Di antara kisah para nabi, doa Nabi Zakariya a.s. termasuk yang paling menyentuh. lelaki yang lanjut usia, istrinya yang mandul, berdiri di mihrab dan memohon keturunan yang baik kepada Tuhannya. Doa lirih itu diabadikan dalam Al-Qur’an dan terus dibaca hingga kini sebagai teladan kesabaran dalam berharap.
Namun, kisah ini menyimpan satu pertanyaan menarik bagi sebagian pemaca. Pada QS Ali Imran [3]: 38, Zakariya berdoa dengan penuh keyakinan. Akan tetapi, pada ayat 40, setelah kabar gembira datang, ia justru bertanya bagaimana mungkin ia memperoleh anak, padahal usianya telah renta dan istrinya mandul. Sekilas, dua ayat ini tampak bertolak belakang.
Tulisan ini menelusuri cara pembacaan ulama tafsir untuk menjawab kesan pertentangan tersebut. Dari sana kita akan melihat bahwa pertanyaan seorang nabi tidak selalu berarti keraguan. Ia bisa berupa rasa takjub, kerendahan hati, atau keinginan memahami cara Tuhan bekerja.
Dua Ayat yang Tampak Berseberangan
Menurut al-Syinqithi, ayat tentang doa Zakariya menunjukkan bahwa sang nabi sama sekali tidak meragukan kekuasaan Allah untuk menganugerahinya anak, meskipun usianya sudah lanjut( Al-Syinqithi, 1996: 39-40). Ia memohon agar dianugerahi keturunan yang baik dari sisi Allah (QS Ali Imran [3]: 38).
Sementara itu, QS Ali Imran [3]: 40 memuat ucapan Zakariya yang terdengar seperti keheranan bercampur bimbang. Persoalan semacam ini dikenal dalam ilmu tafsir sebagai iham al-idhthirab, yaitu kesan adanya pertentangan antar ayat. Al-Syinqithi bahkan menyusun kitab khusus, Daf’ Iham al-Idhthirab ‘an Ayat al-Kitab, untuk meluruskan kesan seperti ini.
Untuk kasus Zakariya, ia menawarkan tiga jawaban. Ketiganya tidak saling meniadakan. Justru, bersama-sama, ketiganya memberi gambaran utuh tentang kejiwaan seorang nabi yang sedang menerima kabar di luar nalar kebiasaan.
Bisikan yang Menggoyang Kepastian
Jawaban pertama bersandar pada riwayat Ibn Jarir dari Ikrimah dan al-Suddi. Ketika malaikat menyeru Zakariya yang sedang salat di mihrab dan mengabarkan kelahiran Yahya, setan membisikkan bahwa seruan itu bukan suara malaikat, melainkan suara setan (Al-Syinqithi, 1996: 39-40)
Bisikan itu menimbulkan goyangan dalam hati sang nabi. Yang ia ragukan bukanlah kuasa Allah, melainkan sumber seruan tersebut. Karena itu, ucapan “bagaimana mungkin aku memperoleh anak” muncul sebelum ia yakin bahwa kabar itu benar-benar datang dari Allah.
Penjelasan ini juga menerangkan permintaan Zakariya selanjutnya. Ia memohon sebuah tanda (QS Ali Imran [3]: 41). Permintaan tanda bukanlah tanda ingkar, melainkan cara untuk menenteramkan hati agar kabar yang diterima benar-benar pasti.
Bertanya untuk Mengetahui
Jawaban kedua menyebutkan bahwa pertanyaan Zakariya adalah istifham istil’am wa istikhbar pada kata (أنّى), yakni pertanyaan untuk mencari tahu. Ia belum mengetahui bagaimana Allah akan mewujudkan janji itu: lewat istrinya yang renta, lewat perempuan muda yang dinikahinya, atau dengan mengembalikan keduanya ke masa muda (Al-Syinqithi, 1996: 39-40).
Al-Qurthubi mencatat dua kemungkinan serupa. Pertama, apakah anak itu lahir ketika keduanya tetap dalam keadaan semula, atau keduanya dikembalikan ke keadaan orang yang dapat memiliki anak. Kedua, apakah anak itu lahir dari istrinya yang mandul atau dari perempuan lain (Al-Qurthubi, 1964: 4/79).
Pertanyaan semacam ini mirip orang yang bertanya, “Lewat jalan mana kita akan sampai?”, bukan, “Apakah kita akan sampai?” Fokusnya ada pada cara, bukan pada kepastian janji.
Takjub dan Rendah Hati
Jawaban ketiga memandang pertanyaan itu sebagai istifham isti’zham wa ta’ajjub pada kata (أنّى), yaitu ungkapan menganggap agung sekaligus takjub atas sempurnanya kekuasaan Allah Nada kalimatnya bukan “mustahil”, melainkan “betapa dahsyatnya”. (Al-Syinqithi, 1996: 39-40).
Al-Qurthubi menambahkan nuansa lain. Menurut sebagian ulama, maksud ucapan itu adalah, “Dengan kedudukan apa aku layak menerima anugerah ini, padahal keadaanku dan istriku seperti ini?” Ucapan tersebut dibaca sebagai bentuk tawadu atau kerendahan hati.
Dengan demikian, pertanyaan Zakariya dapat dibaca sebagai bahasa seorang hamba yang merasa kecil di hadapan kemurahan Tuhannya. Ia tidak sedang menawar janji, tetapi sedang menepi dengan rasa syukur.
Tentang Usia dan Kemandulan
Al-Qurthubi meriwayatkan bahwa jarak antara doa Zakariya dan datangnya kabar gembira mencapai empat puluh tahun. Pada saat itu, usia Zakariya sembilan puluh tahun dan istrinya tidak jauh berbeda. Ibn Abbas dan al-Dhahhak meriwayatkan angka lain, yakni seratus dua puluh tahun untuk Zakariya dan sembilan puluh delapan tahun untuk istrinya (Al-Qurthubi, 1964: 4/79).
Perbedaan angka ini sebaiknya dibaca hanya sebagai perbedaan riwayat, bukan data yang pasti dan diyakini dengan tunggal. Pesan utamanya tetap sama: usia mereka sudah jauh melampaui masa subur. Kata ‘aqir dalam ayat itu pun berarti perempuan yang tidak dapat melahirkan.
Ibn Katsir menukil dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibn Abbas, bahwa belum pernah ada perempuan mandul yang melahirkan seseorang seperti Yahya. Menurutnya, ini menunjukkan bahwa istri Zakariya memang mandul sejak muda (Ibn Katsir, 1999: tafsir QS Ali Imran [3]: 40).
Dari Mana Harapan Itu Tumbuh?
Pertanyaan lain yang sangat menarik adalah dari mana keberanian Zakariya untuk berdoa di usia setua itu untuk mendapatkan keturunan yang baik? Al-Qurthubi menyebutkan riwayat bahwa Zakariya sering mendapati Maryam memiliki buah musim dingin pada musim panas dan buah musim panas pada musim dingin.
Ketika ia bertanya dari mana semua itu, Maryam menjawab bahwa semuanya berasal dari sisi Allah. Menurut riwayat itu, saat itulah Zakariya mulai menaruh harapan memperoleh anak. Ia yakin bahwa Zat yang mampu mendatangkan buah di luar musimnya mampu pula menganugerahkan anak (Al-Qurthubi, 1964: 4/71).
Al-Zamakhsyari menyebut pandangan senada. Menurut sebagian ulama, ketika Zakariya melihat buah di luar musimnya, ia tersadar bahwa perempuan mandul pun bisa melahirkan (Al-Zamakhsyari, 1987: 1/359). Harapan Zakariya tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari tanda yang ia saksikan sendiri.
Catatan Akhir
Dari uraian para mufasir di atas, kesan pertentangan antara doa Zakariya dan keheranannya dapat dijernihkan. Doa itu lahir dari keyakinan penuh, sedangkan pertanyaannya lahir dari bisikan setan yang menggoyang kepastian, keinginan mengetahui cara, atau rasa takjub dan rendah hati.
Ada tiga pelajaran yang dapat dipetik. Pertama, harapan tidak mengenal batas usia, dan doa yang tampak mustahil tetap layak dipanjatkan. Kedua, bertanya tidak identik dengan ragu, sebab iman yang sehat boleh disertai rasa ingin tahu. Ketiga, kekuasaan Allah tidak terikat pada kebiasaan alam.
Kisah Zakariya mengajarkan bahwa menunggu dengan sabar adalah bagian dari doa itu sendiri. Empat puluh tahun penantian berujung pada lahirnya Yahya. Bagi siapa pun yang sedang berharap pada sesuatu yang tampak mustahil, kisah ini adalah pengingat yang menenangkan.
Daftar Pustaka
Ibn Katsir, Ismail bin Umar. 1999. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (Tafsir Ibn Katsir). Cetakan ke-2. Riyadh: Dar Thayyibah li al-Nasyr wa al-Tauzi’.
Al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. t.t. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Tafsir al-Qurthubi). Juz 4.
Al-Syinqithi, Muhammad al-Amin. t.t. Daf’ Iham al-Idhthirab ‘an Ayat al-Kitab. Maktabah Ibn Taimiyah.
Al-Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. t.t. Tafsir al-Kasysyaf. Juz 1.





