Ketika Penjelasan yang Benar Diberikan kepada Orang yang Salah

Ada kegelisahan yang belakangan sering muncul setiap kali saya membaca perdebatan agama di ruang publik: kita seperti berasumsi bahwa semakin banyak sesuatu dijelaskan, semakin baik hasilnya. Sebuah pertanyaan muncul, lalu tuntutannya segera menjadi jawaban. Ada istilah yang rumit, maka ia harus disederhanakan. Ada perdebatan teologis yang selama berabad-abad hidup di ruang para ahli, lalu dalam hitungan menit ia harus selesai di kolom komentar.

Saya tidak yakin persoalannya sesederhana itu.

Bacaan Lainnya

Keraguan ini justru menguat ketika saya membaca kembali bagian al-Iqtiṣād fī al-Iʿtiqād yang membahas ayat-ayat sifat. Di sana al-Ghazālī tidak hanya bertanya, “Apa makna teks ini?” Ia juga bertanya—secara tidak langsung, tetapi sangat menentukan—“Siapa yang sedang bertanya?” Bagi saya, perubahan kecil pada pertanyaan ini penting. Ia menggeser perhatian dari isi jawaban menuju tanggung jawab orang yang menjawab.

Pengetahuan, dalam kerangka seperti itu, ternyata tidak cukup hanya dinilai dari benar atau salah. Ada pertanyaan lain: benar untuk siapa, disampaikan dengan cara apa, dan pada keadaan seperti apa?

Pengetahuan Juga Punya Alamat

Dalam pembahasan tentang istiwāʾ dan nuzūl, al-Ghazālī membagi manusia menjadi dua kelompok besar: awam dan ulama. Ia tidak menawarkan perlakuan yang sama kepada keduanya. Kepada awam, yang paling penting adalah menjaga tanzīh: jangan sampai bahasa agama menyeret mereka kepada bayangan bahwa Allah serupa dengan makhluk. Tetapi al-Ghazālī juga tidak mengharuskan mereka memasuki seluruh rincian takwil dan perdebatan teknis. Bagi ulama, ruang analisis dibuka lebih jauh; mereka boleh meneliti kemungkinan makna bahasa, menimbang dalil akal, dan menguraikan persoalan yang bagi orang lain justru dapat membingungkan (al-Ghazālī, al-Iqtiṣād fī al-Iʿtiqād, hlm. 121–129).

Bagian ini menarik karena al-Ghazālī sendiri bukan tokoh yang alergi terhadap argumentasi. Al-Iqtiṣād justru penuh dengan silogisme, keberatan lawan, jawaban, dan pengujian konsekuensi. Ia tidak sedang memusuhi akal. Yang ia tolak adalah anggapan bahwa semua orang harus dipaksa masuk ke ruang argumentasi yang sama.

Di sinilah saya melihat semacam “etika distribusi pengetahuan”. Bukan pengetahuan yang disembunyikan demi mempertahankan kekuasaan, melainkan pengetahuan yang disampaikan dengan mempertimbangkan kesiapan penerima. Seorang dokter tidak berdusta ketika ia menjelaskan diagnosis kepada pasien dengan bahasa berbeda dari presentasinya di konferensi medis. Isi kenyataan yang dibicarakan sama; bentuk penyampaiannya tidak harus sama.

Pembacaan ini juga membuat satu hal lain menjadi jelas. Ketika al-Ghazālī mengatakan kepada awam agar tidak memaksakan diri memasuki perkara yang bukan bidangnya, ia tidak sedang mengajarkan anti-intelektualisme. Dalam bagian yang sama, ia justru memberi ruang kepada ahli untuk melakukan penafsiran secara serius. Masalahnya bukan berpikir atau tidak berpikir, tetapi menempatkan kegiatan berpikir pada kadar, tujuan, dan kompetensi yang tepat.

Ibn Rushd, Lawan yang Ternyata Tidak Sepenuhnya Berlawanan

Menariknya, kita menemukan kegelisahan yang mirip pada Ibn Rushd—tokoh yang kerap ditempatkan berseberangan dengan al-Ghazālī. Dalam Faṣl al-Maqāl, Ibn Rushd membedakan manusia menurut cara mereka menerima pembuktian: ada yang cukup dengan retorika, ada yang mampu mengikuti dialektika, dan ada yang sanggup memasuki demonstrasi filosofis. Konsekuensinya cukup tegas: takwil demonstratif tidak semestinya diumbar kepada pembaca yang belum memiliki perangkat untuk memahaminya (Ibn Rushd, The Decisive Treatise, terj. Charles E. Butterworth, 2001).

Alasannya bukan karena kebenaran harus dimonopoli. Justru karena sebuah penjelasan dapat merusak ketika ia terlebih dahulu membongkar pemahaman lama, tetapi gagal membangun pemahaman baru. Seseorang mungkin dibuat ragu terhadap makna literal suatu teks, sementara ia belum mampu memahami argumentasi yang mendasari makna alternatifnya. Ia akhirnya kehilangan pijakan pertama tanpa berhasil memperoleh pijakan kedua.

Di titik ini, ironi intelektualnya cukup menarik. Ibn Rushd bahkan mengkritik al-Ghazālī karena dianggap membawa sebagian pembahasan sulit ke ruang yang terlalu terbuka. Jadi keduanya tidak sepakat mengenai batas praktisnya. Namun justru pertengkaran itu memperlihatkan bahwa mereka berbagi satu asumsi yang sama: audiens adalah bagian dari persoalan epistemologis. Kebenaran tidak disampaikan ke ruang hampa; ia selalu bertemu dengan kemampuan, kebiasaan berpikir, dan kesiapan tertentu.

Kajian Yehuda Halper atas risalah Ibn Rushd yang lain menunjukkan bahwa batas antara latihan filosofis, dialektika, dan apa yang layak beredar di ruang publik tetap menjadi persoalan serius dalam proyek intelektual Ibn Rushd (Halper, 2024). Ini memperkuat kesan bahwa perbedaan tingkat pembaca bukan sekadar catatan samping, melainkan bagian dari cara pengetahuan itu sendiri diatur dan diajarkan.

Kajian modern tentang al-Ghazālī juga memperlihatkan bahwa sikapnya terhadap hubungan akal dan wahyu jauh lebih rumit daripada gambaran “teolog melawan filsafat”. Frank Griffel menunjukkan bahwa al-Ghazālī menerima argumentasi demonstratif dan mengembangkan aturan penafsiran untuk mempertemukan pengetahuan rasional yang benar-benar terbukti dengan bahasa wahyu. Yang menjadi soal bukan sekadar apakah akal boleh bekerja, tetapi jenis bukti apa yang benar-benar demonstratif dan kapan penafsiran menjadi diperlukan (Griffel, 2009, hlm. 111–122).

Karena itu, mempertemukan al-Ghazālī dan Ibn Rushd di sini tidak berarti menghapus perbedaan mereka. Justru sebaliknya: perbedaan itu membantu kita melihat titik temu yang biasanya hilang ketika sejarah intelektual diceritakan hanya sebagai pertandingan dua kubu.

Al-Shāṭibī dan Pertanyaan yang Tidak Menghasilkan Apa-Apa

Beberapa abad setelah al-Ghazālī, al-Shāṭibī menambahkan sudut pandang lain. Dalam al-Muwāfaqāt, ia menyusun tiga belas muqaddimah metodologis pada bagian awal kitab; jadi yang dimaksud “muqaddimah kelima” bukan kata pengantar kelima, melainkan salah satu subbahasan pendahuluan tersebut. Di sana ia mengajukan kaidah bahwa persoalan yang tidak melahirkan amal tidak semestinya dibahas secara berlebihan tanpa dasar kemaslahatan syar‘i. “Amal” yang dimaksud pun tidak terbatas pada tindakan anggota badan, tetapi juga mencakup amal hati (al-Shāṭibī, al-Muwāfaqāt, jil. I, hlm. 43).

Al-Shāṭibī memberi contoh cara Al-Qur’an menjawab pertanyaan tentang hilāl. Alih-alih memuaskan rasa ingin tahu spekulatif mengenai mengapa bentuk bulan berubah, jawaban wahyu mengarah kepada fungsi: hilāl adalah penanda waktu bagi manusia dan haji (QS al-Baqarah [2]: 189). Bukan berarti pertanyaan astronomis itu salah. Tetapi wahyu, dalam konteks tersebut, mengalihkan perhatian kepada sesuatu yang harus dikerjakan.

Di sini posisi al-Shāṭibī tidak sama persis dengan al-Ghazālī. Al-Ghazālī sedang membicarakan perbedaan kapasitas penerima; al-Shāṭibī sedang berbicara tentang buah dari sebuah persoalan. Tetapi keduanya bertemu pada satu disiplin yang kini terasa semakin langka: kemampuan untuk bertanya apakah suatu pembahasan memang perlu dilanjutkan.

Kita terbiasa menganggap berhenti sebagai kekalahan intelektual. Padahal berhenti dapat menjadi bentuk ketelitian. Tidak semua cabang persoalan mempunyai nilai yang sama. Tidak semua kemungkinan harus dikejar hanya karena secara logis dapat dipertanyakan.

Bukan Menutup Akses, Melainkan Menimbang Tanggung Jawab

Tentu saja, gagasan semacam ini mudah disalahgunakan. Pembagian antara “awam” dan “ulama” dapat berubah menjadi alasan untuk memonopoli pengetahuan. Kalimat “kamu belum siap” bisa dipakai untuk menghindari kritik. Sejarah lembaga keagamaan di mana pun menunjukkan bahwa otoritas yang tidak mau diperiksa juga dapat berlindung di balik bahasa kompetensi.

Karena itu, prinsip al-Ghazālī tidak cukup diterjemahkan menjadi: jangan beri tahu orang banyak. Yang lebih masuk akal adalah membaca prinsip itu sebagai tuntutan tanggung jawab pedagogis. Orang yang menjelaskan sesuatu harus memikirkan prasyarat apa yang dibutuhkan agar penjelasan tersebut dapat diterima dengan benar. Jika prasyarat itu belum ada, tugasnya bukan sekadar diam; mungkin ia harus membangun prasyaratnya terlebih dahulu.

Di sinilah konteks kita berbeda dari dunia al-Ghazālī. Hari ini hampir tidak ada lagi “ruang khusus” yang benar-benar tertutup. Potongan kuliah, kitab digital, perdebatan akademik, bahkan fragmen manuskrip dapat berpindah dari ruang seminar ke layar telepon dalam beberapa detik. Larangan lama untuk tidak membuka diskusi tertentu kepada publik menjadi semakin sulit dijalankan secara literal.

Tetapi problem yang dilihat al-Ghazālī justru menjadi lebih terasa: informasi tiba lebih cepat daripada perangkat untuk memahaminya. Kita dapat menemukan kesimpulan sebelum mengetahui premisnya; mengenal istilah sebelum memahami sejarah persoalannya; bahkan mengambil posisi sebelum mengetahui apa yang sebenarnya sedang diperselisihkan.

Mungkin karena itu, pekerjaan seorang guru, penulis, penceramah, atau siapa pun yang berbicara tentang agama hari ini bukan hanya memproduksi jawaban. Ia juga perlu membangun tangga menuju jawaban itu.

Ada Kalanya Penjelasan yang Lebih Panjang Justru Kurang Menolong

Setelah membaca bagian ini, saya jadi lebih berhati-hati terhadap satu asumsi yang sebelumnya terasa sangat wajar: bahwa setiap kebingungan akan selesai jika penjelasannya dibuat lebih lengkap. Tidak selalu.

Kadang-kadang orang membutuhkan jawaban. Kadang ia membutuhkan istilah yang lebih sederhana. Kadang ia membutuhkan bacaan pendahuluan. Tetapi ada pula saat ketika pertanyaan yang diajukan sebenarnya berdiri di atas premis yang keliru, atau masuk ke persoalan yang belum dibutuhkan, atau diburu hanya karena perdebatan sedang ramai.

Al-Ghazālī mengingatkan bahwa kapasitas penerima harus diperhitungkan. Ibn Rushd memperingatkan bahaya membongkar pemahaman seseorang sebelum kita mampu membangun penggantinya. Al-Shāṭibī bertanya apakah sebuah persoalan menghasilkan sesuatu bagi amal hati dan tindakan. Tiga suara ini tidak identik, bahkan sesekali saling mengkritik. Justru karena itu percakapan mereka terasa berguna.

Barangkali masalah kita hari ini bukan kekurangan jawaban. Jawaban berlimpah. Yang lebih sulit adalah mengetahui jawaban mana yang perlu diberikan sekarang, mana yang memerlukan jalan panjang sebelum sampai kepadanya, dan mana yang—untuk sementara—lebih bijak dibiarkan sebagai pertanyaan.

Daftar Bacaan

al-Ghazālī, Abū Ḥāmid. al-Iqtiṣād fī al-Iʿtiqād. Pembahasan tentang istiwāʾ, nuzūl, dan pembedaan pendekatan bagi awam serta ulama, hlm. 121–129 pada edisi primer proyek terjemahan.

al-Shāṭibī, Abū Isḥāq. al-Muwāfaqāt. Muqaddimah kelima: pembahasan mengenai persoalan yang tidak melahirkan amal.

Averroës (Ibn Rushd). Decisive Treatise and Epistle Dedicatory. Translation, introduction, and notes by Charles E. Butterworth. Provo, Utah: Brigham Young University Press, 2001.

Griffel, Frank. Al-Ghazali’s Philosophical Theology. New York: Oxford University Press, 2009, khususnya bab “The Reconciliation of Reason and Revelation through the ‘Rule of Interpretation’,” hlm. 111–122.

Halper, Yehuda. “Averroes’ ‘Epistle on Divine Knowledge’ as a Dialectical Work: Between Forbidden Interpretation and Philosophical Training.” Arabic Sciences and Philosophy 34, no. 1 (2024): 119–137.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *