Setiap huruf dalam Al-Qur’an ditransmisikan secara mutawatir, tidak hanya dalam aspek pelafalan, tetapi juga dalam penulisannya. Oleh karena itu, keberadaan satu huruf saja memiliki signifikansi yang besar dan layak menjadi objek kajian tersendiri dalam ilmu gramatika Arab. Dalam konteks ini, salah satu topik yang menarik untuk dikaji adalah kehadiran atau ketiadaan huruf alif dalam lafaz “bismi” dalam Al-Qur’an, yang secara morfologis dapat ditelusuri dari bentuk dasar “ism” (اسم) sehingga memunculkan dua kemungkinan bentuk, yakni (ب + اسم) dan (ب + سم).
Perbedaan penulisan tersebut telah memunculkan ragam pendapat di kalangan ulama. Sebagian menjelaskan bahwa penghilangan alif merupakan bentuk at-takhfīf (peringanan), sementara yang lain mengaitkannya dengan katsrat al-isti‘māl (tingginya frekuensi penggunaan), sehingga bentuk yang lebih ringkas dianggap lebih sesuai. Ada pula yang menekankan keselarasan antara teks tertulis dengan pelafalan lisan, serta pertimbangan-pertimbangan lain dalam kerangka ilmu rasm dan nahwu (Al-Dimasyqī, 1998: 129).
Tulisan ini berfokus pada analisis argumentasi Imam Khalil mengenai penyebutan dan penghilangan alif dalam lafaz “bismi”, sekaligus mengkaji kritik yang diajukan oleh Lora Isma’il Al-Ascholy, seorang mufassir dan anggota majlis keluarga Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan dalam karyanya The Qur’anything, khususnya dalam penafsiran Surah Al-‘Alaq ayat 1–5.
Konstruksi Lafaz “Bismi”
Ketika lafaz bismi dianalisis secara morfologis, kata ini tersusun dari huruf jarr bā’ dan kata ismun (alif-sīn-mīm). Dalam kaidah umum, bā’ sebagai huruf jarr memiliki beragam makna, seperti muṣāḥabah (kebersamaan), isti‘ānah (permohonan bantuan), ilṣāq (perlekatan), dan lain sebagainya. Namun, dalam pembahasan ini, fokus diarahkan pada unsur kedua, yaitu lafaz ismun.
Terkait asal-usul kata ism, para ulama berbeda pendapat. Di antara berbagai pandangan tersebut, pendapat Ibnu Mandzur dinilai paling relevan. Ia berpendapat bahwa al-ism berasal dari kata simwun atau samwun (sīn-mīm-wāw) yang bermakna “ketinggian” atau “keluhuran”. Huruf wāw dalam kata tersebut dihilangkan, sebagaimana terjadi dalam bentuk jamaknya. Adapun huruf alif pada ism merupakan hamzah waṣl, sehingga dalam penggunaannya terkadang dilafalkan dan terkadang tidak, bergantung pada konteks.
Pendapat ini diperkuat oleh kesesuaian pola perubahan kata antara bentuk asal (simwun/samwun) dengan turunan dari ism. Sebagai contoh, bentuk jamak ismun adalah asmā’un (أَسْمَاءٌ), sementara simwun berubah menjadi asmāwun (أَسْمَاوٌ). Demikian pula dalam bentuk taṣghīr, ismun menjadi sumayyun (سُمَيٌّ), sedangkan simwun pada asalnya adalah sumaywun (سُمَيْوٌ) yang kemudian mengalami penyederhanaan fonologis menjadi sumayyun. Kesesuaian ini menunjukkan adanya hubungan etimologis yang kuat antara ism dan akar kata simwun/samwun (Ibn Manẓūr, 1990: 401).
Argumentasi Imam Khalil
Imam Khalil melakukan komparasi antara lafaz “bismi” dalam basmalah dan “bismi” yang terdapat pada ayat pertama Surah Al-‘Alaq. Dari komparasi tersebut, ia sampai pada kesimpulan bahwa ketika huruf ba’ dapat menggantikan posisi alif dan pemaknaan lafaz sangat bergantung padanya, maka alif dapat dihilangkan. Sebaliknya, apabila alif dapat berdiri secara independen dan penghilangan ba’ tidak merusak makna atau menimbulkan ambiguitas, maka alif tidak boleh dihilangkan.
Dengan demikian, titik tekan argumentasi Imam Khalil terletak pada sejauh mana penghilangan ba’ berimplikasi terhadap kejelasan dan keabsahan makna. Sebagai contoh, dalam lafaz “iqra’ bismi rabbika” (اقرأ باسم ربك), ketika huruf ba’ dihilangkan, secara semantik makna tidak serta-merta menjadi kabur. Lafaz tersebut masih dapat dipahami dalam bentuk “iqra’ isma rabbika” (اقرأ اسم ربك), yang secara umum tetap dapat diterjemahkan sebagai “Bacalah nama Tuhanmu”. Hal ini menunjukkan bahwa, dalam konteks tertentu, penghilangan ba’ tidak selalu mengakibatkan kerusakan makna secara signifikan, sebagaimana yang menjadi titik pijak dalam argumentasi Imam Khalil (Al-Rāzī, 1981: 103).
Bantahan Lora Isma’il Al-Ascholy
Meskipun teori Imam Khalil tampak aplikatif dalam banyak kasus penggunaan lafaz “bismi”, Lora Isma’il Al-Ascholy melihat adanya celah argumentatif yang belum sepenuhnya terjawab. Salah satu contoh yang ia ajukan adalah doa sebelum tidur: “bismika allāhumma aḥyā wa bismika amūt” (بِاسْمِكَ اللّٰهُمَّ أَحْيَا وَبِاسْمِكَ أَمُوتُ). Dalam konteks ini, jika menggunakan logika Imam Khalil—yakni bahwa huruf ba’ dapat dihilangkan selama tidak merusak makna—maka akan muncul problem semantik. Ketika ba’ dihapus, struktur kalimat berubah menjadi “ismuka allāhumma aḥyā”, yang secara literal dapat dipahami sebagai “nama-Mu ya Allah aku hidup”, sebuah konstruksi yang terasa janggal dan berpotensi membingungkan.
Dari contoh tersebut, Lora Isma’il menunjukkan bahwa parameter “kemungkinan penghilangan ba’ tanpa merusak makna” tidak selalu stabil dan universal. Dalam kasus tertentu, penghilangan ba’ justru menimbulkan kekacauan relasi makna, terutama ketika fungsi sintaksis jar-majrur menjadi penopang utama dalam struktur kalimat.
Sebagai alternatif, Lora Isma’il menawarkan pendekatan yang lebih struktural dengan menggeser fokus analisis dari “apakah ba’ bisa dihilangkan” menjadi “apakah muta‘allaq dari jar-majrur disebutkan atau tidak”. Menurutnya, keberadaan atau ketiadaan alif dalam lafaz “bismi” berkaitan erat dengan kejelasan muta‘allaq-nya. Jika muta‘allaq disebutkan secara eksplisit dalam kalimat, maka bentuk asal “ism” (dengan alif) tetap dipertahankan. Sebaliknya, jika muta‘allaq tidak disebutkan, maka terjadi proses ringkasan (ḥażf) yang berdampak pada penghilangan alif sehingga menjadi “bismi” (Al-Ascholy, 2025: 321–325).
Dengan demikian, teori yang diajukan Lora Isma’il tidak semata bertumpu pada aspek kemungkinan fonetik atau semantik dari penghilangan huruf, tetapi lebih menekankan pada keterikatan struktur sintaksis dalam kalimat. Pendekatan ini bagi penulis terlihat lebih konsisten karena mampu menjelaskan kasus-kasus yang tidak terjangkau oleh teori Imam Khalil, sekaligus memberikan kerangka analisis yang lebih sistematis dalam memahami fenomena kebahasaan Al-Qur’an.
Referensi:
Al-Dimasyqī, Ibn ‘Ādil. Tafsīr al-Lubāb fī ‘Ulūm al-Kitāb. Juz 1, hlm. 129. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998.
Al-Rāzī, Fakhr al-Dīn. Mafātīḥ al-Ghayb. Juz 1, hlm. 103. Beirut: Dār al-Fikr, 1981.
Al-Ascholy, Ismail. The Qur’anything. Hlm. 321–325. Bangkalan: TIEMAS (Turāth ‘Ilmī Madrasah Al-Ma‘ārīf Syaichona Moh. Cholil), 2025.
Ibn Manẓūr. Lisān al-‘Arab. Juz 14, hlm. 401. Beirut: Dār Ṣādir, 1990.





