Membaca Ulang Figur Isa Al-Masih Melalui Dua Kitab Suci: Catatan dari Buku Salih Akdemir “Kitab-ı Mukaddes ve Kur’an-ı Kerim’e Göre Hz. İsa”

Di antara sekian banyak figur yang pernah menghiasi sejarah peradaban manusia, barangkali tidak ada yang lebih diperebutkan penafsirannya daripada Yesus dari Nazaret atau dalam tradisi Islam, Isa Al-Masih. Seorang sarjana Turki, Salih Akdemir, mengabdikan penelitian doktoralnya untuk menelusuri sosok ini secara objektif dan berimbang melalui dua tradisi besar: Injil Kristen dan Al-Qur’an.

Hasilnya adalah sebuah karya akademik yang menantang praduga lama dari kedua sisi. Buku ini bukan sekadar perbandingan doktrin, melainkan sebuah penyelidikan serius: apakah Yesus yang kita kenal hari ini adalah Yesus yang sesungguhnya pernah hidup?

Bacaan Lainnya

Injil: Bukan Laporan Langsung, Melainkan Konstruksi Teologis

Salah satu temuan mendasar Akdemir adalah bahwa Injil teks suci yang menjadi fondasi iman Kristen tidak ditulis oleh Yesus sendiri, juga bukan laporan saksi mata langsung dari para muridnya. Injil-Injil Kanonik (Markus, Matius, Lukas, Yohanes) dikumpulkan dan disusun bertahun-tahun setelah kematian Yesus, untuk menjawab kebutuhan teologis gereja-gereja perdana, bukan sebagai biografi kronologis.

Injil Markus adalah yang pertama ditulis, diikuti Matius, Lukas, dan Yohanes. Namun keempatnya tidak menawarkan narasi yang konsisten detail kronologi, konteks, bahkan beberapa pernyataan kunci berbeda satu sama lain. Akdemir menekankan bahwa perbedaan ini bukan soal sepele: ia mencerminkan betapa konteks budaya, politik, dan agama Yahudi abad pertama ikut membentuk isi teks-teks tersebut (Akdemir, 1997, pp. 45–68).

Di samping Injil Kanonik, terdapat pula Injil-Injil Apokrif teks-teks yang tidak diakui gereja resmi. Proses seleksi ini sendiri, menurut Akdemir, adalah keputusan politis dan teologis, bukan semata-mata keputusan historis.

Paulus: Arsitek Agama Baru

Jika ada satu tokoh yang paling bertanggung jawab atas transformasi ajaran Yesus menjadi agama universal yang kita kenal sebagai Kristen, Akdemir menunjuk Paulus dari Tarsus. Paulus mengambil ajaran Yesus yang bersifat monoteistik dan ditujukan khusus kepada Bani Israel, lalu mengubahnya menjadi gerakan lintas batas etnis dan geografis (Akdemir, 1997, pp. 89–112).

Lebih jauh, konsep-konsep sentral dalam teologi Kristen dosa warisan (original sin) dan penebusan melalui salib sesungguhnya tidak ditemukan secara eksplisit dalam ajaran Yesus sendiri. Konsep-konsep ini diperkenalkan Paulus dan kemudian diserap dari tradisi misteri Romawi serta filsafat Yunani, khususnya konsep Logos dalam filsafat Stoa dan Platonis.

Konsili Nicea dan Kelahiran “Yesus Ilahi”

Dalam beberapa teks Injil, Yesus digambarkan sebagai manusia biasa yang mengemban misi keagamaan. Penuhanan Yesus gagasan bahwa ia adalah inkarnasi Tuhan adalah produk konsili gereja, paling signifikan melalui Konsili Nicea pada tahun 325 M (Akdemir, 1997, pp. 130–151).

Doktrin Trinitas Tuhan dalam tiga pribadi pun bukan berasal dari mulut Yesus. Akdemir menelusuri asal-usulnya pada pengaruh budaya Helenistik: inkarnasi (Tuhan menjadi manusia) merupakan elemen yang diserap dari filsafat Yunani, sementara konsep tritunggal sendiri tidak dikenal dalam tradisi Yahudi monoteistik yang menjadi akar ajaran Yesus.

“Yesus historis adalah nabi monoteistik yang mengajarkan kasih, keadilan, dan tauhid kepada Bani Israel. Yesus teologis adalah konstruksi gereja pascasalib yang dipengaruhi kebutuhan teologis dan politik zamannya.” (Akdemir, 1997, p. 178)

Yesus Historis vs. Yesus Teologis

Akdemir membuat pembedaan tajam yang menjadi jantung argumen buku ini bahwa ada Yesus historis dan ada Yesus teologis. Yang pertama adalah nabi yang mengajarkan tauhid dan keadilan kepada bangsanya. Yang kedua adalah figur ilahi yang dibangun oleh gereja untuk memenuhi kebutuhan spiritual dan politis dunia Romawi pasca salib (Akdemir, 1997, pp. 175–198).

Dari perspektif ini, Akdemir berpendapat bahwa Yesus historis justru lebih dekat dengan tradisi kenabian dalam Islam sebagai pembawa risalah monoteistik daripada dengan Kristus yang disembah dalam teologi gereja mainstream.

Catatan tentang Ahmadiyah: Konteks yang Terlupakan

Dalam konteks yang lebih luas, buku ini mengingatkan kita pada perdebatan sengit yang dipicu oleh gerakan Ahmadiyah pada awal abad ke-20. Komunitas ini menaruh perhatian luar biasa pada figur Yesus mulai dari soal ketuhanannya, kelahirannya, penyalibannya hingga kematiannya sehingga diskursus tentang Ahmadiyah hampir tak bisa dilepaskan dari diskursus tentang Yesus.

Dua titik paling kontroversial yaitu soal penyaliban Yesus dan kematiannya. Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah, memiliki pandangan yang sangat berbeda dari mainstream Muslim tentang kedua hal ini. Namun, penting dicatat bahwa pandangan-pandangan tersebut tidak muncul dalam ruang kosong. Ia lahir dari tekanan dakwah misionaris Kristen yang masif di India kolonial pada abad ke-19, yang memaksa komunitas Muslim untuk merespons narasi Kristen tentang Yesus secara serius dan sistematis.

Ada pula dimensi eskatologis bahwa keyakinan umum Muslim tentang Yesus sebagai penyelamat di Hari Akhir yang akan membunuh Dajjal. Ahmadiyah menolak narasi ini, yang kemudian menjadi salah satu sumbu utama konflik mereka dengan komunitas Muslim mainstream. Namun, demikian simpul peninjauan ini, tidak fair menilai Ahmadiyah semata-mata dari pandangan mereka tentang Yesus tanpa memahami konteks historis yang melahirkan pandangan tersebut.

Pada akhirnya,di era ketika dialog antaragama sering kali berhenti pada permukaan saling mengklaim kebenaran tanpa benar-benar membaca sumber primer satu sama lain karya Akdemir menawarkan sesuatu yang berbeda yaitu keberanian untuk menghadapi teks-teks suci secara kritis, jujur, dan tanpa agenda polemis.

Buku ini bukan klaim bahwa Islam lebih benar dari Kristen, atau sebaliknya. Ia adalah undangan untuk bertanya siapakah Yesus yang sesungguhnya? dan apakah kita selama ini mewarisi Yesus yang historis, ataukah Yesus yang dikonstruksi oleh sejarah, kekuasaan, dan teologi?.

Referensi

Akdemir, S. (1997). Kitab-ı Mukaddes ve Kur’an-ı Kerim’e Göre Hz. İsa. Ankara Üniversitesi.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *