Analisis Q.S Al-Hujurat (49): 6 Perspektif Tafsir Mafātiẖul Ghaīb dan Isyarat Berfilsafat dalam al-Qur’an

Membicarakan filsafat terkadang menjadi hal yang tabu di sebagian kalangan masyarakat, menimbulkan pertanyaan, dan keanehan bagi mereka yang belum mengenal filsafat secara baik. Bagi orang yang tidak asing dengan istilah itu seringkali menggunakan istilah filsafat, filosofi, atau falsafah dalam diksi yang mereka gunakan, baik itu untuk membuatnya terlihat keren atau memang memahami betul diksi yang mereka sebutkan.

Filsafat kerapkali diidentikan dengan perkara yang berbau “horor” karena sebagian dari mereka yang mempelajarinya cenderung terjerumus ke dalam kesesatan, kesalahpahaman, atau bahkan berakhir dengan kematian. Jelas pemahaman yang demikian perlu untuk diluruskan, pengertian akan filsafat yang sebenarnya harus dijelaskan secara baik, membuang segala klaim yang buruk terhadapnya dan memperkenalkan yang sejatinya. Sebagaimana pepatah katakan “Tak kenal maka tak sayang”.

Bacaan Lainnya

Jadi sebenarnya, apa itu filsafat? Secara bahasa (etimology) filsafat diambil dari dua kata berbeda dalam bahasa yunani: (1) philos, yang berarti cinta. (2) sophos, yang berarti kebijaksanaan, pengetahuan dsb. kedua kata ini kemudian digabung menjadi satu kata yakni philoshophia yang berarti cinta akan kebijaksanaan. Dalam bahasa inggris dikenal dengan kata philosophy yang bermakna pencarian akan kebijaksanaan, kemudian masyhur di sebagian kalangan masyarakat indonesia dengan istilah filsafat (FR, 2024: 6-7).

Orang yang berfilsafat dinamakan filsuf, pecinta kebijaksanaan. Namun hal ini berbeda dengan pecinta pengetahuan, karena keingintahuan saja tidak cukup untuk dikategorikan berfilsafat. Oleh karena itu Russell meluruskannya dengan mengartikan filsafat sebagai mencintai visi tentang kebenaran, apa yang sebenarnya perlu dipahami dari satu kebenaran atau pengetahuan (Russell, 2023: 163).

Menarik untuk diketahui bersama, dalam satu buku pengantar filsafat karya Imaduddin Fadhlurrahman ia memberikan satu statement bahwa, ketika menolak filsafat sama saja dengan menolak Al-Qur’an, meski keduanya tidak dapat disejajarkan. Demikian dikarenakan Al-Qur’an selalu memerintahkan kepada para pembacanya untuk sering ber-tafakkur, dan tafakkur ialah salah satu pokok dari kegiatan filsafat (FR, 2024: 30-31).

Hal inilah yang kemudian penulis temukan padanannya dalam firman Allah Swt. Q.S Al-Hujurat ayat 6. Dalam ayat ini tampaknya Allah Swt. hendak mengisyaratkan anjuran untuk berfilsafat kepada hamba-hambanya. Meski kata tersebut dirasa terlalu berlebihan, namun cukup pantas untuk dikatakan demikian. Adapun ayat yang penulis maksud berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ٦

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Ayat ini turun dilatarbelakangi oleh Al-Harist bin Dinar Al-Khuza’i yang baru saja memeluk agama Islam. Saat itu ia diperintahakan oleh Rosulullah Saw. untuk mengeluarkan zakat dan ia pun mengeluarkannya. Lantas setelah itu ia berikrar kepada Rosul untuk kembali kepada kaumnya, mengejaknya masuk Islam dan mengeluarkan zakat. Setelah zakat itu terkumpul dalam waktu yang ditentukan, ia meminta kepada Rosul agar mengirim utusuan untuk mengambil zakat tersebut.

Setelah zakat tersebut terkumpul pada waktunya, Rosulullah Saw. belum juga mengirimkan utusannya,  hingga akhirnya Al-Harist beserta kaumnya dari golongan hartawan berangkat menemui Rosul Saw. Sebenarnya Rosulullah Saw. telah mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat tersebut. Nahasnya ditengah perjalanan ia merasa gentar lantas memutar arah kembali kepada Rosul Saw. dan berkata bahwa, Al-Harist menahan zakat serta hendak membunuh Al-Walid.

Mendengar kabar tersebut Rosulullah Saw. langsung ambil tindakan dengan mengumpulkan rombongan utusan untuk menghampiri Al-Harist. Ditengah perjalanan rombongan yang diutus Rosul Saw. bertemu dengan rombongan Al-Harist dan menjelaskan kepada Al-Harist maksud dan tujuan mereka. Setelah berbicara satu sama lain rombongan yang diutus Rosul Saw. tersebut membawa Al-Harist untuk bertemu langsung dengan Rosulullah Saw.

Setelah bertemu Rosulullah Saw. Al-Harist memberikan klarifikasi dan bersumpah bahwa ia tidak hendak menahan zakat dan membunuh utusannya. Maka turunlah firman Allah Swt. Q.S Al-Hujurat ayat 6 (As-Suyuthi, 2014: 494-495).

Sampai disini jelas bahwa premis yang digunakan Al-Walid adalah sebuah kebohongan. Entah kenapa ia berbohong tidak dijelaskan secara detail. Namun pelajaran yang harus diambil disini ialah, penting untuk memperhatikan apa yang dibicarakan dan siapa yang berbicara. Dalam hal ini apalagi dia orang yang ahli maksiat atau pendusta. Oleh sebab itu para ulama menahan diri untuk tidak menerima hadis dari mereka karena keredibilitasnya tidak dapat dipercaya (Katsir, 1998: 345).

Pada ayat di atas Fakhruddin Ar-Razi mengedepankan interpretasi yang cukup kritis dengan perspektif yang logis. Pertama, disebutkan bahwa Al-Walid merupakan saudara Ustman dari pihak ibu. Besar kemungkinan faktor ini menjadi penyebab Rosul Saw. langsung percaya dan ambil tindakan mengirim rombongan untuk menemui Al-Harist.

Kedua, kefasikan Al-Walid tidak diketahui Rosul Saw. jika Rosul Saw. sebelumnya tahu Al-Walid adalah fasik maka berita yang disampaikannya pasti akan diklarifikasi lebih dulu. Sebagaimana orang Islam mesti berhati-hati terhadap berita dari orang-orang kafir. Biasanya mereka tidak mampu memberikan berita bohong karena kehati-hatian itu, jika mereka mampu itu sangatlah jarang. Dan jika mereka mampu maka perlu bukti sebagai syarat untuk menyampaikannya.

Ketiga,  ini merupakan penegasan. Setiap orang tahu bahwa berita itu bersifat universal meski disampaikan orang yang ahli maksiat. Dan verifikasi menjadi suatu keharusan apabila ada orang yang ahli maksiat datang kepada anda lantas memberikan berita. Keempat, ayat di atas dapat dikatakan sebagai perintah untuk mencari ilmu dan membangun kewaspadaan karena ketidaktahuan merupakan kebodohan dan kesesatan. Dan sebab kebodohan itu akan membuka potensi kepada orang-orang fasik untuk berkata seenak jidat yang mana ini menimbulkan perselisihan antara manusia kedepannya (Ar-Razi, 2012: 379-382).

Dikatakan mengapa ayat di atas merupakan isyarat untuk berfilsafat? karena salah satu ciri berfikir filsafat adalah kritis terhadap apapun (FR, 2024: 27), dan ayat di atas memerintahkan manusia untuk meneliti akan suatu kebenaran, berhati-hati, dan mempertimbangkan akan suatu berita yang diterima agar mendapat kejelasan, baru kemudian ditarik satu kesimpulan yang membawa kepada satu tindakan. Hal ini juga sempat disinggung oleh Rocky Gerung di beberapa media bahwa, filsafat itu bukan untuk mencari kebenaran melainkan memverifikasinya, mengajukan pertanyaan terkait klaim kebenaran. Ditegaskan juga oleh Gibson bahwa, pusat dari kegiatan berfilsafat ialah penalaran atas suatu pendapat (Gibson, 2022: 9).

Secara implisit ayat di atas memerintahkan kepada pembacanya untuk berfikir kritis terhadap sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dan diterima. Mengedepankan negasi sebelum kebenarannya diketahui dengan jelas, hal ini merupakan bentuk kehati-hatian, menghindarkan diri  dari ketergesa-gesaan serta presangka. Tidak cepat menilai sesuatu sebelum terindikasi secara nyata sampai tampak tidak meragukan (Fullerton, 2023: 269), baru kemudian ditarik kesimpulan secara logis.

Hal demikian perlu dilakukan untuk meminimalisir kesalahan, sebagaimana dikatakan bahwa filsafat akan menjadi masuk akal apabila para pemikirnya berusaha menghindari apa yang salah (Gibson, 2022: 27). Ketika kesalahan itu dapat terhindarkan maka ke-madhorot-an niscaya akan terhindarkan, inilah visi daripada berfikir filosofi. Itulah sebabnya setelah mengharuskan manusia untuk meneliti suatu kebenaran Allah Swt. berfirman  “…agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Inilah substansi dari berfikir filosofis dan esensi yang patut dipahami dari memaksimalkan kemampuan berfikir. Sebagaimana kata lain dari filsafat itu sendiri yang merupakan hakikat atau hikmah (FR, 2024: 30). Jadi dapat ditegaskan bahwa mempelajari filsafat tidak akan membawa manusia kepada kesasatan justru untuk menghindari kesesatan (fallacy) dan kesalahpahaman tersebut. Wallahu a’lam

Referensi

Ar-Razi, Fakhruddin. 2012. Tafsir Al-Kabir: Mafatihul Ghaib. Dar El-Hadist.

As-Suyuthi, Imam. 2014. “Asbabun Nuzul -Imam Suyuthi.” Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

FR, Imaduddin. 2024. Filsafat Bagi Pemula. 1st ed. Yogyakarta: PT.Anak Hebat Nusantara.

Fullerton, George Stuart. 2023. Filsafat Sebuah Pengantar. 1st ed. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia.

Gibson, Peter. 2022. Segala Sesuatu Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Filsafat. 3rd ed. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Katsir, Imaduddin Ibnu. 1998. Tafsir Al-Qur’an Al-’Adzim: Ibnu Katsir. 1st ed. Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah.

Russel, Bertrand. 2023. Sejarah Filsafat Barat. 8th ed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *