Pendahuluan
Kisah para nabi dalam tradisi Islam tidak hanya berfungsi sebagai narasi sejarah keagamaan, tetapi juga sebagai sarana teologis untuk membangun legitimasi dan identitas Islam itu sendiri. Di antara figur-figur tersebut, Abraham (Ibrahim) menempati posisi sentral. Ia tidak hanya disebut sebagai khalilullah (kekasih Allah), tetapi juga sebagai model ideal bagi kenabian Muhammad.
Sebagaimana dikemukakan oleh Brian M. Hauglid dalam studinya tentang kehidupan awal Abraham, pemahaman mengenai figur ini tidak dapat dilepaskan dari jaringan intertekstualitas yang kompleks antara tradisi biblikal, midrash Yahudi, dan teks-teks Islam klasik. Artikel ini akan membahas bagaimana tradisi Islam, melalui para exeget seperti Ibn ‘Abbas dan Ka’b al-Aḥbar.
Tidak hanya mengadopsi narasi biblikal, tetapi secara kreatif mengolahnya menjadi sebuah konstruksi teologis yang baru, di mana kehidupan awal Abraham diposisikan sebagai tipologi yang mengantisipasi kelahiran dan misi kenabian Muhammad.
Intertekstualitas dan Sumber-Sumber Awal Kehidupan Abraham
Dalam Alkitab maupun Al-Qur’an, informasi mengenai kehidupan awal Abraham terutama masa kecilnya di tanah Kaldea, hampir tidak tersentuh. Kitab Kejadian hanya menyebutkan secara singkat tentang Terah, ayah Abraham, tanpa menjelaskan kondisi spiritualitas masa itu (Kejadian 11:27-31).
James L. Kugel, dalam analisisnya menyebutkan bahwa, para penafsir Yahudi awal menemukan celah untuk mengeksplorasi masa lalu Abraham melalui pembacaan silang atas Yosua 24: 2-3 dan Yesaya 51: 2. Ayat-ayat ini mengindikasikan bahwa Abraham adalah sosok yang unik di tengah keluarganya yang menyembah berhala, serta dipanggil secara khusus oleh Tuhan.
Dalam Islam, proses penafsiran ini berlangsung serupa tetapi dengan metodologi yang berbeda. Al-Qur’an menyajikan potongan-potongan kisah Abraham secara tersebar, misalnya dalam QS. Al-An’am/6: 74-82, Maryam/19: 41-50, dan Al-Anbiya’/21: 51-71). Untuk menyatukan potongan-potongan ini menjadi satu narasi yang koheren, para mufasir bergantung pada laporan-laporan (hadith) dari generasi awal.
Terutama dari Ibn ‘Abbas (w. 687 M) dan Ka’b al-Aḥbār (w. 652 M), seorang tokoh yang dikenal sebagai pemuka agama Yahudi yang masuk Islam. Hauglid mencatat bahwa sumber-sumber seperti Tafsir, Ta’rikh, dan Qisas al-Anbiya’ memainkan peran penting dalam mengisi kekosongan naratif yang tidak disinggung secara eksplisit dalam Al-Qur’an.
Reorientasi Naratif: Dari Midrash Yahudi menuju Islamisasi
Tradisi Islam tidak serta-merta menyalin narasi Yahudi yang dikenal melalui midrash. Sebaliknya, terjadi proses “reorientasi” yang signifikan. Ka’b al-Aḥbār misalnya, meriwayatkan dialog antara Abraham dengan seorang wanita tua tentang penyembahan berhala, sebuah motif yang juga ditemukan dalam Midrash Rabbah. Namun, dalam versi Islam, dialog tersebut diarahkan untuk membangun klimaks konfrontasi antara Abraham dengan Raja Nimrod yang berujung pada eksekusi api.
Lebih sistematis lagi, rekonstruksi yang dilakukan oleh Ibn ‘Abbas menunjukkan bagaimana elemen-elemen biblikal diubah agar sesuai dengan kerangka teologis Islam. Dalam tradisi Yahudi, Abraham dikenal sebagai pribadi yang menentang penyembahan berhala ayahnya, Terah, dalam lingkup internal.
Namun, dalam riwayat Ibn ‘Abbas yang dikutip oleh al-Ṭabari, Abraham digambarkan sebagai figur publik. Ia tidak hanya merusak berhala di rumah ayahnya, tetapi secara terbuka menghancurkan patung-patung di “hall of the gods” di hadapan publik, memicu kemarahan Nimrod.
Motif kelahiran Abraham di dalam gua juga merupakan salah satu contoh nyata dari proses ini. Dalam tradisi Yahudi, Abraham lahir dalam gua untuk berlindung dari pembunuhan massal yang diperintahkan Nimrod. Ibn ‘Abbas mengadopsi motif ini dan memperkayanya dengan elemen-elemen mukjizat yang khas: Abraham tumbuh dengan kecepatan luar biasa (satu hari seperti seminggu) dan mendapatkan nutrisi dari madu serta susu yang keluar dari jempolnya (al-Ṭabari, Ta’rikh).
Hauglid menekankan bahwa motif kelahiran dalam gua ini tidak hanya menjadi penanda perlindungan ilahi, tetapi juga menjadi pralambang bagi peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Muhammad, seperti mukjizat pemberian susu kepada Muhammad ketika disusui oleh Halimah al-Sa‘diyah.
Tipologi Kenabian: Abraham sebagai Prototipe Muhammad
Poin sentral dari analisis Hauglid adalah bahwa penafsiran Islam terhadap kehidupan awal Abraham bukan sekadar pelengkap naratif, melainkan sebuah proyek tipologis yang sistematis. Abraham sengaja diposisikan sebagai “prototipe” bagi Muhammad. Hal ini menjadi penting mengingat Al-Qur’an sendiri menyebut Islam sebagai “agama Abraham yang hanif” (QS. Ali ‘Imran/3: 95).
Terdapat beberapa motif tipologis yang menonjol. Pertama, motif bintang. Dalam riwayat Ibn ‘Abbas, kelahiran Abraham diawali dengan mimpi Nimrod melihat sebuah bintang yang menghilangkan cahaya matahari dan bulan, yang oleh para astrolog diartikan sebagai kelahiran seorang anak yang akan menghancurkan kerajaan dan penyembahan berhala. Motif ini paralel dengan tradisi Islam mengenai kelahiran Muhammad, dimana munculnya bintang juga dianggap sebagai tanda lahirnya nabi terakhir, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Ishaq.
Kedua, motif penghancuran berhala. Tindakan Abraham yang merusak berhala dengan kapak (QS. Al-Anbiya’/21: 58) ditafsirkan secara tipologis sebagai bayangan dari perjuangan Muhammad melawan paganisme Quraisy di Mekah. Geiger dalam studinya tentang Islam mengamati bahwa jika dalam tradisi Yahudi dialog tentang penghancuran berhala terjadi secara privat antara Abraham dan ayahnya, dalam tradisi Islam adegan ini diperluas menjadi konfrontasi publik antara Abraham dengan Nimrod dan rakyatnya. Hal ini, menurut Geiger, dilakukan agar Abraham dapat menjadi tipe ideal bagi Muhammad yang memang dikenal sebagai juru dakwah publik.
Ketiga, motif api dan keselamatan. Pelemparan Abraham ke dalam api yang kemudian menjadi “sejuk dan damai” (QS. Al-Anbiya’/21:69) adalah salah satu mukjizat terbesar Abraham. Dalam konteks tipologi, keselamatan Abraham dari api dipandang sebagai simbol dari keselamatan Muhammad dari berbagai upaya pembunuhan dan konspirasi yang dilancarkan oleh Quraisy. Bahkan, beberapa riwayat menyebutkan bahwa api tersebut tidak membakar Abraham sama sekali, hanya membakar tali pengikatnya (Tha‘labi, Qisas al-Anbiya’), menegaskan bahwa Tuhan melindungi nabi-Nya dari segala bentuk bahaya.
Kesimpulan
Melalui analisis intertekstual yang ditawarkan oleh Brian M. Hauglid, dapat disimpulkan bahwa narasi kehidupan awal Abraham dalam Islam merupakan hasil dari proses kreatif yang kompleks. Para ulama awal, seperti Ibn ‘Abbas dan Ka’b al-Aḥbār, berperan sebagai jembatan yang menghubungkan warisan biblikal Kristen, midrash Yahudi dengan tuntunan wahyu Al-Qur’an. Mereka tidak hanya mengadopsi motif-motif yang ada, tetapi melakukan “Islamisasi” dan “reorientasi” teologis yang mendalam.
Tujuan akhir dari proses ini bukan sekadar menyusun biografi nabi, tetapi untuk membangun legitimasi bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan merupakan kelanjutan dari misi tauhid yang dimulai oleh Abraham. Lebih dari itu, kehidupan Abraham dari kelahirannya yang penuh ancaman, perjuangannya melawan penyembahan berhala, hingga keselamatannya dari api, dikonstruksi sebagai tipologi yang secara jelas mengantisipasi dan menggambarkan perjalanan hidup Muhammad. Dengan demikian, Abraham tidak hanya menjadi figur historis, tetapi juga menjadi cermin teologis bagi kenabian terakhir dalam Islam.
Referensi
Geiger, Abraham. Judaism and Islam. Madras: Society for the Promotion of Christian Knowledge, 1898.
Hauglid, Brian M. “On the Early Life of Abraham: Biblical and Qur’anic Intertextuality and the Anticipation of Muhammad.” dalam By Study and Also By Faith: Essays in Honor of Hugh Nibley, Vol. 1, diedit oleh John M. Lundquist dan Stephen D. Ricks, 87–106. Provo: FARMS, 2008.
Kugel, James L. Traditions of the Bible: A Guide to the Bible As It Was at the Start of the Common Era. Cambridge: Harvard University Press, 1998.
al-Ṭabari, Muhammad ibn Jarir. The History of al-Ṭabari (Ta’rikh al-Rusul wa al-Muluk). Jilid 2: Prophets and Patriarchs. Diterjemahkan oleh William M. Brinner. Albany: State University of New York Press, 1987.
Tha‘labi, Ahmad ibn Muhammad. ‘Ara’is al-Majalis fi Qisas al-Anbiya’ (Lives of the Prophets). Diterjemahkan oleh William M. Brinner. Leiden: Brill, 2002.





