Sains modern semakin sering dijadikan instrumen untuk membuktikan kebenaran Al-Qur’an dalam diskursus tafsir kontemporer. Praktik ini, yang dikenal sebagai i’jaz ilmi, seringkali muncul dalam penafsiran ayat-ayat tentang penciptaan manusia. Salah satu ayat yang paling sering dijadikan bukti adalah Surah Al-Mu’minun ayat 14 tentang tahapan penciptaan manusia dari ‘alaqah. Namun, di balik klaim ini tersimpan jebakan epistemologis yang serius. Pendekatan tersebut justru menyandarkan kebenaran Al-Qur’an pada otoritas sains yang menurut definisinya selalu berubah.
Pendekatan ini dikenal dengan istilah konkordisme. Konkordisme dapat dipahami sebagai metode penafsiran yang berusaha menyelaraskan pernyataan kitab suci dengan temuan ilmu pengetahuan modern. Praktik tersebut menyandarkan kebenaran yang absolut kepada kebenaran yang dinamis. (Fahrezi, 2025: 45). Akibatnya, otoritas wahyu menjadi tergantung pada penemuan ilmiah yang sewaktu-waktu dapat direvisi. Tulisan ini akan menelusuri jejak konkordisme melalui satu kata kunci, yaitu ‘alaqah. Penelusuran tersebut akan menunjukkan bagaimana konkordisme merasuk secara bertahap, mulai dari ranah popularizer, jurnal akademis, hingga lembaga negara.
Penelusuran dimulai dari tafsir klasik. Kamus Lisan al-‘Arab mendefinisikan kata ‘alaqah sebagai al-dam al-jamid, yaitu darah yang membeku dan menggumpal. (Ibn Manẓūr, 1994: 261) At-Thabari menafsirkan ayat tersebut secara serupa, yakni al-qit’ah min al-dam atau potongan darah. (Al-Thabari, 1999: 16) Pemahaman ini sebenarnya tidak lahir dalam ruang hampa. Tahapan embrio dalam Al-Qur’an menyatu dengan paradigma embriologi Galen yang dominan di dunia Arab pra-Islam.(Musallam, 1983: 54) Dengan demikian, mufasir klasik membaca ‘alaqah dengan kacamata sains zamannya, yaitu paradigma Galenik yang menekankan peran darah haid sebagai material janin.
Persoalan muncul ketika paradigma sains berubah. Embriologi modern menemukan bahwa pada tahap awal perkembangan embrio, yaitu fase blastula dan implantasi, sama sekali belum terbentuk unsur darah. (Rahmawati, 2025: 67-68) Embrio pada fase tersebut menempel pada dinding rahim dan menyerap nutrisi dari endometrium, bukan berbentuk gumpalan darah. Temuan ini menempatkan tafsir klasik dalam posisi yang sulit. Definisi ‘alaqah sebagai al-dam al-jamid yang selama berabad-abad diterima sebagai otoritatif, kini tidak lagi sejalan dengan fakta saintifik. Lalu bagaimana para penafsir kontemporer merespons anomali ini?
Dalam buku Manusia dan Alam Semesta, Harun Yahya menyatakan bahwa kata ‘alaqah sebenarnya menggambarkan lintah yang menempel pada kulit untuk mengisap darah.(Yahya, 2007: 10) Penafsiran ini menjadikan embrio dan lintah sebagai dua hal yang sebangun, sebab keduanya sama-sama menempel dan menyerap nutrisi dari inangnya. Dalam karya lain, Harun Yahya juga mengklaim bahwa Al-Qur’an telah memprediksi sejumlah fakta embriologi modern, mulai dari penciptaan manusia hanya dari sebagian kecil mani hingga perkembangan embrio di tiga daerah gelap di dalam rahim. (Yahya, 2004: 58-64) Harun Yahya menyandingkan foto embrio dengan foto lintah sebagai bukti visual atas klaim-klaim tersebut. Stefano Bigliardi menyebut metode ini sebagai theoscientography, yaitu strategi mengemas pesan agama dengan jubah saintifik melalui representasi visual yang dramatis. (Bigliardi, 2014: 72) Yang ditampilkan bukanlah tafsir, melainkan saintifikasi wahyu yang berfungsi sebagai propaganda.
konkordisme tidak berhenti pada level popularizer. Praktik ini menemukan figur yang berpengaruh dalam diri Maurice Bucaille, dokter bedah asal Prancis. Ia menyatakan bahwa terjemahan “segumpal darah” untuk kata ‘alaqah diambil oleh para mufassir terdahulu dari turunan kata. Hal ini disebabkan karena sains pada waktu itu belum memadai sehingga mereka tidak menyadari makna yang dipilih sudah sesuai atau tidak. (Bucaille, 1990: 219) (Rahmawati, 2025: 70) Argumen tersebut menjadi fondasi gerakan yang kemudian dikenal sebagai Bucailleisme, yaitu upaya membuktikan kebenaran wahyu melalui validasi saintifik. konkordisme yang sama kini tampil dengan jubah yang lebih elegan, tetapi logika dasarnya tidak berubah.
Di sinilah letak masalahnya. Sains menurut definisinya bersifat dinamis dan terus berkembang. Setiap teori dapat direvisi seiring penemuan baru, dan inilah justru tanda kesehatan sains itu sendiri. Jika hari ini “segumpal darah” dianggap keliru karena tidak sesuai dengan fase blastula, di masa depan “sesuatu yang melekat” pun bisa dianggap kurang presisi ketika ditemukan deskripsi yang lebih akurat. Setiap kali sains berubah, apakah terjemahan Al-Qur’an juga harus ikut berubah? Pertanyaan ini menunjukkan posisi yang sebenarnya tidak masuk akal. Konkordisme menempatkan sains sebagai hakim dan wahyu sebagai terdakwa yang harus terus membuktikan kebenarannya. Padahal, kebenaran yang absolut tidak dapat disandarkan pada kebenaran yang dinamis. (Fahrezi, 2025)
Fenomena ini perlu didiagnosis pada dua tingkatan. Pada tingkat epistemologis, Bigliardi menyebut praktik konkordisme sebagai theoscientography, yaitu sebuah genre tulisan yang mengemas pesan agama dengan jubah saintifik. (Bigliardi, 2014: 72) Bentuk ini bukan teologi yang sejati dan bukan pula sains yang sejati. Ia hanya tampil seperti sains untuk memperkuat klaim teologis. Akibatnya, batas antara sains dan teologi menjadi kabur, sehingga keduanya kehilangan otonominya sebagai bidang pengetahuan yang berdiri sendiri. Bigliardi bahkan memposisikan Harun Yahya bukan sekadar sebagai apologet, melainkan sebagai produsen utama theoscientography dalam balutan Islam. (Bigliardi, 2014: 75) Pada tingkat sosiologis, Karl Mannheim memberi penjelasan yang lebih dalam melalui konsep Seinsverbundenheit, yaitu keterikatan pengetahuan pada eksistensi sosial penggagasnya.(Mannheim, 1991: 290) Konsep ini menegaskan bahwa setiap bentuk pengetahuan, termasuk tafsir, lahir dari kondisi sosial tertentu. Konkordisme tidak muncul di ruang hampa. Ia lahir dari posisi umat Muslim pasca-kolonial yang merasa unggul secara teologis, tetapi tertinggal secara teknologis. Kesenjangan ini melahirkan luka kolektif yang membutuhkan pemulihan. Konkordisme berfungsi sebagai pelipur lara yang memulihkan harga diri umat melalui klaim bahwa Al-Qur’an mendahului sains modern selama empat belas abad.
Sikap defensif ini justru kontras dengan keterbukaan ulama klasik. Ibnu Qayyim al-Jauziyah, seorang ulama dari mazhab Hanbali yang ortodoks, sama sekali tidak panik ketika berhadapan dengan sains Galen dan Hippocrates yang berasal dari tradisi pagan Yunani. Ia bahkan menggunakan tulisan Hippocrates untuk menjelaskan Al-Qur’an, dan menggunakan Al-Qur’an untuk menjelaskan Hippocrates, dalam satu wacana yang berkelanjutan. (Musallam, 1983: 55) Bagi Ibnu Qayyim, wahyu menyampaikan tahapan penciptaan manusia secara umum, sementara sains mengisi rinciannya. Sains dan wahyu menjadi continuum yang saling melengkapi, bukan kompetisi antara hakim dan terdakwa. Tidak ada klaim bahwa Al-Qur’an mendahului Galen, sebab kesejajaran itu justru disambut sebagai konfirmasi bersama atas satu kebenaran.
Praktik konkordisme menelan tiga korban sekaligus. Pertama, wahyu mengalami reduksi makna dari kitab petunjuk moral menjadi ensiklopedia fakta alam yang harus direvisi setiap kali sains berubah. Kedua, etos riset umat mengalami stagnasi, sebab keyakinan bahwa semua temuan ilmiah sudah termaktub dalam Al-Qur’an menghapus urgensi kerja keras di laboratorium. Bigliardi bahkan mendiagnosis dampak yang lebih dalam, yaitu theoscientography hidup sebagai parasit yang mengeksploitasi prestise sains namun mengosongkan metodenya, sehingga merusak budaya pendidikan sains umat. (Bigliardi, 2014: 75) Ketiga, Al-Qur’an menghadapi risiko teologis yang serius, yaitu kemungkinan dianggap salah ketika sains kelak merevisi teori yang sebelumnya dijadikan bukti kemukjizatannya. Tiga korban ini bukan kerugian abstrak. Ia mengikis fondasi epistemologis dan etos intelektual umat Muslim kontemporer.
Solusi atas penyakit konkordisme bukanlah tafsir yang lebih akurat secara saintifik, melainkan tafsir yang berhenti mengejar akurasi sains. Al-Qur’an perlu dikembalikan pada fungsinya sebagai kompas moral yang menginspirasi etos penyelidikan, bukan ensiklopedia yang harus direvisi setiap kali jurnal sains terbit. Model Ibnu Qayyim menawarkan jalan keluar yang elegan, yaitu sains dan wahyu sebagai continuum yang saling melengkapi tanpa salah satu menjadi hakim atas yang lain. Pada masa kontemporer, Nidhal Guessoum merumuskan ulang gagasan ini melalui prinsip penafsiran berlapis. Menurutnya, Al-Qur’an memiliki tingkatan makna yang beragam, sehingga tugas penafsir bukanlah mencocokkan ayat dengan teori sains tertentu, melainkan menunjukkan bahwa pembacaan yang cerdas terhadap ayat tetap konsisten dengan kerangka pengetahuan yang berkembang. (Makiah, 2021: 78) Umat Muslim perlu berhenti menjadi konsumen pasif narasi mukjizat saintifik dan mulai bertransformasi menjadi produsen pengetahuan yang otentik. Hanya dengan cara itu, kebenaran Al-Qur’an dapat berdiri tegak tanpa bergantung pada otoritas sains yang selalu berubah.
Referensi
Al-Thabari. (1999). Jami’ al-Bayan Fi Ta’wil al-Qur’an. Dar al-Kutub al-Ilmiyah.
Bigliardi, S. (2014). Who’s Afraid Of Theoscientography? An Interpretative Hypothesis On Harun Yahya. 49(1), 66–80.
Bucaille, M. (1990). Asal-usul Manusia menurut Bibel, al-Qur’an, dan Sains (R. Astuti (trans.)). Mizan.
Fahrezi. (2025). Pilih Agama atau Sains? Fahrezi Institute.
Ibn Manẓūr, A. al-F. J. al-D. M. ibn M. (1994). Lisān al-‘Arab. Dār Ṣādir.
Makiah, Z. (2021). Rekonsiliasi Islam Dan Sains Dalam Perspektif Nidhal Guessoum. Khazanah: Jurnal Studi Islam Dan Humaniora, 19(1), 61–82. https://doi.org/10.18592/khazanah.v19i1.4150
Mannheim, K. (1991). Ideologi Dan Utopia: Menyingkap Kaitan Pikiran Dan Politik (F. B. Hardiman (trans.)). Kanisius.
Musallam, B. F. (1983). Sex and Society in Islam: Birth Control Before the Nineteenth Century. Cambridge University Press.
Rahmawati, K. (2025). The Influence of Embryological Studies on the Semantic Shifts of the Word “Alaqah” in the Indonesian Ministry of Religious Affairs’ Translation of the Qur’an: A Gadamerian Hermeneutic Analysis. Tafasir: Journal of Qur’anic Studies, 3(2), 58–79. https://doi.org/https://doi.org/10.62376/tafasir.v3i2.89
Yahya, H. (2004). Pesona Keajaiban Alam Semesta (R. Marzuki (trans.)). Globalmedia Cipta Publishing.
Yahya, H. (2007). Manusia dan Alam Semesta (F. Syahrani & H. Berry (eds.); C. Sriherwanto & others (trans.); 10th ed.). Syaamil Cipta Media.





