Buku Kumpulan Khutbah Jumat yang Tidak Biasa
Di tengah kegalauan perlu menulis apa tentang Nasaruddin Umar (selanjutnya disebut Imam Besar), mata saya terbentur pada salah satu karyanya yang berjudul Khutbah-khutbah Imam Besar. Barangkali tidak jarang yang bertanya: Apa pentingnya buku kumpulan khutbah—terutama—bagi seorang pemikir besar? Tapi, buku ini perlu. Ada banyak alasan yang layak diajukan dan berikut adalah salah satunya.
Buku jenis ini tidak jarang ditemukan di mimbar masjid sebagai bentuk jaga-jaga jika khatib mendadak absen. Konsekuensinya, buku jenis ini harus ringan, bisa dipahami dengan sekali lirik. Karena itu, jika ingin buku ini laris, barangkali penulis buku jenis ini lebih berat mempertimbangkan siapa yang akan membaca dan siapa yang mendengarkan khutbah dibanding pertimbangan bagaimana penulis menumpahkan pemikirannya guna mencerahkan pembaca.
Apakah buku Khutbah-khutbah Imam Besar berjenis seperti yang diceritakan di atas? Sepertinya tidak. Imam Besar tidak sedang bernegosiasi dengan pembacanya. Imam Besar sesederhana sedang ingin menjelaskan bagaimana dia memahami Islam dan bagaimana Islam seharusnya dipahami. Sebuah proyek yang cukup ambisius. Karenanya, buku ini bukan buku kumpulan khutbah biasa. Tidak ada niat di dalamnya untuk menjadi buku populer yang sekadar untuk jaga-jaga kala khatib mendadak absen. Ini buku bukan jenis sekali lirik. Karenanya, sulit berhadap menemukan buku ini di mimbar-mimbar masjid.
Menurut Ahmad Gaus AF, editornya, ada satu kata yang bisa mewakili keseluruhan isi buku yaitu Islam rahmatan lil alamin. Penulis buku sendiri menulis buku ini dengan niat menjadikan masjid sebagai center of spiritual excellent. Mustahil membantah editor dan penulis tentang karya mereka sendiri, bukan? Tetapi barangkali masih terbuka kemungkinan memberikan catatan.
Nasaruddin Umar dan Agama
Kehidupan Imam Besar tidak lepas dari agama (Islam). Di tengah kariernya sebagai cendekiawan, sematan sebagai penceramah agama tidak bisa lepas dari sosoknya dan sepertinya dia cukup menikmati hal itu. Jadwal ceramahnya bersaing ketat dengan jadwal shalat lima waktu, setiap hari.
Puncak hubungan Imam Besar dengan agama adalah saat menjabat sebagai Menteri Agama (2024) setelah berbagai jabatan yang berkaitan dengan agama telah diembannya, seperti Direktur Jenderal Bimas Islam, Wakil Menteri Agama, Imam Besar, dan Rektor Universitas PTIQ Jakarta. Satu kata yang mewakili semua itu adalah “agama”.
Terlepas dari beberapa pandangannya tentang agama yang menjadi kontroversi seperti reposisi zakat, pembaruan hukum Islam pasca-Perang Salib, hingga ciumannya di kening Paus Fransiskus, Imam Besar sedang hidup di era ketika agama sedang berharga-berharganya. Jadi, kontroversi yang hadir bukan dalam kerangka penentangan terhadap agama, tetapi lebih kepada pemahaman agama berbeda sedang saling berebut posisi sentral dalam wacana.
Posisi tawar agama yang begitu berharga adalah fenomena akhir abad ke-20 setelah sebelumnya terus-menerus dipojokkan oleh modernitas (sekularisasi) yang disebut the return of religion (Jayne Svenungsson, 2020). Menurut Svenungsson, kebangkitan agama bukan karena kegagalan sekularisasi, tetapi lebih karena perubahan sosiopolitik dan demografis yang membuat agama menjadi tampak kembali dengan cara baru. Sebuah pandangan yang sangat Barat sentris.
Imam Besar selalu menjadikan bahasa agama (Islam) dalam upayanya merespons keindonesiaan dan kemodernan, baik dalam caramah maupun di dalam karya-karya tulisnya. Jika harus memilih salah satu karya sebagai objek material kajian dalam hal ini, maka Khutbah-khutbah Imam Besar adalah yang paling representatif. Isinya mencakup banyak tema sehingga layak menjadi etalase pemikiran seorang Imam Besar.
Lalu, mengapa postmadilog? Fenomena the return of religion memang memberikan panggung bagi orang-orang yang menjadikan agama sebagai pijakan dalam berpandangan, sebagaimana sang Imam Besar, tetapi the return of religion cukup bernuansa Barat. Terbukti, salah satu yang diduga penyebab the return of religion adalah wacana di Barat mementingkan agama akibat migrasi Muslim ke Barat semakin masif. Jadi, agama menjadi penting karena Barat sekonyong-konyong menganggapnya penting. Betapa Barat masih melanjutkan sikap sok tahunya yang sudah dimulai sejak era orientalisme dahulu.
Adapun postmadilog yang digaungkan oleh Ashad Kusuma Djaya adalah khas Indonesia dan hadir sebagai catatan terhadap pemikiran Tan Malaka yang juga adalah orang Indonesia. Imam Besar juga adalah orang Indonesia. Barangkali lewat postmadilog lahir sebuah catatan terhadap pemikiran Imam Besar. Bagi postmadilog, agama bukan fenomena sekonyong-konyong, khususnya di Indonesia.
Menguji Nasaruddin Umar Lewat Agama Post-Madilog
Madilog adalah singkatan dari materialisme, dialektika, dan logika. Menurut Tan Malaka, inilah cara agar Indonesia menuju kemajuan peradaban. Indonesia tidak akan maju jika masih berada dalam logika mistika, yaitu pola pikir yang menerima klaim tanpa bukti dan menggantungkan diri kepada kekuatan tersembunyi yang melumpuhkan kemandirian berfikir (Tan Malaka, 2014).
Postmadilog adalah kritik Ashad Kusuma Djaya terhadap madilog. Jika madilog tidak memberi ruang bagi agama dan spiritualitas, postmadilog memberinya cukup luas. Barangkali salah satu pertimbangannya adalah bahwa tidak mungkin melepaskan agama dari manusia Indonesia. Konsekuensinya, agama tetap harus disertakan tetapi perlu mengalami pemosisian yang pas agar tujuan berperadaban tetap tercapai.
Bagi postmadilog, manusia Indonesia bisa tetap berperadaban tanpa harus kehilangan identitas agamanya. Bahkan agama bisa menjadi basis etika dan nilai karena agama pun bisa mendorong kritisisme berfikir, melawan fatalisme, hingga bisa membawa kepada pemahaman yang untuh tentang alam semesta sebagai sebuah sistem (Ashad Kusuma Djaya, 2017)
Baik madilog maupun postmadilog adalah sebuah proyek peradaban. Keduanya berbeda karena keduanya lahir dari dua zaman yang berbeda dengan keresahan yang tidak sama. Jika dibandingkan, maka dengan mudah dikatakan bahwa Imam Besar lebih sejalan dengan postmadilog daripada madilog, tetapi ada satu hal penting yang—barangkali—tidak ada pada pada Imam Besar, yaitu proyek peradaban. Prestasi besar proyek Islam rahmatan lil alamin adalah membangun relevansi Islam dengan zaman, tetapi itu belum sampai kepada usulan tentang bagaimana peradaban Indonesia masa depan.
Seorang yang cukup konkret menawarkan proyek peradaban Indonesia adalah Nurcholish Madjid (Cak Nur) dengan upayanya mengintegrasikan antara keislaman (keimanan), kemanusiaan (keindonesiaan), dan kemodernan. Cak Nur memimpikan Muslim yang taat, mengindonesia, sekaligus modern dan rasional (Nurcholish Madjid, 2019).
Lalu, apa yang dibayangkan Imam Besar tentang Islam dan atau Indonesia serta relasi antara keduanya? Tawaran tentang sebuah peradaban paling tidak memuat semacam nilai yang hendak dijadikan basis peradaban. Misalnya, Cak Nur mengusulkan Keislaman yang inklusif sebagai respons terhadap kemodernan. Di dalam Khutbah-khutbah Imam Besar disebutkan tentang Islam sebagai “agama tengah” yang berkaca kepada dua “wajah” Ilahi, maskulin dan feminin, namun tidak disebutkan secara eksplisit bahwa itu adalah semacam nilai karena memang tidak disebutkan dalam kerangka nilai sebagai lawan atau antitesis terhadap nilai tertentu, seperti individualisme dan rasionalitas sebagai nilai peradaban Barat (Nasaruddin Umar, 2018: 155-158). Berbeda dengan Ashad Kusuma Djaya yang menawarkan spiritualitas sebagai antitesis terhadap absennya spiritualitas di dalam madilog.
Selain basis nilai, tawaran tentang sebuah peradaban juga memerlukan narasi identitas dalam sejarah masa lalu. Cak Nur sering menyebutkan tentang masyarakat madani yang dicermatinya dari kenyataan masyarakat Madinah di bawah arahan Nabi Muhammad saw. sebagai narasi identitas. Masa lalu tersebut dijadikan akar untuk membangun masa depan. Beberapa kali pada beberapa kesempatan Imam Besar menyebutkan tentang kearifan lokal Nusantara yang sering dianggap khurafat padahal baginya itu adalah sebentuk relasi harmonis ideal antara manusia dengan alam. Tidak jarang pula Imam Besar menyebutkan tentang para ilmuwan masa lalu seperti Ibn Rusyd dan beberapa yang lain sebagai polimat yang melahirkan pemikirannya tidak di dalam laboratorium tetapi di atas sajadah dalam arti tasawwuf. Apakah itu akar masa lalu yang dijadikannya kisah klasik untuk masa depan peradaban Indonesia menurut Imam Besar? Sesungguhnya itu menarik tetapi tidak ada ketegasan dari Imam Besar tentang itu sebagai narasi identitas.
Mungkin saja yang dimaksud basis nilai peradaban yang dimaksud oleh Imam Besar adalah “agama tengah” dan narasi identitas yang dimaksudnya adalah kearifan lokal Nusantara, tetapi tidak terkesan demikian. Semua itu lebih terkesan sebagai respons reaktif terhadap beberap problem kontemporer Islam Indonesia dan dunia, seperti krisis iklim dan radikalisme.
Agar terlahir sebuah gagasan proyek peradaban, perlu bagi Imam Besar untuk menentukan sedang berhadapan dengan apa. Apakah modernitas atau postmodernitas? Apakah sekularisme atau puritanisme? Apakah relevansi agama atau irrelevansi materialisme? Atau semuanya sekaligus?
Bahan Bacaan
Djaya, Ashad Kusuma, Tan Malaka & Tuhan: Menuju Gagasan Post-Madilog, (Bantul: Kreasi Wacana, 2017)
Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan, (Jakarta: Gramedia, 2019)
Malaka, Tan, Madilog Tan Malaka: Materialisme Dialektika & Logika, (Yogyakarta: Narasi, 2014)
Svenungsson, Jayne, “The Return of Religion or the End of Religion? On the Need to Rethink Religion as a Category of Social and Political Life, dalam Sage Journals: Philosophy & Social Criticism, Vol. 46 Issue 7, https://doi.org/10.1177/0191453719896384
Umar, Nasaruddin, Khutbah-khutbah Imam Besar, (Tangerang Selatan: Pustaka IIMaN, 2018)





