Wacana Manusia Sebelum Adam dalam Tafsir pra-Modern: Jejak Awal Diskursus Teori Evolusi

Teori evolusi selama ini kerap dipahami sebagai konsep yang sepenuhnya berkembang dalam ranah sains modern. Dalam diskursus mengenai asal-usul manusia, nama Charles Darwin sering ditempatkan sebagai pusat perhatian utama. Akan tetapi, jauh sebelum terbitnya The Origin of Species, sejumlah mufasir muslim telah membahas kemungkinan keberadaan manusia sebelum Adam.

Perbedaan pendekatan dalam memahami realitas menjadi salah satu penyebab munculnya perdebatan antara agama dan sains. Dalam tradisi agama, wahyu serta ajaran keimanan dijadikan landasan utama untuk menentukan kebenaran, sedangkan sains menitikberatkan pada observasi empiris dan penalaran rasional (Ridwan, 2020, hlm.10). Pertentangan tersebut tampak semakin nyata ketika teori evolusi digunakan untuk menjelaskan asal-usul kehidupan dan manusia. Penafsiran ilmiah mengenai proses perubahan alamiah kemudian bersinggungan secara langsung dengan keyakinan agama tentang penciptaan manusia, sehingga persoalan asal-usul manusia berkembang menjadi salah satu titik perdebatan penting antara sains dan agama (Guessoum, 2015, hlm.856-857).

Bacaan Lainnya

Perdebatan mengenai evolusi manusia semakin meluas pada era modern seiring berkembangnya gagasan Charles Darwin tentang evolusi yang dipaparkan dalam The Origin of Species. Darwin meyakini bahwa seluruh makhluk hidup berasal dari nenek moyang yang sama dan mengalami modifikasi secara bertahap, sehingga setiap spesies mempunyai hubungan kekerabatan biologis (Charles, 1959, hlm.7-10). Pandangan lain dikemukakan oleh Lewis Dartnell melalui bukunya Origins Bagaimana Sejarah Bumi Membentuk Sejarah Umat Manusia. Ia berpendapat bahwa manusia telah menempuh perjalanan evolusi yang sangat panjang sejak sekitar 13 juta tahun lalu. Pada bagian awal bukunya, Dartnell menyatakan bahwa manusia termasuk kelompok kera dan memiliki kerabat terdekat yang masih hidup, yaitu simpanse (Dartnell, 2018, hlm 7).

Sementara itu, Harari menjelaskan bahwa spesies yang berkembang hingga menjadi manusia modern ialah Homo Sapiens. Menurutnya, kemunculan Sapiens diperkirakan terjadi sekitar 2,5 juta tahun yang lalu di Afrika Timur (Noah Harari 2017.hlm 114). La’ribi (2024) tidak menerima pandangan yang menyatakan manusia berkembang dari asal-usul yang sama dengan kera. Menurut La’ribi, Nabi Adam merupakan ciptaan yang bersifat khusus dan hadir untuk menghuni wilayah tertentu di bumi pada fase yang relatif lebih akhir dibandingkan keberadaan spesies manusia purba.(La’ribi, 2024, hlm. 7)

Pada dasarnya, diskusi mengenai asal-usul manusia telah lama hadir dalam tradisi intelektual Islam dan bukan persoalan yang baru muncul setelah berkembangnya teori evolusi Darwin di Eropa. Jauh sebelumnya, tokoh-tokoh pemikir Islam seperti al-Rāzī dan al-Ālūsī telah bergulat dengan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya manusia sebelum Adam. Hal yang menjadi perhatian utama bukan hanya keberadaan perdebatan tersebut, melainkan juga cara kedua tokoh itu meresponsnya. Mereka memperlihatkan sikap intelektual yang kritis dengan merekam beragam narasi kosmologis, kemudian menelaahnya melalui pendekatan rasional yang tetap berpijak pada wahyu, sekaligus menetapkan batas-batas teologis secara tegas.

Narasi Polemis Riwayat Manusia Pra-Adam dalam Tafsir al-Rāzī dan al-Ālūsī

Pembahasan mengenai pernyataan riwayat tentang manusia sebelum Adam dalam tafsir pra-modern menunjukkan adanya dinamika wacana yang beragam dalam khazanah tafsir Islam. Di satu sisi, para mufasir arus utama menegaskan bahwa Adam adalah manusia pertama berdasarkan dalil rasional-teologis dan konsensus mayoritas ulama. Di sisi lain, terdapat riwayat alternatif terutama dari kalangan Syiah yang menyebutkan adanya pluralitas Adam sebelum Adam sebagai bapak umat manusia. Perbedaan ini tidak hanya terletak pada isi riwayat, tetapi juga pada cara para mufasir menyebut, menukil, dan menilai validitasnya. Tafsir al-Rāzī dan tafsir al-Ālūsī menjadi contoh penting dalam melihat bagaimana riwayat-riwayat tersebut disajikan: apakah sebagai pandangan yang diterima, dikritisi, atau sekadar dicatat sebagai wacana yang ada.

Dalam Mafātī al-Ghayb, al-Rāzī menjelaskan Surah al-Ḥijr ayat 26 dengan menegaskan bahwa semua manusia berasal dari satu manusia pertama, sebelum merujuk pada riwayat lain tentang keberadaan Adam sebelum Adam sebagai bapak umat manusia. Berikut penjelasannya (al-Rāzī, 1199 H, hlm. 225):

 

{وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلإِنْسَـٰن} إشارة إلى ذلك الإنسان الأول، والمفسرون أجمعوا على أن المراد منه هو آدم عليه السلام، ونقل في «كتب الشيعة» عن محمد بن علي الباقر عليه السلام أنه قال: قد انقضى قبل آدم الذي هو أبونا ألف ألف آدم أو أكثر وأقول: هذا لا يقدح في حدوث العالم بل لأمر كيف كان، فلا بد من الانتهاء إلى إنسان أول هو أول الناس وأما أن ذلك الإنسان هو أبونا آدم، فلا طريق إلى إثباته إلا من جهة السمع. واعلم أن الجسم محدث، فوجب القطع بأن آدم عليه السلام وغيره من الأجسام يكون مخلوقاً عن عدم محض، وأيضاً دل قوله تعالى :{إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ ٱللَّهِ كَمَثَلِ ءادَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ } [آل عمران: 59] على أن آدم مخلوق من تراب، ودلت آية أخرى على أنه مخلوق من الطين

“{Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia} merupakan isyarat ontologis terhadap manusia primordial tersebut. Mayoritas mufasir berijmak bahwa figur yang dimaksud adalah Adam AS. Namun, dinukil dalam literatur Syiah dari Muhammad bin Ali al-Baqir AS, bahwa beliau menegaskan: ‘Telah berlalu sebelum Adam yang merupakan lelulur kita, sejuta Adam atau lebih.’ Aku [penulis] berpendapat: Proposisi ini sama sekali tidak mendestruksi doktrin huduts al-‘alam (kebaruan kosmos dalam ruang-waktu). Bagaimana pun bentuk realitas historisnya, rantai regresi ini niscaya harus bermuara pada satu manusia primordial yang menjadi titik awal spesies ini. Adapun klaim spesifik bahwa manusia pertama tersebut adalah bapak kita Adam, secara epistemologis tidak ada metodologi rasional untuk membuktikannya kecuali bersandar murni pada transmisi tekstual (sam’i/wahyu). Ketahuilah bahwa entitas jism itu bersifat muhdats (baru/tercipta). Konsekuensinya, menjadi sebuah kepastian logis bahwa Adam AS dan entitas material lainnya dimunculkan dari ketiadaan absolut (creatio ex nihilo / ‘adam mahdh). Lebih jauh, firman-Nya: {Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam. Dia menciptakannya dari debu/tanah} [Ali Imran: 59] mendeduksikan bahwa Adam dikonstruksi dari materi dasar debu, sementara konjungsi ayat lain mensyaratkan penciptaannya dari lempung basah (thin).”

Uraian al-Rāzī menunjukkan bahwa penyebutan riwayat mengenai adanya Adam sebelum Adam sebagai bapak umat manusia tidak dianggap sebagai pandangan yang diterima secara umum. Ar-Razi lebih dahulu menyampaikan tentang kemustahilan adanya rangkaian peristiwa yang terjadi tanpa permulaan yang jelas. Setelah prinsip ini ditegaskan, menjadi terang bahwa seluruh kejadian pasti bermuara pada satu peristiwa awal sebagai asal dari segala kejadian.

Berdasarkan logika tersebut, keberadaan manusia pun harus berakhir pada satu manusia pertama. Konsekuensinya, manusia pertama itu tidak mungkin dilahirkan dari kedua orang tua, melainkan diciptakan secara langsung oleh kekuasaan Allah Ta’ala. sehingga manusia harus berasal dari satu manusia pertama.

Menurut al-Rāzī dalam tafsirnya, riwayat tersebut berasal dari kalangan Syiah dan dinukil dari Muḥammad bin ‘Alī al-Bāqir ‘alaihis salām, yang menyatakan bahwa:

قال: قد انقضى قبل آدم الذي هو أبونا ألف ألف آدم أو أكثر

‘Telah berlalu sebelum Adam yang merupakan lelulur kita, sejuta Adam atau lebih.”

Pandangan al-Rāzī mengenai hal ini menegaskan bahwa pendapat tentang adanya manusia sebelum Adam tidak merusak prinsip kebaruan alam. Terlepas dari keadaan yang ada, keberadaan manusia tetap harus berujung pada satu sosok manusia pertama sebagai asal mula seluruh umat manusia. Namun, penetapan bahwa manusia pertama tersebut adalah Adam, yang dikenal sebagai bapak umat manusia, tidak dapat dibuktikan hanya dengan akal, melainkan harus didasarkan pada dalil wahyu. al-Rāzī juga menjelaskan bahwa tubuh manusia bersifat baru dan tidak abadi, sehingga Adam dan semua jasad lainnya pasti merupakan makhluk yang diciptakan Allah dari ketiadaan.

Setelah mengkaji sikap al-Rāzī terhadap riwayat manusia sebelum Adam, pembahasan selanjutnya berfokus pada penafsiran al-Ālūsī dalam al-Ma‘ānī mengenai Surat An-Nisa ayat 1, yang tercermin dalam kutipan tafsir berikut (Muhammad al-Ālūsī, 1266 H, hlm. 285):

وروي ابن بابويه في كتاب التوحيد عن الصادق في حديث طويل أيضا أنه قال: لعلك ترى أن الله تعالى لم يخلق بشرا غيركم بلى والله لقد خلق ألف ألف آدم أنتم في آخر أولئك الآدميين، وقال الميثم في شرحه الكبير على النهج- ونقل عن محمد بن علي الباقر- أنه قال: قد انقضى قبل آدم الذي هو أبونا ألف ألف آدم وأكثر، وذكر الشيخ الأكبر قدس سره في فتوحاته ما يقتضي بظاهره أن قبل آدم بأربعين ألف سنة آدم غيره، وفي كتاب الخصائص  ما يكاد يفهم منه التعدد أيضا حيث ذكر أن لله تعالى عوالم لا تحصى، وأن هذه الآدميين إنما هم في عالم المثال، أو في أرض السمسامة التي خلقت من بقية طينة آدم… وأما القول بتعدد الآدميين في هذا العالم المحسوس على التعاقب أو التزامن فهو مما يأباه ظاهر النقل وتكاد تحيله القواعد

“Ibnu Babawaih meriwayatkan dalam Kitab al-Tauhid dari al-Sadiq dalam sebuah hadis panjang bahwa beliau berkata: ‘Mungkin engkau berasumsi bahwa Allah tidak menciptakan manusia selain kalian. Tidak, demi Allah, Dia telah menciptakan sejuta Adam, dan kalian berada di ujung rantai entitas-entitas Adam tersebut.’ Al-Maitsam dalam syarah besarnya atas Nahj al-Balaghah menukil dari Muhammad bin Ali al-Baqir bahwa beliau berkata: ‘Telah berlalu sebelum Adam yang merupakan ayah kita, sejuta Adam atau lebih.’ Syekh al-Akbar [Ibnu Arabi] – quddisa sirruh – menyebutkan dalam al-Futuhat sebuah diskursus yang secara literal mengimplikasikan eksistensi Adam lain 40.000 tahun sebelum Adam kita. Dan dalam Kitab al-Khasa’is terdapat redaksi yang hampir secara eksplisit memahamkan adanya multiplisitas [Adam] ini. Di mana ia [Ibnu Arabi/penulis Khasa’is] menyebutkan bahwa Allah Yang Maha Tinggi memiliki alam semesta yang tak terhitung jumlahnya. Jutaan entitas Adam ini sejatinya bersemayam di ‘Alam al-Mithal (Dunia Imaginal), atau di Ardh al-Simsimah yang dikonstruksi dari sisa residu lempung penciptaan Adam [kita]… Adapun proposisi mengenai multiplisitas spesies Adam di dunia korporeal-sensorial ini, baik secara suksesi (berurutan) maupun simultan, adalah sesuatu yang ditolak oleh makna literal wahyu dan nyaris dimustahilkan oleh kaidah-kaidah [teologi].”

Sebelum al-Ālūsī memberikan penafsiran tentang penciptaan Nabi Adam, ia terlebih dahulu menjelaskan bahwa nafs wāidah merujuk kepada Nabi Adam. Pandangan ini dipegang oleh mayoritas fuqaha, ahli hadis, dan para ulama yang sejalan, yang menegaskan bahwa Adam adalah satu-satunya dan merupakan bapak seluruh umat manusia.

Namun, al-Ālūsī juga mencatat adanya riwayat lain yang berkembang di kalangan Imamiyah. Dalam Jāmi‘ al-Akhbār, pada pasal kelima belas, terdapat riwayat panjang yang menyatakan bahwa sebelum Adam, bapak umat manusia, Allah Ta‘ala telah menciptakan tiga puluh Adam, dengan jarak waktu seribu tahun antara masing-masing Adam. Dikatakan pula bahwa dunia pernah mengalami kerusakan selama lima puluh ribu tahun, kemudian dihuni kembali selama lima puluh ribu tahun, sebelum akhirnya diciptakan Adam ‘alaihis salām.

Riwayat serupa juga disampaikan oleh Ibnu Bābawaih dalam kitab al-Tauīd dari Imam Ja’far al-Ṣādiq, yang menyatakan bahwa Allah tidak hanya menciptakan satu generasi manusia, melainkan telah menciptakan banyak Adam sebelumnya, dan umat manusia saat ini berada pada akhir rangkaian tersebut. Pernyataan yang sejalan juga disampaikan oleh al-Mītham dalam syarahnya atas Nahj al-Balāghah, dengan mengutip dari Muḥammad bin ‘Alī al-Bāqir, serta oleh Ibnu ‘Arabī dalam al-Futūāt, yang secara eksplisit menunjukkan adanya makhluk sebelum Adam.

Uraian tersebut memperlihatkan bahwa al-Ālūsī dalam al-Ma‘ānī tidak menempatkan riwayat tentang pluralitas Adam sebagai pandangan yang diakui secara umum. Sikap ini tampak dari penjelasannya sejak awal bahwa nafs wāidah dipahami sebagai Nabi Adam, sekaligus ditegaskan sebagai pendapat yang dipegang mayoritas fuqaha dan ahli hadis. Penekanan terhadap dominasi pandangan ulama arus utama menunjukkan kecenderungan teologis al-Ālūsī yang berpijak pada kerangka Ahl al-Sunnah, yakni memandang Adam sebagai satu-satunya asal seluruh umat manusia.

Pada sisi lain, riwayat-riwayat yang berasal dari kalangan Imamiyah, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Bābawaih, al-Maitsam, serta isyarat dari Ibnu ‘Arabī, tetap dicantumkan al-Ālūsī sebagai bagian dari khazanah intelektual yang berkembang. Riwayat tersebut tidak digunakan untuk menopang argumentasi tafsirnya dan juga tidak ditolak secara tegas, melainkan dipaparkan secara informatif. Pola penyajian semacam ini menunjukkan bahwa narasi mengenai manusia sebelum Adam lebih berfungsi sebagai dokumentasi keberagaman wacana. Pada saat yang sama, hal itu menegaskan kehati-hatian metodologis al-Ālūsī dalam membedakan antara pandangan mayoritas dan riwayat alternatif.

Catatan Akhir

Kajian terhadap riwayat manusia sebelum Adam dalam tafsir al-Rāzī dan al-Ālūsī memperlihatkan adanya kesamaan pola sikap di antara keduanya. Pertama, kedua mufasir menegaskan posisi mayoritas ulama Ahlusunnah wal Jama‘ah yang memandang Adam sebagai manusia pertama sekaligus bapak seluruh umat manusia berdasarkan wahyu dan konsensus ilmiah.

Kedua, riwayat pluralitas Adam yang bersumber dari tradisi Syiah hanya dicatat sebagai bagian dari dinamika diskursus, bukan sebagai pandangan yang diterima. Ketiga, pencantuman riwayat tersebut disertai sikap kritis yang berbeda bentuk: al-Rāzī menolaknya melalui argumentasi rasional-teologis, sedangkan al-Ālūsī memilih pendekatan deskriptif-komparatif dengan tetap menegaskan batas-batas teologisnya. Karena itu, tafsir al-Rāzī dan al-Ālūsī tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi intelektual, tetapi juga sebagai penjaga ortodoksi teologis Sunni.

Referensi

Ar-Razi, F. (1199 H). Tafsir Mafātī al-Ghayb. Darul Fikri, Beirut.

Charles, D. (1959). The Origin of Sapecies by Means of Natural Selection. John Murray.

Dartnell, L. (2018). Origins: How the Earth Made Us (Terj. Ida Rosdalia). Pustaka Alvabet.

Guessoum, N. (2015). Islam And Science: The Next Phase Of Debates. Zygon: Journal of Religion and Science, 50(4). https://doi.org/10.1111/zygo.12213

La’ribi, A. R. (2024). Hal Hunalika Insan Qabla Adam (Misbahul Munir, Terjemah). Ciputat: Alvabet.

Malik, S. A. (2021). Islam and Evolution: Al-Ghazali and the Modern Evolutionary Paradigm (Kardono Styorakhadi, Terjemah). Jakarta Selatan: ReneIslam.

Muhammad al-Alusi, S. (1266 H). Tafsir Ruh al-Ma’ani (kedua). Al-Muniriyah, Beirut.

Noah Harari, Y. (2017). Sapiens Riwayat Singkat Umat Manusia (Terj.Damaring Tyas). KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Ridwan, I. M. (2020). Harmoni, Disharmoni, Dan Integrasi Antara Sains Dan Agama. Jurnal Filsafat Indonesia, 3(1), 8–13. https://doi.org/10.23887/jfi.v3i1.22472

Suraju, S. B. (2021). An Examination of al Imam al Alusi’s Contributions to Selected Theological Issues in His Tafsir. FIKRAH, 9(1), 21. https://doi.org/10.21043/fikrah.v9i1.3191

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *