Pernahkah kita bertanya-tanya, apakah setiap kata dalam Al-Qur’an hanya memiliki satu makna yang tersurat? Atau adakah kedalaman lain yang tersembunyi di balik huruf-hurufnya, menunggu untuk dijangkau oleh mereka yang sungguh-sungguh mencari? Pertanyaan inilah yang menjadi jantung dari sebuah tradisi penafsiran Al-Qur’an yang dikenal sebagai tafsir isyari sebuah pendekatan yang mengajak pembaca menyelami bukan sekadar kulit terluar teks, melainkan ruh yang berdenyut di baliknya.
Buku karya cendekiawan Turki Süleyman Ateş, “Tefsir İsyari veya Tefsir Okulu”, hadir sebagai panduan yang komprehensif untuk memahami tradisi penafsiran yang kaya ini. Ateş membawa pembaca dalam sebuah perjalanan intelektual dan spiritual, mulai dari akar sejarahnya pada masa Nabi Muhammad SAW, hingga perkembangannya di tangan para sufi besar seperti Hasan al-Bashri, Junayd al-Baghdadi, dan Ibnu Arabi.
Apa Itu Tafsir Isyari?
Secara sederhana, tafsir isyari adalah metode penafsiran Al-Qur’an yang berupaya mengungkap makna batin atau makna tersirat dari sebuah ayat yang tidak langsung tampak dari pembacaan literal, tetapi muncul melalui perenungan mendalam dan pengalaman spiritual. Kata “isyari” sendiri berasal dari akar kata yang berarti “isyarat” atau “petunjuk tersembunyi”.
Ateş menjelaskan bahwa pendekatan ini tidak muncul dari kekosongan. Landasan Al-Qur’annya cukup kuat. Sejumlah ayat dalam Al-Qur’an di antaranya surah An-Nisa (4:78, 82), Al-Hasyr (59:13), dan Muhammad (47:24) secara eksplisit mendorong umat Islam untuk merenungkan dan memikirkan kandungan kitab suci mereka secara lebih dalam. Surah Muhammad ayat 24, khususnya, dipandang oleh para sufi sebagai sebuah undangan untuk menyelami lapisan makna yang lebih dalam dari sekadar teks.
Kisah Nabi Yakub yang mencium aroma anaknya, Yusuf, dari jarak jauh, dan kisah pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir, menjadi contoh konkret yang sering dikutip. Khidir memiliki pengetahuan batin tentang peristiwa-peristiwa yang Musa sendiri tidak mampu memahami. Bagi para penafsir isyari, ini adalah bukti bahwa Allah menganugerahkan kepada sebagian hamba-Nya nikmat pemahaman yang melampaui apa yang tampak di permukaan.
Tasawuf: Fondasi Spiritual Tafsir Isyari
Sebelum membahas tafsir isyari lebih jauh, Ateş terlebih dahulu mengupas tasawuf sebagai latar belakang yang tidak bisa dipisahkan. Tasawuf, dalam pandangan paling mendasarnya, adalah perjalanan seorang hamba menuju suluk Tuhannya dengan niat untuk menyucikan diri. Kata ini merujuk pada Ahlu Shuffah, yaitu sekelompok sahabat Nabi yang tinggal di serambi Masjid Nabawi dan mendedikasikan seluruh hidup mereka untuk ibadah dan khidmat kepada Rasulullah.
Pemahaman tasawuf yang otentik, menurut Ateş, tidak bertentangan dengan syariat. Justru sebaliknya, ia adalah penghayatan syariat yang paling mendalam. Fondasi inilah yang kemudian melahirkan tradisi tafsir isyari: bukan spekulasi liar terhadap teks Al-Qur’an, melainkan buah dari laku spiritual yang serius dan teratur.
Dua Aliran, Satu Tujuan
Salah satu kontribusi paling berharga dari buku ini adalah pembedaan yang jernih antara dua jenis tafsir isyari yang kerap dicampuradukkan. Pertama adalah tafsir sufistik (amali), yaitu penafsiran yang lahir dari pengalaman spiritual dan riyadhah yang sungguh-sungguh. Tafsir jenis ini tetap menghormati makna zahir ayat dan tidak mengklaim bahwa penafsiran batinnya adalah satu-satunya kebenaran.
Kedua adalah tafsir nazari (teoretis), yaitu penafsiran yang dibangun di atas konstruksi filosofis dan metafisika. Aliran ini lebih rentan terhadap penyimpangan karena cenderung memaksakan kerangka ideologis tertentu ke dalam teks Al-Qur’an, bahkan terkadang mengabaikan makna zahirnya. Bagi Ateş, tafsir sufistik jauh lebih aman dan lebih sahih karena berasas pada pengalaman ruhani, bukan sekadar teori.
Syarat Kesahihan: Agar Batin Tidak Liar
Salah satu aspek paling penting yang digarisbawahi Ateş adalah bahwa tafsir isyari bukanlah pintu terbuka bagi siapa saja untuk menafsirkan Al-Qur’an sesuka hatinya. Ada empat syarat ketat yang harus dipenuhi agar sebuah penafsiran isyari dapat dianggap sah dan diterima:
Pertama, makna batin yang dikemukakan tidak boleh berkontradiksi dengan makna zahir ayat. Kedua, harus ada dalil pendukung dari Al-Qur’an atau hadis yang memperkuat penafsiran tersebut. Ketiga, penafsiran tidak bertentangan dengan rasionalitas maupun prinsip-prinsip syariat Islam. Keempat, sang penafsir tidak boleh mengklaim kebenaran mutlak bahwa penafsirannya adalah satu-satunya makna yang benar dan absolut.
Keempat syarat ini menjadi pondasi kokoh yang memisahkan tafsir isyari yang bertanggung jawab dari klaim-klaim mistis yang tidak berdasar. Dengan syarat-syarat ini, Ateş menegaskan bahwa tafsir isyari adalah ilmu yang ketat dan kompleks, bukan spekulasi.
Relevansi untuk Indonesia
Bagi pembaca Indonesia, buku ini terasa sangat dekat dan relevan. Tradisi tasawuf dan tafsir isyari tidak asing di Nusantara. Organisasi-organisasi keislaman tradisional seperti Nahdlatul Ulama (NU) memiliki akar yang kuat dalam tradisi tarikat dan spiritualitas sufistik. Banyak pesantren di seluruh Indonesia mengajarkan kitab-kitab tafsir sufi klasik sebagai bagian dari kurikulum utama mereka.
Memahami kerangka teoritis tafsir isyari seperti yang dipaparkan Ateş akan membantu kita lebih jernih dalam menilai praktik penafsiran Al-Qur’an yang hidup di tengah masyarakat. Di satu sisi, kita dapat lebih menghargai kekayaan tradisi spiritual Islam Nusantara. Di sisi lain, kita juga diberikan atribut untuk membedakan mana penafsiran isyari yang sahih, akademik dan bertanggung jawab, serta mana yang perlu dikritisi karena melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh ulama.
Menjangkau Kedalaman Tanpa Tersesat
Buku Süleyman Ateş ini adalah sebuah karya yang menggugah. Ia tidak sekadar mengajak kita membaca Al-Qur’an dengan cara yang berbeda, tetapi juga mengingatkan kita bahwa kedalaman makna teks suci hanya bisa dijangkau oleh mereka yang sungguh-sungguh berproses baik secara ilmiah maupun spiritual.
Tafsir isyari mengajarkan kepada kita bahwa Al-Qur’an adalah samudra yang tidak bertepi. Makna zahirnya adalah permukaan yang indah, tetapi di bawahnya terdapat kedalaman yang hanya bisa dijangkau dengan sabar, dengan ilmu, dan dengan hati yang bersih. Bukan dengan tergesa-gesa, dan bukan dengan mengklaim kebenaran tunggal atas misteri yang jauh melampaui kemampuan manusia mana pun.
Referensi
Süleyman Ateş, İşârî Tefsîr Okulu, Ankara 1974.





