Kontradiksi Resolusi dan Pencarian Kedamaian
Setiap kali gerbang tahun baru terbuka baik dalam kalender Masehi maupun Hijriah umat manusia modern selalu terjebak dalam ritme yang sama: komodifikasi resolusi. Kita dipaksa untuk mendaftar rentetan target yang ambisius, mulai dari peningkatan karier, akumulasi materi, hingga transformasi fisik. Tahun baru bertransformasi menjadi sebuah ajang perlombaan eksternal yang melelahkan. Ironisnya, dalam hiruk-piruk mengejar “menjadi lebih baik” secara lahiriah, kita sering kali mengabaikan apa yang paling rapuh di dalam diri kita: kedamaian batin (inner peace). Resolusi yang agresif justru kerap melahirkan kecemasan baru (anxiety), perasaan tidak cukup, dan ketakutan akan kegagalan sebelum melangkah (Al-Ghazali, 1998).
Di tengah disonansi kultural ini, kebudayaan Islam menawarkan sebuah alternatif yang jauh lebih sublim dan kontemplatif melalui momentum Tahun Baru Hijriah (1 Muharram). Alih-alih merayakannya dengan kembang api yang bising atau ambisi yang meledak-ledak, masyarakat Muslim tradisional, khususnya di Nusantara, memiliki sebuah ritual yang sarat akan makna psikologis dan spiritual: tradisi meminum susu putih murni di awal tahun.
Ritual ini bukan sekadar tindakan konsumsi fisik, melainkan sebuah manifestasi dari doktrin spiritual yang disebut tafa’ul (optimisme profetis). Esai ini akan mengbedah secara kritis bagaimana tradisi meminum susu putih di hari pertama Muharram bukan sekadar takhayul masa lalu, melainkan sebuah teknologi spiritual yang canggih untuk memulai inner peace. Melalui lensa teologi, psikologi positif, dan filsafat kebudayaan, kita akan melihat bagaimana susu putih bertindak sebagai simbol pemurnian jiwa, penjinak kecemasan masa depan, dan jangkar kedamaian batin sejak hari pertama tahun baru.
Dekonstruksi Tafa’ul: Epistemologi Optimisme dalam Islam
Untuk memahami mengapa susu putih dipilih sebagai pembuka tahun, kita harus membongkar akar epistemologis dari konsep tafa’ul. Secara etimologis, tafa’ul berasal dari bahasa Arab yang berarti mengharap nasib baik atau memproyeksikan kebaikan (Ibnu Manzhur, 1994). Di dalam khazanah Islam, tafa’ul menempati posisi yang sangat terhormat dan kontras dengan tathayyur (merasa sial akibat tanda-tanda alam). Rasulullah SAW dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari menegaskan: “Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya) dan tidak ada kesialan, dan aku menyukai al-fa’lu.” Para sahabat bertanya, “Apa itu al-fa’lu?” Beliau menjawab, “Kalimat baik yang didengar oleh salah seorang dari kalian.” (Al-Bukhari, 2002).
Tafa’ul adalah sebuah tindakan aktif untuk mengonstruksi realitas berdasarkan sangka baik kepada Tuhan (husnuzhan billah). Ketika seseorang melakukan tafa’ul, ia sedang melakukan pemrograman ulang terhadap alam bawah sadarnya. Filsuf kontemporer menyamakan hal ini dengan konsep law of attraction atau positive psychology, namun dengan dimensi transendental yang lebih kokoh (Frankl, 2006). Jika psikologi modern menekankan kekuatan pikiran manusia sebagai pusat kendali, tafa’ul menautkan proyeksi positif tersebut pada kehendak mutlak Allah Yang Maha Pengasih.
Dalam konteks Tahun Baru Islam, tafa’ul berfungsi sebagai penawar racun kecemasan eksistensial. Memasuki tahun yang baru berarti memasuki wilayah ketidakpastian (the unknown). Manusia, secara psikologis, cenderung takut pada apa yang tidak mereka ketahui (Heidegger, 2008). Di sinilah tafa’ul hadir sebagai intervensi kognitif: ia memaksa manusia untuk melihat masa depan bukan sebagai ancaman yang menakutkan, melainkan sebagai kanvas putih yang siap diisi dengan rahmat Tuhan.
Semiotika Susu Putih: Antara Fitrah, Kemurnian, dan Kedamaian Batin
Mengapa harus susu putih? Mengapa bukan air wudhu saja, atau madu, atau kurma? Di sinilah letak kecerdasan semiotika dari para ulama terdahulu (khususnya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki yang mempopulerkan kembali ijazah tradisi ini). Susu memiliki posisi teologis dan historis yang sangat kuat dalam kosmologi Islam.
Ketika Rasulullah SAW menjalani peristiwa Isra Mikraj, beliau disuguhi dua cawan: satu berisi khamr (alkohol) dan satu berisi susu. Beliau memilih susu. Jibril AS kemudian berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukimu kepada fitrah. Seandainya engkau mengambil khamr, niscaya umatmu akan tersesat.” (Al-Asqalani, 2000). Dalam teks ini, susu secara eksplisit diidentifikasi sebagai fitrah kesucian asal, kemurnian primordial manusia saat pertama kali diciptakan sebelum dikontaminasi oleh ego, ambisi, dan dosa keduniawian (Nasr, 1989).
Ketika tradisi meminum susu putih diletakkan pada tanggal 1 Muharram, terjadi sebuah resonansi spiritual yang mendalam. Warna putih pada susu melambangkan lembaran baru yang bersih (tabula rasa). Secara psikologis, warna putih memiliki efek menenangkan dan mengisyaratkan ketenteraman (Jung, 1964). Meminum susu di awal tahun adalah sebuah ikhtiar simbolis agar sepanjang tahun yang akan berjalan, hati kita dijaga dalam keadaan “putih” bersih dari rasa benci, hasud, dendam, dan penyakit hati lainnya yang menjadi penghalang utama inner peace.
Lebih jauh lagi, susu adalah makanan pertama manusia ketika lahir ke dunia melalui air susu ibu (ASI). Mengonsumsi susu di hari pertama tahun baru secara tidak sadar memicu memori bawah sadar kita tentang fase bayi: sebuah fase di mana kita merasa sepenuhnya aman, dicintai, dan dipenuhi segala kebutuhannya tanpa perlu merasa cemas akan hari esok (Fromm, 1956). Ini adalah puncak dari kedamaian batin merasa aman dalam dekapan takdir Tuhan.
Menggagas Inner Peace Melalui Integrasi Lahir-Batin
Inner peace atau sakinah dalam terminologi Al-Qur’an (QS. Al-Fath: 4) sering kali disalahartikan sebagai kondisi pasif, sebuah pelarian dari realitas, atau penarikan diri total dari urusan dunia (uzlah yang ekstrem). Namun, Islam memandang kedamaian batin sebagai sebuah kondisi dinamis di mana hati tetap tenang (mutma’innah) meskipun badai kehidupan sedang berkecamuk di luar (Al-Quasymiri, 2015).
Tradisi tafa’ul susu putih mengajarkan kita bahwa inner peace harus dimulai sejak hari pertama, dari unit waktu terkecil. Seseorang tidak bisa mendapatkan kedamaian di akhir tahun jika ia memulai hari pertamanya dengan kepanikan, ambisi yang korosif, atau penyesalan masa lalu yang berlebihan.
Menurut psikolog transpersonal, kedamaian batin tercapai ketika terjadi keselarasan antara tindakan fisik (somatic behavior) dan niat spiritual (spiritual intention) (Vaughan, 1993). Meminum susu putih adalah tindakan fisik yang sangat sederhana, namun ketika diinfus dengan niat tafa’ul berdoa agar tahun ini dijalani dengan hati yang bersih, rezeki yang berkah, dan keselamatan tindakan tersebut berubah menjadi meditasi aktif.
Secara kritis, kita dapat melihat bahwa tradisi ini meruntuhkan dualisme Barat yang memisahkan antara materi dan roh. Dalam positivisme logis, segelas susu hanyalah sekadar kalsium dan protein (Comte, 1975). Namun dalam epistemologi Islam, materi tersebut adalah ayat (tanda) yang membawa berkah dan pesan spiritual jika dikonsumsi dengan kesadaran ketuhanan (mindfulness/ihsan).
Refleksi Kritis: Menyelamatkan Tradisi dari Formalisme Kosong
Meskipun filsafat tafa’ul susu putih ini sangat aduhai, kita harus bersikap kritis terhadap praktiknya di era kontemporer. Ada bahaya laten yang mengintai setiap ritual keagamaan dan kebudayaan: bahaya formalisme kosong atau komodifikasi ritual (Eliade, 1959).
Jika kita meminum susu putih pada 1 Muharram hanya demi mengikuti tren media sosial, atau sekadar melakukan replikasi mekanis tanpa memahami substansi filosofisnya, maka ritual tersebut kehilangan daya magis spiritualnya. Susu putih hanya akan menjadi komoditas konsumsi biasa, bukan lagi medium tafa’ul. Kedamaian batin tidak akan tercapai hanya dengan mengalirkan cairan putih ke tenggorokan jika pada saat yang sama, pikiran kita masih memproduksi kebencian dan jemari kita masih aktif menyebarkan hoaks di dunia maya.
Oleh karena itu, rekontekstualisasi tradisi ini sangat mendesak. Meminum susu putih harus dijadikan sebagai momentum jeda (the power of pause). Di hari pertama tahun baru, saat dunia menuntut kita untuk berlari cepat, kita memilih untuk duduk tenang, memegang segelas susu, merenungkan fitrah kita, memaafkan kesalahan masa lalu, dan menyerahkan masa depan kepada Allah (Schoun, 1984). Susu putih adalah simbol rem darurat terhadap laju kapitalisme yang memaksa kita untuk terus cemas.
Catatan Akhir
Start inner peace dari hari pertama bukan sekadar jargon psikologi yang renyah, melainkan sebuah manifesto spiritual yang ditawarkan oleh tradisi Islam lewat Filosofi Tafa’ul Susu Putih. Melalui segelas susu di awal tahun Hijriah, kita diajak untuk pulang kembali kepada fitrah kemanusiaan kita yang murni, melepaskan beban eksistensial masa lalu, dan memproyeksikan masa depan dengan kacamata optimisme profetis.
Tahun baru akan selalu membawa ketidakpastian. Ujian, konflik, dan dinamika kehidupan akan tetap ada. Namun, dengan memulai tahun menggunakan hati yang “seputih susu” bersih, tenang, dan penuh sangka baik kepada Sang Pencipta kita telah membangun benteng pertahanan internal yang kokoh. Kedamaian batin bukanlah tiadanya masalah di luar diri, melainkan hadirnya ketenangan di dalam jiwa. Mari kita teguk kesucian itu sejak hari pertama, dan biarkan kedamaian mengalir di sepanjang tahun.
Daftar Bacaan
Al-Asqalani, Ibnu Hajar. (2000). Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Kairo: Dar al-Hadits.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. (2002). Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.
Al-Ghazali, Abu Hamid. (1998). Ihya ‘Ulumuddin. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
Al-Maliki, Sayyid Muhammad bin Alawi. (2005). Al-Madzaahib al-Arba’ah wa Syiar al-Shalihin. Jeddah: Dar al-Syuruq.
Al-Quasymiri, Abdul Qadir. (2015). Konsep Sakinah dalam Tasawuf: Integrasi Psikologi dan Teologi. Jakarta: Pustaka Iman.





