Tidak “Matinya” Filsafat Ibnu Rushd di Barat dan Timur

Filsafat pasca Ibnu Rushd di Barat

Pengaruh Ibnu Rushd (Averroes) meluas secara signifikan di Barat, terutama melalui gerakan Averroisme, yang berupaya mengembangkan gagasan rasional dan ilmiah yang diajukan oleh Ibnu Rushd. Pada awalnya, istilah Averroisme digunakan sebagai ejekan terhadap para pengikutnya, yang kemudian merasa enggan untuk mengakuinya secara terbuka.

Bacaan Lainnya

Namun, pada abad ke-14, pengikut Averroisme mulai berani menunjukkan identitas mereka. Johannes Jandun (1328) adalah yang pertama menegaskan dirinya sebagai pengikut Averroisme, diikuti oleh Urban dari Bologna (1334) dan Paul dari Venesia (1429). Tokoh-tokoh ini, bersama dengan pelopor Averroisme Siger de Brabant (1235–1282), serta murid-muridnya seperti Boethius de Decie dan Berner van Nijvel, memainkan peran kunci dalam penyebaran pemikiran Ibnu Rushd (Iqbal, 2004, p. 96).

Mereka mendalami karya-karya Ibnu Rushd mengenai filsafat Aristoteles, terutama yang berhubungan dengan rasionalitas. Pemikiran Ibnu Rushd mengenai optimisasi kerja akal menjadi titik tolak para cendekiawan Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Pada abad ke-14, semangat intelektual yang dibawa oleh gerakan Averroisme turut membangkitkan Renaisans, sebuah kebangkitan intelektual yang merangsang perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa.

Selama hampir tujuh abad, Spanyol di bawah kekuasaan Islam menjadi pusat peradaban Islam di Barat. Penyerapan dan penerjemahan karya-karya filsafat Yunani dalam bahasa Arab ke dalam bahasa Latin banyak dilakukan oleh kalangan Yahudi. Ajaran-ajaran yang terilhami oleh pemikiran Ibnu Rushd, seperti pembuktian keberadaan Tuhan melalui teori gerak, memberi dampak besar.

Sama seperti Ibnu Rushd, mereka berpendapat bahwa segala sesuatu di dunia ini pasti ada yang menggerakkannya, dan penggerak utama itu adalah Tuhan (al-Muharrik al-Awwal), yang dalam bahasa Aristoteles dikenal sebagai Prima Causa. Pandangan ini membawa mereka pada kesimpulan bahwa penciptaan Tuhan terhadap segala sesuatu tidaklah langsung, melainkan melalui hukum-hukum alam yang telah diciptakan-Nya.

Pada tahun 1270, ajaran Averroisme yang diperkenalkan oleh Siger de Brabant dan pengikutnya diharamkan oleh gereja, yang menganggapnya berbahaya bagi akidah Kristen. Selanjutnya, pada tahun 1277, pandangan Averroisme secara resmi dilarang di Paris. Pada tahun 1284, Siger de Brabant dihukum mati oleh gereja.

Meski demikian, larangan dan kutukan gereja terhadap Averroisme tidak menghentikan penyebarannya. Sebaliknya, gerakan ini terus berkembang dan menyebar ke seluruh Eropa, terutama setelah Johannes Jandun menyatakan bahwa kebenaran filosofis dan teologis dapat hidup berdampingan (Ahmad, 1975, p. 70).

Kemudian, pada tahun 1277 M pandangan-pandangan Averroisme secara resmi dilarang di Paris melalui sebuah undang-undang yang dikeluarkan gereja. Siger van Brabant sendiri akhirnya dihukum mati oleh gereja tujuh tahun kemudian. Pada tahun-tahun berikutnya, Paus semakin meningkatkan aksinya menentang universitas yang mengajarkan pemikiran Aristoteles dan Ibnu Rusyd. Banyak tokoh-tokoh Averroisme dihukum dan buku-buku karangan Ibnu Rusyd dibakar.

Selama tahun 1481-1801, tidak kurangdari 340.000 pengikut Rusyd dihukum, dan hamper 32.000 diantaranya dibakar hidup-hidup (Nadwi, 1979, p. 114). Pendapat lain mengatakan sejak tahun 1481-1499 pengikut Rusyd telah dibakarsebanyak 10.022 orang dan 66.860 orang dihukum gantung serta 97.023 orang dihukum dengan berbagai sisksaan (Abduh, 1992, p. 53). Namun demikian, larangan dan kutukan gerejaterhadap Averroisme tidak membuat surut perkembangan gerakan intelektual ini, malah sebaliknya semakin menyebar ke berbagai wilayah lainnya di Eropa (Iqbal, 2004, p. 99).

Gerakan Averroisme yang mengusung rasionalitas inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Renaisans di Eropa, yang mengakhiri dominasi gereja dan memulai kebangkitan ilmu pengetahuan yang didorong oleh kebebasan berpikir.

 

Filsafat Islam Pasca Ibnu Rushd di Timur

Ada anggapan keliru yang beredar bahwa filsafat Islam berakhir dengan Ibnu Rushd, dan bahwa sejak itu tidak ada perkembangan filsafat lagi dalam dunia Islam. Para sejarawan filsafat Islam seringkali hanya memperhatikan karya-karya yang ditulis dalam bahasa Arab, mengabaikan perkembangan filsafat di luar wilayah tersebut (Qodir, 1989, p. 77). Padahal, di Timur, khususnya di Iran, pemikir-pemikir besar seperti Shurawardi, Nashr al-Din at-Thusi, dan Mulla Sadra terus mengembangkan filsafat Islam dengan kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Salah satu pemikir penting dari Persia, Nashr al-Din at-Thusi, tidak hanya berkontribusi pada filsafat, tetapi juga dalam bidang astronomi, biologi, kimia, matematika, kedokteran, dan ilmu agama Islam. Pemikiran-pemikirannya menjadi bagian dari peradaban ilmiah yang lebih luas dan berpengaruh di dunia Islam.

 

Peran Averroisme dalam Renaisans dan Pengaruhnya di Barat dan Timur

Averroisme memainkan peran penting dalam meneruskan pemikiran Ibnu Rushd, yang memberi dampak besar terhadap kebangkitan intelektual di Eropa, khususnya melalui Renaisans. Gerakan ini mengedepankan rasionalitas, kritik, dan penelitian, serta kebebasan berpikir, yang mendorong manusia untuk terus menemukan hal-hal baru dalam ilmu pengetahuan. Dalam konteks historis, pengikut-pengikut Ibnu Rushd, yang dikenal sebagai Averroisme, membawa Eropa menuju transformasi besar, yang akhirnya berkontribusi pada kejayaan Barat hingga saat ini.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa otoritas gereja menolak pemikiran rasional dan kebebasan berpikir yang dibawa oleh Averroisme. Mereka khawatir pemikiran ini dapat mengancam kekuasaan gereja sebagai otoritas tunggal dalam kehidupan masyarakat Eropa. Meskipun demikian, pengaruh Averroisme tetap tidak dapat disangkal, baik dalam kebangkitan ilmiah di Barat maupun dalam melanjutkan tradisi intelektual dunia Islam yang terus berkembang hingga saat ini.

Referensi

Abduh, M. (1992). Ilmu dan Peradaban Islam Menurut Islam dan Kristen (M. Syah (trans.)). Diponegoro.

Ahmad, Z. A. (1975). Riwayat Hidup Ibnu Rusyd. Bulan Bintang.

Iqbal, M. (2004). Ibn Rusyd & Averroisme. Gaya Media Pratama.

Nadwi, A. al-H. (1979). Islam and The World. Academy of Islamic Recearch and Publication.

Qodir, C. A. (1989). Filsafat dan Ilmu pengetahuan dalam Islam. Yayasan Obor Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *