Perkenalan yang Menggugah
Sebuah karya yang menggabungkan ketenangan akademik dan keberanian intelektual muncul di tengah hiruk-pikuk diskursus keagamaan kontemporer, yang sering terjebak dalam dikotomi konfrontatif. Bible and Qur’an: Essays in Scriptural Intertextuality (2004), yang disunting oleh John C. Reeves, adalah lebih dari sekadar selebaran esai. Buku ini berfungsi sebagai manifesto metodologis, mengajak pembaca—terutama para ahli Alkitab—untuk mempertimbangkan kembali hubungan kompleks antara dua teks suci yang terlalu sering dipolitisasi daripada diteliti secara menyeluruh. Reeves menghasilkan sembilan esai menggunakan keahliannya sebagai pakar studi Yahudi di Universitas North Carolina di Charlotte. Esei-esai ini memperkaya diskusi akademik dan menerangi “arus bawah” tradisi yang menghubungkan Yahudi, Kristen, dan Islam.
Latar Kelahiran yang Dramatis
Kontekstualisasi buku ini membuatnya menarik. Dalam pengantarnya, Reeves mengatakan bahwa gagasan untuk buku ini pertama kali muncul pada musim gugur dan musim dingin 2001, ketika dunia masih tertekan oleh kerusakan Menara Kembar dan kecemasan global yang muncul setelah serangan 11 September. Paradoksnya, Masyarakat Studi Alkitab menyadari adanya celah dalam diskursus akademiknya saat ketegangan antaragama meningkat di seluruh dunia.
Mereka menyadari kurangnya perhatian yang berkelanjutan terhadap “arus Alkitab” yang mengalir melalui lautan Al-Qur’an. Reeves dengan cerdas mencatat bahwa cendekiawan seperti Goldziher, Nöldeke, Wellhausen, dan Robertson Smith, yang merupakan pendiri studi Alkitab modern, dengan mudah menyeberangi batas disiplin ilmu, menguasai filologi Alkitab dan Islam dengan sangat baik. Dengan bantuan versi gratis DeepL.com, diterjemahkan.
Peta Pemikiran: Dari Geiger hingga Wansbrough
Pengantar metodologis yang brilian diberikan oleh esai pembuka Reuven Firestone, “Al-Qur’an dan Alkitab: Beberapa Studi Modern tentang Hubungan Keduanya.” Firestone tidak hanya menyebutkan figur-figur penting dalam studi Biblico-Qur’anik, tetapi dia juga menggambarkan pergeseran paradigma yang telah membentuk bidang ini. Ia dimulai oleh Abraham Geiger (1833), yang karyanya berjudul “Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen?” menjadi dasar untuk pendekatan “sumber” (Quellenforschung), yang selama lebih dari seratus tahun menjadi paradigma dalam penelitian Barat. Geiger, yang memiliki keyakinan khas dari abad ke-19, percaya bahwa ia dapat menemukan secara pasti apa yang Muhammad “pinjam” dari tradisi Yahudi.
Firestone, bagaimanapun, menunjukkan bagaimana metode ini kemudian dikritik, diubah, dan akhirnya ditinggalkan. Misalnya, Richard Bell melakukan lebih dari sekedar mencari sumber untuk merekonstruksi proses editorial Al-Qur’an yang rumit, menunjukkan bagaimana kitab suci tersebut berkembang bersamaan dengan misi kenabian Muhammad. John Wansbrough memberikan kritik metodologis tertinggi, menolak membaca Al-Qur’an sebagai dokumen historis secara berani dan kontroversial.
Wansbrough percaya bahwa Al-Qur’an adalah produk “sejarah keselamatan” karena diciptakan di Mesopotamia pada abad ke-8 dan ke-9, bukan pada abad ke-7. Firestone menyatakan bahwa Wansbrough “membekukan” sejarah untuk membebaskan analisis sastra, menghasilkan pembacaan yang radikal tetapi mendalam dan menggugah pikiran.
Intertwining yang Menggoda
Proyek ini bergantung pada kontribusi John C. Reeves sendiri, “Some Explorations of the Intertwining of Bible and Qur’an,.” Reeves mengajak pembaca untuk melacak lapisan-lapisan tradisi yang tumpang tindih dengan menggunakan metafora yang menggugah tentang palimpsest. Ia memberikan tiga studi kasus yang mencolok. Yang pertama, Reeves menantang para sarjana modern yang menentang identifikasi Idris dengan Enoch karena perbedaan fonetik. Kesamaan cerita memiliki nilai yang lebih besar daripada kesamaan nama. Tradisi Enoch, yang ditemukan dalam 1 Enoch 87:3 dan Jubilees 4:23, sangat dekat dengan ayat Al-Qur’an (Q 19:56–57), yang mengatakan, “Kami meninggikan dia ke kedudukan yang tinggi.”
Studi kasus kedua melihat bagaimana Enoch muncul dalam sejarah Islam. Reeves menekankan sebuah kutipan luar biasa dari Kitab Ya‘qubi di mana Enoch menyampaikan pesan kepada Methuselah, Lamech, dan Noah. Frase jelas, “Aku tahu bahwa Allah akan menimpakan hukuman besar dan tak terelakkan kepada generasi ini,” hampir sama dengan redaksi 1 Enoch 1:2, meskipun ada perubahan penting.
Sementara Enoch disebutkan dalam tradisi Etiopia sebagai “generasi yang jauh”, dalam karya Ya‘qubi, dia secara eksplisit mengacu pada “generasi ini”. Apakah ini hanya kebetulan atau menunjukkan bahwa sejarawan Muslim abad kesembilan tersebut memiliki akses ke literatur Enoch secara langsung atau tidak langsung? Meskipun Reeves membiarkan pertanyaan ini terbuka, ada kesamaan yang tidak dapat diabaikan.
Reeves menunjukkan melalui analisis struktural yang cermat dari Kejadian 2–4 bahwa kisah Kain dan Habel menandai peristiwa penting dalam sejarah purba: pengenalan pertama kematian melalui kekerasan. “Pakaian kulit” (Kejadian 3:21) dan persembahan Habel (Kejadian 4:4) tidak selalu melibatkan pembunuhan, karena tradisi tafsir Yahudi sering berusaha untuk menghindari interpretasi semacam itu. Akibatnya, keberatan para malaikat dalam Al-Qur’an 2:30 merupakan jenis “spoiler” ilahi—pengakuan bahwa tragedi Kain dan Habel sudah direncanakan sejak awal.
Reorientasi dan Antisipasi
Brian M. Hauglid’s essay “On the Early Life of Abraham” melanjutkan proyek intertekstual ini dengan memfokuskan pada figur Abraham. Hauglid menunjukkan bahwa tradisi Islam tidak hanya mengambil legenda Yahudi tentang Abraham, tetapi juga “mengislamkan” legenda-legenda tersebut, mengubahnya untuk menunjukkan kedatangan Muhammad. Motivasi dari tradisi Yahudi tentang kelahiran Musa, seperti kemunculan bintang saat kelahiran Abraham, upaya Nimrod untuk membunuh bayi, menyembunyikan Abraham di gua, dan menolak penyembahan berhala.
Tetapi dalam bahasa Islam, motif-motif ini berfungsi sebagai model bagi kehidupan Muhammad. Dengan membandingkan contoh yang dikaitkan dengan Ka’b al-Ahbar dan Ibn “Abbas, Hauglid menunjukkan bagaimana para penyampai awal secara sadar membangun paralelisme antara Abraham dan Muhammad, menggambarkan yang pertama sebagai “prototipe” bagi yang terakhir.
Menelisik Hukum dan Praktik
Dalam esai Brannon M. Wheeler “Israel and the Torah of Muhammad,”Al-Qur’an 3:93 dan interpretasinya terhadap Taurat dibahas secara menyeluruh. Intinya, orang Yahudi percaya bahwa larangan terhadap makanan tertentu—seperti melarang makan daging unta—ada sejak zaman Nuh dan Ibrahim. Ini dibantah oleh Al-Qur’an, melalui Nabi, dengan mengatakan bahwa larangan tersebut sebenarnya berasal dari sumpah pribadi Yakub (Israel) saat dia sakit.
Wheeler dengan cerdik menunjukkan bahwa para mufassir Muslim mengacu pada Taurat itu sendiri, terutama Kejadian 32:33, yang menyatakan bahwa makan gid ha-nasheh (saraf paha) adalah haram. Ironinya sangat mencolok: Taurat, yang sering dituduh oleh Muslim telah “dirusak” (tahrif), tetap digunakan sebagai alat verifikasi. Di luar itu, Wheeler menunjukkan bahwa perdebatan ini pada akhirnya mencerminkan konsep kanon yang berbeda: bagi Muslim, Taurat adalah wahyu yang autentik namun sementara, diberlakukan sebagai hukuman bagi Bani Israel, sedangkan hukum Muhammad mewakili kembalinya ke agama universal Abraham.
Sunat dibahas dalam esai Kathryn Kueny “Abraham’s Test”, yang membahasnya sebagai praktik yang rumit. Sunat, yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, benar-benar menjadi tempat perselisihan identitas. Kueny menunjukkan bagaimana tradisi Islam secara bertahap mengaitkan praktik ini dengan Abraham, tetapi tidak dalam kerangka perjanjian (berith) seperti yang dilakukan Yahudi.
Sunat dalam Islam tidak hanya merupakan simbol identitas sosial; sebaliknya, ia termasuk dalam kategori fitrah—tindakan kebersihan alami seperti mencukur kumis dan memotong kuku. Dengan demikian, sunat tidak lagi memiliki nilai ideologis sebagai batas identitas komunal, dan sebaliknya dianggap sebagai bagian dari disposisi manusia universal yang selaras dengan sifat ilahi.
Yesus dalam Kacamata Muslim
Esai Sidney H. Griffith tentang al-Ya‘qubi menimbulkan kejutan. Al-Ya‘qubi (w. 897) memasukkan banyak kutipan dari keempat Injil tersebut ke dalam sejarahnya yang universal, pada saat penulis Muslim biasanya menghindari Injil-Injil kanonik. Griffth menunjukkan bahwa al-Ya‘qubi tidak “mengislamkan” teks Injil, seperti yang dilakukan Ibn Ishaq. Sebaliknya, al-Ya‘qubi menyajikan teks-teks Injil dalam bentuk aslinya, yang mencakup cerita tentang penyaliban, yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an.
Namun, bingkai ceritanya tetap sesuai dengan Islam: Al-Qur’an menegaskan bahwa Yesus tidak dibunuh maupun disalibkan, mengelilingi kutipan-kutipan tersebut. Akibatnya, Injil “berbicara” dalam ruang gema Al-Qur’an. Ini menghasilkan model intertekstualitas yang unik yang mengakui keunggulan teks sendiri sambil menghormati otoritas teks lain.
Refleksi Penutup
Alkitab dan Al-Qur’an bukan hanya topik yang menantang, tetapi juga penuh dengan pelajaran. Selama studi perbandingan, perspektif sederhana tentang “peminjaman” atau “pengaruh” ditentang dalam karya ini. Alih-alih itu, Reeves dan rekan-rekannya menawarkan model intertekstualitas yang lebih dinamis di mana teks tidak berfungsi sebagai satu unit; sebaliknya, mereka berinteraksi satu sama lain, membentuk, dan mengkritik satu sama lain selama berabad-abad percakapan.
Bagi para ahli Alkitab, buku ini adalah undangan untuk keluar dari zona kenyamanan mereka dan menyelami lautan tafsir Islam yang luas. Bagi para ahli Islam, buku ini adalah pengingat bahwa memahami Al-Qur’an tanpa mengetahui latar belakang Alkitab dan pasca-Alkitabnya sama dengan mempelajari sungai tanpa mengetahui sumbernya. Karya ini bersifat manusiawi dan akademis, dan relevan di dunia yang masih dilanda konflik agama. Ia menunjukkan bahwa dialog, bukan isolasi, seringkali menghasilkan yang suci.
Identitas Buku
Judul: Bible and Qur’an: Essays in Scriptural Intertextuality
Penulis: John C. Reeves
Penerbit: Society of Biblical Literature (Atlanta), USA
Tahun: 2004
Tebal: xii + 245 halaman
ISBN: 1-58983-064-4





