Tafsir Rasional-Ilmiah Khwaja Kamaluddin: Sinergisitas Wahyu dan Sains sebagai Pilar Peradaban

Ketika para peneliti atau scholar disibukkan dengan sosok Maulana Muhammad Ali sebagai figur sentral Ahmadiyah Lahore, namun ada satu tokoh yang masih sedikit diperbincangkan tapi sikap gerilya dan semangat juangnya dalam penyebaran Islam di Eropa khususnya pada era keruntuhan Ottoman tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan salah satu orang yang menekan dan mengupdate proyek terjemahan Al-Qur’an M. Ali pada bulan Juni 1916 kepada para muslim di Woking (Kamaluddin & Sadruddin, 1916, p. 16).

Tokoh itu bernama Khawaja Kamaluddin merupakan seorang misionaris muslim yang menyebarkan Islam di Kota Woking masuk dalam wilayah barat laut Surrey, Inggris. Kedekatan antara Maulana Muhammad Ali dengan Khwaja sangat erat, bahkan ketika perpecahan Ahmadiyah menjadi dua (Lahore dan Qadiyan) Bashiruddin Mahmud Ahmad membuat provokasi bahwa Khwaja lah yang menghasut M. Ali untuk memisahkan dan membentuk aliansi Ahmadiyah Lahore (Ahmad, 2007, p. 268). Lahir di kota Punjab pada 1870, keluarganya berorientasi pada pengabdian. Kakeknya Abdur Rashid seorang penyair cukup terkenal serta menjabat sebagai Qadhi atau kepala hakim muslim selama periode Sikh, begitu pun kakak laki-lakinya bernama Khwaja Jamaluddin seorang gerilyawan memperjuangkan edukasi Islam di wilayah Kashmir dan Jammu.

Bacaan Lainnya

Rekam jejak pendidikannya merupakan prosesi eksistensi dirinya hingga mampu mengimplementasikan pesan-pesan Islam. Di awali dari Forman Cristian College dimana dirinya mempelajari pendalaman Bible dan teologi kekristenan bahkan tak jarang pula menghadiri diskusi-diskusi para teolog Kristen (South Asian Britain, n.d.). Keilmuan Kristen yang dipelajari di sini menjadi landasan kuat bagi Khwaja untuk mengarungi bahtera misionaris Islam di Inggris.

Kemudian meraih gelar B.A pada tahun 1893 serta meraih penghargaan medali Universitas Punjab dalam bidang ekonomi. Dari sini Khwaja Kamaluddin menjadi pimpinan ekonomi dan Sejarah di Islamia College, Lahore selama 4 tahun. Pendidikan LL.B dalam bidang hukum membawanya menjadi praktisi hukum di Peshawar selama 6 tahun. Namun pada tahun 1903 kembali ke Lahore merealisasikan keilmuan hukumnya, hingga dirinya dianggap sebagai salah satu pengacara terkemuka di Punjab Chief Court, bahkan memperoleh penghargaan dan penghormatan dari pemerintah dan non-pemerintah. Akhirnya, tahun 1912 mendaratkan dirinya di Inggris (Bohdanowicz, 1949, pp. 5–6).

Pada tahun 1912 saat tiba di Inggris Khwaja bersama sahabatnya Shaikh Nur Ahmad menghidupkan Kembali sebuah masjid yang berada di wilayah Woking, Surrey. Menurut informasi masjd ini telah berdiri sejak 1889 atas inisiasi Dr. Henry Leitner. Tempat inilah oleh Khwaja Kamaluddin diperuntukkan untuk missionaris Islam di wilayah tersebut, bahkan dikenal gerakannya dengan The Woking Muslim Mission serta dinamailah The Shah Jehan Mosque. Tidak hanya Gerakan missionaris berupa khutbah di tempat tersebut, Khwaja juga mendirikan majalah The Islamic Review yang terbit setiap bulannya di mulai tahun 1912 (Bohdanowicz, 1949, pp. 5–7).

Dikutip dari majalah The Islamic Review edisi April-May 1933 mengemukakan bahwa seorang Rt. Hon. Lord Headley atau dikenal dengan Al-Haj Al-Farooq menyatakan kesedihannya yang mendalam ketika berita duka atas wafatnya Khawaja Kamaluddin ini muncul pada 28 Desember 1932 (Bohdanowicz, 1949, pp. 109–114).

Khwaja Kamaluddin melahirkan banyak karya yaitu; Five Pillars of Islam (1900), Jesus: An Ideal of Godhead and Humanity (1920), The House Divided: England, India, and Islam (1922), The Ideal Prophet (1925), The Source of Christianity (1925), Islam and Zoroastrianism (1925), Islam to East and West (1935), Islam and Civilization (1931), Towards Islam (1923), Ethics of War (1900), Hell & Heaven (1900), Hints to the Study of the Holy Qur’an (1882), India in the Balance: British Rule and The Caliphate (2019), Islam and Other religions (1900), Islam My Only Choice (1995), League of Faith (1920), Modernization in the Islamic Forms of Devotion (1900), Study for an Atheist (1900), The Existence of God (1900), The Muslim Conception of Worship (1900), The Strength of Islam (1900), dan lainnya.

Perjalanan pendidikan yang telah ia tempuh dari beragam tempat mengkontruksi frameworknya dalam memahami Islam. Salah satu prinsipnya Islam diimpersonankan sebagai agama kedamaian/peace dengan mengaktualisasikan nilai-nilai lima (5) pilar Islam yaitu; kalimat syahadat, ibadah/shalat, puasa, sedekah, dan haji (Kamaluddin, 1900, p. 1).

Dari berbagai karyanya tersebut misi utamanya adalah menjadikan Islam sebagai pondasinya dalam membawa kedamaian bagi seluruh dunia. Namun, dalam tulisan ini penulis hanya ingin memfokuskan pada sudut pandang Khwaja Kamaluddin terhadap prinsip-prinsip dalam Tafsir/Qur’an yang dapat disarikan dari berbagai tulisan-tulisannya misal Hints to the Study of the Holy Qur’an (1882).

Tafsir Rasional-Ilmiah

Pendekatan Khwaja Kamaluddin dalam memahami Al-Qur’an ditandai dengan upaya gigih untuk menjembatani dua aspek antara wahyu dan sains, sebuah upaya yang sangat relevan di tengah gelombang rasionalisme dan sekularisme Barat. Dalam karyanya, terutama “Hints to the Study of the Holy Qur-an“, Khwaja menolak anggapan bahwa Islam adalah agama yang bersifat dogmatis dan anti-akal (Kamaluddin, 1882, pp. 24–25). Sebaliknya, ia menyajikan Al-Qur’an sebagai sebuah raison d’être (alasan keberadaan) yang mengarahkan manusia untuk memahami dan mentafakkuri alam semesta.

Bagi Khwaja, tidak ada kontradiksi antara Hukum Ilahi (Wahyu) dan Hukum Alam (Nature). Ajaran Qur’an tidak hanya dapat diverifikasi secara empiris di alam semesta, tetapi juga secara eksplisit mendorong manusia untuk melakukan penelitian ilmiah (Kamaluddin, 1931, p. 2). Konsep Tauhid (Keesaan Tuhan) diafirmasi melalui pengamatan akan keteraturan alam (Order), Rancangan (Design), dan Hukum (Law) yang universal di alam semesta. Khwaja berpendapat bahwa keteraturan ini adalah bukti nyata dari sifat Rabb (Pemelihara, Penyedia, dan Evolver) Tuhan, di mana segala sesuatu diatur untuk melayani kepentingan manusia, yang ia sebut sebagai “tuan alam semesta”.

Al-Qur’an tidak selalu menarasikan terkait persoalan-persoalan transendental belaka, padahal di dalamnya mendiskusikan reason dan logic (Kamaluddin, 1931, pp. 5–6). Hal ini mengasah kita untuk mentadabburi alam sebagai bentuk ciptaan-Nya sehingga keseimbangan serta keharmonisan akan menghasilkan peradaban damai dan konvergensi.

Dari sini cukup memberikan arah bahwa Khwaja Kamaluddin, sebagai seorang intelektual Muslim di Barat, menyajikan pola studi Qur’an yang menolak dikotomi antara iman dan akal. Ia berpandangan bahwa Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai teks spiritual, tetapi juga sebagai pembawa dasar-dasar peradaban (civilization) yang logis dan ilmiah.

Oleh karena itu, studi Qur’an menurut Khwaja harus mengarah pada dua tujuan fundamental yaitu; pertama, penemuan ilmiah demi membangun peradaban materi yang maju; dan kedua, pembentukan moralitas ilahi yang berfungsi sebagai kendali atas kemajuan materi tersebut. Puncak dari studi ini adalah terwujudnya “The Kingdom of God” di bumi, sebuah peradaban yang sempurna di mana kecanggihan material (sains) diwarnai oleh refleksi sifat-sifat moral Tuhan (etika). Dengan demikian, Khwaja Kamaluddin memposisikan Islam sebagai landasan filosofis bagi peradaban modern yang utuh.

 

Daftar Pustaka

Ahmad, M. B. M.  Truth about the Split. In Islam International Publications LTD (Present En). Islam International Publications LTD. 2007.

Bohdanowicz, A.  To The Memory of Al-Hajj Khwaja Kamaluddin (1870-1932). The Islamic Review, 5–10. https://www.wokingmuslim.org/pers/kk/life-dec49.pdf. 1949, December.

Kamaluddin, K. Hints to the Study of the Holy Qur’an. The Woking Muslim Mission & Literary Trust. 1882.

_______. Five Pillars of Islam. The Woking Muslim Mission & Literary Trust. 1900.

_______. Islam and Civilization. The Woking Muslim Mission & Literary Trust. 1931.

_______, & Sadruddin, M. Islamic Review And Muslim India. The Mosque Woking. https://www.wokingmuslim.org/work/islamic-review/1916/jun16.pdf. 1916.

South Asian Britain. (n.d.). Khwaja Kamaluddin. South Asian Britain. Retrieved December 3, 2025, from https://southasianbritain.org/people/khwaja-kamaluddin/

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *