Di tengah zaman yang gemar menyederhanakan makna, hermeneutika Paul Ricoeur hadir sebagai ajakan untuk berhenti sejenak dan menatap dalam-dalam dunia simbol. Ricoeur tidak membaca teks sekadar sebagai rangkaian kata, melainkan sebagai medan pertemuan antara bahasa, makna, dan iman. Melalui simbol, katanya, manusia tidak hanya memahami dunia, tetapi juga dirinya sendiri. “Simbol memberi untuk dipikirkan,” begitu kalimat terkenalnya dalam Le conflit des interprétations.
Kalimat itu sederhana, namun membawa konsekuensi filosofis yang luas. Ia mengisyaratkan bahwa simbol bukan sesuatu yang harus dilucuti maknanya secara harfiah, melainkan direnungkan secara eksistensial. Dalam konteks tafsir Al-Qur’an, pandangan Ricoeur memberi napas baru bagi tradisi penafsiran Islam yang terkadang terjebak antara dua ekstrem: literalisme yang beku dan alegorisasi yang liar. Hermeneutika simbol menjadi jembatan antara keduanya—antara teks dan makna, antara wahyu dan pengalaman manusia.
Bagi Ricoeur, hermeneutika bukan sekadar metode akademik untuk menafsirkan teks, tetapi jalan menuju pemahaman diri. Ia meminjam dari Schleiermacher dan Dilthey gagasan tentang lingkaran hermeneutik: bahwa memahami selalu merupakan gerak bolak-balik antara bagian dan keseluruhan, antara teks dan pembaca (Ricoeur, 1976: 14). Namun, Ricoeur tidak berhenti di situ. Ia menambahkan satu unsur yang absen dalam hermeneutika klasik: kepercayaan. Menurutnya, setiap penafsiran lahir dari keyakinan tertentu, entah pada makna teks, pengalaman religius, atau dunia yang diandaikan teks itu. Ia menyebut ini sebagai lingkaran percaya dan memahami. Artinya, memahami bukan sekadar soal intelektual, melainkan juga spiritual. Orang beriman membaca kitab suci bukan hanya untuk “mengetahui” pesan Tuhan, tetapi juga untuk “dikenai” oleh pesan itu.
Dalam hal ini, tafsir menjadi proses eksistensial teks tidak hanya dibaca, tetapi juga membaca balik pembacanya. Konsep ini sejalan dengan semangat tafsir Islam klasik. Para mufasir seperti al-Ṭabarī atau al-Qusyairī menegaskan bahwa tafsir bukan sekadar menjelaskan makna zahir ayat, tetapi juga menyingkap kedalaman batiniah yang hanya bisa dipahami dengan iman. Maka, sebagaimana kata Ricoeur, “memahami berarti percaya terlebih dahulu.”
Sebelum Ricoeur, hermeneutika didominasi oleh dua aliran besar: romantik dan strukturalis. Kaum romantik seperti Schleiermacher dan Dilthey melihat tugas hermeneutika sebagai upaya “menghidupkan kembali maksud pengarang.” Bagi mereka, makna sejati teks terletak di dalam kesadaran orang yang menulisnya. Maka, tugas penafsir adalah menembus sejarah dan konteks psikologis penulis. Sebaliknya, kaum strukturalis seperti Saussure atau Lévi-Strauss menolak pusat makna pada pengarang. Mereka memandang teks sebagai sistem tanda yang otonom; makna tidak bergantung pada siapa yang menulisnya, melainkan pada struktur bahasa yang membangunnya. Ricoeur menilai kedua pandangan ini sama-sama reduktif. Yang satu terlalu menekankan subjektivitas pengarang, yang lain meniadakan makna manusiawi sama sekali. Ia lalu menawarkan jalan tengah: teks memang lahir dari pengarang, tetapi ketika telah ditulis, ia hidup dengan dunianya sendiri (Ricoeur, 1981: 43).
Dengan demikian, tugas hermeneutika bukan mencari kembali “niat penulis”, melainkan menyingkap “dunia teks” yang terbuka bagi pembaca. Dalam tafsir Al-Qur’an, pendekatan ini membantu kita keluar dari jebakan historisisme yang terlalu fokus pada asbāb al-nuzūl, dan mengarah pada eksplorasi makna-makna yang hidup dalam konteks kekinian.
Ricoeur menempatkan simbol di jantung filsafatnya. Dalam The Symbolism of Evil, ia menjelaskan bahwa simbol bukan sekadar tanda, tetapi penyingkap realitas ganda: ia berbicara tentang dunia, sekaligus tentang manusia itu sendiri (Ricoeur, 1967: 29). Simbol, kata Ricoeur, memiliki dua lapisan makna: lapisan pertama menunjuk pada realitas empiris, sedangkan lapisan kedua menyingkap makna eksistensial. Misalnya, simbol “air” dalam Al-Qur’an tidak hanya berarti zat cair, tetapi juga lambang kehidupan dan penyucian spiritual.
Dengan cara ini, Ricoeur mengembalikan makna religius pada kedalaman reflektifnya. Mitos, baginya, bukan kebohongan, melainkan bentuk pertama dari pemikiran simbolik. Kisah Adam dan Hawa, misalnya, tidak harus dibaca secara historis, melainkan sebagai simbol tentang kebebasan, dosa, dan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan. Hermeneutika simbol membantu pembaca kitab suci melampaui lapisan literal menuju lapisan makna yang lebih dalam—bukan untuk mengaburkan teks, tetapi untuk menyingkap kehadiran yang tak terkatakan di baliknya. Dengan demikian, membaca wahyu menjadi pengalaman eksistensial yang mengubah pembaca.
Memahami sebagai Merenungkan
Ricoeur mengajarkan bahwa setiap pembacaan simbol adalah renungan diri. Dalam proses memahami simbol, manusia justru menemukan dirinya. “Melalui simbol, manusia menafsirkan dirinya sendiri,” tulisnya dalam History and Truth (Ricoeur, 1965: 12). Hal ini terasa sangat relevan bagi pembaca Al-Qur’an. Ketika seorang Muslim membaca kisah Nabi Yusuf, misalnya, ia tidak hanya memahami sejarah seorang nabi, tetapi juga mengenali pergulatan batin dirinya sendiri — tentang kesabaran, godaan, dan pengampunan.
Hermeneutika simbol dengan demikian tidak berhenti pada “penjelasan teks,” tetapi mengantar pembaca pada “pengalaman diri.” Teks menjadi cermin yang memantulkan wajah manusia, sementara makna menjadi jembatan menuju refleksi spiritual. Inilah perbedaan antara menjelaskan (to explain) dan memahami (to understand). Penjelasan berurusan dengan struktur dan konteks, sedangkan pemahaman menyentuh dimensi eksistensial. Ricoeur menegaskan bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan: menjelaskan tanpa memahami menghasilkan tafsir kering, sedangkan memahami tanpa menjelaskan jatuh pada subjektivitas liar (Ricoeur, 1976: 38).
Hermeneutik dan Praktik Kecurigaan
Meski dikenal sebagai filsuf iman, Ricoeur tidak menutup ruang bagi kritik. Ia justru memperkenalkan konsep hermeneutika kecurigaan suatu pendekatan yang menantang makna permukaan dengan mempertanyakan kepentingan yang tersembunyi di baliknya. Konsep ini terinspirasi dari tiga “guru kecurigaan”: Marx, Nietzsche, dan Freud. Ketiganya mengajarkan bahwa makna yang tampak sering kali adalah topeng bagi kehendak kuasa, libido, atau ideologi (Ricoeur, 1970: 33).
Dalam konteks tafsir Al-Qur’an, pendekatan ini penting untuk membaca ulang ayat-ayat yang sering digunakan untuk menjustifikasi dominasi — misalnya, isu gender, politik agama, atau kekerasan atas nama iman. Dengan praktik kecurigaan, penafsir diajak untuk bertanya: adakah tafsir yang menyingkirkan pihak tertentu? Adakah interpretasi yang lebih membebaskan dan selaras dengan keadilan Ilahi?
Hermeneutika kecurigaan bukan berarti menolak teks, tetapi menolak monopoli makna. Ia membuka ruang bagi pembacaan yang kritis dan etis, sehingga makna wahyu tidak dibajak oleh kekuasaan manusia. Dalam arti ini, hermeneutika menjadi praksis pembebasan menghidupkan kembali pesan ilahi sebagai energi moral, bukan sekadar hukum beku.
Menyingkap Mitos dan Iman yang Dewasa
Dalam The Symbolism of Evil, Ricoeur berbicara banyak tentang “kejatuhan” dan “dosa asal” sebagai simbol universal. Ia menolak memahaminya secara historis, sebab baginya, dosa bukan peristiwa masa lalu, tetapi pengalaman eksistensial manusia yang terus berulang (Ricoeur, 1967: 45). Dengan cara yang sama, pembacaan mitos dalam Al-Qur’an seperti kisah Iblis, banjir besar Nabi Nuh, atau penciptaan manusia — dapat dilihat sebagai simbol-simbol yang menyingkap kondisi batin manusia di hadapan Tuhan. Ini bukan soal menolak fakta sejarah, tetapi menegaskan bahwa makna teologis jauh melampaui kronologi.
Ricoeur mengajak pembaca beriman menuju iman yang reflektif, bukan infantil. Iman yang berani merenungkan simbol-simbolnya, bukan sekadar menghafalnya. Karena itu, hermeneutika simbol dapat membantu umat beragama menemukan makna yang lebih dalam dari ritual dan teks iman yang hidup, bukan iman yang membatu.
Refleksi Filosofis: Tafsir sebagai Pengalaman Diri
Ricoeur memandang interpretasi sebagai perjalanan spiritual. Ketika manusia menafsirkan teks suci, ia sebenarnya sedang menafsirkan dirinya di hadapan Yang Ilahi. Tafsir bukan hanya pernyataan tentang Tuhan, melainkan cermin pencarian manusia terhadap makna keberadaannya. Bagi Ricoeur, pengalaman membaca selalu bersifat transformatif. Seseorang keluar dari teks bukan sebagai orang yang sama. Ini juga yang membedakan tafsir dengan sekadar pengetahuan akademik. Tafsir yang sejati melahirkan kesadaran baru: kesadaran bahwa hidup manusia tidak dapat dipahami tanpa simbol-simbol yang memberi arah dan makna.
Dengan demikian, hermeneutika simbol mengajak penafsir untuk merendahkan diri di hadapan misteri. Dalam tafsir, kata-kata bukan milik manusia semata, melainkan jendela menuju Yang Transenden.
Menutup Lingkaran: Dari Simbol ke Iman yang Hidup
Pada akhirnya, hermeneutika simbol Paul Ricoeur menawarkan sebuah jalan tengah antara iman yang naif dan skeptisisme yang kering. Ia mengajarkan bahwa percaya dan memahami tidak perlu dipertentangkan, sebab keduanya justru saling meneguhkan.
Dalam dunia modern yang sering kali kehilangan kedalaman makna, pendekatan ini mengajak kita untuk membaca kembali teks-teks suci bukan dengan kecurigaan buta, tetapi dengan keterbukaan hati. Tafsir bukan lagi sekadar kegiatan ilmiah, melainkan ziarah intelektual menuju iman yang lebih matang. Seperti lingkaran yang tak berujung, membaca berarti percaya, dan percaya berarti terus membaca. Maka hermeneutika simbol bukan hanya teori tafsir, tetapi juga laku spiritual menghidupkan kembali keajaiban makna di tengah dunia yang serba dangkal.
Referensi
Ricoeur, Paul. Freud and Philosophy: An Essay on Interpretation. New Haven: Yale University Press, 1970.
Ricoeur, Paul. The Symbolism of Evil. Boston: Beacon Press, 1967.
Ricoeur, Paul. Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning. Fort Worth: Texas Christian University Press, 1976.
Ricoeur, Paul. The Conflict of Interpretations: Essays in Hermeneutics. Evanston: Northwestern University Press, 1981.
Ricoeur, Paul. History and Truth. Evanston: Northwestern University Press, 1965.





