan hermeneutik yang bergerak dari ke dalaman bahasa ke ke luarnya politik.

Bagian pertama tentang Poetika memiliki salah satu kontribusi terpenting. Peter Heath mengajukan pertanyaan dasar dalam pengantarnya: apakah mungkin berbicara tentang “poetika” dalam teks agama? Ia menunjukkan tiga pilihan yang mungkin: sikap devosional yang menolak analisis rasional pada kitab suci, pendekatan Pencerahan yang menganalisis teks dengan objektivitas, dan moralisme Platonik yang menolak analisis yang dianggap merusak nilai luhur.

Dalam esainya, Mehnaz M. Afridi membahas bagaimana membaca Al-Qur’an secara literal sering menyembunyikan unsur-unsur metaforisnya yang kaya, yang pada gilirannya dapat disalahgunakan untuk tujuan kekerasan. Tropologi, atau studi tentang bahasa kiasan, berfungsi sebagai alat dekonstruksi di sini, membongkar interpretasi yang tidak masuk akal dengan mengembalikan teks ke kedalaman puitisnya.

Bruce Fudge kemudian mengajukan kritik yang sangat relevan mengenai perbedaan mendasar antara apresiasi sastra terhadap Alkitab dan Al-Qur’an. Ia berargumen bahwa dalam tradisi Islam, kualitas sastra Al-Qur’an itu sendiri merupakan dogma (i‘jaz), sedangkan dalam tradisi Barat, pendekatan sastra terhadap Alkitab sering dianggap sebagai tindakan sekularisasi. Perbedaan ini menantang para cendekiawan untuk tidak sekadar menerapkan metodologi yang sama pada teks-teks tanpa mempertimbangkan bagaimana komunitas keagamaan menempatkan kitab suci mereka dalam epistemologi mereka.

Resonansi serupa muncul ketika Fudge membandingkan penggunaan kanon Islam dalam karya Assia Djebar, Loin de Médine, dan Salman Rushdie, The Satanic Verses. Ia menunjukkan bagaimana dua penulis yang mengacu pada warisan Islam yang sama mencapai posisi yang sangat berbeda: Djebar menghormati batas-batas kesalehan sambil menyisipkan narasi perempuan yang terlupakan, sedangkan Rushdie secara berani menantang inti suci kisah asal-usul Islam.

Eksplorasi Subjektivitas dan Ruang Tubuh

Bagian tentang Subjektivitas dan Topografi menawarkan analisis mendalam mengenai bagaimana teks-teks suci membentuk identitas manusia. Roberta Sterman Sabbath sendiri menyumbangkan sebuah esai tentang “Tawa Abraham,” yang ia tafsirkan sebagai kelahiran subjektivitas individual yang berbeda dari kolektivitas kuno. Dengan merujuk pada Vico dan Nietzsche, Sabbath memandang subjektivitas sebagai “fiksi imajinatif” atau metafora yang diperlukan agar manusia dapat mempertahankan keberadaannya di dalam kosmos.

Tawa Abraham, respons spontan terhadap kabar kelahiran Ishak, menandai momen ketika umat manusia pertama kali memperoleh ruang batin yang terpisah dari kehendak ilahi—sebuah ruang di mana keraguan, refleksi, bahkan negosiasi dengan Tuhan menjadi mungkin. Analisis ini diperluas oleh Kathleen Lundeen, yang secara brilian mempertemukan Kitab Ayub dengan subjektivitas Shakespearean.

Lundeen tidak hanya menyoroti kesamaan tematik antara penderitaan Ayub dan kecemasan Hamlet, tetapi juga menunjukkan secara struktural bagaimana Ayub, seperti Hamlet, mewujudkan sebuah “kesadaran yang terlalu luas bagi wadahnya”—sebuah subjek yang melampaui batas-batas genre yang menampungnya. Di sisi lain, pembahasan tentang tubuh dan seksualitas memberikan wawasan yang paling provokatif secara politis.

Dalam Timeless Texts and Modern Morals, Kecia Ali dengan jujur mengakui adanya ketegangan antara nilai-nilai modern tentang keadilan gender dan teks-teks Qur’ani mengenai seksualitas. Ia menunjukkan bahwa prinsip-prinsip seperti kesetaraan dan persetujuan—yang fundamental bagi etika seksual kontemporer—hampir tidak menemukan ruang dalam wacana Qur’ani, yang lebih berfokus pada legalitas (halal/haram) daripada etika relasional. Ini merupakan pengakuan yang berani dari seorang sarjana feminis Muslim, yang menolak sikap apologetik dan justru membuka jalan bagi pembacaan yang lebih jujur dan kompleks.

Yang tidak kalah mencolok adalah esai Betsy Bauman-Martin *Mary and the Marquise*, yang menghadirkan salah satu pembacaan paling mengusik dalam antologi tersebut. Dengan membandingkan adegan pewartaan dalam Injil Lukas dengan tradisi sastra “pemerkosaan romantis” dari Ovid hingga Kleist, Bauman-Martin mengajukan tesis kontroversial: bahwa hubungan antara Roh Kudus dan Maria, jika dibaca secara harfiah dan historis, mencerminkan asumsi-asumsi mendasar dari kekerasan seksual yang diromantisasi.

Argumennya tidak bertumpu pada kesamaan leksikal, melainkan pada struktur kekuasaan yang asimetris, persetujuan yang ambigu, serta “keheningan” tekstual di mana tindakan seksual itu sendiri dihilangkan. Meskipun berpotensi mengusik sensitivitas keagamaan, pembacaan ini menunjukkan bagaimana analisis sastra dapat menyingkap lapisan-lapisan makna yang lama tertutupi oleh interpretasi teologis yang dogmatis.

Politik Teks: Dari Wahyu ke Revolusi

Bagian penutup buku ini, mperialisme, Revolusi, dan Komunitas, membawa diskusi ke ranah politik praktis. Stephen D. Moore mengingatkan kita bahwa menafsirkan kitab suci pada dasarnya adalah tindakan parafrase, yang sering kali mengubah bahasa imajistik kuno menjadi proposisi moral atau politik modern. Regina M. Schwartz menawarkan pembacaan filosofis yang brilian terhadap narasi Sinai dalam Keluaran melalui lensa Alain Badiou dan Emmanuel Levinas.

Bagi Schwartz, Sinai merepresentasikan sebuah “peristiwa kebenaran” yang radikal yang menuntut respons etis dan meresmikan komunitas politik baru yang didasarkan pada keadilan, bukan sekadar hukum formal. Dalam penafsiran ini, Sinai bukan sekadar pemberian hukum, melainkan sebuah revolusi epistemologis yang memanggil munculnya subjek-subjek baru yang terikat pada tuntutan keadilan.

Jay Twomey, dalam analisisnya terhadap Roma 13, menunjukkan bagaimana teks yang sama dapat dimobilisasi untuk tujuan politik yang sangat berbeda. Ia membandingkan pembacaan Jonathan Edwards—yang memandang pemerintah sebagai institusi manusia yang terbuka terhadap kritik—dengan penafsiran Antonin Scalia, yang cenderung menyamakan otoritas negara dengan otoritas ilahi.

Perbandingan tersebut dengan jelas menggambarkan bahwa kitab suci tidak pernah berbicara dengan satu suara; ia selalu dimediasi oleh cakrawala para penafsirnya. Buku ini juga menghadapi sisi gelap penggunaan kitab suci dalam sejarah kekuasaan. Roland Boer dan Ibrahim Abraham menelaah bagaimana narasi tentang ketelanjangan Nuh dalam Kejadian 9—khususnya kutukan terhadap Kanaan, yang keliru disebut sebagai “kutukan Ham”—telah dieksploitasi selama berabad-abad untuk membenarkan rasisme dan perbudakan, sambil secara bersamaan menghapus kontribusi Islam terhadap pembentukan “Barat Kristen.”

Analisis mereka tentang kebangkitan kembali Islam di kalangan komunitas Latin dan Aborigin Australia menunjukkan bahwa apa yang ditekan oleh kekuasaan kolonial pada akhirnya akan kembali, sering kali dalam bentuk yang tak terduga. Hal ini menegaskan sifat ambivalen dari kiasan-kiasan suci: kiasan tersebut dapat berfungsi sebagai instrumen pembebasan (revolusi) sekaligus sebagai alat penindasan (imperialisme).

Kesimpulan: Menuju Hermeneutika Inklusif

Sacred Tropes bukan sekadar buku tentang agama perbandingan; ini adalah studi tentang bagaimana bahasa membentuk dunia kita.  Dengan memperlakukan Tanakh, Perjanjian Baru, dan Al-Qur’an sebagai sastra dan budaya, para kontributor membuka ruang untuk dialog yang lebih jujur dan ilmiah.  Bagi para akademisi, buku ini adalah seruan untuk meninggalkan “metodologi isolasi” dan mengadopsi “metodologi transversal.”  Memahami bagaimana teks-teks ini berbicara satu sama lain melalui metafora dan kiasan retoris sangat penting untuk memahami gejolak politik dan agama di masa depan.  Ini adalah bacaan penting bagi siapa saja yang ingin mengeksplorasi interaksi dinamis antara wahyu, narasi, dan kekuasaan dalam tradisi monoteistik global.

 

Identitas Buku

Judul: Sacred Tropes: Tanakh, New Testament, and Qur’an as Literature and Culture

Penulis: Roberta Sterman Sabbath

Penerbit: Brill (Leiden • Boston)

Tahun: 2009

Seri: Biblical Interpretation Series, Volume 98

Tebal: xxiv + 524 halaman

ISBN: 978-90-04-17752-9

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *