Para Martir Najrān: Penelusuran Hubungannya dengan Surah Al-Buruj

Dalam lanskap sejarah Jazirah Arab, satu peristiwa tragis terjadi—pembantaian orang-orang Kristen Najrān. Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan jejak pada penduduk setempat, tetapi juga menggema di seluruh Timur Tengah Kristen, yang mengarah pada dampak militer dan politik yang signifikan, termasuk invasi Ethiopia ke Yaman. Korban dari pembantaian ini kemudian dikenal sebagai Para Martir Najrān atau disebut dengan Martyrs of Najran.

Meskipun Alquran itu sendiri (khususnya Surah Al-Buruj) tidak secara langsung merujuk pada pembantaian ini, peristiwa tersebut telah dikaitkan dengan tragedi ini melalui tradisi Islam dan tafsiran Alquran. Para ulama telah lama memperdebatkan sifat hubungan ini, merespons berbagai tafsiran selama bertahun-tahun, terutama di Eropa.

Tiga Pandangan Ulama Tentang Surah Al-Buruj

Tiga perspektif utama dari para ulama muncul terkait tafsiran Surah Al-Buruj. Kelompok pertama sejalan dengan tradisi Islam, yang menyatakan bahwa surat ini memang memperingati pembantaian Najrān. Kelompok kedua mengajukan tafsiran yang berbeda, yang mengusulkan bahwa Surah Al-Buruj merujuk pada kisah Alkitab dari Kitab Daniel—khususnya, kisah tiga sahabat Daniel yang dilemparkan ke dalam tungku api karena iman mereka. Kelompok ketiga, yang lebih kecil, berpendapat bahwa surat ini lebih merupakan gambaran eskatologis tentang Neraka daripada peristiwa sejarah.

Menghidupkan Kembali Diskusi Tentang Surah Al-Buruj

Penelitian terkini telah menghidupkan kembali diskusi mengenai Surah Al-Buruj dan kaitannya dengan Para Martir Najrān, terutama setelah penemuan tulisan-surat Suryani yang sebelumnya tidak diketahui pada akhir abad ke-19. Teks-teks ini memberikan kesaksian penting dari para saksi mata pembantaian tersebut, sehingga memberi para ulama lebih banyak bahan untuk diteliti. Meskipun demikian, masih ada perbedaan pendapat; banyak yang masih mempertanyakan apakah Surah Al-Buruj dapat secara sah dikaitkan dengan pembantaian Najrān.

 

Konteks sejarah sangat penting untuk memahami mengapa umat Muslim awal mungkin telah mengaitkan peristiwa ini. Pada waktu wahyu Alquran diturunkan, Islam berkembang di tengah-tengah konflik dengan Kekaisaran Bizantium, sebuah konflik yang dipenuhi dengan rivalitas teologis. Mengingat latar belakang ini, seseorang mungkin bertanya-tanya mengapa umat Muslim awal akan menghormati narasi kemartiran Kristen ketika mereka terlibat dalam perjuangan melawan orang Kristen. Fakta bahwa mereka mengaitkan Surah Al-Buruj dengan pembantaian Najrān menunjukkan bahwa bagi mereka, hubungan ini sangat signifikan.

Menganalisis teks Surah Al-Buruj menunjukkan bahwa surat ini membahas tema-tema penganiayaan dan kemartiran. Terutama, surat ini membicarakan tentang “Kaum Penghuni Parit,” yang menghadapi hukuman berat karena keyakinan mereka. Ini sejalan dengan kisah Para Martir Najrān, yang dibunuh secara brutal karena menolak untuk menyangkal iman mereka. Istilah “bersaksi” yang digunakan dalam konteks ini menunjukkan tindakan penganiayaan yang jelas yang terkait dengan intoleransi agama.

Meskipun bukti yang semakin berkembang menghubungkan surah ini dengan pembantaian ini, beberapa ulama menolak untuk mengakui hubungan ini. Upaya untuk menafsirkan Surah Al-Buruj sebagai sebuah alusi kepada Kitab Daniel atau sebagai teks apokaliptik murni telah mendapat perhatian, menandakan pergeseran besar dari pemahaman Islam tradisional.

Perdebatan akademik ini mencerminkan tema yang lebih luas tentang bagaimana narasi agama dibentuk dan ditafsirkan. Pandangan tentang Surah Al-Buruj telah berkembang pesat seiring waktu, menunjukkan spektrum keyakinan yang dipengaruhi oleh berbagai konteks teologis dan sejarah. Menariknya, para ulama sebelumnya seperti Abraham Geiger sepenuhnya menolak kaitan tersebut, sementara yang lainnya, seperti W. Montgomery Watt, kemudian mengusulkan bahwa kaitan dengan Para Martir Najrān lebih mungkin daripada tidak.

Catatan Sejarah

Ketika kita menelusuri catatan sejarah, menjadi jelas bahwa narasi, terutama yang dibentuk oleh hagiografi—cerita yang merayakan kehidupan orang-orang suci—sering kali dipengaruhi oleh motif teologis. Narasi-narasi ini tidak semata-mata bersifat sejarah; sebaliknya, mereka melayani tujuan tertentu, seperti memperkuat identitas komunitas dan ingatan kolektif dalam tradisi iman.

Melihat Para Martir Najrān dan Surah Al-Buruj membuka diskusi kompleks mengenai kemartiran agama, ingatan kolektif, dan dampak peristiwa sejarah terhadap praktik iman kontemporer. Peristiwa sejarah seputar Para Martir Najrān tidak hanya penting pada masa itu, tetapi terus memengaruhi refleksi masa kini tentang identitas dan keyakinan dalam Islam dan Kristen.

Hubungan Surah Al-Buruj dan Martir Najran

Sebagai kesimpulan, hubungan antara Surah Al-Buruj dan Para Martir Najrān menggambarkan interaksi dinamis antara wahyu dan peristiwa sejarah. Seiring dengan upaya penelitian yang terus berlanjut untuk mengungkap hubungan ini, tetap penting bagi kedua komunitas agama dan para sejarawan untuk berinteraksi dengan narasi-narasi kaya ini dengan penuh pertimbangan, yang menyoroti kompleksitas keyakinan, penganiayaan, dan ingatan lintas budaya.

Artikel ini saduran langsung dari tulisan Walid A. Saleh dengan judul “The Qur’an and Communal Memory: Q. 85 and the Martyrs of Najrān” dalam Journal of Qur’anic Studies.

wallahu a’lam

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *