Perbedaan Naskah dan Dampaknya terhadap Pemahaman Manhaj Mufasir: Studi atas Tafsir al-Baghawi

Pendahuluan

Kajian terhadap kitab-kitab turats tidak hanya memerlukan kemampuan memahami isi dan gagasan penulis, tetapi juga menuntut perhatian terhadap keautentikan teks yang menjadi objek kajian. Sebab, ketepatan sebuah kesimpulan sangat bergantung pada ketepatan teks yang dijadikan landasan analisis. Sebaik apa pun analisis yang dilakukan, apabila teks yang dianalisis tidak sesuai dengan naskah asli atau mengandung kesalahan penyalinan, maka kesimpulan yang dihasilkan berpotensi menyimpang dari maksud pengarangnya.

Oleh karena itu, ilmu tahqiq dan kritik naskah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam penelitian khazanah Islam. Melalui proses perbandingan manuskrip, penelitian terhadap varian bacaan, serta penelaahan terhadap karya-karya lain dari pengarang yang sama, seorang peneliti dapat mendekati bentuk teks yang paling otentik. Dengan cara inilah warisan intelektual para ulama dapat dipahami secara lebih tepat dan lebih adil.

Pembahasan

Salah satu contoh menarik dapat ditemukan dalam proses tahqiq Ma’âlim at-Tanzîl karya Imam al-Baghawi. Pada salah satu bagian ditemukan perbedaan bacaan antara lafaz Wajh Allâh (Wajah Allah) dan Rahmat Allâh (Rahmat Allah). Sekilas perbedaan ini tampak sederhana, padahal implikasinya sangat besar karena dapat memengaruhi pemahaman terhadap manhaj al-Baghawi dalam menafsirkan ayat-ayat sifat.

Dalam cetakan Dar Thayyibah (1/140) pada penafsiran firman Allah Ta’ala:

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

tertulis:

يَعْنِي أَيْنَمَا تُحَوِّلُوا وُجُوهَكُمْ فَثَمَّ أَيْ: هُنَاكَ رَحْمَةُ اللَّهِ

Bacaan yang sama juga terdapat pada cetakan Dar al-Hadits (1/75). Adapun dalam cetakan Dar Ibn Hazm (hlm. 59) tertulis:

يَعْنِي أَيْنَمَا تُحَوِّلُوا وُجُوهَكُمْ فَثَمَّ أَيْ: هُنَاكَ وَجْهُ اللَّهِ

Perbedaan ini bukan sekadar variasi redaksi. Apabila bacaan “Rahmat Allah” dianggap benar, maka sekilas al-Baghawi tampak menakwil lafaz Wajah Allah menjadi Rahmat Allah. Sebaliknya, apabila bacaan “Wajah Allah” yang benar, maka sama sekali tidak terdapat unsur penakwilan. Dengan demikian, hanya karena satu kata, cara pembaca memahami manhaj seorang mufasir dapat berubah secara signifikan.

Menariknya, muhaqqiq cetakan Dar Thayyibah, Muhammad Abdullah an-Namr, menyadari adanya perbedaan tersebut. Setelah membandingkan manuskrip yang tersedia, beliau justru menilai bahwa bacaan “Wajah Allah” merupakan bacaan yang lebih kuat. Beliau mengatakan:

)وجه الله( في )ب(، وهو الأصح، وذلك لعدم التأويل، وهذا منهج أهل السنة والجماعة في أسماء الله وصفاته، والبغوي رحمه الله منهجه عدم التأويل، ويظهر أن هذا من الناسخ حيث أثبت الوجه في نسخة (ب)، والله أعلم

Artinya, menurut beliau, manuskrip yang diberi simbol (ب) memuat lafaz “Wajah Allah”, dan bacaan inilah yang lebih benar karena sesuai dengan manhaj Ahlus Sunnah dalam menetapkan nama dan sifat Allah tanpa melakukan takwil. Beliau juga berpendapat bahwa perubahan menjadi “Rahmat Allah” kemungkinan besar berasal dari kesalahan penyalin naskah.

Manuskrip yang diberi simbol (ب) adalah naskah yang berasal dari Maktabah al-Haram al-Makki asy-Syarif nomor umum (283) dan nomor khusus (257). Walaupun usianya lebih muda dibanding manuskrip utama yang digunakan, yaitu manuskrip az-Zahiriyyah di Damaskus, muhaqqiq menilai bahwa pada bagian ini bacaan manuskrip (ب) lebih tepat sehingga layak dijadikan pegangan.

Kasus ini memberikan pelajaran penting bahwa kualitas manuskrip dan kualitas penyalin memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hasil penelitian. Kesalahan penyalinan yang tampak sederhana ternyata dapat mengubah pemahaman terhadap metode penafsiran seorang ulama. Oleh karena itu, semakin banyak manuskrip yang digunakan dalam proses tahqiq, semakin besar pula peluang untuk mengetahui bacaan yang paling mendekati naskah asli. Perbandingan antar-manuskrip menjadi sarana untuk menimbang mana bacaan yang lebih kuat dan mana yang kemungkinan merupakan kesalahan penyalinan.

Namun demikian, tidak semua kitab memiliki banyak manuskrip yang dapat dibandingkan. Dalam kondisi demikian, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah membandingkan teks yang dipermasalahkan dengan penjelasan pengarang pada bagian lain dari kitabnya atau bahkan pada karya-karyanya yang lain. Langkah ini sangat membantu dalam mengetahui apakah suatu bacaan benar-benar berasal dari pengarang atau justru merupakan kekeliruan penyalin.

Dalam kasus ini, misalnya, al-Baghawi di tempat lain secara tegas mengatakan:

ويد الله صفة من صفاته كالسمع والبصر والوجه

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa al-Baghawi menetapkan sifat Wajah bagi Allah sebagaimana sifat Tangan, Pendengaran, dan Penglihatan, tanpa melakukan penakwilan. Dengan demikian, sangat sulit menyimpulkan bahwa beliau menakwil lafaz Wajah Allah menjadi Rahmat Allah.

Sekalipun seseorang tetap berpendapat bahwa bacaan “Rahmat Allah” merupakan bacaan yang benar, hal itu pun tidak serta-merta menunjukkan adanya takwil. Bacaan tersebut masih memungkinkan dipahami sebagai tafsîr bil-lâzim, yaitu menjelaskan konsekuensi makna suatu lafaz tanpa menafikan makna asalnya, bukan sebagai bentuk penakwilan terhadap sifat Allah.

Kasus ini memberikan sejumlah pelajaran metodologis yang sangat penting bagi penelitian kitab-kitab turats. Setidaknya terdapat enam pelajaran yang dapat dipetik dari perbedaan naskah tersebut.

Pertama, kualitas manuskrip merupakan faktor yang sangat menentukan dalam penelitian. Semakin baik kualitas manuskrip yang dijadikan dasar tahqiq, semakin besar peluang mendekati redaksi yang ditulis oleh pengarang. Sebaliknya, manuskrip yang lemah dapat melahirkan kesalahan yang kemudian diwariskan dari satu cetakan ke cetakan lainnya.

Kedua, kualitas penyalin manuskrip tidak kalah penting dibanding kualitas manuskrip itu sendiri. Kesalahan seorang penyalin, meskipun hanya pada satu kata, dapat berimplikasi besar terhadap pemahaman isi kitab. Dalam kasus ini, perubahan lafaz “Wajah Allah” menjadi “Rahmat Allah” berpotensi menimbulkan anggapan bahwa al-Baghawi melakukan takwil terhadap ayat sifat, padahal hal tersebut bertentangan dengan penjelasan beliau di tempat lain.

Oleh karena itu, apabila hanya tersedia satu manuskrip, maka jalan yang dapat ditempuh untuk menguji keakuratan suatu bacaan adalah dengan membandingkannya dengan karya-karya lain dari pengarang yang sama. Apa yang masih samar dapat dijelaskan oleh penjelasan yang lebih terang pada tempat lain. Dalam persoalan ini, al-Baghawi sendiri berkata:

ويد الله صفة من صفاته كالسمع والبصر والوجه

Pernyataan ini menunjukkan bahwa beliau menetapkan sifat Wajah bagi Allah sebagaimana sifat Tangan, Pendengaran, dan Penglihatan, tanpa melakukan penakwilan. Bahkan jika bacaan “Rahmat Allah” tetap dianggap benar, maka paling jauh ia dapat dipahami sebagai tafsîr bil-lâzim, bukan sebagai bentuk takwil terhadap sifat Allah.

Ketiga, perbedaan antar-manuskrip menunjukkan betapa pentingnya proses muqabalah (perbandingan naskah). Tanpa membandingkan berbagai manuskrip, kesalahan seperti ini hampir mustahil diketahui. Padahal satu perbedaan lafaz saja dapat mengubah cara pembaca memahami manhaj seorang mufasir.

Keempat, cetakan terbaik pada umumnya adalah cetakan yang menggunakan manuskrip paling banyak sebagai bahan perbandingan. Semakin banyak manuskrip yang dijadikan dasar tahqiq, semakin besar peluang muhaqqiq untuk menimbang berbagai varian bacaan dan menentukan redaksi yang paling mendekati naskah asli. Sebaliknya, apabila hanya tersedia satu manuskrip, maka ketelitian penyalin dan kecermatan muhaqqiq menjadi sangat krusial karena setiap kekeliruan akan mudah dinisbatkan kepada pengarang kitab.

Kelima, setiap edisi kitab yang tidak menjelaskan manuskrip apa saja yang dijadikan dasar tahqiq patut dipertanyakan kualitas ilmiahnya. Transparansi mengenai sumber naskah merupakan bagian penting dari amanah ilmiah, karena melalui informasi tersebut pembaca dapat menilai kekuatan teks yang disajikan.

Keenam, transparansi muhaqqiq merupakan salah satu syarat utama sebuah edisi ilmiah. Muhaqqiq tidak boleh menyembunyikan keraguan atau menetapkan suatu bacaan hanya berdasarkan dugaan. Dalam hal ini saya teringat penuturan Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman hafizhahullah. Beliau pernah menceritakan bahwa ketika mentahqiq sebuah kitab, beliau menemukan bagian teks yang sangat sulit dibaca. Alih-alih menebak bacaan tersebut, beliau memilih menjelaskan keadaan naskah apa adanya sebagai bentuk amanah ilmiah kepada para pembaca. Sikap seperti inilah yang seharusnya menjadi etika setiap muhaqqiq dalam menjaga kejujuran ilmiah.

Catatan Akhir

Kasus perbedaan antara lafaz “Wajah Allah” dan “Rahmat Allah” dalam Tafsir al-Baghawi menunjukkan bahwa kritik naskah bukanlah sekadar pekerjaan teknis memperbaiki redaksi, melainkan fondasi utama dalam memahami warisan intelektual Islam secara benar. Satu kata yang berbeda dapat mengubah cara pembaca memahami manhaj seorang mufasir, bahkan berimplikasi pada penilaian terhadap persoalan akidah yang dinisbatkan kepadanya.

Karena itu, penelitian terhadap kitab-kitab turats tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan menganalisis isi, tetapi juga harus diawali dengan memastikan keautentikan teks yang dijadikan objek kajian. Semakin dekat seorang peneliti kepada naskah yang benar, semakin dekat pula ia kepada maksud sebenarnya dari pengarang.

Pada akhirnya, ilmu tahqiq bukan sekadar upaya menghidupkan kembali teks-teks klasik, tetapi juga merupakan bentuk amanah ilmiah dalam menjaga kemurnian warisan para ulama. Melalui ketelitian dalam membandingkan manuskrip, transparansi dalam menjelaskan varian bacaan, dan kehati-hatian dalam menisbatkan pendapat kepada pengarang, khazanah Islam dapat diwariskan kepada generasi berikutnya dengan lebih akurat, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Referensi

Al-Baghawi, Abu Muhammad al-Husein Ibn Mas’ud. Ma’âlim al-Tanzîl fî Tafsîr al-Qur’ân ed. Anas al-Syami. (Kairo: Dar al-Hadits, 2022)

——-. Ma’âlim al-Tanzîl fî Tafsîr al-Qur’ân. (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2002)

——-. Ma’âlim al-Tanzîl fî Tafsîr al-Qur’ân. Ed. Muhammad Abdullah al-Namr, ‘Utsman Jum’ah Dumayriyyah, and Sulaiman Muslim al-Harasy. (Riyadh: Dar Tayyibah, 1997)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *