Pendahuluan
Pendidikan bukan hanya tentang menyampaikan pelajaran dari guru kepada murid. Lebih dari itu, pendidikan juga bertujuan membentuk karakter, menumbuhkan kesadaran, dan mengajarkan tanggung jawab. Karena itu, seorang pendidik tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga perlu memahami cara berkomunikasi dan memperlakukan peserta didik.
Salah satu cara yang sering digunakan untuk membentuk perilaku murid adalah reward and punishment, yaitu pemberian penghargaan atas perilaku baik dan hukuman atas pelanggaran. Cara ini dapat membantu membangun kedisiplinan. Namun, jika terlalu bergantung pada hadiah dan hukuman, murid mungkin berbuat baik hanya karena ingin mendapat penghargaan atau takut menerima sanksi.
Dalam hal ini, Al-Qur’an memberikan prinsip komunikasi yang dapat menjadi pelajaran bagi dunia pendidikan, yaitu qaulān layyinān atau perkataan yang lemah lembut. Prinsip ini terdapat dalam QS. Ṭāhā [20]: 44, ketika Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara dengan lembut kepada Fir’aun. Ayat ini mengajarkan bahwa pesan yang tegas tetap dapat disampaikan dengan cara yang santun.
Ketika Hadiah dan Hukuman Menjadi Andalan
Pendidikan merupakan proses yang membantu seseorang mengembangkan kemampuan dan membentuk kepribadian. Ki Hadjar Dewantara memandang pendidikan sebagai tuntunan bagi tumbuh kembang anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan (Marwah, 2018: 17). Dalam Islam, pendidikan juga bertujuan membentuk manusia yang berakhlak mulia dan mampu menjalankan tanggung jawabnya sebagai hamba dan khalifah Allah (Djunaid, 2014: 148–149).
Salah satu pendekatan dalam pembelajaran adalah reward and punishment. Pendekatan ini berkaitan dengan teori behavioristik, yang menjelaskan bahwa perilaku dapat diperkuat melalui penghargaan dan dikurangi melalui konsekuensi tertentu (Shahbana, 2020: 25).
Penghargaan dapat membuat murid merasa dihargai dan terdorong untuk mempertahankan perilaku positif. Sementara itu, konsekuensi yang diberikan secara tepat dapat membantu mereka memahami aturan dan tanggung jawab. Namun, jika diterapkan secara berlebihan, hadiah dapat membuat murid terlalu bergantung pada imbalan. Sebaliknya, hukuman yang keras dapat menimbulkan rasa takut, menurunkan kepercayaan diri, bahkan membuat murid menyembunyikan kesalahan (Ummya, 2023: 65–66).
Hal ini bukan berarti penghargaan dan hukuman harus dihilangkan. Keduanya tetap dapat digunakan selama diterapkan secara bijaksana. Namun, pendidikan juga perlu membangun kesadaran agar murid memahami alasan di balik perilaku baik, bukan sekadar patuh karena mengharapkan hadiah atau takut dihukum.
Pelajaran Kelembutan dari Kisah Musa dan Fir’aun
Prinsip komunikasi yang lembut dapat ditemukan dalam QS. Ṭāhā [20]: 44. Allah Swt. berfirman: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”
Ayat ini berisi perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun agar berbicara dengan lembut kepada Fir’aun. Padahal, Fir’aun dikenal sebagai penguasa yang melampaui batas dan menentang kebenaran. Meski demikian, Allah tetap memerintahkan keduanya untuk menyampaikan dakwah dengan perkataan yang santun.
Sayyid Qutb menjelaskan bahwa kelembutan dalam berbicara dapat membuka kesempatan bagi seseorang untuk berpikir dan menyadari kesalahannya. Kelembutan juga membutuhkan kesabaran, terutama ketika nasihat belum diterima (Qutb, 2003: 404).
Hamka menekankan bahwa seseorang tetap memiliki sisi kemanusiaan, termasuk mereka yang belum menerima nasihat. Karena itu, pendekatan yang damai dan tidak terburu-buru menghakimi dapat membantu pesan tersampaikan dengan lebih baik (Hamka, 2006: 4429).
Sementara itu, Ibn Katsir menjelaskan bahwa Musa dan Harun diperintahkan berbicara secara lembut sembari mengajak Fir’aun untuk mengesakan Allah dan mengingatkannya pada pertanggungjawaban di akhirat (Katsir, 2003: 384).
Dari penjelasan tersebut, qaulān layyinān menunjukkan bahwa kelembutan tidak berarti menghilangkan ketegasan. Pesan dan prinsip tetap disampaikan dengan jelas, tetapi melalui cara yang santun dan tidak merendahkan. Walaupun ayat ini berbicara tentang dakwah kepada Fir’aun, nilai komunikasinya dapat menjadi inspirasi dalam pendidikan. Ini merupakan penerapan nilai ayat dalam konteks pendidikan, bukan berarti ayat tersebut secara khusus membahas teori pendidikan modern.
Menegur Tanpa Merendahkan, Membimbing Tanpa Menghakimi
Dalam pendidikan, qaulān layyinān dapat diterapkan melalui cara guru berbicara, memberi arahan, dan menanggapi kesalahan murid. Bersikap lembut bukan berarti membiarkan pelanggaran atau menghilangkan aturan. Kelembutan justru membantu pendidik menegakkan aturan tanpa merendahkan harga diri peserta didik.
Pertama, guru dapat memberikan pujian yang menghargai usaha murid, bukan hanya hasil akhirnya. Ungkapan sederhana seperti “usahamu sudah baik” atau “terima kasih sudah berani mencoba” dapat membuat murid merasa diperhatikan. Penghargaan seperti ini juga dapat membantu membangun hubungan yang positif antara guru dan murid (Purnomo, 2012: 48).
Kedua, ketika murid melakukan kesalahan, guru dapat menegurnya dengan bahasa yang santun dan tidak menghakimi. Jika memungkinkan, teguran dapat disampaikan secara pribadi agar murid tidak merasa malu di hadapan teman-temannya. Guru juga perlu menjelaskan kesalahan yang dilakukan, alasan aturan diberlakukan, dan cara memperbaikinya (Purnomo, 2012: 46).
Misalnya, ketika seorang murid tidak mengerjakan tugas, guru dapat menanyakan kendala yang dihadapinya, kemudian menjelaskan pentingnya menyelesaikan tugas dan membimbingnya mencari solusi. Dengan begitu, murid tidak hanya menerima teguran, tetapi juga belajar bertanggung jawab.
Ketiga, guru perlu memberi kesempatan kepada murid untuk berubah. Setiap anak memiliki proses belajar dan perkembangan yang berbeda. Karena itu, kesabaran dan pendampingan penting agar pembinaan tidak berhenti pada teguran semata.
Penghargaan, aturan, dan konsekuensi tetap dapat diterapkan secara proporsional. Namun, semuanya perlu diarahkan untuk mendidik, bukan mempermalukan atau menakut-nakuti. Dengan demikian, kelembutan dapat melengkapi aturan dan konsekuensi melalui komunikasi yang menghargai serta pembinaan yang berkelanjutan.
Dari Kepatuhan Menuju Kesadaran
Pendidikan yang baik tidak hanya mengharapkan murid menaati aturan, tetapi juga membantu mereka memahami alasan di balik aturan tersebut. Murid diharapkan belajar bukan hanya untuk memperoleh hadiah atau menghindari hukuman, melainkan karena menyadari manfaat ilmu, pentingnya disiplin, dan tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Komunikasi yang lembut dapat mendukung proses ini. Ketika murid merasa dihargai, mereka memiliki ruang untuk bertanya, mengakui kesalahan, dan menerima nasihat tanpa merasa direndahkan. Suasana seperti ini dapat membantu membangun hubungan yang lebih terbuka antara guru dan murid.
Meski demikian, kelembutan tidak secara otomatis membuat murid memiliki motivasi dari dalam diri. Perkembangan motivasi juga dipengaruhi oleh lingkungan belajar, keteladanan guru, konsistensi dalam menerapkan aturan, dan kebutuhan setiap murid.
Karena itu, kelembutan perlu berjalan bersama aturan yang jelas dan pendampingan yang tepat. Penghargaan dan konsekuensi dapat digunakan sebagai bagian dari pembelajaran, sementara komunikasi yang santun membantu murid memahami dan menerima proses tersebut. Dengan cara ini, pendidikan tidak hanya berfokus pada kepatuhan, tetapi juga memberi ruang bagi tumbuhnya kesadaran dan tanggung jawab.
Catatan Akhir
QS. Ṭāhā [20]: 44 mengajarkan pentingnya menyampaikan pesan dengan perkataan yang lemah lembut, bahkan ketika menghadapi seseorang yang menentang kebenaran. Penafsiran Sayyid Qutb, Hamka, dan Ibn Katsir menunjukkan bahwa kelembutan dapat berjalan bersama ketegasan dalam menyampaikan nilai dan kesabaran dalam menghadapi respons orang lain.
Dalam dunia pendidikan, qaulān layyinān dapat menjadi prinsip untuk membimbing murid dengan santun, menjaga harga diri mereka, dan mendukung pembentukan karakter. Prinsip ini bukan untuk menggantikan penghargaan dan konsekuensi, melainkan melengkapinya agar murid tidak hanya patuh karena hadiah atau hukuman.
Pada akhirnya, mendidik bukan sekadar membuat murid menaati perintah, tetapi juga membantu mereka memahami alasan untuk berbuat baik. Kelembutan bukan tanda kelemahan, dan ketegasan tidak harus diwujudkan dengan kekerasan. Keduanya dapat berjalan beriringan melalui komunikasi yang santun, aturan yang jelas, keteladanan, dan pendampingan yang konsisten.
Daftar Pustaka
Djunaid, Hamzah. 2014. “Konsep Pendidikan Dalam Alquran (Sebuah Kajian Tematik).” Jurnal Pendidikan 17(1).
Hamka. 2006. Tafsir Al-Azhar Jilid 6. Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD Singapura.
Katsir, Ibn. 2003. Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim Terj M. Abdull Ghoffar. Jilid 3. Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
Marwah, Siti Shafa. dkk. 2018. “Relevansi Konsep Pendidikan Menurut Ki Hadjar Dewantara Dengan Pendidikan Islam.” TARBAWY: Indonesian Journal of Islamic Education 5(1).
Purnomo, Halim. Husnul Khotimah Abdi. 2012. Model Reward Dan Punishment Perspektif Pendidikan Islam. Yogyakarta: Deepublish.
Qutb, Sayyid. 2003. Tafsir Fi Zilalil Qur’an: Di bawah Naungan Al-Qur’an Jilid 7 terj. As’ad Yasin dkk. Jakarta: Gema Insani.
Shahbana, Elvia B. dkk. 2020. “Implementasi Teori Belajar Behavioristik Dalam Pembelajaran.” Jurnal Serunai Administrasi Pendidikan 9(1).
Ummya, Faizatul. 2023. “Penerapan reward dan punishment dalam meningkatkan motivasi belajar siswa.” Jurnal As-Said 3(1):61–70.





