Algoritma sebagai Pembentuk Pra-Pemahaman: Analisis Hermeneutika Heidegger dalam Era Digital

Hermeneutika Heidegger berangkat dari gagasan bahwa memahami bukanlah kegiatan mental yang netral, melainkan berasal dari kondisi eksistensial manusia sebagai being-in-the-world (Heidegger, 1996: 134). Manusia selalu telah berada dalam dunia tertentu sebelum ia menafsirkan sesuatu. Dunia tersebut memberikan struktur awal bagi pemahaman, atau apa yang ia sebut Vorverständnis (pra-pemahaman). Dalam konteks tradisional, pra-pemahaman dipengaruhi oleh budaya, bahasa, pengalaman historis, dan lingkungan sosial (Heidegger, 2001: 26). Dengan kata lain, pemahaman manusia dibangun dalam lingkup tradisi dan sejarah yang telah membentuk horizon maknanya.

Namun, pada era digital, kemunculan algoritma menghadirkan realitas baru: terdapat mekanisme teknologis yang secara sistematis menyusun pengalaman manusia sebelum ia memahaminya. Ini berarti algoritma kini menjadi salah satu fondasi pembentuk pra-pemahaman. Menganalisis hubungan ini melalui Heidegger membuka ruang pemahaman yang signifikan tentang bagaimana manusia modern memahami dunia yang semakin dimediasi oleh teknologi. Jika pada masa lalu media hanya menjadi perantara komunikasi, kini ia menjadi struktur dunia baru yang mengatur cara manusia hadir, berhubungan, dan memahami realitas di sekelilingnya.

Bacaan Lainnya

Algoritma sebagai Arsitek Realitas Digital

Dalam keseharian manusia modern, pengalaman terhadap dunia tidak lagi sepenuhnya berlangsung di ruang fisik. Sebagian besar orientasi hidup, pengetahuan, dan hubungan sosial muncul melalui dunia digital (David, 2023: 288), baik media sosial, mesin pencari, platform video, aplikasi belanja, bahkan layanan keagamaan daring. Dunia digital tersebut pada dasarnya adalah dunia yang dikurasi oleh algoritma.

Algoritma bekerja dengan prinsip personalisasi: ia menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi yang ditangkap melalui data interaksi. Dengan demikian, algoritma bukan hanya menyajikan informasi, tetapi menyusun apa yang tampak, bagaimana sesuatu tampak, dan kepada siapa sesuatu tampak (Amelia dan Yahfizham, 2024: 295). Dalam ruang digital, sesuatu tidak hadir karena signifikansinya, tetapi karena ia dianggap relevan secara algoritmik berdasarkan pola perilaku sebelumnya.

Dari perspektif Heidegger, dunia digital ini bukan sekadar media. Ia adalah bentuk worldhood baru, struktur dunia yang menentukan horizon makna. Bila being-in-the-world adalah kondisi dasar manusia, maka kini manusia hidup dalam being-in-the-algorithmic-world. Dunia yang ia masuki setiap hari sudah dipilihkan, ditata, dan disederhanakan oleh perhitungan algoritmik. Dalam kondisi ini, algoritma tidak hanya memediasi pengalaman, tetapi membingkai pengalaman itu sendiri.

Pembentukan Pra-Pemahaman dalam Mode yang Tidak Disadari

Heidegger menekankan bahwa pra-pemahaman bekerja di bawah radar kesadaran. Kita tidak memilih pra-pemahaman; kita menemukannya sudah bekerja ketika kita memahami sesuatu (John, 1971: 82). Dalam dunia digital, algoritma mengoperasikan mekanisme yang sangat mirip: ia bekerja secara diam-diam, tanpa pengalaman langsung yang disadari oleh pengguna.

Ketika seseorang sering menonton konten tertentu, algoritma memperbanyak konten serupa. Ketika seseorang sering mencari isu tertentu, sudut pandang terkait akan semakin sering muncul. Tanpa sadar, seseorang masuk ke dalam pola pemahaman yang semakin stabil, semakin sempit, dan semakin menentukan bagaimana ia memahami sesuatu di luar dunia digital. Dengan demikian, algoritma tidak hanya menata pengalaman online, tetapi menembus cara seseorang membaca realitas sosial, politik, moral, dan bahkan keagamaannya di dunia offline.

Inilah fenomena penting dalam perspektif Heidegger: manusia menyerahkan sebagian proses pembentukan pemahamannya kepada struktur teknologis yang tidak ia sadari (Anna, 2018: 55). Algoritma menjadi bentuk baru dari tradisi yang membingkai pemahaman, tetapi tanpa proses historis, melainkan melalui kalkulasi. Ini merupakan transformasi radikal: pra-pemahaman yang dahulu tumbuh melalui pengalaman historis kolektif kini digantikan oleh pra-pemahaman instan yang dibentuk oleh data dan probabilitas.

Echo Chamber dan Penutupan Lingkaran Hermeneutik

Lingkaran hermeneutik dalam pemikiran Heidegger adalah struktur wajar dalam memahami: manusia mulai dari pra-pemahaman, lalu memperluasnya melalui pengalaman baru (Hardiman, 2015: 116). Untuk benar-benar memahami sesuatu, lingkaran ini harus tetap terbuka, dinamis, dan memungkinkan koreksi.

Namun algoritma menciptakan kondisi sebaliknya: ia menutup lingkaran hermeneutik melalui echo chamber. Dalam echo chamber, seseorang hanya melihat pandangan yang mengonfirmasi dirinya. Pengalaman yang berbeda atau yang berpotensi memperluas horizon tidak muncul. Apa yang berbeda dianggap aneh, ancaman, atau salah (Yuangga dan Umi, 2019: 143).

Kondisi ini membuat manusia kehilangan kesempatan memperluas pemahamannya. Ia berada dalam lingkaran pemahaman yang tak lagi berkembang, tetapi berputar pada pola yang sama. Secara hermeneutik, algoritma mengunci horizon makna manusia dalam batasan tertentu, sehingga pemahaman menjadi stagnan. Jika hermeneutika mengandaikan keterbukaan terhadap keberbedaan, maka algoritma justru membatasi perjumpaan dengan keberbedaan tersebut.

Algoritma sebagai Mode Gestell

Heidegger dalam esai “The Question Concerning Technology” menjelaskan bahwa bahaya utama teknologi bukan terletak pada alatnya, melainkan pada Gestell, cara teknologi membingkai realitas sehingga manusia melihat dunia hanya sebagai sesuatu yang siap untuk dimanfaatkan (standing-reserve) (Heidegger, 1977: 20–21).

Algoritma adalah salah satu bentuk Gestell modern. Ia membingkai realitas digital agar sesuai dengan kebutuhan prediksi dan efisiensi. Tetapi dalam proses itu, ia memampatkan kompleksitas dunia menjadi pola-pola perilaku yang dapat dihitung. Manusia pun akhirnya melihat realitas melalui kerangka reduktif yang dibuat oleh algoritma.

Dampaknya bukan hanya epistemologis, tetapi eksistensial: manusia menyesuaikan dirinya dengan ritme algoritma—kecepatan, keseragaman, viralitas—dan kehilangan hubungan otentik dengan dunia sebagaimana adanya. Apa yang tidak viral dianggap tidak penting. Apa yang tidak trending dianggap tidak relevan. Dalam kondisi ini, bukan hanya makna yang direduksi, tetapi cara berada (mode of being) manusia pun ikut tereduksi.

Kehilangan Keotentikan dalam Pemahaman

Salah satu ide kunci Heidegger adalah keotentikan. Keotentikan berarti manusia sadar terhadap kondisi-kondisi yang membentuk dirinya dan memilih cara berada yang sejati (Heidegger, 1996: 53). Dalam dunia yang dibingkai oleh algoritma, peluang untuk keotentikan semakin kecil, karena manusia tidak lagi mengalami dunia secara langsung, melainkan melalui representasi yang telah difilter.

Manusia modern jarang bertanya: “Mengapa saya melihat ini? Dari mana struktur pemahaman saya berasal? Siapa yang menentukan apa yang relevan bagi saya?”. Ketika pertanyaan-pertanyaan ini hilang, manusia hidup dalam mode inauthenticity, menyerahkan proses pemaknaan kepada mekanisme teknologis yang ia anggap netral.

Dalam perspektif Heidegger, inauthenticity bukan kesalahan moral, tetapi kondisi ketika seseorang tidak menguasai dirinya sendiri. Di era digital, ketidakotentikan ini diperkuat oleh kesadaran palsu bahwa manusia bebas memilih apa yang ia lihat, padahal ruang pilihannya sudah dikerangkai oleh algoritma. Dengan demikian, proyek keotentikan menjadi semakin menantang: manusia harus berjuang melampaui lapisan algoritmik yang membentuk pra-pemahamannya.

Untuk keluar dari kondisi tersebut, manusia perlu mengembangkan kesadaran kritis terhadap peran algoritma dalam membentuk pengalaman dan pemahamannya. Refleksi hermeneutik menjadi penting agar individu mampu melihat batas-batas yang diciptakan oleh teknologi dan membuka kembali ruang kemungkinan pemaknaan yang lebih luas. Dengan kesadaran ini, manusia dapat merebut kembali peran eksistensialnya sebagai subjek penafsir, bukan sekadar objek yang diarahkan oleh mekanisme digital.

Referensi

Andini, Amelia Tri dan Yahfizham. “Analisis Algoritma Pemrograman dalam Media Sosial terhadap Pola Konsumsi Konten.” Arjuna 2, no. 1. 2024: 295.

Balya Al, Muh David. “Kemajuan Teknologi dan Pola Hidup Manusia dalam Perspektif Sosial Budaya.” Tuturan 1, no. 3 .2023: 288.

Deely, John N. The Tradition Via Heidegger: An Essay on the Meaning of Being in the Philosophy of Martin Heidegger. Belanda: Springer, 1971.

Hardiman, F. Budi. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius, 2015.

Heidegger, Martin. Being and Time: A Translation of “Sein und Zeit”. Translated by Joan Stambaugh. New York: State University of New York Press, 1996.

Heidegger, Martin. Phenomenological Interpretations of Aristotle: Initiation into Phenomenological Research. Translated by Richard Rojcewicz. Indiana: Indiana University Press, 2001.

Heidegger, Martin. The Question Concerning Technology. Translated by William Lovitt. New York: Garland Publishing, Inc., 1977.

Kouppanou, Anna. Technologies of Being in Martin Heidegger: Nearness, Metaphor and the Question of Education in Digital Times. New York: Routledge, 2018.

Yahya, Yuangga Kurnia, dan Umi Mahmudah. “Echo Chambers di Dunia Maya: Tantangan Baru Komunikasi Antar Umat Beragama.” Religi 15, no. 2 (2019): 143.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *