Sapi Emas Samiri dan Fenomena Deepfake: Membaca Manipulasi Realitas dalam Perspektif Tafsir Al-Jawāhir

Pendahuluan

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Teknologi ini mempermudah berbagai aktivitas, mulai dari pendidikan, transaksi digital, hingga sektor industri. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, AI juga menghadirkan tantangan baru, terutama ketika digunakan untuk memanipulasi informasi dan menciptakan realitas palsu.

Bacaan Lainnya

Salah satu fenomena yang semakin mendapat perhatian adalah deepfake, yakni teknologi yang memungkinkan seseorang memanipulasi gambar, video, atau suara sehingga menyerupai individu tertentu. Melalui teknologi ini, seseorang dapat terlihat seolah-olah mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi (Kietzmann et al, 2019: 2). Persoalannya, hasil manipulasi tersebut terkadang begitu meyakinkan sehingga sulit dibedakan dari kenyataan.

Fenomena deepfake bukan sekadar persoalan kecanggihan teknologi. Penyalahgunaannya dapat memicu penyebaran hoaks, pencemaran nama baik, manipulasi opini publik, bahkan kekerasan berbasis gender (Kietzmann et al, 2019: 12). Oleh karena itu, kemajuan teknologi juga menuntut manusia untuk memiliki kesadaran etis dan kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terperdaya oleh informasi yang tampak meyakinkan.

Menariknya, persoalan mengenai manipulasi realitas ternyata dapat direnungkan melalui kisah yang termaktub dalam Al-Qur’an, yakni peristiwa pembuatan patung anak sapi yang dapat mengeluarkan suara pada masa Nabi Musa. Kisah tersebut diabadikan dalam QS. Al-A‘rāf [7]: 148 dan melibatkan sosok Samiri yang memanfaatkan keterampilan serta tipu muslihat untuk memalingkan keyakinan Bani Israil.

Sapi Emas yang Memukau Bani Israil

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-A‘rāf [7]: 148:

وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوْسٰى مِنْۢ بَعْدِهٖ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهٗ خُوَارٌۗ اَلَمْ يَرَوْا اَنَّهٗ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيْهِمْ سَبِيْلًاۘ اِتَّخَذُوْهُ وَكَانُوْا ظٰلِمِيْنَ

“Kaum Musa, setelah kepergian (Musa ke Gunung Sinai), membuat (sembahan berupa) patung anak sapi yang bertubuh dan dapat melenguh (bersuara) dari perhiasan emas mereka. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa (patung) anak sapi itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan (kebaikan) kepada mereka? (Bahkan,) mereka menjadikannya (sebagai sembahan). Mereka adalah orang-orang zalim.”

Ayat tersebut mengisahkan peristiwa ketika Nabi Musa meninggalkan kaumnya untuk memenuhi panggilan Allah Swt. di Gunung Sinai. Dalam keadaan tersebut, Samiri memanfaatkan situasi dengan membuat patung anak sapi dari perhiasan emas yang dapat mengeluarkan suara menyerupai lenguhan sapi. Keberadaan patung itu kemudian memukau sebagian Bani Israil hingga menjadikannya sebagai sesembahan.

Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana sesuatu yang tampak mengagumkan dapat memengaruhi keyakinan manusia. Patung anak sapi tersebut tidak memiliki kemampuan untuk berbicara ataupun memberikan petunjuk, sebagaimana ditegaskan dalam ayat tersebut. Namun, suara yang dihasilkannya justru menjadi salah satu faktor yang membuatnya dipandang secara keliru oleh orang-orang yang terpengaruh.

Lantas, bagaimana patung yang tidak memiliki roh itu dapat mengeluarkan suara? Apakah suara tersebut merupakan sesuatu yang bersifat gaib atau justru dihasilkan melalui keterampilan dan teknik tertentu? Pertanyaan inilah yang menarik untuk ditelusuri melalui penafsiran Ṭanṭāwī Jauharī dalam karya tafsirnya, Al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm.

Membaca Sains dalam Tafsir Al-Jawāhir

Ṭanṭāwī Jauharī merupakan salah seorang mufasir yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan dan fenomena alam. Lahir di Mesir pada 1287 H/1870 M, ia menempuh pendidikan di al-Azhar dan Darul Ulum serta dikenal memiliki ketertarikan terhadap pemikiran pembaruan Islam (Fahimah dan Ayu Lestari, 2023: 137–138). Perhatiannya terhadap sains kemudian tercermin dalam karya monumentalnya, Al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm.

Tafsir Al-Jawāhir dikenal sebagai tafsir bercorak ‘ilmī atau saintifik, yakni penafsiran yang mengaitkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan fenomena dan pengetahuan ilmiah. Melalui karya tersebut, Jauharī berupaya mendorong umat Islam untuk mengamati alam semesta dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Ia memandang bahwa perhatian terhadap fenomena alam merupakan salah satu jalan untuk merenungi kebesaran Allah Swt (Fahimah dan Ayu Lestari, 2023: 143).

Dalam menafsirkan QS. Al-A‘rāf [7]: 148, Jauharī dalam tafsirnya (1926: 212) mengemukakan sejumlah kemungkinan mengenai bagaimana patung anak sapi buatan Samiri dapat mengeluarkan suara. Salah satu pendapat yang dikemukakannya menyebutkan bahwa Samiri memasukkan tanah dari bekas jejak kuda Jibril ke dalam mulut patung tersebut sehingga patung itu tampak hidup. Namun, ia juga menyampaikan penjelasan lain yang lebih berkaitan dengan keterampilan teknis.

Menurut Jauharī, patung tersebut mungkin dibuat menggunakan suatu rekayasa yang memungkinkan udara masuk ke dalam rongga tubuhnya sehingga menghasilkan suara menyerupai lenguhan sapi. Ia mengibaratkan mekanisme tersebut dengan prinsip yang dapat dijumpai pada sejumlah perangkat atau kendaraan yang memanfaatkan aliran udara untuk menghasilkan bunyi.

Jauharī bahkan mengemukakan praktik penipuan lain yang pernah dilakukan manusia, yakni meletakkan katak di dalam mulut seekor sapi yang telah disembelih dan dimasak. Suara yang dihasilkan katak tersebut dapat menyerupai suara sapi sehingga berpotensi mengelabui orang-orang yang menyaksikannya. Berbagai penjelasan tersebut memperlihatkan perhatian Jauharī terhadap kemungkinan adanya rekayasa teknis di balik fenomena yang tampak luar biasa.

Jika dikaitkan dengan ilmu fisika kontemporer, penjelasan mengenai aliran udara melalui rongga tertentu dapat dibandingkan dengan prinsip resonansi akustik dan resonator Helmholtz. Prinsip ini menjelaskan bagaimana bentuk dan ukuran suatu rongga, bersama aliran udara dan getaran, dapat memengaruhi karakter suara yang dihasilkan (Wardana et al, 2019: 1). Mekanisme serupa dapat dijumpai pada sejumlah alat musik, seperti organ pipa dan berbagai instrumen tiup (Dosch dan Hauck, 2018: 2).

Meskipun demikian, penjelasan tersebut perlu dipahami secara proporsional. Prinsip akustik modern dapat digunakan untuk menjelaskan kemungkinan mekanisme suara yang disebutkan Jauharī, tetapi tidak serta-merta membuktikan bahwa patung Samiri pada masa lampau benar-benar dibuat dengan mekanisme tertentu. Al-Qur’an sendiri tidak menguraikan secara terperinci teknik pembuatan patung tersebut.

Catatan Akhir

Kisah sapi emas dalam QS. Al-A‘rāf [7]: 148 memiliki relevansi untuk direnungkan dalam menghadapi perkembangan teknologi modern, khususnya deepfake. Relevansi ini bukan berarti Al-Qur’an secara langsung menjelaskan atau memprediksi teknologi AI, melainkan terdapat kesamaan persoalan mendasar, yaitu bagaimana suatu manipulasi dapat menciptakan kesan yang meyakinkan dan memengaruhi persepsi manusia.

Pada masa Samiri, patung anak sapi yang dapat mengeluarkan suara menjadi sesuatu yang mengundang kekaguman. Sementara itu, pada era digital, teknologi deepfake memungkinkan seseorang menciptakan video dan rekaman suara yang menyerupai kenyataan. Keduanya memperlihatkan bahwa sesuatu yang tampak atau terdengar nyata belum tentu mencerminkan kebenaran yang sesungguhnya.

Oleh sebab itu, menghadapi fenomena deepfake tidak cukup hanya dengan mengandalkan kecanggihan teknologi untuk mendeteksi manipulasi. Masyarakat juga perlu membangun literasi digital, membiasakan verifikasi informasi, serta menghindari penyebaran konten yang belum jelas kebenarannya. Sikap kritis menjadi penting agar seseorang tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang hanya tampak meyakinkan.

Pengembangan teknologi juga harus disertai tanggung jawab etis. Kemampuan merekayasa wajah dan suara seseorang seharusnya tidak digunakan untuk menipu, merugikan, atau merendahkan martabat orang lain. Prinsip kejujuran, kehati-hatian, dan tanggung jawab perlu menjadi landasan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi.

Pada akhirnya, kisah sapi emas dalam QS. Al-A‘rāf [7]: 148 melalui perspektif Al-Jawāhir mengajak manusia untuk merenungkan hubungan antara pengetahuan, teknologi, dan tanggung jawab moral. Kemajuan teknologi memang dapat menghadirkan berbagai kemungkinan baru, tetapi tidak semua hal yang dapat diciptakan layak untuk digunakan tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Kisah Samiri bukanlah penjelasan teknis mengenai deepfake, melainkan pengingat bahwa manipulasi dapat memengaruhi cara manusia memandang kebenaran. Di tengah dunia digital yang semakin canggih, kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan integritas moral menjadi bekal penting agar manusia tidak terjebak dalam realitas semu yang diciptakannya sendiri.

Lampiran Tafsir

(واتخذ قوم موسى من بعده من بعد ذهابه الميقات من حليهم عجلا جسدا من الذهب خاليا من الروح وتعبه على البدل له خوار) صوت البقر * يقال ان السامري لما صاغ العجل ألقى فى فيه من تراب أثر فرس جبريل فصار حيا * وقيل صاغه بنوع من الحيل فتدخل الربح جوفه وتصوت كما نراه الآن فى السيارات (الاتوم وبيلات) واعلم أن الناس في العصور المسابقة فى الاسلام قد توصلوا لما هو أبعد من ذلك اضلالا فيأتون بعجل مذبوح مطبوخ ويوضع على المائدة ويحضرون (ضفدعة) ويضعونها فى داخل فم الثور فيكون لها تعيق وهو يشبه صوت البقر. وكم من حبل يعملها الناس ليفشوا الناس بذلك فلاما فلا مانع أ أن يفعل الساحرى أمثال ذلك ثم قال تعالى (ألم يروا أنه لا يكلمهم ولا يهديهم سبيلا فكيف يتخذونه إلها والاله برشد عباده ثم كرره للدم فقال (اتخذوه إلها (وكانوا ظالمين) واضعين الأشياء في غير مواضعها.

“(Dan kaum Musa, setelah kepergiannya ke tempat miqat (perjanjian), membuat dari perhiasan-perhiasan mereka anak lembu yang bertubuh berupa emas yang tidak ber-ruh, dan ia dapat mengeluarkan suara–yakni suara sapi). Dikatakan bahwa ketika As-Samiri mencetak anak lembu itu, ia melemparkan ke dalam mulutnya debu bekas jejak tapak kuda Jibril, lalu patung itu menjadi hidup. Dan dikatakan pula bahwa ia membuatnya dengan sejenis tipu daya, sehingga angin masuk ke dalam rongganya dan mengeluarkan suara sebagaimana yang kita lihat sekarang pada mobil-mobil (automobil).

Ketahuilah bahwa orang-orang pada masa-masa sebelum Islam telah mencapai hal yang lebih jauh dari itu dalam hal kesesatan; mereka mendatangkan seekor anak lembu sembelihan yang sudah dimasak lalu diletakkan di atas meja, kemudian mereka membawa seekor katak dan meletakkannya di dalam mulut sapi tersebut, sehingga katak itu mengeluarkan suara yang mirip dengan suara sapi. Betapa banyak tipu daya yang dilakukan orang-orang untuk menyesatkan manusia dengan hal tersebut, maka tidaklah mengapa jika seorang pesulap melakukan hal-hal semacam itu.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: (Tidakkah mereka melihat bahwa anak lembu itu tidak berbicara kepada mereka dan tidak pula menunjukkan jalan kepada mereka? Maka mengapa mereka menjadikannya sebagai tuhan, padahal tuhan itu membimbing hamba-hamba-Nya?) Kemudian Allah mengulanginya untuk mencela mereka, lalu berfirman: (Mereka menjadikannya sebagai tuhan), dan mereka adalah orang-orang yang zalim, yakni menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.”

Daftar Bacaan

Dosch, Hans G., dan Matthias Hauck. 2018. “The Helmholtz Resonator Revisited.” European Journal of Physics 39(5):55801. doi: 10.1088/1361-6404/aac35f.

Fahimah, Siti, dan Dewi Ayu Lestari. 2023. “Al-Jawahir Fi Tafsiril Al-Qur’anil Karim Karya Tanthawi Jauhari: Kajian Tafsir Ilmi.” Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir 6(1):136–49. doi: 10.58518/alfurqon.v6i1.1779.

Jauhari, Thantawi. 1926. Tafsir Al-Jawahir Fi Al-Qur’an Al-Karim. Kairo: Musthofa Al-Bayani Al-Halabi.

Kietzmann, Jan, Linda Lee, Ian McCarthy, dan Tim Kietzmann. 2019. “Deepfakes: Trick or treat?” Business Horizons 63. doi: 10.1016/j.bushor.2019.11.006.

Wardana, Andi, Gontjang Prajitno, Susilo Indrawati, dan Suyatno. 2019. “Effect of Amount and Pipe Size on Resonance Frequency.” Journal of Physics: Conference Series 1153(1):12005. doi: 10.1088/1742-6596/1153/1/012005.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *