Pergeseran Makna Kata “Sayyârah” dalam Penerjemahan Al-Quran: Melacak Jejak Digital dan Kognitif Antara Logika Mesin dan Manusia

Di era digital, penerjemahan Al-Quran memperlihatkan dialektika menakjubkan antara logika algoritma mesin dan ketajaman kognitif manusia dalam menghadapi evolusi bahasa. Salah satu tantangan paling membingungkan adalah pelacakan kata sayyârah dalam Surah Yusuf di mana manusia modern hari ini langsung mengartikannya sebagai “mobil”. Melalui analisis dialektika leksikografi, artikel ini akan membongkar bagaimana ChatGPT dan Kemenag berkolaborasi sekaligus bertarung melawan jebakan zaman. Keduanya dipaksa mengoperasikan sebuah rahasia mental bernama “abstraksi” demi menyelamatkan teks suci dari salah kaprah sejarah yang bisa mengubah total jalan cerita kitab suci.

Pergeseran Zaman dan Evolusi Bahasa

Bacaan Lainnya

Dunia penerjemahan telah lama berevolusi dari sekadar aktivitas mekanis mengalihkan deretan kata dari satu bahasa ke bahasa lain menjadi ruang perjumpaan kultural yang sangat intens. Di era digital saat ini, aktivitas alih bahasa tidak lagi dipandang sebelah mata karena ia tegak berdiri sebagai jembatan epistemologis yang mempertemukan berbagai peradaban (Krüger & S., 2015). Kebutuhan akan penerjemahan yang akurat kini melonjak tajam, baik di sektor profesional yang menuntut presisi tinggi (Janitra, 2022; Rifhi, 2024), maupun dalam ranah kajian keagamaan yang menyangkut teks-teks suci. Namun, penerjemahan bahasa Arab di era modern menghadapi tantangan besar ketika harus berhadapan dengan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (Hifni dkk., 2025).

Bahasa bukanlah entitas mati yang beku di dalam kamus, melainkan organisme hidup yang terus bergerak dan beradaptasi seiring dengan dinamika sosial masyarakat penggunanya (Pohan & S., 2021). Di sinilah letak titik krusial yang sering kali memicu kecemasan akademik: ketika sebuah kata kuno diadopsi oleh zaman modern untuk melabeli sebuah realitas teknologi baru, makna historisnya rentan mengalami pengikisan. Dalam studi tekstual, fenomena ini dikenal sebagai ancaman anakronisme—sebuah kesalahan fatal di mana sebuah teks masa lalu dipahami secara keliru menggunakan kacamata dan realitas sosiokultural masa kini.

Ketegangan semantis ini menjadi semakin menarik untuk dibedah ketika kita menghadapkannya pada teks suci Al-Quran. Sebagai kitab samawi yang menggunakan bahasa Arab, Al-Quran memiliki struktur kebahasaan yang sangat kaya dan sarat nuansa (Al-Ghifari & A., 2023). Salah satu contoh kasus yang paling ekstrem adalah perubahan radikal pada redaksi kata sayyârah. Bagi telinga masyarakat modern hari ini, mendengar kata sayyârah secara otomatis akan memunculkan representasi visual berupa kendaraan roda empat alias mobil. Namun, bagaimana jadinya jika kata ini ditemukan di dalam ayat Al-Quran yang mengisahkan peristiwa ribuan tahun lalu? Di sinilah proses penerjemahan diuji melampaui sekadar transfer harfiah.

Menimbang Konsep Terjemah dan Operasi Mental Abstraksi

Untuk memahami bagaimana sebuah makna dapat dipertahankan melampaui batas waktu berabad-abad, kita perlu menyelami terlebih dahulu hakikat dari aktivitas penerjemahan itu sendiri. Penerjemahan pada dasarnya adalah hakikat pengalihan pesan yang melibatkan interpretasi, dekonstruksi, dan rekonstruksi ide dari bahasa sumber ke bahasa sasaran (Saputro, 2021). Proses ini menuntut penguasaan komparatif yang matang, tidak hanya pada aspek gramatikal melainkan juga pada aspek metode dan potensi tantangan pemaknaan (Febriani dkk., 2024). Agar kesetaraan dinamis dapat dicapai tanpa menimbulkan distorsi sejarah, seorang penerjemah wajib menjalankan strategi dalam mempertahankan makna asli teks (Aini, 2025).

Dalam lanskap penerjemahan modern, salah satu pendekatan yang paling relevan untuk menjaga keutuhan pesan teks adalah mencapai kesetaraan makna yang sepadan (Baker, 1992; Rosa, 2025). Agar kesetaraan ini tidak terjebak pada bias modern, penerjemah harus mengoperasikan kemampuan “abstraksi”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, abstraksi didefinisikan sebagai proses pemisahan atau penyaringan mental (KBBI, n.d.). Abstraksi bekerja sebagai filter mental yang bertugas menggugurkan semua atribut luar dari sebuah objek yang tidak relevan dengan konteks aslinya (Tysara, 2022). Aktivitas ini mirip dengan prinsip penataan logika dalam bidang pemrograman, di mana sistem fokus pada esensi internal dan menyembunyikan detail fisik yang tidak diperlukan (Revoupedia, n.d.).

Penerjemah tidak boleh terpaku pada wujud fisik kata yang tertangkap oleh indera leksikal modern. Melalui lompatan dari tingkat pengamatan fisik menuju penataan struktur logika makna, kemurnian sebuah pesan sejarah dapat diselamatkan dari jebakan perubahan zaman. Dalam psikologi kognitif, kemampuan abstraksi siswa atau subjek penerjemah sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka mengenali dan mengonstruksi pengetahuan berdasarkan model berpikir tertentu (Hadistian, 2023). Dengan demikian, abstraksi bertindak sebagai benteng utama yang mencegah penerjemah memasukkan realitas modern ke dalam teks masa lampau.

Ayat Penyelamatan Yusuf: Sebuah Panggung Uji Komparatif

Mari kita letakkan kerangka konseptual abstraksi di atas ke dalam panggung kasus nyata: teks Al-Quran Surah Yusuf ayat 10 dan ayat 19. Dua ayat ini memuat kata sayyârah sebagai aktor penggerak dalam plot cerita penyelamatan Nabi Yusuf yang dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya (Hakim, 2017).

Pada ayat ke-10, Al-Quran merekam dialog salah seorang saudara Yusuf yang menyarankan agar Yusuf tidak dibunuh, melainkan dibuang saja ke dasar sumur agar dipungut oleh sebagian sayyârah. Ketika ayat ini diterjemahkan oleh Kemenag (edisi 2022), redaksinya memilih diksi “musafir”. Di sisi lain, ketika ChatGPT diberikan instruksi untuk menerjemahkan ayat tersebut secara mandiri, mesin ini menghasilkan redaksi kalimat yang memilih istilah “kafilah yang melintas”.

Selanjutnya, pada ayat ke-19, peristiwa kedatangan aktor penyelamat itu benar-benar terjadi ketika sebuah rombongan datang dan mengirim petugas pengambil air mereka. Pada ayat ini, baik versi Kemenag maupun ChatGPT menunjukkan keseragaman yang penuh, di mana keduanya kompak menerjemahkan kata sayyârah sebagai sekelompok “musafir”.

Jika kita mengamati kedua versi produk terjemahan di atas, tampak sebuah keseragaman visi yang sangat konsisten antara kecerdasan buatan berbasis algoritma dan otoritas manusia. Keduanya sama-sama menolak untuk menggunakan kata “mobil” dalam menerjemahkan kata sayyârah. Meskipun ChatGPT sering kali melakukan kesalahan morfologi dan sintaksis dalam beberapa kasus penerjemahan Arab-Indonesia (Saimin dkk., 2024a; Saimin dkk., 2024b), dalam kasus ini sistem algoritmanya berhasil menampilkan akurasi yang tinggi karena mampu menyesuaikan diri dengan konteks narasi sejarah.

Dialektika Leksikografi: Dari Kafilah, Planet, Hingga Kendaraan Bermotor

Penelusuran historis-linguistik menyingkap sebuah fenomena luar biasa mengenai bagaimana kata sayyârah mengalami pergeseran makna denotasi dan konotasi yang dinamis lintas bidang kehidupan manusia (Antika dkk., 2020; Syah, 2021; Tudjuka, 2019). Jika kita membuka kitab leksikon klasik yang sangat monumental seperti Lisân al-‘Arab karya Ibnu Manzhûr, kita akan menemukan bahwa makna asli dari kata sayyârah merujuk pada al-qâfilah, yaitu sekumpulan orang yang sedang berkumpul dan bergerak melakukan perjalanan jauh melintasi padang pasir (Ibnu Manzhûr, 2003).

Kata ini kemudian memperluas wilayah pemaknaannya ke ranah sains-astronomi kuno. Sebagaimana yang terdokumentasikan dalam Kamus Al-Munjid karya Louis Ma’lûf, kata sayyârât digunakan oleh para ilmuwan klasik untuk melabeli planet-planet yang bergerak secara konsisten mengelilingi matahari (Louis Ma’lûf, 1986). Planet-planet tersebut disebut sebagai sayyârah karena mereka tertangkap oleh pengamatan astronomi sebagai benda langit yang terus “berjalan” menyusuri garis edar orbitnya.

Seiring berjalannya roda waktu menuju era modernitas, kata sayyârah mengalami metamorfosis radikal yang dicatat dalam kamus kontemporer seperti Tâj al-‘Arûs (Murtadhâ al-Zabîdî, 1969) serta dokumentasi resmi Almajma‘ah Al-Lugah Al-Arabiyah bil Qahirah. Dalam konteks modern ini, kata tersebut diadopsi secara resmi untuk menamai kendaraan mekanis berkecepatan tinggi yang digerakkan oleh mesin dan bensin (mobil). Kamus daring kontemporer mutakhir pun mencatat kata ini didominasi oleh arti mobil dalam penggunaan sehari-hari (Kamus Online Almaaniy, 2024).

Meskipun terjadi pergeseran objek fisik yang sangat kontras—dari manusia-unta (sosiologis), benda langit (astronomis), hingga mesin (teknologis)—akar kata sâra-yasîru mempertahankan satu esensi dasar (the core essence) yang bermakna “sesuatu yang bergerak secara berkelanjutan atau berpindah titik” (Arifianti & Wakhidah, 2020). Sifat bergerak terus-menerus inilah yang melandasi mengapa kata lama dipinjam untuk melabeli realitas baru. Konfrontasi makna ini diperkuat oleh konsistensi rujukan tafsir otoritatif dari berbagai era, yang secara tegas mengabstraksikan sayyârah dalam Surah Yusuf sebagai kelompok musafir, sehingga makna teks Al-Quran tetap stabil secara teologis di tengah dinamika bahasa manusia yang berubah.

Catatan Akhir

Artikel ini menyimpulkan bahwa kekhawatiran mengenai rusaknya kemurnian makna teks suci Al-Quran akibat teknologi digital tidaklah terbukti, sebab terjalin sebuah hubungan hibrida yang harmonis antara logika algoritma ChatGPT dan ketajaman kognitif Kemenag dalam menerjemahkan kata “sayyârah” pada Surah Yusuf. Melalui operasi mental bernama “abstraksi” yang berfungsi sebagai filter kognitif, baik mesin maupun manusia berhasil membuang bias anakronisme modern yang mengartikan kata tersebut sebagai “mobil”. Keduanya kompak mempertahankan kemurnian historis teks dengan menerjemahkannya sebagai “kafilah” atau “musafir”, karena berhasil menangkap esensi paling mendasar dari akar katanya, yaitu “sesuatu yang bergerak secara berkelanjutan” melampaui lintasan zaman.

 

Referensi

Adiba, Z. F. S., G. D., & A. F. (2025). Analisis Ketakterjemahan Takarir pada Soundtrack di Film “La Reine de Neige” (Frozen) Hasil Terjemahan Otomatis Youtube di Channel DISNEYFR. Onoma: Pendidikan, Bahasa, Dan Sastra, 11(1), 880–893.

Al-Ghifari, H. N. and L. M. A. (2023). Analisis Kesepadanan Makna Terjemahan Surah Al-Fatihah Qur’an Kemenag Menggunakan Tinjauan Metode Semantik. Diwan: Jurnal Bahasa Dan Sastra Arab, 15(1), 74–89.

Almajmaah Al-Lugah Al-Arabiyah bil Qahirah. (n.d.). Makna. Https://Www.Arabicacademy.Gov.Eg/Ar/Items.

Antika, T. R., Ningsih, N., & Sastika, I. (2020). Analisis Makna Denotasi, Konotasi, Mitos pada Lagu “Lathi” Karya Weird Genius. Asas: Jurnal Sastra, 9(2). https://doi.org/10.24114/ajs.v9i2.20582.

Arifianti, I. and K. Wakhidah. (2020). Semantik: Makna Referensial dan Makna Nonreferensial. CV. Pilar Nusantara.

Faraida Hadistian. (2023). Analisis Kemampuan Abstraksi Siswa pada Materi Program Linear Berdasarkan Model Rbc+C. Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Faridl Hakim. (2017). Pergeseran dan Perubahan Makna Kata السيارة dalam Al-Quran. AL QALAM, 34(2).

Febriani, R., Sya, M. F., & Mulyanti, E. (2024). Memahami Metode Terjemahan Tata Bahasa: Potensi dan Tantangan dalam Konteks Pendidikan Bahasa Modern. Karimah Tauhid, 3(5), 5721–5728.

Hifni, A., Klarisa, N., & Saniyyah, N. (2025). The Challenge of Translating Arabic in the Digital Age: Testing the Accuracy of Conventional Translation Versus Artificial Intelligence: Tantangan Penerjemahan Bahasa Arab di Era Digital: Menguji Akurasi Terjemahan Konvensional Versus Artificial Intelligence. Journal of Arabic Language and Literature (ALLAIS), 4(2), 165–186.

Ibnu Manzhûr. (2003). Lisân al-‘Arab: Jilid 3. Dâr Shâdir.

Kamus Online Almaaniy. (2024). المعاني. Retrieved from Almaany.Com: Https://Www.Almaany.Com/Id/Dict/Ar-Id/.

KBBI. (n.d.). Makna Abstraksi. Https://Kbbi.Web.Id/Abstraksi.

Khoiriyatunnisa, L., & Y. I. R. (2022). nalisis Metode Penerjemahan Pada Subtitle Film Animasi “Al-Farabi” Versi Arabic Cartoon. Berajah Journal, 2(4), 811–822.

Krüger, R., & P. J. S. (2015). Situated translation in the translation classroom. Current Trends in Translation Teaching and Learning, 2, 5–30.

Laudia Tysara. (2022, August 30). Arti Abstraksi adalah Pemisahan, Simak Penjelasannya. Https://Www.Liputan6.Com/Hot/Read/5055434/Arti-Abstraksi-Adalah-Pemisahan-Simak-Penjelasannya.

Louis Ma’lûf. (1986). al-Munjid fî al-Lughah. Dâr al-Masyriq.

  1. Rifhi. (2024). Gaji Penerjemah Tersumpah: Informasi Penting.

Mawardi Janitra. (2022). Ketahui Gaji Translator dan Daftar Skill yang Harus Dimiliki.

Mona Baker. (1992). In Other Words a coursebook in translation. Simultaneously published in the USA and Canada.

Murtadhâ al-Zabîdî (Muhibb al-Dîn Abû al-Faydh al-Sayyid Muhammad Murtadhâ). (1969). Tâj al-‘Arûs min Jawâhir al-Qâmûs (Vol. 6). Dâr al-Fikr.

Pohan, J. E. and E. S. (2021). Sintaksis Bahasa Indonesia Kajian Untuk Pemula. CV. Literasi Nusantara Abadi.

Revoupedia. (n.d.). Pengertian Abstraksi dalam Pemrograman. Https://Www.Revou.Co/Kosakata/Abstraksi-Ilmu-Komputer.

Rosa, A. M. (2025). Kesetaraan Makna Terjemahan Metafora dalam The Picture of Dorian Gray Karya Oscar Wilde Translation Equivalence of Metaphors in Oscar Wilde’s The Picture of Dorian Gray.

Sahdatul Aini, M. A. H. (2025). Semantik dalam Terjemahan: Tantangan dan Strategi Dalam Mempertahankan Makna Asli. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(2).

Saimin, A. A., Supriadi, R., & Al Farisi, M. Z. (2024a). Analisis Kesalahan Penerjemahan Teks Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Arab pada ChatGPT (Studi Analisis Morfologi dan Sintaksis). Jurnal Naskhi Jurnal Kajian Pendidikan Dan Bahasa Arab, 6(2), 1–12. https://doi.org/10.47435/naskhi.v6i1.2668.

Saputro, Y. E. (2021). Hakikat Penerjemahan. Al-Ihda’: Jurnal Pendidikan Dan Pemikiran, 633–636.

Syah, A. S. N. (2021). Analisis Makna Denotatif Dan Konotatif Dalam Lirik Lagu Insya Allah Karya Maher Zain. Textura, 2(1), 29–38.

Tudjuka, N. S. (2019). Makna Denotasi Dan Konotasi Padaungkapan Tradisional Dalam Kontekspernikahan Adat Suku Pamona. Jurnal Bahasa Dan Sastra, 4(1), 12–25.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *