Membaca Kembali Nalar Saintifik Tantawi Jawhari dalam Penafsiran Al-Qu’an

Dalam lintasan sejarah, penafsiran terhadap Al-Qur’an terus mengalami perkembangan dan dinamika yang siginifikan. Pergeseran pendekatan, metode, serta cakrawala pembacaan terhadap teks suci tersebut menunjukkan bahwa penafsiran sejatinya tidaklah stagnan. Di antara pakar tafsir yang memberikan warna tersendiri dalam diskursus tafsir hingga saat ini ialah Syekh Tantawi Jawhari (1870–1940), ulama terkemuka asal Mesir yang dikenal dengan keluasan ilmunya, sekaligus salah satu penggagas tafsir saintifik (al-tafsīr al-‘ilmī). Karyanya Al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm, menjadi bukti dorongan intelektualnya untuk mengintegrasikan antara wahyu dan ilmu pengetahuan.

Tantawi Jawhari tampil sebagai reformis yang berupaya menjembatani problematika dikotomi antara agama dan sains. Nalar saintifik yang dirumuskan dalam tafsirnya tidak sekadar dalam upaya mencari legitimasi ilmiah melalui kitab suci, melainkan sebagai strategi epistemologis untuk mengembalikan semangat ijtihad, khsususnya dalam konteks masyarakat modern.

Bacaan Lainnya

Namun demikian, pengaruh tafsirnya terhadap generasi mufasir berikutnya masih sangat minim. Referensi terhadap karya-karyanya memang dapat kita jumpai dalam sejumlah literatur Islam maupun Barat, akan tetapi sedikit yang secara serius mengadopsi pendekatannya, terutama di kalangan mufasir non-Arab. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Daneshgar dalam bukunya Tantawi Jawhari and the Qur’an: Tafsir and Social Concerns in the Twentieth Century.

Di tengah sedikitnya kajian terhadap karya monumentalnya, muncul anggapan dari sebagian sarjana Muslim yang menilai bahwa proyek tafsir saintifik Tantawi Jawhari sekedar untuk memperbaharui retorika iʿjāz al-Qur’ān (kemukjizatan Al-Qur’an). Anggapan tersebut justru bertolak belakang dengan fakta ilmiah bahwa tujuan utama yang hendak dicapai oleh Jawhari lebih kompleks dan dinamis. Lebih dari itu, Ia menawarkan sebuah pendekatan tafsir yang mampu merespons problematika sosial, moral, dan juga aspek epistemologis yang dihadapi oleh Umat Islam.

Wacana pemikiran Jawhari sejatinya juga pernah diulas oleh Martin Hartmann, seorang orientalis dan Arabis pada awal abad ke-20 yang konsisten mencermati tiga karya penting dari Jawhari (C.C. Adams, Islam and modernism in Egypt, 2013). Jadi meskipun pemikiran teolog klasik seperti al-Ghazali dinilai penting dalam konteks studi keislaman, Jawhari tetap merepresentasikan satu tahap epistemik baru yang tidak terbatas pada khazanah Islam klasik, namun juga membuka diri dan mengambil inspirasi dari pemikir Barat, termasuk dalam hal sains.

Jawhari dalam karya tafsirnya juga tidak segan untuk mengkritik para teolog yang terlalu larut dalam dunia metafisik yang spekulatif, namun lupa merenungkan tentang keindahan dan keteraturan kosmos. Ia banyak terinspirasi oleh pemikir-pemikir naturalis, seperti John Lubbock yang menulis The Beauties of Nature and the Wonders of the World We Live In. Pengaruh ini bisa kita lihat secara jelas dalam karyanya yang berjudul Jamal al-ʿĀlam, yang secara semantik menggambarkan visi harmonis antara wahyu dan semesta.

Meski kontribusinya cukup signifikan dalam diskursus sains, nama Jawhari kerap kali terpinggirkan dalam wacana akademik kontemporer terkait tafsīr ʿilmī. Hal ini sangat jelas ketika ia dibandingkan dengan tokoh-tokoh seperti Maurice Bucaille, seorang dokter asal Prancis yang menerbitkan karya populer tentang relasi antara sains, Al-Qur’an dan Al-Kitab.

Bucaille, dengan kedekatannya dengan Raja Faisal, begitu cepat mendapatkan simpati umat Islam, karena kritiknya terhadap keabsahan Al-kitab, serta pembelaannya atas Al-Qur’an (Lihat: Daneshgar. Behind the Scenes: A Review of Western Figures’ Supportive Comments regarding the Qur’ān, 2013). Namun pendekatan Bucaille lebih bersifat apologetik-komparatif, sementara Jawhari justru membangun sistem penafsiran dengan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai instrumen untuk menguatkan pemahaman terhadap āyāt kauniyyah (ayat tentang semesta).

Selain itu, minimnya apresiasi atas tafsir Jawhari juga disebabkan kurangnya pemahaman terhadap metodologi yang dikembangkannya. Karya tafsirnya yang berjumlah 26 jilid sering dianggap kompleks dan sulit untuk dapat diakses.

Salah satu pendekatannya, ia memulai dengan penafsiran literal atau yang dikenal dengan tafsīr lafī, setelah itu, ia memperluas kajiannya dengan memasukkan pembacaan multidisipliner terhadap fenomena sosial, filsafat alam dan sains. Ini membuktikan bahwa tafsirnya tidak sekadar mengulang wacana klasik, melainkan sebuah usaha kontekstualisasi wahyu, khususnya dalam konteks pusaran perubahan sosial-politik yang terjadi di Mesir.

Tafsir saintifik yang dirumuskan tidak sekedar proyek epistemologis, namun juga merupakan respons atas tantangan modernitas dan kemunduran umat Islam dalam aspek sains. Melalui tafsirnya, ia bahkan memperkenalkan konsep-konsep saintifik yang selama ini sering terabaikan, bahkan cenderung asing dalam wacana keagamaan kontemporer. Misalnya dalam menafsirkan ayat-ayat tentang penciptaan manusia. (Lihat: Tantawi Jawhari, al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim, Juz 11, hlm. 94-95).

Karya tafsirnya juga merepresentasikan keterkaitan yang sangat erat antara semangat keilmuan dan keprihatinan sosial. Jawhari dalam banyak penafsirannya tidak sekedar mengulas ayat-ayat kauniyyah dari sudut pandang saintifik, namun juga mengangkat isu sosial-politik Mesir, seperti ketimpangan pendidikan, stagnasi dalam pemikiran keislaman, serta problematika relasi umat Islam dengan dunia Barat. Di samping itu, dalam kerangka tafsirnya, ia juga tidak segan untuk mengkritik hegemoni orientalisme dan tokoh-tokoh orientalis secara kritis, namun tetap objektif. Bahkan, boleh dikatakan tafsirnya merupakan sebuah upaya dialogis antara peradaban Islam dan Barat, tanpa menghilangkan independensi epistemologisnya.

Pada tahap selanjutnya, Tantawi Jawhari mengembangkan sebuah narasi tafsir dengan menjelajahi tema-tema penting dari 114 surah Al-Qur’an, serta mengaitkannya dengan nilai-nilai progresif seperti teknologi, pendidikan, reformasi sosial dan sebagainya. Relevansi pandangannya pun tidak hanya diproyeksikan dalam konteks kontemporer, melainkan juga melalui skenario futuristik, yaitu bagaimana produk tafsirnya dapat merespons wacana sains dan agama di masa yang akan datang. Sehingga gagasan tersebut memperlihatkan betapa tafsirnya bersifat dinamis dan adaptif terhadap dinamika zaman.

Karyanya tersebut mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (Daneshgar. Tantawi Jawhari and the Qur’an: Tafsir and Social Concerns in the Twentieth Century. 2017). Hal ini menunjukkan bahwa wacana tafsir saintifik memperoleh revitalisasi yang cukup signifikan. Ini tentu menjadi inspirasi atau semangat baru untuk meninjau kembali warisan intelektual Islam, termasuk Tantawi Jawhari, serta menjadikannya sebagai salah satu referensi penting dalam studi tafsir, relasi Islam dan sains, serta studi peradaban dunia kontemporer.

Dalam konteks kajian tafsir di Indonesia, warisan intelektual Tantawi Jawhari menjadi sangat relevan. Tradisi tafsir di Indonesia sangat dinamis, tumbuh dari akar pesantren dan juga perguruan tinggi Islam, sehingga membutuhkan jembatan metodologis yang mampu mengintegrasikan antara turats dengan realitas kontemporer. Pendekatan tafsir saintifik yang dikembangkan Jawhari memberikan inspirasi tersendiri bagaimana Al-Qur’an dibaca secara progresif dan dijadikan sebagai sarana rekonstruksi sosial, medium pembebasan masyarakat dari ketertinggalan ilmu pengetahuan dan penjajahan struktural.

Oleh karena itu, studi tafsir di Indonesia seharusnya tidak stagnan dalam kerangka linguistik ayat, tetapi juga mampu menghadirkan Al-Qur’an dalam pergumulan sains, kemanusiaan, politik, dan ekologi secara kontekstual. Tantangan bagi mufasir Indonesia ke depannya adalah membangun ekosistem tafsir yang responsif terhadap realitas kontemporer. Di sinilah warisan pemikiran Tantawi Jawhari menemukan relevansinya, yaitu sebagai rujukan metodologis dan semangat ijtihad penafsiran yang inklusif dan progresif.

Referensi

Adams, Charles Clarence. Islam and modernism in Egypt. Vol. 10. Taylor & Francis, 2000.

Daneshgar, Majid. Tantawi Jawhari and the Qur’an: Tafsir and Social Concerns in the Twentieth Century. Routledge, 2017.

Daneshgar, Majid. “Behind the Scenes: A Review of Western Figure s’ Supportive Comments regarding the Qur’ān.” Al-Bayan: Journal of Qur’an and Hadith Studies 11.2 (2013): 131-153.

Jawhari, Tantawi. Al-Jawahir fi Tafsir al-Quran al-Karim, Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabiwa Aula duhu, 1350H.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *