Komparasi Tafsir Nurul Huda dan Tafsir al-Khazin: Antara Saduran Klasik dan Kontekstualisasi Modern

Tafsir Nurul Huda karya K.H. R. Mudhar Tamim (1916-2000) merupakan karya tafsir lokal berbahasa Madura yang sangat penting bagi pembinaan spiritual masyarakat awam. Dalam penyusunannya, penulis secara eksplisit menjadikan literatur klasik Tafsir al-Khazin karya Imam Ala’uddin Ali bin Muhammad (1279-1341) sebagai salah satu rujukan utamanya (Tamim, 1969: viii). Tulisan ini akan membahas kesamaan saduran langsung di antara keduanya, sekaligus membongkar perbedaan orientasi dan penyajian yang sangat bertentangan. Analisis ini membuktikan kepiawaian ulama lokal dalam menerjemahkan teks klasik ke dalam realitas sosial-politik modern.

Kesamaan Riwayat dan Saduran Langsung

Bacaan Lainnya

Keterikatan teks Tafsir Nurul Huda terhadap Tafsir al-Khazin sangat terlihat jelas pada bagian penceritaan sejarah dan riwayat asbabunnuzul. Mudhar Tamim secara konsisten menerjemahkan narasi sejarah dari bahasa Arab ke dalam bahasa Madura tanpa mengubah detail alurnya. Hal ini menunjukkan bahwa literatur klasik tersebut dijadikan kerangka utama dalam membangun argumen kesejarahan.

Bukti pertama dapat dilihat pada kisah kehancuran Baitulmaqdis yang merujuk pada nama kaisar Romawi secara spesifik. Dalam Tafsir al-Khazin disebutkan: “وذلك أن ططوس الرومي غزا بني إسرائيل فقتل مقاتلتهم، وسبى ذراريهم وحرق التوراة وخرب بيت المقدس” (al-Khazin, 1415: 71). Teks ini diterjemahkan secara harfiah ke dalam Tafsir Nurul Huda: “Tatus bangsa Rum merrange Bani Israil, oreng2-nga etawan ketab Taurat-da e-obbar, Baitalmakdis epa-ancor” (Tamim, 1969: 50).

Kesamaan selanjutnya juga terlihat jelas pada perincian nama-nama tokoh pemuka agama yang menentang dakwah nabi. Ketika menafsirkan Surah al-Baqarah ayat 135, Tafsir al-Khazin merinci daftarnya: “نزلت في رؤساء اليهود: كعب بن الأشرف ومالك بن الصيف ووهب بن يهودا وأبي ياسر بن أخطب وفي نصارى نجران السيد، والعاقب وأصحابهما” (al-Khazin, 1415: 84). Kutipan nama ini disadur secara ekuivalen oleh Mudhar Tamim menjadi: “pemimpin2 Yahudi; Ka’bun Ibnu Asjraaf, Maalik Ibnu Sjaakif, Wahab Ibnu Yahuda, Abi Jaasir Ibnu Agtab, ban pemimpin2 Nasrani Nadjraan, Sajjid, Akib ban kanca2-na” (Tamim, 1969: 59).

Selain pencantuman nama tokoh, penyebutan angka spesifik juga disalin secara mutlak oleh penulis Tafsir Nurul Huda. Terkait jumlah nabi dan rasul, Tafsir al-Khazin menuliskan: “فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ وجملتهم مائة ألف وأربعة وعشرون ألفا الرسل منهم ثلاثمائة وثلاثة عشر” (al-Khazin, 1415: 141). Angka tersebut dikutip identik di dalam Tafsir Nurul Huda: “bannyakna 124.000 (satos empa’ lekor ebu) Nabbi, ban utusan 313 (tello ratos tello bellas) oreng” (Tamim, 1969: 99).

Pola saduran identik ini juga diterapkan pada riwayat sebab turunnya ayat mengenai sengketa tanah. Tafsir al-Khazin mencatat secara jelas: “نزلت في امرئ القيس بن عابس الكندي ادّعى عليه ربيعة بن عبدان الحضرمي عند رسول الله صلّى الله عليه وسلّم في أرض” (al-Khazin, 1415: 118). Kutipan riwayat tersebut diadopsi sempurna menjadi: “Sabab toronna ajat 188, amarga Umru’ulqais Ibnu Abi Alkindi e gugat Rabi’ah Ibnu Abdaan Albadrami parkara tana” (Tamim, 1969: 80).

Bukti kutipan langsung di atas memberikan argumen kuat mengenai kepatuhan metodologis Mudhar Tamim terhadap sumber aslinya. Beliau dengan sadar memposisikan dirinya sebagai penerjemah teks Arab klasik agar pesan historis Al-Qur’an dapat dipahami utuh oleh masyarakat awam Madura. Keputusan penerjemahan ini sangat efektif untuk memberikan sebuah legitimasi teologis yang meyakinkan bagi karya tafsir lokal tersebut.

Perbedaan Sasaran Pembaca dan Gaya Bahasa

Meskipun banyak menyadur riwayat secara harfiah, kedua kitab tafsir ini sesungguhnya memiliki perbedaan corak yang sangat bertolak belakang dalam hal sasaran pembaca. Tafsir al-Khazin secara khusus disusun sebagai literatur akademis tertulis bagi para penuntut ilmu agama. Kitab berbahasa Arab ini sangat ketat dalam mempertahankan tradisi keilmuan pesantren klasik masa lalu (al-Khazin, 1415: 3).

Sebaliknya, Tafsir Nurul Huda secara eksplisit memang ditujukan untuk konsumsi masyarakat awam di daerah Pulau Madura. Penulisnya menyusun kitab ini dengan tujuan utama agar ajaran Al-Qur’an mudah dipahami oleh mereka yang bahkan baru melek huruf Latin. Oleh karena itu, Mudhar Tamim sengaja menggunakan bahasa Madura tingkat pertengahan yang mudah dicerna (Tamim, 1969: vii).

Demi mencapai kemudahan pemahaman tersebut, penulis Tafsir Nurul Huda berani mengambil sebuah keputusan linguistik yang radikal. Beliau secara sengaja mengabaikan semua aturan sastra baku bahasa Madura agar isi tafsirnya lebih komunikatif dan membumi. Hal ini secara jujur diakuinya: “Pramela sosonan tasir delem basa Madura tak adesar sastra basa Madura… namong se epenting-agi pahamma essena tafsir” (Tamim, 1969: vii).

Perbedaan tajam perihal sasaran pembaca ini sangat berkorelasi dengan sejarah asal-usul medium penyampaian kedua karya tersebut. Orientasi akademis Tafsir al-Khazin sangat kental dengan perdebatan tata bahasa (nahwu) dan ilmu Qira’at Arab. Sebagai contoh gramatikal, al-Khazin sering kali membedah struktur kata seperti: “فإن قلت كيف قال اشتروا الضلالة بالهدى وما كانوا على هدى” (al-Khazin, 1415: 27).

Di sisi lain, Tafsir Nurul Huda pada asalnya bukanlah sebuah draf buku tertulis yang dirancang teoretis, melainkan murni materi dakwah lisan. Materi pengajian lisan ini secara rutin disiarkan setiap hari Jumat melalui stasiun radio lokal Rhansico di Pamekasan. Naskah ini baru mulai dibukukan setelah adanya desakan kuat dari para pendengarnya (Tamim, 1969: vii).

Gaya bahasa lisan radio tersebut pada akhirnya berdampak pada hilangnya perdebatan akademis yang kaku dalam Tafsir Nurul Huda. Jika Tafsir al-Khazin mengutip hadis lengkap dengan detail kritik sanad, Tafsir Nurul Huda justru menyajikannya secara sangat kasual dan ringkas. Mudhar Tamim sering kali sekadar menuliskan pengantar seperti “Metorot riwayat Bukhari/Muslim” tanpa repot menganalisis jalur perawinya (Tamim, 1969: 104).

Kontekstualisasi Sosial-Politik dan Pendekatan Modern

Perbedaan yang paling mencolok di antara kedua literatur tafsir ini terletak pada cara mereka merespons kondisi sosial, politik kepartaian, dan perkembangan zaman. Tafsir al-Khazin adalah produk keilmuan abad pertengahan yang pemikirannya murni berkutat pada teologi Islam klasik. Konteks perdebatan ideologisnya secara umum hanya terbatas pada sanggahan terhadap sekte-sekte terdahulu seperti Khawarij dan Batiniah (al-Khazin, 1415: 15).

Sebaliknya, Tafsir Nurul Huda tampil dengan wajah yang sangat reaktif dalam menyikapi dinamika politik di negara Indonesia abad ke-20. Karya ini mengaitkan terminologi sakral Al-Qur’an dengan bahasa politik kenegaraan kontemporer yang populer saat Orde Baru. Penulisnya begitu leluasa menggunakan istilah seperti “demokrasi”, “parlemen”, “presiden”, dan “konstituante” untuk menjelaskan konsep kepemimpinan kepada masyarakat (Tamim, 1969: 12).

Tafsir lokal ini juga secara frontal berani mengkritik tajam wacana ideologi modern yang dinilai bisa merusak akidah umat. Mudhar Tamim menjadikan golongan Partai Komunis Indonesia sebagai contoh nyata para perusak bumi berkedok keadilan. Beliau menyindir bahaya ideologi Marxisme tersebut dengan menolak konsep halusinasi “sama rata sama rasa model komunis” (Tamim, 1969: 93).

Penolakan keras terhadap gagasan sekularisme juga dilontarkan dengan tegas menggunakan berbagai istilah serapan asing. Mudhar Tamim mengkritik pemisahan urusan agama dan tata kelola negara dengan menyebutkan istilah bahasa Belanda “skheiding kerk en staat” (Tamim, 1969: 116). Beliau berargumen bahwa konsep pemerintahan sekuler semacam itu adalah warisan ajaran yang sangat menyimpang dari rukun Islam.

Pendekatan metodologis dalam membuktikan kebenaran empiris Al-Qur’an juga menghadirkan jarak intelektual yang sangat senjang di antara keduanya. Tafsir al-Khazin selalu mengandalkan bait-bait syair Arab kuno sebagai alat ukur linguistik dan argumentasi pembuktian (al-Khazin, 1415: 25). Pendekatan ini sangat normatif dan bertumpu penuh pada karya sastra para penyair masa lalu.

Berbeda halnya dengan pakem tersebut, Tafsir Nurul Huda sangat inovatif dalam memanfaatkan penemuan sains modern untuk meyakinkan logika pembacanya. Untuk membuktikan proses pengumpulan sampel tanah bagi penciptaan anatomi Nabi Adam, Mudhar Tamim menggunakan analogi eksplorasi luar angkasa. Beliau menceritakan pendaratan “para astronaut ngalak tana e bulan… bannyakna 65 kg” sebagai bukti kekuasaan empiris Tuhan (Tamim, 1969: 20).

Kehadiran penerbitan Tafsir Nurul Huda juga didukung dan disokong penuh oleh legitimasi birokrasi pemerintahan Orde Baru di daerah asalnya. Kitab ini mendapatkan suntikan kata pengantar resmi dari Gubernur Jawa Timur dan Bupati Pamekasan saat itu. Mereka memuji karya ini sebagai sarana pembangunan mental untuk menyukseskan program Pembangunan Lima Tahun (Repelita) dan falsafah Pancasila (Tamim, 1969: iv-v).

Tafsir Nurul Huda merupakan literatur bukti nyata kolaborasi antara tradisi luhur keilmuan Islam klasik dan tingginya kepekaan ulama lokal terhadap realitas peradaban modern. Meskipun secara tekstual kitab ini banyak menyadur riwayat sejarah maupun angka dari Tafsir al-Khazin, namun jiwa dan metodologi penyampaiannya telah diubah secara drastis. Perubahan gaya bahasa, pengabaian tata bahasa akademis, penyertaan ilmu sains modern, hingga kritik politik secara terbuka membuktikan kehebatan adaptasi tersebut. Pada akhirnya, Tafsir Nurul Huda berhasil membunyikan pesan Al-Qur’an ke dalam ruang dengar masyarakat Madura dengan sangat membumi dan fungsional.

Referensi

Al-Khazin, Ala’uddin Ali bin Muhammad. (1415 H). Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani at-Tanzil (Muhaqqiq: Muhammad Ali Syahin). Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.

Tamim, Mudhar. (1969). Tafsir: Qur’anul-Karim “Nurul Huda” dalam Bahasa Madura Djuz: 1. Pamekasan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *