Al-Qur’an memandang kosmos atau alam semesta tidak hanya sebagai objek material, tetapi juga sebagai entitas yang memiliki dimensi spiritual. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Isrā’ [17]: 44 yang menyatakan bahwa langit, bumi, dan seluruh makhluk senantiasa bertasbih kepada Allah, meskipun manusia tidak memahami bentuk tasbih mereka.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa kesadaran penghambaan kepada Allah tidak terbatas pada manusia, melainkan mencakup seluruh kosmos. Karena itu, relasi manusia dan alam dalam perspektif Al-Qur’an dipahami sebagai hubungan antar sesama makhluk yang bersama-sama berpartisipasi dalam penghambaan kepada Tuhan.
Pengalaman penulis mengikuti kegiatan Tadabbur alam pada 19 April 2026 di Cianjur yang diprakarsai Menteri Agama RI menghadirkan pertanyaan epistemologis mengenai relasi manusia dan alam. Instruksi Nasaruddin Umar pada waktu itu untuk menangguhkan peran akal saat berkomunikasi dengan alam mengandaikan bahwa alam memiliki dimensi kesadaran yang dapat direspons secara spiritual. Gagasan ini menemukan titik temu dengan QS. Al-Isrā’ [17]: 44 yang menyatakan bahwa seluruh makhluk bertasbih kepada Allah.
Dalam kerangka tafsir sufi, tasbih seluruh makhluk tidak dipahami semata sebagai ungkapan verbal, melainkan sebagai bentuk kesadaran spiritual yang melekat pada seluruh ciptaan. Berdasarkan perspektif tersebut, tulisan ini mengkaji penafsiran QS. Al-Isrā’ [17]: 44 tentang tasbih universal serta relevansinya dengan gagasan Eco-Sufism mengenai sakralitas kosmos dan relasi manusia dengan alam.
Konsep Tasbih Universal dalam Perspektif Tafsir
Secara linguistik, tasbīḥ berasal dari akar kata (سبح) yang berarti bergerak atau meluncur, kemudian berkembang menjadi makna al-tanzīh, yaitu menyucikan Allah dari segala kekurangan. Al-Rāghib al-Aṣfahānī menjelaskan bahwa tasbīḥ merupakan pengakuan atas kesempurnaan dan keagungan Allah. Karena itu, kata yusabbiḥu dalam QS. Al-Isrā’ [17]: 44 tidak hanya menunjukkan pujian verbal, tetapi juga penghambaan seluruh makhluk kepada Allah sebagai bentuk pengakuan terhadap keagungan-Nya (Al-Aṣfahānī, 2009, p. 392)
Al-Ālūsī dalam kitabnya Rūḥ al-Ma‘ānī menafsirkan QS. Al-Isrā’ [17]: 44 bahwa tasbih sebagai lisān al-ḥāl (bahasa keadaan), yaitu kesaksian ontologis yang tampak melalui keberadaan dan keteraturan alam semesta. Menurutnya, setiap makhluk dengan eksistensinya menunjukkan keesaan, kekuasaan, dan kesucian Allah dari segala kekurangan. Dengan demikian, tasbih tidak selalu berupa ucapan verbal, tetapi dapat dipahami sebagai manifestasi spiritual yang terpancar dari seluruh ciptaan sebagai tanda kehadiran Tuhan dalam kosmos (Al-Alusi, n.d., p. 80).
Ar-Razi dalam kitabnya Mafatih al-Ghaib bahwa tasbih adalah penyucian (tanzih) dari segala sesuatu yang tidak layak disematkan kepada Allah. Bentuknya bisa dalam dua hal. Pertama, tasbih yang disandarkan kepada benda mati yang bermakna penyucian (tanzih) saja hal ini disebut majazi. Kedua, tasbih haqiqi yang dilakukan mukallaf dengan mengucapkan subhanallah (Al-Razi, n.d., p. 348)
Tasbih Kosmos dalam Perspektif Mufassir Sufi
Al-Qushayrī dalam kitabnya Laṭā’if al-Ishārāt menafsirkan QS. Al-Isrā’ [17]: 44, ia membedakan tasbih makhluk hidup dan benda-benda non-hidup. Makhluk hidup di langit dan bumi bertasbih kepada Allah secara nyata melalui penghambaan dan pengakuan mereka kepada-Nya, sedangkan benda-benda non-hidup bertasbih melalui keberadaan dan keteraturannya yang menjadi bukti atas rububiyah Allah (Al-Qushayrī, n.d., p. 350).
Menurutnya, tidak ada satu pun entitas di alam semesta yang terlepas dari fungsi kesaksian terhadap keesaan dan kekuasaan Tuhan. Ketidakmampuan manusia memahami tasbih tersebut bukan menunjukkan ketiadaannya, melainkan keterbatasan dan kesulitannya manusia dalam menangkap dimensi spiritual yang terkandung dalam seluruh ciptaan (Al-Qushayrī, n.d., p. 350).
Al-Ālūsī menafsirkan frasa “walākin lā tafqahūna tasbīḥahum” pada QS. Al-Isrā’ [17]: 44, bahwa objek khitab ayat ini ditujukan terutama kepada kaum musyrik yang mengingkari kesucian dan keesaan Allah, bukan kepada seluruh manusia secara umum. Ketidakmampuan memahami tasbih makhluk, menurutnya, bersumber dari sikap penolakan terhadap tanda-tanda ketuhanan yang telah tampak di alam semesta. Oleh karena itu, kegagalan menangkap maknanya lebih disebabkan oleh problem spiritual dan teologis daripada ketiadaan bukti dalam ciptaan itu sendiri. Tasbih kosmos merupakan kesaksian universal atas kemahasucian Allah yang termanifestasi melalui seluruh ciptaan (Al-Alusi, n.d., p. 80).
Al-Qushayrī dan al-Ālūsī sama-sama memandang tasbih kosmos sebagai realitas yang melampaui persepsi indrawi manusia. Al-Qushayrī menekankan dimensi spiritual tasbih sebagai kesaksian seluruh makhluk terhadap Tuhan, sedangkan al-Ālūsī melihat ketidakmampuan memahaminya sebagai akibat keterbatasan spiritual manusia. Dengan demikian, alam tidak dipahami sebagai objek pasif, melainkan sebagai entitas yang senantiasa merepresentasikan kemahasucian Allah.
Konsep dasar Eco-Sufims: Komunikasi Tanpa Kata
Dalam perspektif Eco-Sufism, seluruh makhluk dipandang sebagai bagian dari komunitas kosmik yang senantiasa berdzikir dan bertasbih kepada Allah. Karena itu, alam memiliki dimensi spiritual dan tidak dapat direduksi menjadi benda mati yang hanya bernilai instrumental bagi manusia (Çakmaktaş, 2026). Pandangan ini selaras dengan konsep tasbih universal yang terdapat dalam QS. Al-Isrā’ [17]: 44.
Komunikasi tanpa kata dalam perspektif Eco-Sufism berangkat dari pandangan bahwa alam merupakan entitas spiritual yang turut berpartisipasi dalam penghambaan kepada Allah (Nadi et al., 2026). Karena itu, relasi manusia dengan kosmos tidak terbatas pada komunikasi verbal, melainkan melalui kesadaran kontemplatif untuk menangkap makna-makna spiritual yang termanifestasi dalam ciptaan. Dalam kerangka ini, alam dipahami sebagai media yang merefleksikan kehadiran dan kebesaran Tuhan.
Untuk memahami apa yang terjadi, kita perlu menengok khazanah Sufisme klasik. Ibn ‘Arabi dalam Fuṣūṣ al-Ḥikam menyebut bahwa alam semesta (al-kawn) adalah penampakan dari Asma-asma Tuhan (’Araby, 2016, p. 48). Setiap entitas batu, pohon, burung adalah tajalliyyāt atau lokus manifestasi Ilahi. Tidak ada satu pun makhluk yang sunyi dari ucapan; yang ada adalah telinga kita yang belum peka mendengar tasbīḥ-nya.
Sakralitas Kosmos dan Kritik terhadap Paradigma Modern
Nasr menilai bahwa pemahaman modern yang memandang alam sebatas entitas empiris dan material sesungguhnya telah mereduksi makna kosmos menjadi sekadar objek eksploitasi teknologis. Dalam perspektif sufistik, krisis ekologis modern berakar pada proses desakralisasi alam, yakni hilangnya kesadaran manusia terhadap dimensi spiritual kosmos. Alam tidak lagi dibaca sebagai āyāt Allāh yang bertasbih, tetapi direduksi menjadi benda mati yang hanya memiliki nilai guna ekonomis (Nasr, 1990, p. 58).
Padahal QS. al-Isrā’ [17]:44 menegaskan bahwa seluruh wujud berada dalam horizon tasbih universal yang tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh manusia. Dengan demikian, keterbatasan epistemologi empiristik terletak pada ketidakmampuannya menangkap makna metafisis alam, sebab ia hanya mengakui realitas yang terukur secara indrawi dan menolak kemungkinan pengetahuan ruhani (kashf) sebagai jalan memahami kesadaran kosmik makhluk (Nasr, 1990, p. 58). Dari sudut eco-sufisme, kerusakan ekologis bukan semata kegagalan teknis manusia mengelola lingkungan, melainkan krisis spiritual akibat terputusnya relasi sakral antara manusia, alam, dan Tuhan (Syahida, 2022).
Kesimpulan
Berdasarkan kajian tafsir terhadap QS. Al-Isrā’ [17]: 44, tasbih kosmos dipahami sebagai bentuk penghambaan universal yang mencakup seluruh makhluk, baik melalui ucapan maupun melalui eksistensi dan keteraturannya sebagai tanda keesaan Allah. Dalam perspektif tafsir sufi, sebagaimana dijelaskan al-Qushayrī dan al-Ālūsī, ketidakmampuan manusia memahami tasbih tersebut bukan menunjukkan ketiadaannya, melainkan keterbatasan spiritual manusia dalam menangkap dimensi batin alam.
Temuan ini memberikan konteks terhadap instruksi Nasaruddin Umar untuk menangguhkan dominasi akal saat berinteraksi dengan alam, bukan dalam arti menolak akal, melainkan mengakui bahwa realitas spiritual kosmos tidak sepenuhnya dapat dijangkau melalui pendekatan rasional-empiris semata. Dengan demikian, Eco-Sufism memandang kosmos sebagai subjek spiritual yang senantiasa bertasbih kepada Allah, sehingga relasi manusia dengan alam idealnya dibangun melalui kesadaran akan kesakralan dan penghambaan bersama kepada Tuhan.
Referensi
’Araby, I. (2016). Fuṣūṣ al-Ḥikam. Dar Afaaq lin nasyri wa at-Tauzi’.
Al-Alusi, M. (n.d.). Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Al-Aṣfahānī, A.-R. (2009). Mufradāt Alfāẓ al-Qur’ān. Dār al-Qalam.
Al-Qushayrī, A. al-Q. (n.d.). Laṭā’if al-Ishārāt. al-Hay’ah al-Miṣriyyah al-‘Āmmah li al-Kitāb.
Al-Razi, F. al-D. (n.d.). Mafatih al-Ghaib. Dar Ihya’ al-Turast.
Çakmaktaş, B. (2026). Ecosufism in the Thought of Ibn ʿArabī and Rūmī: Unity, Nature and Ecological Ethics in Sufi Metaphysics. Religions, 17(2), 237. https://doi.org/10.3390/rel17020237
Nadi, N., Putra, M. A. G., & Gufron, I. A. (2026). ECO SUFISM: BENTUK RELASI TUHAN DAN ALAM DALAM MENJAGA LINGKUNGAN DARI KERUSAKAN. JUTEQ: JURNAL TEOLOGI & TAFSIR, 3(1), 89–98.
Nasr, S. H. (1990). Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. Unwin Paperbacks.
Syahida, A. R. (2022). Ekosufisme di dalam Tafsir Indonesia Kontemporer. Institut PTIQ Jakarta.





