Qalb dan Krisis Makna: Tafsir Sufistik Al-Qur’an dalam Dialog dengan Filsafat Eksistensial Modern

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa sense of meaning atau perasaan bermakna dalam hidup menjadi salah satu faktor paling penting bagi kesehatan jiwa manusia. Berdasarkan studi global sekitar 40% orang dewasa di berbagai negara sering kehilangan makna hidup mereka yang kemudian berkelindan dengan adanya gangguan depresi, kecemasan, serta krisis identitas. Hal tersebut terjadi karena manusia secara naluriah memiliki kebutuhan fundamental akan makna hidup. Ketika kebutuhan akan makna hidup tidak terpenuhi, maka muncullah existensial distress. (Michael F. Steger, 2012: 165)

Dalam penelitian lain ditemukan bahwa perasaan ketidakbermaknaan dalam hidup semakin meningkat secara signifikan dalam realitas masyarakat modern. Studi dari American Psychological Association menyebutkan bahwa individu yang merasa kehilangan akan makna hidup memiliki tingkat depresi dan kecemasan yang jauh lebih tinggi dari individu lainnya (George & Park, 2016: 205).

Bacaan Lainnya

Salah satu paradoks besar dalam peradaban modern yang perlu menjadi perhatian yakni manusia kini semakin banyak tahu tentang dunia, akan tetapi manusia juga semakin sedikit dan sulit untuk memahami dirinya sendiri. Berbagai refleksi filsafat modern telah mendefinisikan bahwa manusia merupakan makhluk yang sering mengalami krisis makna dalam hidup.

Dalam tradisi keislaman, problem tersebut sebenarnya sejak lama dibahas dalam refleksi spiritual para sufi. Dengan adanya term qalb misalnya, para sufi memahami bahwa krisis makna yang dialami manusia pada dasarnya bukan hanya persoalan rasional atau psikologis semata, melainkan merupakan persoalan spiritual yang berkaitan dengan kondisi batin manusia yang bersifat sakral dan tersembunyi.

Krisis makna yang kemudian ditelaah oleh para filsuf eksistensial modern sebenarnya telah lama mempunyai akar spiritual yang dijelaskan dalam khazanah tafsir sufistik Al-Qur’an melalui konsep kebutaan hati (‘amā al-qalb). Dengan demikian, adanya konsep qalb dalam tafsir sufistik tidak hanya sebatas memiliki dimensi teologis, akan tetapi juga dapat dipahami sebagai refleksi eksistensial mengenai kondisi batin dan hati manusia.

Al-Qur’an tentu mempunyai perspektif unik pula mengenai kondisi batin manusia berkaitan dengan krisis makna. Dalam QS Al-Hajj ayat 46 telah disebutkan bahwa kebutaan yang paling berbahaya bukanlah kebutaan mata dalam artian kebutaan lahiriah, tetapi kebutaan hati dalam pengertian batiniah.

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46).

Ayat ini secara implisit menunjukkan bahwa kemampuan manusia untuk memahami kebenaran tidak bergantung pada pengalaman indrawi atau empiris semata, tetapi juga pada bagaimana kondisi spiritual atau qalb yang ada di dalam dada manusia.

Dalam khazanah tafsir sufistik, qalb ini dimengerti sebagai pusat dari kesadaran spiritual setiap manusia.

العمى عمى القلوب لا عمى الأبصار، فإن البصر يدرك الظواهر، وأما القلب فبه يدرك الحقائق.

Al-Qushayri menyebutkan bahwa kebutaan hati bukan berarti kebutaan penglihatan mata, tetapi hilangnya kemampuan hati seorang manusia untuk bisa melihat dan memahami hakikat dari kebenaran (Abd al-Karim al-Qushayri, 2007: 238).

Demikian pula Al-Sulami menafsirkan term qalb sebagai hati yang hidup dengan cahaya makrifat, bukan hati yang mati oleh kelalaian.

أي قلب حي بنور المعرفة لا قلب ميت بالغفلة

Penafsiran ini memberi pengertian bahwa adanya krisis spiritual yang dialami manusia itu bukanlah persoalan psikologis semata, akan tetapi juga berkenaan dengan kondisi batin yang terpisah dari kesadaran ilahi (Abu Abd al-Rahman al-Sulami, 2001: 312).

Sejalan dengan Al-Qushayri dan Al-Sulami, Ismail Haqqi Bursevi memberikan penafsiran bahwa qalb merupakan unsur halus dari ketuhanan yang terdapat dalam diri manusia yang menjadi tempat bagi pengetahuan serta pengenalan terhadap Tuhan. Menjadi semakin jelas bahwa di sinilah letak pentingnya mengenal diri yang kemudian berkelindan dengan proses mengenal Tuhan.

القلب هو اللطيفة الربانية في الإنسان، وهو محل المعرفة والإدراك، وبه يعرف العبد ربه، وإذا صفا من كدورات النفس والهوى تجلت فيه أنوار الحقائق وانكشفت له أسرار الوجود.

Hati adalah unsur halus yang bersifat ketuhanan dalam diri manusia. Ia merupakan tempat pengetahuan dan kesadaran, dan melalui hatilah seorang hamba dapat mengenal Tuhannya. Apabila hati seseorang telah jernih dari kekeruhan nafsu dan hawa, maka cahaya-cahaya kebenaran akan tampak di dalamnya dan rahasia-rahasia keberadaan akan tersingkap baginya (Ismail Haqqi Bursevi, 2010: 56).

Adalah hal yang menarik dan penting bahwa gagasan para mufassir sufistik memiliki resonansi dengan filsafat eksistensial modern. Dalam perspektif filsafat eksistensial manusia modern didefinisikan sebagai makhluk yang rentan mengalami krisis makna. Viktor Frankl kemudian menamai kondisi ini sebagai existential vacuum atau kehampaan eksistensial yang muncul apabila manusia mengalami disorientasi makna hidup (Viktor Frankl, 2006: 111).

 

Di lain sisi, Martin Heidegger menggambarkan manusia di era modern sebagai individu yang sedang terkungkung di dalam kehidupan impersonal atau ia sebut das Man yakbi kehilangan identitas diri yang otentik di dalam anonimitas kerumunan yang kemudian menyebabkan manusia merasa kehilangan refleksi terhadap keberadaan dirinya sendiri yang otentik (Martin Heidegger, 1962: 164).

Pendapat lain mengenai kondisi spiritual manusia modern juga dikemukakan oleh Seyyed Hossein Nasr. Menurutnya, problem utama dari keniscayaan modernitas adalah hilangnya kesadaran manusia terhadap dimensi sakral dalam kehidupan. Modernitas yang memang sangat rasionalistik telah memberi sekat antara manusia dengan pusat spiritualnya yang kemudian melahirkan krisis makna yang mendalam. Krisis ini menurutnya hanya dapat diatasi melalui pemulihan pengetahuan spiritual (Seyyed Hossein Nasr, 1989: 27)

Dari pembahasan di atas, filsafat eksistensial modern menggambarkan kondisi manusia yang kehilangan makna hidup, adapun khazanah tafsir sufistik menawarkan perspektif diagnosis yang lebih spiritual yakni krisis makna pada manusia sebenarnya berasal dari kebutaan hati. Konsep qalb menurut pandangan mufasir sufistik dapat dipahami sebagai refleksi eksistensial mengenai kondisi batin manusia yang sesungguhnya.

Dapat ditarik benang merah bahwa tafsir sufistik hadir sebagai refleksi spiritual yang menawarkan jawaban atas krisis makna yang juga disoroti oleh filsafat modern. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang dimensi teologis atau spiritual klasik semata, namun Al-Qur’an juga memberikan kerangka refleksi yang mendalam mengenai pengalaman eksistensial dari manusia di era modern.

Referensi

Bursevi, Ismail Haqqi. (2010). Ruh al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr.

Frankl, Viktor. (2006). Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Press.

George, Linda K., & Park, Crystal L. (2016). “Meaning in Life as Comprehension, Purpose, and Mattering.” Review of General Psychology, Vol. 20, No. 3.

Heidegger, Martin. (1962). Being and Time. Oxford: Blackwell Publishing.

Nasr, Seyyed Hossein. (1989). Knowledge and the Sacred. Albany: State University of New York Press.

Al-Qushayri, Abd al-Karim. (2007). Lataif al-Isharat. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

Steger, Michael F. (2012). “The Psychology of Meaning in Life.” Annual Review of Psychology, Vol. 63.

Al-Sulami, Abu Abd al-Rahman. (2001). Haqa’iq al-Tafsir. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *