Di era digital saat ini, sebuah unggahan berupa video singkat di semua platform media sosial (seperti Twitter, TikTok, Instagram, facebook), bisa menjadi penentu nasib seseorang hanya dalam hitungan jam bahkan menit. Fenomena cancel culture (praktik menarik dukungan atau memboikot figur publik karena dianggap telah melakukan dan mengatakan sesuatu yang tidak pantas) telah menjelma menjadi pola baru dalam dinamika sosial kita.
Salah satu ciri khas yang menonjol dari praktik ini terletak pada kecepatannya. Begitu ada komentar atau tindakan tertentu muncul di ruang publik, respons dalam skala besar segera bermunculan. Reaksi tersebut biasanya datang begitu deras hingga pihak yang bersangkutan sering kali tidak diberi ruang untuk memberikan klarifikasi, apalagi menjelaskan konteks maupun niat yang sebenarnya melatarbelakangi ucapan atau perbuatannya.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan mendasar: apakah kita benar-benar berusaha memahami maksud seseorang, atau sekadar merespons permukaan kata-kata yang tampak di layar? Untuk menjawabnya, menarik jika kita kembali ke gagasan hermeneutika seorang pengkotbah dan teolog asal Polandia abad ke-18 yakni Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher. (Budi Hardiman, 2015:29).
Schleiermacher telah mengajukan sebuah gagasan yang mengubah cara kita memahami teks dan ucapan. Agar dapat benar-benar memahami seseorang, kita tidak bisa hanya berfokus pada apa yang dikatakan atau ditulis. Namun, kita harus berusaha menembus ke dalam pikiran dan konteks di baliknya.
Pentingnya Memahami Niat, Bukan Sekadar Kata-kata
Schleiermacher dikenal sebagai bapak hermeneutika modern, yang kemudian membawa perubahan terhadap interpretasi teks. Schleiermacher telah berhasil membawa hermeneutika era klasik kepada era modern. Dimana hermeneutika era klasik hanya berfokus kepada tekstual saja, namun Schleiermacher mengusulkan adanya hermeneutika yang bisa menghadirkan kembali maksud dari penulis atau pembicara secara seutuhnya. (Budi Hardiman, 2015:51)
Agar dapat berhasil menghadirkan suatu makna teks, maka diperlukan adanya usaha memasuki dunia mental si penulis atau pembicara. Di sini kemudian Schleiermacher menawarkan 2 macam interpretasi yang digunakan untuk menangkap sesungguhnya maksud dari sebuah teks.
Schleiermacher membedakan 2 interpretasi tersebut. Pertama, interpretasi gramatis yakni proses dalam memahami yang berfokus pada gramatikal teks dan struktur kalimat (seperti: Alinea, bab, buku, kata, dll). Kedua, interpretasi psikologis yakni memusatkan diri pada sisi subjektif teks atau masuk pada dunia mental penulis (seperti: kultur, masyarakat, zaman, generasi, individu, keluarga, negara). (Budi Hardiman, 2015:40-41)
Menurut Schleiermacher, tugas interpretasi gramatis dan interpretasi psikologis itu setara, tidak ada yang lebih penting dalam proses memahami maksud teks. Keduanya harus sama bersinergi dalam menginterpretasikan teks. Pembaca memahami bahasa lewat penulis atau pembicara, sedangkan penulis atau pembicara dapat dipahami melalui bahasa yang digunakannya. (Budi Hardiman, 2015:43)
Bagi schleiermacher, setiap ucapan adalah cerminan dari pikiran, pengalaman, dan latar belakang dari penulis atau pembicara. Jadi untuk memahami orang lain, kita harus berusaha menempatkan diri pada posisi mereka, sehingga dapat melampaui kata-kata untuk mencapai niat yang ada di baliknya.
Berdasarkan pemikiran Schleiermacher, untuk memahami sebuah teks secara menyeluruh, kita tidak bisa hanya berfokus pada makna harfiah dari setiap kata. Namun, pemahaman yang sesungguhnya tercapai ketika kita mencoba masuk pada dunia mental seorang penulis atau pembicara, sehingga bisa merekonstruksi tujuan dan niat subjektif mereka. (Richard, 2003:94)
Dalam konteks komunikasi interpersonal, ini berarti kita harus bertanya: “Apa yang sebenarnya penulis atau pembicara maksudkan?”, bukan hanya “Apa yang penulis atau pembicara katakan?”. Pendekatan ini sangat kontras dengan pandangan strukturalis yang seringkali melihat bahasa sebagai sistem otonom (Terry, 2010:121).
Ketika ‘Niat’ Hilang dalam ‘Cancel Culture’
Sekarang, mari kita coba menerapkan pemikiran Schleiermacher dalam membaca fenomena cancel culture. Di dunia media sosial, ruang komunikasi seringkali tereduksi: konteks mudah hilang, keterbatasan karakter membatasi penjelasan, dan potongan informasi bisa dipisahkan dari keseluruhan wacana.
Akibatnya, sebuah pernyataan dapat dengan cepat dipotong, diedit, lalu disebarkan tanpa menghadirkan latar belakang atau maksud sebenarnya dari pembicara. Dalam kondisi seperti itu, hal-hal yang mungkin awalnya hanya berupa lelucon yang tidak berhasil, pendapat yang dianggap sensitif, atau bahkan kesalahan lama yang sudah berlalu, bisa berubah menjadi pemicu gelombang kritik besar-besaran yang sulit dihentikan. (Novita, 2022:140)
Dalam situasi demikian, pola penalaran publik sering kali berbalik arah. Alih-alih mencoba memahami maksud di balik ucapan atau tindakan seseorang, orang-orang justru lebih dahulu sampai pada kesimpulan. Niat pribadi dari pelaku menjadi terabaikan karena interpretasi lebih banyak didasarkan pada dampak yang dirasakan audiens.
Lebih jauh lagi, persepsi massa biasanya diperkuat oleh kemarahan kolektif yang tersebar luas, sehingga apa yang dianggap sebagai niat asli akhirnya ditentukan oleh tafsiran publik, bukan oleh pelaku itu sendiri. Dengan kata lain, makna subjektif dari pembicara tenggelam dalam arus opini mayoritas.
Sebagai ilustrasi, kita bisa mengingat salah satu contoh ucapan dari public figure yang sempat ramai, yaitu pernyataan Prof. Nasaruddin Umar: “Niat jadi guru jangan cari uang, kalau cari uang lebih baik jadi pedagang.” Bila kalimat ini dipahami secara literal tanpa mempertimbangkan konteksnya, sebagian orang mungkin merasa tersinggung.
Ada yang bisa mengira bahwa beliau sedang meremehkan profesi guru atau menganggap guru tidak pantas memperoleh gaji yang layak. Interpretasi semacam itu muncul karena potongan kalimat dilepaskan dari keseluruhan maksud, sehingga makna yang terbaca menjadi terdistorsi.
Namun, jika kita menggunakan pendekatan hermeneutika Schleiermacher, maka tugas kita adalah berusaha menafsirkan pernyataan tersebut dengan mencari niat yang mendasarinya. Schleiermacher menekankan pentingnya understanding the intention atau menangkap maksud penutur sebelum menilai kata-kata yang diucapkan. (Aulanni’an dan Andi, 2021:251)
Dalam hal ini, maksud Prof. Nasaruddin bukanlah melarang guru mencari nafkah atau merendahkan martabat profesi guru. Sebaliknya, beliau ingin menekankan bahwa profesi guru adalah sebuah panggilan moral dan bentuk pengabdian yang sangat mulia.
Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa idealisme dan dedikasi terhadap pendidikan harus menjadi landasan utama seorang pendidik, sedangkan insentif finansial sebaiknya tidak ditempatkan sebagai motivasi utama. Dengan kata lain, gaji itu penting, tetapi semangat pengabdian jauh lebih menentukan nilai luhur dari profesi guru.
Menuju Hermeneutika yang Lebih Empatis
Pendekatan hermeneutika Schleiermacher sesungguhnya bukanlah sarana untuk membenarkan kesalahan seseorang, melainkan untuk melatih kita menjadi penafsir yang lebih bijaksana. Ia menawarkan perangkat intelektual yang mendorong kita untuk menahan diri dari penghakiman yang serba cepat, dan sebaliknya menggantinya dengan sikap empatik serta upaya memahami sudut pandang orang lain.
Dengan kata lain, tujuan utama pendekatan ini bukan memaafkan begitu saja setiap tindakan atau ucapan yang dianggap kurang pantas, tetapi membantu kita memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai maksud dan konteks di balik suatu pernyataan atau perbuatan.
Dalam kerangka ini, gagasan Habermas tentang komunikasi rasional yang bebas dari distorsi menemukan relevansinya, sebab dialog yang sehat hanya mungkin tercapai ketika para partisipan bersedia memahami maksud lawan bicaranya secara jernih (Habermas, 1999:8).
Dalam realitas digital yang kini sarat dengan polarisasi dan pertukaran opini yang kerap kasar, kemampuan untuk menyingkap niat di balik kata-kata maupun tindakan menjadi keterampilan yang semakin langka namun amat bernilai. Jika sebagian dari kebijaksanaan Schleiermacher ini bisa kita terapkan, maka ruang publik digital tidak hanya menjadi arena kecaman, tetapi juga wadah membangun jembatan dialog.
Dengan cara demikian, masyarakat dapat membedakan antara individu yang berbuat salah karena adanya niat buruk, dengan mereka yang sekadar kurang sensitif terhadap situasi. Distingsi ini akan membawa kita pada keputusan sosial yang lebih adil, proporsional, dan tetap berlandaskan akal sehat.
Daftar Pustaka
Hardiman, Budi, Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrrida, (Yogyakarta: PT kanisiun, 2015)
Palmer, Richard E. Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi. Terjemahan M. K. Yasin. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2023)
Eagleton, Terry, Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif, (Yogyakarta: Jalasutra, 2010)
Purnamasari, Novita Ika, Cancel Culture: Dilema Ruang Publik dan Kuasa Netizen, (Mediakom: Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. 6, No. 2, 2022)
Aulanni’am dan Andi Tri Saputra, Hermeneutika Psikologis Schleiermacher dan Kemungkinannya dalam Penafsiran Al-Qur’an, (AL-WAJID: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Vol. 2 No. 1, 2021)
Habermas, Teori Tindakan Komunikatif: Jilid I. Terjemahan Sudarsono. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999)
MerdekaDotCom, Viral Ucapan Menag Nasaruddin Soal Niat Guru Jangan Cari Uang, Lebih Baik Jadi Pedagang, diunggah pada September 2025. Atau bisa diakses melalui https://youtu.be/t24csrOzkuE?si=MdjhMafXkZEdHPvL





