Pengantar
Studi tentang asal-usul Al-Qur’an telah menjadi subjek perdebatan ilmiah yang intens sejak munculnya orientalisme dan berkembangnya pendekatan kritis-historis terhadap teks-teks agama. Meskipun umat Islam secara tradisional meyakini bahwa Al-Qur’an adalah wahyu ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbal dan ditransmisikan tanpa perubahan hingga sekarang, sejumlah akademisi modern mulai mempertanyakan narasi tersebut dengan menggunakan pendekatan interdisipliner, seperti filologi, arkeologi, dan kritik sejarah.
Di antara para pemikir tersebut, Stephen Shoemaker menonjol sebagai salah satu cendekiawan yang secara eksplisit menantang kerangka naratif tradisional Islam mengenai kodifikasi dan transmisi Al-Qur’an. Dalam artikelnya yang berjudul “Creating the Qur’an: Where Did the Scripture of Islam Really Come From?”, Shoemaker mengajukan tesis bahwa mushaf Al-Qur’an versi kanonik kemungkinan besar baru dibakukan pada masa kekuasaan Khalifah Umayyah, ‘Abd al-Malik bin Marwan, dan bukan pada era Utsman bin ‘Affan sebagaimana yang diyakini dalam tradisi Islam.
Perdebatan ini bukan hanya menyentuh aspek historis, tetapi juga epistemologis, karena menyangkut cara memahami teks keagamaan sebagai entitas historis sekaligus spiritual. Kajian Shoemaker mencerminkan kecenderungan dalam scholarship modern untuk memperlakukan Al-Qur’an dengan pendekatan yang serupa dengan yang diterapkan pada Alkitab—yakni sebagai teks yang terbentuk secara bertahap dalam konteks sosial dan politik tertentu. Namun, pendekatan ini masih menimbulkan resistensi, tidak hanya di kalangan teolog Muslim tetapi juga di antara sebagian sarjana yang mengakui validitas tradisi lisan Arab sebagai sumber sejarah yang sah.
Apa yang disorot Shoemaker
Shoemaker mencoba mengisi kekosongan tersebut dengan mengajukan hipotesis bahwa Al-Qur’an bukan hanya produk spiritual, tetapi juga hasil konstruksi institusional negara Islam awal. Dalam konteks ini, peran otoritas politik (khususnya dinasti Umayyah) dalam membakukan Al-Qur’an menjadi sangat penting untuk ditinjau lebih dalam. Sementara sebagian besar studi terdahulu lebih menekankan aspek keagamaan dan tekstual, pendekatan Shoemaker memperluas horizon diskusi dengan menyoroti aspek geopolitik dan dinamika kekuasaan dalam pembentukan wahyu sebagai kitab suci yang resmi dan baku (Anang 2019).
Dengan latar belakang inilah, tulisan ini akan mengkaji secara kritis argumen-argumen yang dikemukakan oleh Shoemaker, dengan mempertimbangkan baik pendekatan historiografi Barat maupun data tekstual dan manuskrip dari tradisi Islam. Pendekatan ini bertujuan untuk menilai secara objektif sejauh mana hipotesis Shoemaker dapat diterima dalam kerangka akademik dan bagaimana implikasinya terhadap studi Al-Qur’an secara lebih luas.
Pemikiran Stephen Shoemaker
Stephen Shoemaker, seorang sejarawan agama yang berfokus pada Kekristenan Kuno dan Islam Awal, menawarkan pendekatan historis-kritis terhadap proses pembentukan Al-Qur’an. Ia mempertanyakan narasi tradisional Islam, khususnya peran Khalifah Utsman, dan mengusulkan bahwa versi kanonik Al-Qur’an terbentuk lebih lambat, yaitu pada masa kekuasaan Khalifah ‘Abd al-Malik bin Marwan (685–705 M). Pendekatan ini tentu memicu kontroversi dan perdebatan di antara sarjana Islam dan pemeluk agama.
Kritik terhadap Pendekatan Tradisional
Shoemaker mengkritik pendekatan akademik terhadap Islam awal yang dianggapnya terlalu menerima narasi tradisional tanpa skeptisisme yang biasa diterapkan dalam kajian sejarah agama-agama lain (seperti dalam kritik teks Alkitab). Kritik ini sah dalam konteks akademik. Ilmu sejarah memang mendorong pembacaan kritis terhadap sumber-sumber tradisional, terutama yang ditulis jauh setelah peristiwa yang dilaporkan terjadi (Rippin 2006). Namun, pendekatan skeptis ekstrem seperti ini juga berisiko menafikan validitas tradisi lisan dan oralitas yang merupakan bagian inheren dari budaya Arab abad ke-7 (Motzki 2000).
Kritik terhadap Kronologi Mushaf Utsmani
Shoemaker menyatakan bahwa negara Islam pada masa Utsman bin Affan belum cukup kuat secara administratif untuk menyusun dan menetapkan versi kanonik Al-Qur’an. Ia berargumen bahwa proses kanonisasi baru memungkinkan secara struktural pada masa ‘Abd al-Malik yang memiliki kekuasaan imperium yang lebih stabil. Tentu, pandangan ini bersifat spekulatif. Meski struktur negara Utsmaniyah awal memang belum sekuat era Umayyah puncak, hal ini tidak serta-merta menegasikan kemungkinan adanya proses kodifikasi teks yang bersifat terbatas namun efektif (Small 2011). Bukti manuskrip seperti manuskrip Topkapi dan Sana’a menunjukkan adanya bentuk awal mushaf Utsmani yang relatif seragam dan bertanggal lebih awal dari masa ‘Abd al-Malik (Puin 1996).
Peran ‘Abd al-Malik dan Intervensi Negara
Shoemaker menyatakan bahwa versi final Al-Qur’an disusun dan disebarluaskan secara koersif oleh Khalifah ‘Abd al-Malik. Menurutnya, pengumpulan dan pemaksaan satu versi tunggal terjadi melalui intervensi negara, mirip dengan praktik kekuasaan agama-politik di kerajaan Kristen. Ini merupakan salah satu poin paling kontroversial. Beberapa sarjana memang menyebut adanya peran ‘Abd al-Malik dalam menyatukan simbol dan identitas Islam (seperti pembangunan Dome of the Rock), namun tidak semua setuju bahwa ia yang mengkanonisasi Al-Qur’an (Donner 2010, Sinai 2017). Klaim ini perlu didukung dengan lebih banyak bukti tekstual dan manuskrip yang secara eksplisit menghubungkan mushaf sekarang dengan kekuasaannya.
Perspektif Evolusioner atas Isi Al-Qur’an
Shoemaker mengusulkan bahwa isi Al-Qur’an berkembang secara bertahap, bukan semata-mata berasal dari pengajaran Muhammad. Ia melihat Al-Qur’an sebagai hasil kompilasi memori kolektif komunitas Muslim awal yang terpengaruh oleh lingkungan Yahudi-Kristen di Syro-Palestina dan Irak. Pandangan ini mencerminkan pendekatan filologis-kritis yang digunakan terhadap kitab-kitab suci lain. Namun, ini tidak selalu mengarah pada penyangkalan terhadap otentisitas wahyu, melainkan lebih pada pengakuan terhadap dinamika oralitas, konteks intertekstual, dan sejarah transmisi. Pendekatan ini juga tidak sepenuhnya asing dalam studi modern Al-Qur’an (Wansbrough 1977, Newrith 2019).
Kesimpulan dan Catatan Penutup
Shoemaker menutup artikelnya dengan menolak pandangan bahwa Al-Qur’an adalah rekaman langsung dari perkataan Nabi Muhammad. Ia mendorong agar studi terhadap pembentukan Al-Qur’an dilakukan dengan pendekatan skeptis dan historis-kritis. Lagi-lagi, tulisan ini penting sebagai pengingat akan pentingnya metodologi kritis dalam studi Islam awal. Namun, pembaca harus membedakan antara pendekatan akademik-sekuler dengan posisi teologis-keagamaan. Klaim Shoemaker relevan untuk ruang akademik, tetapi tidak dapat digunakan untuk menegasikan keyakinan umat Islam tentang keotentikan Al-Qur’an sebagai wahyu ilahi.
Stephen Shoemaker, melalui pendekatan historis-kritisnya terhadap asal-usul Al-Qur’an, menawarkan kontribusi penting dalam memperluas cakrawala kajian Islam awal di ranah akademik. Dengan menantang narasi dominan tentang kodifikasi mushaf Utsmani, ia mendorong pembacaan ulang terhadap konstruksi sejarah teks suci Islam, khususnya dalam kaitannya dengan dinamika politik dan otoritas negara pada masa dinasti Umayyah. Shoemaker secara eksplisit menolak pandangan bahwa Al-Qur’an merupakan transkrip langsung dari perkataan Nabi Muhammad yang diterima tanpa perubahan, dan sebaliknya menekankan pentingnya melihat Al-Qur’an sebagai produk dari proses panjang transmisi oral dan pengaruh lingkungan budaya yang kompleks.
Namun demikian, penting untuk menekankan bahwa pendekatan seperti yang digunakan oleh Shoemaker tidak dimaksudkan untuk menggantikan kerangka keimanan, melainkan untuk melengkapi pemahaman ilmiah terhadap teks keagamaan dalam konteks sejarahnya. Di sinilah letak perbedaan fundamental antara pendekatan akademik-sekuler dan posisi teologis-keagamaan: yang satu bertujuan untuk rekonstruksi historis secara kritis, sementara yang lain berpijak pada keyakinan akan keilahian teks dan kontinuitas wahyu.
Dengan demikian, tulisan Shoemaker relevan sebagai bagian dari wacana ilmiah yang mengedepankan metode kritik sumber dan keragaman perspektif dalam studi Al-Qur’an. Namun, penggunaannya harus ditempatkan secara proporsional dalam ruang akademik dan tidak dijadikan dasar untuk mendeligitimasi iman dan keyakinan umat Islam terhadap otoritas wahyu. Studi semacam ini seharusnya menjadi pemicu dialog produktif antara tradisi dan kritik, bukan sebagai instrumen penyangkalan atau pembenaran tunggal. Oleh karena itu, pengembangan kajian Al-Qur’an ke depan membutuhkan keseimbangan antara keterbukaan ilmiah dan sensitivitas terhadap nilai-nilai teologis yang hidup dalam komunitas Muslim global.
Referensi
Al-Anang, A. (2020). Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. https://www.researchgate.net/publication/341790669_Sejarah_Perkembangan_Ilmu_Pengetahuan_dalam_Islam
Donner, F. M. (2010). Muhammad and the believers: At the origins of Islam. Harvard University Press.
Motzki, H. (2000). The biography of Muhammad: The issue of the sources. Brill.
Neuwirth, A. (2019). The Qur’an and late antiquity: A shared heritage. Oxford University Press.
Puin, G. R. (1996). Observations on early Qur’an manuscripts in San‘a’. In S. Wild (Ed.), The Qur’an as text (pp. 107–112). Brill.
Rippin, A. (2006). Muslim devotions: A study of prayer manuals in common use. Routledge.
Shoemaker, S. (n.d.). Creating the Qur’an: Where did the scripture of Islam really come from?
Sinai, N. (2017). The Qur’an: A historical-critical introduction. Edinburgh University Press.
Small, K. E. (2011). Textual criticism and Qur’an manuscripts. Lexington Books.
Wansbrough, J. (1977). Quranic studies: Sources and methods of scriptural interpretation. Oxford University Press.





